
Raka pun duduk di tepi ranjang Aya, dimana Aya sedang menelungkupkan wajahnya di bantal bahkan Raka tidak mendengar tangis Aya yang mungkin teredam oleh delapan bantal yang Aya peluk erat.
" ay... yang... " Raka memegang pundak Aya agar Aya sadar jika dirinya ada di sana, dan itu semua berhasil karena setelah tau ada Raka di sampingnya Aya pun memeluk erat kekasihnya itu seolah dengan memeluk Raka kekecewaan di hatinya pada ibu kandungnya akan berkurang.
" ay.. " Raka berusaha melepaskan pelukan Aya dengan sangat terpaksa Aya melepaskan pelukannya dan menatap kakaknya dimana Raka menghapus bulir air mata di pipi Aya yang terus mengalir.
" ay... jangan pernah menyesali takdir yang sudah tuhan gariskan untuk kita " Aya hanya bisa menunduk mendengar kakaknya yang memang berkata benar.
" coba kalo benar kamu anak ibu Kiran, jadi hubungan kita benar benar kakak beradik dan cinta kita akan terlarang "
Aya menatap wajah kakaknya yang jujur sangat menenangkan hatinya yang sedang gundah.
" dan itu artinya kita tidak akan bisa menjalin hubungan yang serius apa lagi sampai menikah " Aya yang mendengar itu langsung menggelengkan wajahnya tak ingin sampai itu terjadi.
" Aya harus bisa bijak dalam berucap dan bertindak karena setiap ucapan yang keluar tak akan pernah bisa kita tarik lagi "
Aya kembali berhambur ke pelukan kekasihnya yang sangat memahami dirinya yang mulai sulit mengontrol emosi dan pikiran terlebih jika tentang orang orang yang di sayang.
" coba bicara dari hati ke hati sama mama salsa, tanyakan apa yang sebenarnya dia inginkan dan juga apa yang aya inginkan "
" Kaka sekalian pamit.. siang ini kakak balik ke kota B dan Aya harus bisa jaga diri dan juga jaga hati " Aya hanya menatap kakaknya yang sedang menggodanya.
" kakak yang harus jaga diri jaga hati.. inget ada Aya yang nungguin kakak di sini " ucap Aya saat mengingat pesan gelap yang hampir saja menghancurkan masa depannya.
Raka mencubit hidung Aya yang sudah kembali tenang, tapi sebelum pergi Raka pun membisikan sesuatu yang membuat senyum di wajah Aya terkembang sempurna.
__ADS_1
" ayah sudah merestui kita " bisik Raka tepat di telinga Aya.
Raka pun keluar dari kamar Aya yang memang sedari tadi di biarkan terbuka. ayah haki dan Bu Kiran menatap Raka seolah menanyakan bagaimana keadaan Aya saat ini.
" Aya baik kok yah.. Bu.. Raka ke kamar dulu mau siap siap " ucap Raka sambil berlalu menuju kamarnya yang hanya terhalang kamar Randi.
" yah.. ayah ngga marah saat melihat Aya dan Raka berpelukan seperti tadi ?" tanya Bu Kiran setelah mereka ada di kamar nya.
" sayang.. mas sudah merestui hubungan Raka dengan Aya " Kiran yang mendengar apa yang di ucapkan suaminya pun langsung menatap tajam seolah pendengarnya bermasalah.
" iya semalam saat mas turun untuk mengambil minum tanpa sengaja mas mendengar obrolan Raka dan Aya " Kiran hanya mendengarkan dengan seksama apa yang di sampaikan suaminya.
" mas yakin Raka sangat tulus menyayangi dan mencintai Aya dan dia akan menjaga Aya sebaik kita menjaganya " ucap haki penuh keyakinan.
" terus sudut bibir Raka kenapa ?" tanya Kiran yang teringat dengan wajah putranya.
" ayah !!" Kiran menatap tajam suaminya yang sudah main tangan dengan Raka.
" laki yang... lagian Raka sendiri yang bilang tadi jika itu bagian dari restu ayah buat hubungannya dengan Aya " ucap haki sambil memeluk Kiran dari belakang.
" tapi kan yah ngga harus pakai kekerasan seperti itu " ucap Kiran yang tetap saja tidak terima dengan apa yang di lakukan suaminya pada putra sulungnya.
tok tok tok ..
" yah.. Bu... " Raka memanggil ayah dan ibunya karena dirinya akan pergi saat ini agar sampai di kosan tidak terlalu malam.
__ADS_1
" Raka pamit " ucap Raka sambil mencium tangan ayah dan ibunya.
" kak apa ini masih sakit ?" tanya Kiran saat melihat sudut bibir putranya yang sedikit lebam.
" ngga papa Bu.. Raka ini laki laki yang tidak akan sakit jika hanya luka seperti ini " ucap Raka meyakinkan ibunya yang terlihat bersedih.
" ibu tau berkat memar ini Raka kini mendapatkan restu dari ayah untuk bisa bersama Aya meski harus menunggu Aya lulus dulu " ucap Raka sambil melihat ke arah ayah haki yang mungkin nanti akan menjadi mertuanya juga.
" ya sudah hati hati di sana.. ingat jangan lupa sholat dan makan " Bu Kiran pun mengantarkan Raka sampai di depan pintu rumah mereka.
" Bu.. kalo ada apa apa jangan lupa kabarin Raka, karena sejauh apapun Raka berada Raka akan selalu ada di untuk keluarga ini terutama ibu dan Aya tentunya.
plakkk
" kamu ini " Bu Kiran menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang sedang jatuh cinta.
" ingat jangan pernah mempermainkan hati wanita karena tak akan ada orang tua yang tela anaknya di permainkan " Raka memeluk ibu nya yang pernah menjadi korban yang di sia siakan oleh ayah regi dulu tapi kini ibu sudah bahagia bersama ayah haki.
Aya yang sebenarnya ingin menemui kakaknya pun harus menahan keinginan nya karena iya tidak yakin akan bisa membiarkan kakaknya pergi setelah iya memeluknya.
Raka yang melihat Aya dari jauh hanya bisa melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan.
✍️✍️✍️ hai hai hai... gimana cuaca di daerah Kalian... kalo di tempat R-kha hujan dari subuh belum juga berhenti sampai sekarang...
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha 😘😘 lebih semangat lagi UP nya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha 😘😘 lebih semangat lagi.
Love you moreeeee 😍😍🌹