
Paginya...
Nadine terbangun dari tidurnya, dia ingin menggeliat badan dengan mata yang masih terpenjam, namun dia tidak bisa menggerakkan badannya begitu merasakan dia berada dalam dekapan seseorang.
Nadine mengerjapkan mata begitu menyadari dia berada di dalam dekapan Marvin, dia menatap pria tampan itu yang masih memejamkan matanya.
Padahal semalam seingat dia, dia tertidur di kursi sofa, pasti Marvin yang memindahkan dirinya ke kamar pria itu.
"Dasar pria mesum, apa dia menyentuhku lagi saat aku tertidur?" Nadine mendengus kesal, tapi setelah memperhatikan pakaian yang dia pakai masih melekat lengkap ditubuhnya, bisa dipastikan tidak terjadi apa-apa diantara mereka semalam.
Walaupun hanya Marvin yang tidak memakai baju, dia hanya memakai celana panjang saja, Marvin memang terbiasa tidur tanpa memakai baju.
Nadine menelan saliva melihat tubuh indah yang sixpack itu, namun kali ini dia tidak boleh tergoda, dia ingin melepaskan diri dari dekapan Marvin, tapi alangkah terkejutnya dia saat Marvin malah semakin mempererat dekapannya.
Membuat Nadine terbelalak, ternyata Marvin tidak tidur, pasti Marvin mendengar perkataannya yang tadi.
Dengan cepat Marvin merubah posisi membuat dia berada diatas Nadine, dia menatap tajam pada wanita itu. Sebetulnya dari semalam dia tidak bisa tidur, tadi dia hanya memejamkan mata saat melihat Nadine terbangun dari tidurnya.
"Kamu bilang apa tadi? Pria mesum?" Marvin tidak terima dibilang pria mesum.
Nadine menelan saliva memandangi pria yang sedang mengukungnya itu. Padahal sudah dua kali merasakan tubuh kekar itu, tapi tetap saja dia merasa gugup. Kemudian dia pura-pura terkekeh, "A-aku hanya bercanda, aku pikir kamu masih tidur."
__ADS_1
"Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
Tentu saja karena Nadine, pria mana yang bisa tahan tidur satu ranjang dengan wanita cantik tanpa melakukan apa-apa.
Apalagi semalam dia terus memikirkan apa yang dia harus lakukan kepada wanita itu, dan dia sudah menemukan jawabannya, walaupun mungkin akhirnya dia tidak bisa melihat lagi wajah cantik yang selalu tersenyum padanya itu.
"Aku sudah menemukan Miss A." Tiba-tiba Marvin membahas soal Miss A kepada Nadine.
Nadine membulatkan matanya, bukan main senangnya, selama 10 tahun dia sering berkomunikasi dengan Miss A, tapi dia belum pernah tau siapa sosok wanita yang sering menjadi teman berbagi keluh kesahnya itu, walaupun hanya dalam sebuah media pesan.
"Benarkah? Dimana dia? Siapa nama aslinya? Berapa usianya? Apa kamu punya fotonya?" Saking senangnya Nadine memberikan banyak pertanyaan kepada Marvin.
"Aline Juliana? Nama yang bagus."
"Apa kamu pernah mendengar nama itu sebelumnya?"
Nadine menggelengkan kepala, "Nggak, aku baru kali ini mendengar nama itu."
Marvin semakin penasaran apa alasan Aline mendekati Nadine.
__ADS_1
"Apa kamu ingin bertemu dengannya?" mungkin hanya ini yang bisa Marvin lakukan untuk Nadine di pertemuan terakhir mereka.
Nadine sangat senang mendengarnya, tentu saja Nadine ingin sekali bertemu dengan sosok Miss A. "Memangnya aku boleh keluar dari sini?"
Marvin terdiam, dia memperhatikan Nadine yang nampak bahagia sekali. "Apa kamu bahagia keluar dari sini?"
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Yang aku bahas sekarang adalah pertemuan aku dengan Miss A nanti."
Nadine merasa tidak nyaman karena mereka berbicara dengan posisi Marvin berada diatas tubuhnya. "Emm... Adam!"
Apalagi Nadine merasakan ada yang keras sedikit menusuknya dibawah sana.
"Hm?"
"Apa kamu nyaman kita berbicara dengan posisi seperti ini?"
Rahang Marvin mengeras begitu menyadari adiknya terbangun, membuatnya salah tingkah.
Marvin segera bangkit, dia meraih baju yang ada dipinggir ranjang, lalu memakainya. "Lebih baik kamu segera mandi, aku akan mempertemukan kamu dengan Miss A hari ini." Marvin mengatakannya dengan nada dingin.
Kemudian pria itu keluar dari kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Nadine.
__ADS_1
Nadine merasa ada yang berbeda dari sikap Marvin, pria itu memang selalu bersikap dingin padanya, namun hari ini rasanya berbeda, pria itu seperti terlihat sedih dari sorot matanya, tapi mungkin itu hanya perasaan Nadine saja. Bagaimana mungkin pria sekejam itu bisa bersedih.