
Setelah menunggu hampir dua jam akhirnya Raka pun tersadar dari pengaruh obat bius nya.
" euhh..haus.." ucap Raka dengan suara yang hampir tidak terdengar.
" kak.. kakak " Aya tersenyum cerah saat mendengar suara kakaknya yang baru saja siuman, dengan cekatan Aya mengambilkan Raka minum dan membantu Raka agar bisa minum dengan mudah.
" Raka .." Bu Kiran berjalan menghampiri Aya yang sedang membantu Raka minum sedangkan ayah haki dan juga regi mengikuti dari belakang.
" ka.. Alhamdulillah ya Allah kamu sudah sadar kak " ucap ayah haki saat melihat putra sambungnya telah sadar, sedangkan ayah regi hanya bisa diam sambil bersyukur dalam hati jika putranya sudah kembali sadar dan juga sudah melewati masa kritisnya.
" Bu.. Raka dimana ?" tanya Raka setelah ibunya mendekat sedangkan Raka hanya bisa menatap aya karena iya masih mengingat akan janjinya pada sang ayah, aya hanya bisa menatap sedih saat kakaknya seperti mengacuhkannya.
" kamu di rumah sakit sayang, teman kamu siapa namanya itu ?" tanya Bu Kiran pada Aya yang memang ada di sampingnya.
" pak Arya .. Bu " ucap Aya mengingatkan.
" oh iya Arya " Bu Kiran menatap suaminya haki seolah meminta penjelasan pada Raka tentang kejadian sebenarnya, ayah haki yang mengerti arti tatapan istrinya lalu duduk di kursi dimana Aya tadi duduk menunggu Raka tersadar.
" ka.. apa Kaka sudah lebih baik " tanya ayah haki pada putranya, tapi di sela oleh Aya yang mengingat jika Raka belum di periksa oleh dokter setelah sadar.
" Bu Aya panggil dokter dulu ya untuk periksa kakak " ucap Aya beralasan padahal iya keluar ruangan Raka agar Raka tidak mengetahui jika iya ingin sekali menangis saat Raka tidak menganggap nya ada sedangkan yang lain hanya mengiyakan.
Raka yang melihat Aya pergi menjauh hanya bisa memendam apa yang kini iya rasakan dimana di dalam hatinya kini ada rasa rindu dan juga rasa bersalah karena mengacuhkan Aya yang berada tepat di depan matanya.
' maafkan kaka ay... andai Kaka punya kekuatan untuk melawan kehendak ayah haki tapi biar lah takdir yang menentukan akan berakhir kemana perasaan kita ' ucap Raka dalam hati sambil melihat Aya yang pergi menjauh.
" kak Raka.." ucap Bu Kiran saat melihat anak nya yang sepertinya sedang melamun.
" ah iya Bu ada apa ?" tanya Raka kaget.
__ADS_1
"kak.." ayah haki tidak jadi meneruskan ucapannya saat regi juga membuka suaranya.
" apa yang sebenarnya terjadi pada Raka di jalan ? " tanya yah regi menyela ucapan haki.
Mau tak mau Raka pun menceritakan apa yang dialaminya saat di jalan menuju rumah regi, bahkan Raka juga menceritakan kejadian satu tahun lalu saat dirinya di serempet oleh orang yang sama dengan yang menyerempet nya saat ini dan di akhiri dengan tusukan di perut bagian kanan Raka.
" kenapa kakak ngga pernah cerita sama ibu dan juga ayah..?" tanya Bu Kiran yang kaget dengan apa yang di alami putranya selama ini.
" Raka hanya tidak mau ayah dan ibu khawatir" ucap Raka, dan tak lama Aya pun kembali masuk diikuti dokter yang akan memeriksa keadaan kakaknya saat ini.
" selamat malam.. Alhamdulillah pasien Raka sudah sadar, baik mari kita periksa dulu keadaan lukanya " ucap dokter sambil di bantu suster pendamping melakukan pengecekan karena memang sekarang waktunya untuk bagian visit dokter ruangan.
" Alhamdulillah Raka sudah stabil .. luka nya juga bagus.. dan maaf jangan banyak di ajak bicara dulu karena pasien baru saja kehilangan banyak darah " ucap dokter mengingatkan karena di dalam ruangan Raka terlalu banyak keluarga yang menunggu.
" dan untuk yang menunggu untuk malam ini sebaiknya hanya di tunggu oleh satu orang saja dan untuk yang lainnya bisa berkunjung lagi besok " ucap suster pendamping mengingatkan.
" baik dok.." jawab Bu Kiran
Tapi Aya langsung mengajukan diri agar bisa menjaga kakaknya dan berharap ayah haki mengijinkannya untuk ada di sini.
" yah.. izinkan Aya yang menunggu kakak malam ini jadi ayah dan ibu bisa beristirahat dirumah apalagi si kembar Azzam dan azzura pasti akan mencari ayah ibu " ucap Aya penuh harap.
Dan memang benar apa yang di ucapkan Aya jika si kembar akan mencari mereka jika mereka menginap tanpa memberi tahu.
Sedangkan bunda ayu sangat setuju dengan usul Aya karena iya sangat tidak menyukai menginap di rumah sakit.
" iya mas Aya benar, biar dia di sini dulu malam ini kamu harus pemulihan kondisi kamu dulu " ucap bunda ayu.
Akhirnya ayah haki merelakan Aya untuk menunggu Raka malam ini karena tidak ingin membuat regi dan juga ayu curiga.
__ADS_1
" baik lah kalo begitu ayah dan ibu pulang dulu besok pagi ayah kesini " ucap ayah haki sambil berpamitan ada Aya dan juga Raka.
Meski merasa kurang tenang meninggalkan Raka dan Aya berdua tapi ayah haki yakin jika Raka masih memegang janjinya untuk tidak menjalin hubungan lebih dari Kaka adik dengan Aya.
Sedangkan ayah regi bunda ayu dan juga kala pulang ke rumah mereka karena memang mereka tidak membawa baju ganti atau apapun.
Di ruang rawat inap Raka hanya tinggal Aya dan juga Raka, keduanya pun sama sama memilih diam meski Aya berada dekat di samping Raka dimana Raka terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit dan Aya duduk di samping kiri Raka.
Keduanya sama sama menahan rasa rindu yang hanya bisa terpancar dari mata mereka tanpa ada yang bisa mereka lakukan.
Sampai pada satu titik dimana Aya sudah tidak bisa hanya diam menahan semua yang ada di hatinya dari mulai saat Raka baru kembali dari kota B sampai saat ini.
" kak.. " ucap Aya lirih sambil menatap Raka yang juga sedang menatapnya dari tempat tidur dengan posisi Raka yang sedang duduk bersandar ke kepala tempat tidur.
Aya tiba tiba saja bangkit dan langsung memeluk Raka yang tentu saja kaget dengan apa yang aya lakukan padanya. Tapi Raka tetap membalas pelukan Aya karena dia pun sama sangat merindukan adik sekaligus mantan kekasih ( yang di paksakan π€π π ).
Cukup lama mereka berpelukan tanpa ada kata yang keluar dari mulut keduanya, hanya air mata yang keluar dari mata Aya dan juga Raka. seolah pelukan dan air mata bisa mewakili semua rasa yang mereka simpan selama enam bulan ini.
Meski berat Raka melepaskan pelukan adik, ya adik dan harus Raka anggap adik tidak boleh lebih dari itu.
" kamu baik baik saja Aya " ucap Raka sambil menghapus air mata yang masih mengalir di pipi chubby Aya.
Tapi Aya menggeleng keras dengan bibir yang bergetar menahan tangis.
" Aya ngga bisa.. Aya.. ngga kuat ..
βοΈβοΈβοΈnah kan akhirnya rasa yang terpendam itu pasti akan keluar di waktu yang tepat. hanya tinggal menunggu kesempatan itu hadir untuk bisa meluapkan semuanya.
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha ππ lebih semangat lagi UP nya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha ππ lebih semangat lagi.
Love you moreeeee πππΉ