
Pandu lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Akan tetapi, ketika tiba di kamar, dia seketika membulatkan matanya.
"Kamu mau pergi kemana, Tamara?" tanya Pandu. Dia sangat terkejut ketika melihat istrinya tengah sibuk mempersiapkan sebuah koper dan memasukkan cukup banyak pakaian ke dalam koper tersebut.
"Besok pagi, aku harus terbang ke kota pusat, Mas. Aku dapat tugas untuk perjalanan bisnis selama satu minggu," sahut Tamara tanpa menoleh ke arah suaminya. Dia hanya fokus dengan barang-barang yang sedang dikemasnya.
"Perjalanan bisnis ke kota pusat?" Pandu menggelengkan kepalanya. "Mengapa mendadak begini?" sentaknya heran.
"Iya, Mas. Ada beberapa perusahaan asing yang mengundang perusahaan tempatku bekerja untuk presentasi dan aku sangat bangga karena CEO-ku memilih aku yang berangkat mewakili perusahaan." Tamara tersenyum bangga. "Dan kalau tender ini berhasil, aku akan dapat bonus yang cukup besar dan kesempatan untuk naik jabatan semakin terbuka lebar buatku," celoteh Tamara semakin bangga akan prestasi kerjanya.
Lagi-lagi Pandu hanya menggeleng. Berbanding terbalik dengan yang dirasakan Tamara, dia justru merasa tidak senang mendengar kesuksesan istrinya. Walau dia tahu pekerjaan Tamara memang sering menuntutnya harus berpergian, tetapi tidak biasanya dia harus pergi mendadak seperti itu.
"Chia sedang sakit, apa kamu tega meninggalkannya dalam keadaan begitu? Apa tidak sebaiknya kamu batalkan saja perjalanan bisnis mu?" tanya Pandu dengan sedikit menyeringai. Dia merasa kecewa akan keputusan istrinya yang dengan enteng mengatakan akan pergi ke luar kota tanpa peduli dengan keadaan bayinya.
"Tugas ini sangat urgent, Mas. Aku nggak mungkin menolak. Lagipula, tiket pesawat dan akomodasi sudah dipesan. Aku tidak mungkin membatalkannya secara sepihak. Aku juga tidak menyangka kalau Chia sakit seperti sekarang." Tamara masih dengan entengnya menyanggah ucapan Pandu.
"Bagaimana kamu bisa tahu anakmu sakit, kalau kamu sendiri tidak pernah peduli padanya. Kamu selalu saja sibuk dengan urusanmu sendiri! Apa kamu tahu kalau Chia sakit karena alergi susu formula? Semua itu karena kamu tidak mau menyusuinya!" hardik Pandu kesal.
"Aku kan kerja, Mas. Cari uang untuk masa depan Chia juga! Kok bisa sih kamu bilang aku nggak peduli sama dia? Dan ingat, Mas ... tanggunganku juga besar. Tiap bulan aku harus beli semua kebutuhan Chia dan juga bayar asuransi pendidikannya. Kamu tahu kan, itu jumlahnya tidak sedikit?!" balas Tamara ikut merasa kesal akan hardikan suaminya.
__ADS_1
"Bekerja dan cari uang itu tanggung jawab aku sebagai kepala keluarga, Tamara! Tugas kamu itu, seharusnya mengurus Chia!" bentak Pandu tersinggung akan perkataan istrinya. Dia sadar kalau penghasilan Tamara dari pekerjaannya, memang cukup tinggi. Bahkan, terkadang melebihi hasil yang dia dapatkan dari tokonya.
"Aaahh ... sudahlah, Mas! Aku nggak mau meributkan hal nggak penting. Aku lelah! Aku mau istirahat karena besok pagi-pagi sekali, aku harus ke bandara," pungkas Tamara sambil menutup kopernya karena dia sudah selesai mengemas semua keperluan untuk perjalanannya ke ibukota esok hari.
Tanpa ingin melanjutkan perdebatan lagi, Tamara langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menarik selimut, tidur dengan posisi miring, berlawanan arah dari suaminya.
Sambil ikut memiringkan badan memunggungi Tamara, Pandu mendengus pelan. Kian hari, hubungannya dengan Tamara semakin dingin. Tidak ada lagi keharmonisan yang dia rasakan bersama wanita yang sudah selama tujuh tahun ini menjadi pujaan hatinya itu.
****
Hari sudah siang, matahari sudah cukup tinggi menyinari semesta.
Di teras rumahnya, Pandu duduk termenung. Pikirannya kosong, rasa kecewa terhadap perubahan sikap istrinya semakin membuatnya merasa tidak tenang. Terlebih pagi-pagi sekali hari itu, Tamara sudah meninggalkan rumah dan berangkat ke bandara untuk perjalanan bisnisnya. Bahkan, sebelum berangkat Tamara tidak sempat menemui apalagi mengurus Chia, meskipun dia tahu saat bayi itu masih belum sehat.
Sambil melengkungkan sebuah senyum indah di bibirnya, Yuri lalu mendekati Pandu.
"Tumben sudah siang begini Pak Pandu belum berangkat bekerja?" Yuri bertanya dan sengaja ingin sedikit menunjukkan perhatiannya kepada majikannya itu.
"Hmm ... iya, Yuri. Tamara baru saja berangkat ke luar kota dan Chia masih sakit. Aku tidak mungkin meninggalkanmu bersama Chia di rumah," sahut Pandu.
__ADS_1
"Pak Pandu jangan terlalu mengkhawatirkan Chia. Lihatlah, Chia sudah tidak panas lagi dan dari semalam, tidurnya juga sudah nyenyak." Yuri menunjukkan bayi yang sudah terlihat sehat itu ke hadapan Pandu.
"Setelah produk susunya diganti, Chia juga sudah tidak muntah lagi." Yuri turut merasa lega karena setelah susu formulanya diganti, bayi itu tidak pernah memuntahkan susunya lagi.
"Anak papa sudah sehat! Syukurlah alerginya tidak terlalu parah," ucap Pandu tersenyum sumringah seraya menyentuh kening bayinya. Dia sedikit lega karena suhu badan Chia sudah tidak panas lagi serta ruam merah di kulitnya pun sudah tidak terlihat lagi.
"Biar aku yang menggendongnya, Yuri!" Bergegas ia mengambil alih Chia dari gendongan Yuri dan Yuri pun tidak melarangnya.
"Untung ada kamu, Yuri. Terima kasih karena kamu sudah merawat putriku dengan baik." Pandu tersenyum. Sambil menggendong bayinya, dia masih sempat memberi pujian terhadap Yuri.
"Jangan berterima kasih pada saya, Pak. Sudah kewajiban saja menjaga Chia." Yuri menundukkan wajahnya tersipu malu mendengar Pandu memujinya.
"Kasihan Chia, Tamara sama sekali tidak peduli terhadapnya. Sedangkan kamu ... " Pandu menjeda ucapannya dan tersenyum menatap ke arah Yuri. "Kamu tidak pernah kenal lelah menjaga Chia. Ku rasa, kamu lebih pantas menjadi ibunya daripada Tamara," sambung Pandu tetap memuji.
Jantung Yuri seketika berdegup kencang mendengar kalimat yang diucapkan Pandu tentangnya. Entah mengapa, tiba-tiba perasaannya menjadi berbunga-bunga. Semua kata sanjungan dari Pandu membuatnya seakan melayang dalam sebuah angan-angan yang dia rasa akan sangat mustahil mampu digapainya.
"Yuri, tolong buatkan kopi untukku! Sementara, biar Chia aku yang menjaganya," perintah Pandu. Namun, terlalu asyik dalam lamunannya, Yuri tidak mendengar ucapan Pandu tersebut.
"Yuri ... apa kau mendengarku?" ulang Pandu. Dia merasa heran karena Yuri hanya diam mematung di hadapannya.
__ADS_1
"Aaa ... iya! Ba-baik, Pak!" Yuri tergagap, dia baru tersadar dari lamunan itu, setelah Pandu mengulang perintahnya.
Sambil mengulas sebuah senyum dengan sejuta makna di bibirnya, Yuri bergegas melangkah ke dapur dan menyiapkan secangkir kopi yang diminta sang majikan.