A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Diambang Kehancuran


__ADS_3

Hari ini di Mansion Leonardo sedang diadakan pertemuan keluarga, membahas tentang pernikahan Nadine dan Damar.


Tuan Rama dan Tuan Dafa begitu akrab membicarakan bisnis mereka. Tuan Dafa terkenal sangat baik di kalangan masyarakat, dia memiliki sebuah panti asuhan yang besar, menampung semua anak kecil atau bayi yang diterlantarkan oleh orang tuanya. Dia akan mencalonkan diri sebagai gubernur tahun ini, banyak masyarakat yang mendukungnya. Karena itu Tuan Rama sangat segan sekali kepada calon besannya.


"Saya rasa andalah yang akan terpilih menjadi gubernur, Tuan Dafa." Tuan Rama menyemangati calon besannya.


"Terimakasih." Tuan Dafa tersenyum tipis.


Sonya hanya tersenyum miring, sebenarnya dia tau kebusukan calon besannya dari Erza, tapi dia akan berpura-pura tidak tau, yang penting dia memiliki calon besan yang kaya dan terpandang.


Sementara itu Damar, dia tak bisa berhenti memandangi wajah cantik Nadine, dia sudah tidak sabar ingin menjadikan Nadine sebagai miliknya seutuhnya dalam ikatan pernikahan. "Nadine, aku senang akhirnya kita bisa bertemu kembali."


Nadine tak bereaksi apa-apa, bahkan dia tidak ingin menyentuh sedikit saja menu makanan yang ada disana.


Tuan Rama merasa tidak enak hati melihat sikap Nadine yang mengacuhkan Damar. Dia pura-pura terkekeh, "Maafkan putri kami, mungkin dia masih trauma atas apa yang yang sudah dia alami, karena itu Nadine terlihat tidak bersemangat hari ini."


"Oh tidak apa-apa, karena itu biar Nadine bersemangat bagaimana kalau kita segera menikahkan anak kita?" usul Tuan Dafa.


"Tentu saja saya mau secepatnya menikah dengan Nadine." Damar menyetujui pendapat ayahnya.


Apalagi Tuan Rama dan Sonya.


"Tentu saja kami sangat menyetujuinya." ucap Sonya.

__ADS_1


Nadine menghirup nafas dalam-dalam, kali ini dia harus berani, dia tidak ingin melakukan apapun yang tidak dia sukai dan tidak dia kehendaki. "Aku minta maaf, aku gak bisa menikah dengan Damar."


Semua orang yang ada disana tercengang mendengarnya.


"Nadine, bicara apa kamu ini!" Tuan Rama membentak putrinya, dia sangat kecewa sekali dengan Nadine yang tiba-tiba menolak menikah dengan Damar. Untuk pertama kalinya Nadine membuatnya kecewa.


Nadine segera berdiri, dia menatap semua orang yang disana. Dia memang tidak bersemangat dalam hal apapun setelah merasa dipermainkan oleh Marvin. Karena itu dia tidak peduli jika dia harus disiksa oleh Sonya ataupun jika dia harus dimarahi oleh ayahnya. "Aku tidak mencintai Damar, sampai kapanpun aku tidak ingin menikah dengannya."


Setelah berkata begitu, Nadine segera pergi ke lantai atas. Meninggalkan semuanya yang ada disana.


"Damar sangat mencintai Nadine, sebagai seorang ayah saya akan melakukan apapun demi kebahagiaan Damar, Tuan Rama." Tuan Dafa masih tetap ingin melanjutkan rencana pernikahan Damar dan Nadine.


"Tentu saja, saya juga menginginkan Damar menjadi menantu saya. Biar nanti kami yang akan membujuk Nadine." Tuan Rama tidak ingin kehilangan partner kerja seperti Tuan Dafa.


Tuan Rama hanya menganggukkan kepala, dia mendengar ponselnya bergetar, ternyata ada telepon dari Asisten Dareen. Untuk apa Asisten Dareen menelponnya, padahal sekarang ini dia sedang ada acara penting dengan calon besannya.


...****************...


Sonya masuk ke dalam kamar Nadine dengan emosi, dia langsung memaki-maki Nadine. "Dasar anak tidak tau diri, berani sekali kamu menolak pernikahan dengan Damar. Apa kau tidak tau siapa itu Tuan Dafa heuh?"


Nadine menatap dingin kepada Sonya, dia sedang berdiri dihadapan ibunya itu. "Apa seorang ibu pantas bicara begitu kepada anaknya? Apakah kau benar-benar ibuku?'


Emosi Sonya semakin meluap-luap. "Kurang ajar kamu, berani sekarang bicara begitu padaku!"

__ADS_1


Sonya melayangkan tangannya untuk menampar Nadine, namun dia terkejut, untuk pertama kalinya Nadine menahan tangannya, dia melihat Nadine menatap tajam padanya.


Tangan Sonya bergetar, sebenarnya apa yang terjadi selama Nadine disekap oleh orang yang mengaku dirinya Marvin itu, sampai dia bisa seberani ini.


Nadine dan Sonya mendengar suara kegaduhan di lantai bawah, mereka segera berlari ke lantai bawah, mereka terkejut melihat Tuan Rama jatuh pingsan.


"Papa!" Nadine sangat panik sekali, dia memeluk tubuh Tuan Rama.


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Sonya kepada Tuan Dafa dan Damar. Mereka juga panik saat melihat Tuan Rama tiba-tiba jatuh pingsan setelah menjawab panggilan telepon dari Asisten Dareen.


Tuan Dafa menggelengkan kepala. "Saya tidak tau, tadi dia hanya meminta izin untuk mengangkat panggilan telepon dari asistennya."


Tuan Rama dilarikan ke rumah sakit, dia hanya mengalami shock berat karena itu dia jatuh pingsan, sekarang kondisinya sudah mulai membaik.


Nadine sangat setia menemani sang ayah di rumah sakit. Sonya pun berada disana, dia pura-pura peduli pada suaminya.


Nadine menjadi penasaran, mengapa ayahnya mendadak jatuh pingsan setelah berbicara dengan Asisten Dareen.


Kebetulan orang yang dipikirkan sudah tiba di rumah sakit, terlihat Asisten Dareen sangat gelisah sekali. "Sebenarnya ada apa ini, Asisten Dareen?" tanya Nadine kepada sang asisten.


"Gawat Nona, ada seorang hacker telah meretas data penting perusahaan, bukan hanya itu, dia juga telah membobol semua keuangan Leon Grup."


Nadine tercengang mendengarnya, uang perusahaan sebesar 450 triliunan dengan hitungan kurang dari setengah jam telah berhasil dicuri oleh seorang hacker, membuat perusahaan Leon Grup diambang kehancuran.

__ADS_1


__ADS_2