
Dami dan Dewangga menyamar menjadi sepasang suami-istri. Hari ini Dami terpaksa berpakaian peminim, untuk pertama kalinya dia berpenampilan anggun dan berdadan cantik.
Sementara Dewangga, dia harus berpenampilan rapi, memakai kemeja putih dan jas berwarna hitam, memakai kumis tipis palsu dan menggunakan kacamata. Dia terlihat seperti seorang pengusaha yang terlihat elegan.
Mereka mendapatkan misi giliran menyumbangkan uang senilai 300 juta ke panti asuhan Harapan Bunda.
Dami merasa grogi karena Dewangga dari tadi memperhatikan dirinya, dia terpaksa harus menginjak sepatu Dewangga dengan high heelsnya yang tinggi.
Seketika Dewangga meringis, "Shhh... kenapa menginjak kakiku?" protesnya, pelan.
Dami sama sekali tidak merasa bersalah, "Kamu harus fokus, kenapa dari tadi memperhatikanku terus? Sekarang ini kita sedang menjalankan misi kita."
"Ya aku tau, hanya saja kamu terlihat aneh berpenampilan seperti itu." Dewangga malah meledek penampilan Dami.
Dami menatap tajam pada Dewangga, jika sedang tidak berada di panti asuhan. Mungkin dia sudah menghajar pria itu.
Mereka segera terlihat serius saat Kepala Pengurus panti asuhan itu masuk ke dalam ruangan tersebut, dia tersenyum begitu ramah kepada Dewangga dan Dami yang sedang duduk menunggunya.
"Selamat siang Tuan Gilang dan Nona Manda. Saya sangat berterimakasih sekali atas sumbangan yang telah kalian berikan, saya do'akan semoga rumah tangga Tuan Gilang dan Nona Manda langgeng sampai maut memisahkan, dan segera memiliki momongan." Kepala pengurus tersebut mendoakan Dewangga dan Dami dengan sepenuh hati. Dewangga mengaku dirinya Gilang. Sementara Dami memperkenalkan dirinya Manda.
"Aamiin." Dewangga tersenyum lebar. Sementara Dami pura-pura tersenyum manis.
"Terimakasih atas doanya, kami sangat terharu sekali dengan doa yang ibu berikan. Iya kan, sayang?" Dewangga mengatakannya sambil merangkul Dami.
Dami hanya terseyum dan menganggukan kepala, dia menginjak lagi kaki Dewangga agar Dewangga melepaskan rangkulannya.
Dewangga hanya mengigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit. Dia segera melepaskan rangkulan pada Dami.
Setelah selesai dengan urusan mereka, Dami dan Dewangga segera berpamitan untuk pergi dari sana. Namun Kepala Pengurus panti asuhan tersebut ingin mengantarkan Dewangga dan Dami sampai ke pintu gerbang panti.
__ADS_1
"Bukankah panti asuhan ini milik calon gubernur Tuan Dafa Pratama?" tanya Dewangga, dia hanya penasaran saja, karena Tuan Dafa adalah calon besan ayah dari sahabatnya.
"Oh iya benar sekali, Tuan."
Dami memperhatikan suasana panti asuhan yang sangat sepi, padahal beberapa panti asuhan yang mereka kunjungi sebelumnya begitu ramai dengan aktivitas anak-anak, namun di panti asuhan ini nampak sepi sekali. Padahal panti asuhan Harapan Bunda adalah termasuk salah satu panti asuhan terbesar di kota ini.
"Berapa jumlah anak di panti asuhan Harapan Bunda?" tanya Dami kepada Kepala Pengurus itu.
"Ada 215 orang. Mereka semua kebetulan sedang belajar hari ini." Kepala Pengurus nampak tidak suka ditanyai hal yang bersangkutan dengan panti tersebut.
"Apa disini sering ada pengadopsian anak?" tanya Dami lagi.
"Tentu saja..."
Pembicaraan mereka terhenti saat melihat ada seorang anak laki-laki sedang berdiri di halaman depan panti, anak itu menatap Dami dan Dewangga dengan tatapan sendu.
Kepala Pengurus terlihat marah sekali, "Kenapa kamu ada disini? Bukannya sekarang sedang belajar? Cepat masuk!"
Kemudian ada salah satu pengurus wanita berlari kesana, dia segera merangkul anak tersebut. "Feri, ibu mencari kamu dari tadi. Ayo kita belajar lagi."
Pengurus itu pun membawa anak yang bernama Feri masuk ke dalam panti.
Kepala Pengurus terkekeh, "Biasalah anak-anak, kadang ada yang suka malas belajar. Mungkin dia sedih karena sebentar lagi akan di adopsi oleh sepasang suami istri dari luar kota."
Dami merasa ada yang tidak beres dengan panti asuhan itu, tapi dia tidak bisa menebak kejanggalan apa yang dia rasakan.
...****************...
Di Kantor Pratama Grup, Terlihat Erza sedang memperlihatkan foto-foto saat Marvin yang sedang memakai masker dan topi hitam, kepada Tuan Dafa.
__ADS_1
"Semalam saya menembak tepat di punggungnya, Tuan." lapor Erza.
Tuan Dafa terkekeh, "Jadi ternyata benar anak Rama masih hidup?" Dia merasa beruntung dengan kejadian ini karena tidak perlu capek-capek membuat Leon Grup hancur, dia hanya tinggal duduk manis saja.
"Iya, Tuan. Dia yang sudah membunuh Markus, tapi saya sudah menemukan seorang jagal yang lebih ahli dari Markus. Namanya Darko, dia lebih kuat dan lebih muda dari Markus."
Erza memperlihatkan foto Darko kepada Tuan Dafa.
"Hmm... ya terserah kau saja, kau yang lebih pengalaman di dalam bisnis human trafficking ini." Tuan Dafa dan Erza sudah lama bekerja dalam dalam bisnis human trafficking, Tuan Dafa yang menyediakan fasilitas untuk menampung anak-anak di panti asuhan.
Sementara The Bloods hanya tinggal mengeksekusi dan menjualnya.
Erza merasa lebih menguntungkan bekerjasama dengan Tuan Dafa karena dia tau Tuan Dafa ingin menghancurkan Leon Grup, agar Pratama Grup menjadi perusahaan nomor satu di negeri ini. Karena itu dia membocorkan semua rahasia yang dia ketahui tentang Marvin, Nadine, dan Sonya.
Erza merasa Sonya sudah tidak berguna lagi.
Tuan Dafa memperhatikan wajah Marvin yang ditutupi masker itu, "Dari sorot matanya sangat familiar sekali, mirip siapa ya... saya lupa lagi. Sayang sekali saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas."
"Suatu saat nanti pasti kita akan mengetahui siapa itu Marvin Leonardo. Dia yang menculik Nadine selama satu minggu ini, entah apa yang terjadi pada mereka selama mereka tinggal bersama, karena mereka tidak satu darah, wajar jika diantara mereka ada yang jatuh cinta. Saya rasa Nadine adalah kelemahan Marvin Leonardo." Erza mencoba menebak kelemahan Marvin.
Tuan Dafa sangat kesal jika mengingat penolakan Nadine terhadap putra tercintanya. "Gadis itu sangat angkuh, berani sekali dia menolak anak saya. Namun untuk sementara ini saya tidak bisa menyakitinya karena Damar ingin sekali menikah dengannya."
Erza hanya menganggukkan kepala.
"Lalu bagaimana dengan Sonya, sepertinya Sonya tau sekali dengan bisnis kerjasama kita?" Tuan Dafa mengkhawatirkan Sonya membocorkan rahasianya pada orang lain.
"Masalah Sonya, nanti akan saya urus. Saya menunggu waktu yang tepat untuk melenyapkannya." Erza sudah tidak membutuhkan Sonya lagi, dia hanya membutuhkan uang, dan bisnis bersama Tuan Dafa sangat menjanjikan.
Begitulah di dunia gelap, jika sudah tidak dibutuhkan maka harus dilenyapkan.
__ADS_1
Tuan Dafa memperhatikan acara berita di televisi yang menyiarkan langsung tentang pesta balon sebagai bentuk rasa terimakasih kepada pahlawan misterius yang sudah memberikan uang kepada orang-orang miskin.
"Sepertinya dia bukan lawan yang mudah untuk kita."