Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 64. Masih Berusaha Adil


__ADS_3

Yuri tersenyum sambil mengusap lembut wajah imut Chia yang sudah terlelap. Setelah menidurkan Chia di kamarnya, Yuri melangkahkan kakinya masuk ke kamar samping dimana kamar itu sebelumnya adalah kamarnya sewaktu dia masih hanya menjadi seorang baby sitter di rumah itu.


Yuri tersenyum sumringah, karena Pandu sudah terlebih dahulu ada di kamar itu dan terlihat sibuk merapikan barang-barang yang baru saja mereka bawa sepulang dari berbulan madu.


"Kamu sudah disini, Mas?" tanya Yiuri berbasa-basi.


"Iya, Sayang. Untuk sementara, barang-barangmu aku letakkan disini dulu. Besok setelah Tamara memindahkan barang-barang miliknya, baru aku akan memindahkan semua ini ke kamar utama dan untuk selanjutnya kita berdua akan tidur disana." Pandu menjawab juga dengan senyum kebahagiaan melengkung di bibirnya.


Perlahan Yuri mendekati Pandu dan memegang tangannya.


"Mas, Apa kamu tidak berlebihan kalau harus mengusir Tamara dari kamar utama dan menyuruhnya pindah kesini? Kasihan dia, Mas. Tamara pasti merasa sedih karena kamu selalu saja bersikap tidak adil terhadapnya," ujar Yuri sambil menatap wajah pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.


Pandu hanya menggeleng sembari balas menatap wajah cantik Yuri serta memegang pinggang ramping istri keduanya tersebut.


"Biarkan saja dia mendapat pelajaran atas semua pengkhianatannya, Sayang. Aku juga sangat senang karena sekarang kamu sudah berani tegas terhadapnya," balas Pandu, memuji sikap Yuri terhadap Tamara sebelumnya.


"Aku melakukan semua itu hanya untuk memenuhi keinginan kamu, Mas. Padahal sesungguhnya, aku sangat tidak tega. Sebelum kehadiranku, rumah ini adalah milik kamu bersama Tamara. Sebenarnya dia yang lebih berhak ada disini dari pada aku," ucap Yuri merasa bersalah terhadap Tamara. Keberaniannya melawan Tamara hari itu, memang adalah atas keinginan Pandu. yang berharap bisa memberi pelajaran terhadap Tamara, sehingga dia semakin sadar dan menyesali semua kesalahannya.


Pandu kembali tersenyum mendengar pengakuan tulus yang keluar dari mulut Yuri.


"Tidak, Sayang. Kamu yang lebih berhak ada di rumah ini, karena Tamara hanya akan tinggal disini beberapa bulan lagi saja. Aku sudah mempersiapkan sebuah rumah baru untuknya. Setelah anaknya lahir dan aku sudah bercerai dengannya, rumah itu akan aku serahkan sepenuhnya untuk dia," terang Pandu, menjelaskan apa yang ia sudah persiapkan untuk Tamara, serta berusaha tetap berbuat adil terhadapnya, walau nanti mereka sudah resmi berpisah.


"Syukurlah, Mas. Aku sangat senang mendengar semua ini. Bagaimanapun juga, Tamara adalah wanita yang pernah kamu cintai. Seberapapun dia berbuat kesalahan, ku harap kamu tidak terlalu membencinya." Yuri ikut membalas dengan tersenyum tanpa beban.


"Hmm ... dari dulu Tamara selalu membenci dan berusaha menghinamu, aku heran kenapa kamu masih saja perhatian dan peduli terhadapnya?" Pandu mengerutkan keningnya menatap kagum akan kebesaran hati Yuri yang terlihat tidak sedikitpun membenci Tamara, meski wanita itu selalu menghina dan merendahkannya.

__ADS_1


"Tidak baik saling membenci, Mas. Apalagi Tamara kan hanya seorang wanita. Sama seperti aku, dia juga punya perasaan, kamu jangan menyakiti perasaannya lagi, terlebih saat dia sedang hamil seperti sekarang." Yuri menggeleng pelan seraya mengalungkan kedua tangannya dengan manja di bahu Pandu.


"Tamara mengandung bukan dari benihku, Yuri. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menerimanya."


"Tapi, Mas ... yang mesti kamu pikirkan sekarang, bukan siapa ayah dari bayi yang sedang dikandung Tamara. Kamu harus memikirkan kondisi psikisnya juga. Seorang wanita yang tengah hamil tidak boleh mendapat tekanan terlalu berat terutama tekanan batin, Mas."


Pandu menghela nafas dalam-dalam mendengar nasehat Yuri. Dia semakin bangga akan ketulusan hati wanita di hadapannya itu.


"Kamu memang memiliki hati yang sangat tulus, Sayang. Aku bangga padamu dan aku juga semakin cinta sama kamu." Pandu memeluk erat tubuh Yuri.


"Aku juga cinta sama kamu, Mas," balas Yuri sambil ikut memeluk Pandu juga sangat erat.


"Sayang ... " Pandu berbisik lembut di telinga Yuri.


"Malam ini, kamu mau berapa kali lagi?" Pandu bertanya, mulai dengan nada genit menggoda istrinya.


"Mas, setelah hari pernikahan kita, tiap malam kita selalu melakukannya. Dan malam ini kita juga baru sampai di kota ini. Memangnya kamu nggak capek?" jawab Yuri, paham akan keinginan suaminya.


"Untuk yang satu ini, aku tidak akan pernah capek, Sayang. Dan itu semua karena kamu, hmm ... kamu benar-benar membuatku mabuk dan kecanduan," bisik Pandu semakin genit dan menggoda.


"Kamu bisa saja, Mas." Yuri hanya menggeleng dan tersipu malu.


Pandu terus tersenyum menggoda, menatap wajah Yuri. Tanpa meminta izin darinya, Pandu langsung mencium bibir Yuri dengan mesra.


Tanpa ragu, Yuri juga membalas ciuman itu, membuka sedikit mulutnya dan membiarkan Pandu menciumnya lebih dalam.

__ADS_1


Untuk sesaat, ciuman itu membuat keduanya terbuai dan ada hasrat ingin segera melakukan hal yang lebih dari sekedar hanya berciuman. Maklum saja, hubungan mereka kini sudah sah. Setelah menghalalkan Yuri menjadi miliknya, Pandu merasa bebas melakukan semua itu kapan saja yang dia mau.


Sambil terus saling berpelukan, keduanya sama-sama menjatuhkan tubuhnya dan berguling di atas tempat tidur.


"Aaahh, Mas Pandu ... " desah Yuri, ketika Pandu mulai semakin garang mencium dan mencumbunya.


"Mas, kita baru saja sampai, apa tidak sebaiknya kita mandi dulu?" Yuri berbisik dan membuat Pandu untuk sejenak menghentikan cumbuannya.


"Mandi besarnya nanti saja, Sayang. Sekarang aku akan memandikan kamu seperti kucing dulu," lirih Pandu dengan gaya bahasa ambigunya.


"Ihh, Mas. Kamu itu ... " Yuri terkekeh dan menjeda ucapannya. Dia langsung paham apa yang dimaksud Pandu.


"Kamu suka mandi kucing kan, Sayang? Ayo bersiaplah. Kita akan memulainya." Pandu berbisik dan kembali melanjutkan aksinya.


Ketika cinta sedang hangat-hangatnya dan hasrat begitu bergelora, dua insan akan selalu melewatkan waktunya dengan kemesraan. Seperti itulah yang kini tengah dirasakan Pandu dan Yuri. Walau sebenarnya mereka masih merasa lelah setelah perjalanan cukup lama yang mereka tempuh dari kampung halaman Pandu, tetapi gairah bercinta membuat semua lelah sirna begitu saja.


Hanya dalam hitungan menit, Pandu dan Yuri sudah berpacu lagi dalam kehangatan serta kemesraan, memadukan cinta mereka. Tanpa mempedulikan peluh yang mulai membasahi tubuh mereka, keduanya terlihat sangat menikmati keintiman dan pergulatan penuh cinta tersebut. Hanya suara dessahan dan lenguhan yang terdengar lirih, pertanda dua manusia begitu larut dalam penyatuan indahnya malam itu.


Pada saat bersamaan, Tamara keluar dari kamarnya dan hendak menuju kamar Chia. Walau mengetahui putrinya sudah tidur, Tamara tetap ingin sejenak bisa melihat buah hatinya itu.


Di depan kamar dimana Pandu dan Yuri akan tidur malam itu, Tamara menghentikan langkahnya.


Telinganya begitu terusik mendengar suara-suara berisik dari dalam kamar itu dan dia juga sangat tahu apa yang sedang tejadi di dalam kamar tersebut.


Tamara menghela nafas dalam-dalam dan dadanya terasa bergemuruh sangat hebat. Suara dessahan dua insan dari dalam kamar di sebelahnya berdiri, membuat hatinya terasa sangat hancur, sakit dan perih tak tertahankan. Dia merasa bahwa kebahagiaan yang dulu dia nikmati bersama Pandu, kini sudah benar-benar dirampas sepenuhnya oleh Yuri, mantan baby sitter yang sangat dia benci.

__ADS_1


__ADS_2