
Tamara mengayun langkahnya dengan gontai keluar dari gedung perusahaan tempatnya bekerja. Sambil menenteng sebuah tas besar di tangannya, dia berjalan pelan menuju tempat parkir. Raut kekesalan terlihat jelas di wajahnya dan tanpa dia sadari, matanya berkaca. Ada rasa penyesalan memenuhi sukmanya kini.
"Kenapa Mr Tim begitu tega memecat aku secara sepihak seperti ini? Aku sudah hampir delapan tahun bekerja di perusahaan ini dan aku selalu melakukan yang terbaik. Tapi hanya karena kasus itu, sekarang aku ditendang dari perusahaan ini dengan cara tidak hormat." Tamara meremas kuat-kuat sebuah amplop di tangannya. Amplop itu berisikan surat pemutusan hubungan kerja yang ditandatangani secara sepihak oleh Mr Timothy, CEO di perusahaan itu.
Setelah kasus memalukan Tamara bersama Hans menjadi sorotan publik, Mr Tim langsung mengambil keputusan untuk tidak lagi mempekerjakan Tamara, karena semua itu akan berdampak secara tidak langsung bagi nama baik perusahaannya.
Dalam kasus tersebut, Tamara memang tidak terbukti terlibat, sehingga tidak ada tuntutan apapun terhadapnya. Pihak kepolisian hanya menjadikannya saksi, atas semua kejahatan yang dilakukan oleh Hans.
Dengan perasaan kesal, Tamara merobek amplop beserta surat di dalamnya, hingga menjadi serpihan-serpihan kecil dan membuangnya begitu saja di jalan yang dilaluinya.
Sambil menyeka air mata yang sudah menetes di pipinya, Tamara kembali berjalan lebih cepat menuju tempat dimana dia memarkirkan mobilnya.
Tamara tersentak. Ketika tangannya sudah meraih handle pintu mobil dan akan membukanya, terlihat dua orang pria langsung mendekat ke arahnya serta memberi tatapan yang terlihat sangat aneh dan menakutkan.
"Siapa kalian? Mau apa kalian disini?" Tamara ikut menatap tidak senang ke arah dua orang itu.
"Kami kesini atas perintah Nona Sisca. Kami ditugaskan untuk mengambil mobil ini!" ucap seorang dari pria tersebut sambil menepuk bemper bagian depan mobil itu.
"Ini mobilku. Atas dasar apa Sisca ingin mengambilnya?" Tamara terlihat bingung.
"Mobil ini dibeli dengan menggunakan uang perusahaan milik Hardianto. Kami masih punya bukti jual beli mobil ini, jadi itu artinya mobil ini bukan milik kamu, tapi mobil ini adalah aset dari Hardianto Corporations," tegas seorang pria lainnya penuh penekanan.
"Apa?" Mata Tamara terbelalak mendengar penjelasan pria itu. "Tidak! Tidak mungkin! Mobil ini dibelikan Hans atas namaku. Kalian tidak boleh seenaknya mengambilnya dariku!"
"Aaahh, jangan banyak omong! Cepat serahkan kunci mobil ini pada kami!" Pria itu membentak dengan kasar.
"Aku tidak akan menyerahkan kunci ini pada kalian! Mobil ini milikku!" Tamara menggenggam erat remote mobilnya.
"Cepat serahkan! Kalau tidak, jangan salahkan kalau kami merebutnya dengan paksa!" ancam pria itu lagi sambil berjalan semakin mendekat ke arah Tamara.
"Ayo serahkan, cepat! Jangan tunggu kesabaran kami habis!" bentak pria itu lagi seraya menengadahkan telapak tangannya, merasa kesal karena Tamara tidak kunjung memberikan kunci itu padanya.
Bentakan pria itu, kali ini membuat Tamara seketika ciut. "Tidak! Aku mohon jangan ambil kunci ini. Sekarang aku sudah tidak bekerja lagi, hanya mobil ini satu-satunya yang aku miliki!" rengek Tamara dengan ekspresi memelas, berharap dua pria yang bertampang sangar itu tidak mengambil kunci mobil darinya.
"Aku tidak peduli! Serahkan kunci itu atau aku akan menyakitimu!" ancam pria itu lagi, dan terlihat sangat kesal karena Tamara belum juga menyerahkan kunci itu kepadanya.
__ADS_1
"Ba-ba-baik. Ini kunciya!" Tamara sangat ketakutan ketika pria itu mengangkat tangan dan seolah hendak memukulnya. Walau sangat terpaksa, dia akhirnya menyerahkan juga kunci mobil itu.
"Bagus!" Pria itu tersenyum sinis dan secepat kilat menyambar kunci dari tangan Tamara. Tanpa berbasa basi lagi, kedua pria itu bergegas masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi dari tempat parkir.
Tamara terhenyak, kedua kakinya terasa kaku, seakan tidak bisa beranjak dari tempatnya berdiri. Selain kehilangan pekerjaan, mobil yang selama ini dia pakai kini juga sudah diambil kembali oleh Sisca. Kehilangan dua hal berharga dalam waktu bersamaan, membuat rasa sedih, jengkel, marah dan frustasi memenuhi kepalanya.
Perlahan Tamara mengambil ponsel dari dalam saku blazer-nya. Karena mobilnya sudah tidak ada, hari itu dia terpaksa harus memesan taksi online untuk mengantarnya pulang.
Tiba di rumah, Tamara langsung masuk ke ruang tengah karena melihat Pandu duduk di sana dan belum berangkat ke tokonya.
"Tumben jam segini kamu sudah pulang?" Pandu hanya bertanya dengan nada dingin, ketika melihat wanita yang masih menjadi istrinya itu, mendekatinya di ruangan itu.
"Iya, Mas. Aku kurang enak badan. Makanya aku pilih untuk ambil cuti saja sehari ini," sahut Tamara berbohong.
Tamara mengerutkan keningnya, ketika melihat saat itu Pandu tengah sibuk dengan beberapa lembar kertas dan sebuah map di atas meja di hadapannya.
"Apa ini, Mas?" Tamara membulatkan matanya, ikut memperhatikan kertas-kertas tersebut.
"Aku sedang mempersiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk perceraian kita. Siang ini juga aku akan ke pengadilan untuk mengurus perpisahan kita," ujar Pandu tanpa menoleh ke arah Tamara dan tetap sibuk memasukkan semua dokumen itu ke dalam map.
"Aku mohon, jangan ceraikan aku, Mas. Aku memang salah dan aku khilaf, tolong maafkan aku, Mas. Aku juga janji tidak akan mengulangi lagi kesalahanku." Tamara berjongkok di sebelah tempat duduk Pandu serta memegang tangan suaminya itu. Air mata jatuh begitu saja membasahi pipinya. Sekarang dia benar-benar takut Pandu akan meninggalkannya.
"Sudah terlambat, Tamara. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan kamu! Pengkhianatanmu sudah membuat aku sangat kecewa!"
"Mas Pandu, aku mohon ... jangan tinggalkan aku, Mas. Aku masih cinta sama kamu. Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu, Mas!" Tamara merengek. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Setelah Hans masuk penjara dan dia kehilangan pekerjaan, tentu hanya kepada Pandu hidupnya bisa bergantung. Dia juga sangat tidak ingin kehilangan semua itu lagi.
"Cinta?" Pandu tersenyum kecut. "Cinta seperti apa, Tamara? Apa arti mencintai kalau kamu sendiri yang mengkhianatinya? Aku sudah tidak percaya lagi dengan semua kata cinta palsumu itu!" sengit Pandu, sangat kecewa, merasa dibohongi oleh orang yang dulu sangat dicintainya. Namun, setelah mengetahui semua pengkhianantan wanita itu, rasa cinta pun sudah tidak ada lagi dan hanya berganti kebencian.
"Minggirlah! Aku akan pergi sekarang!"
Pandu melepaskan dengan acuh tangan Tamara dari tangannya, serta beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu, Mas!" Tamara ikut bangun dan kembali memegang tangan Pandu, mencegah suaminya itu pergi meninggalkannya.
"Aaah ... lepaskan!" Pandu menarik kasar tangannya dan mendorong Tamara agar menjauh darinya.
__ADS_1
"Aaww!" Tamara memekik. Tubuhnya terdorong ke belakang dan membentur dinding dibelakangnya. Tamara terhuyung sambil memegang keningnya dan bersandar lemas di dinding.
"Tamara!" Pandu menghentikan langkahnya dan terkejut melihat Tamara terduduk di lantai degan wajah pucat pasi. Pandu segera mendekati Tamara. "Tamara, kamu kenapa?" Pandu menyentuh pipi dan kening Tamara dan merasakan sedikit hawa panas. Mata wanita itu terpejam dan tubuhnya tidak bergerak.
"Tamara pingsan. Aku akan membawanya ke kamar." Pandu mengangkat tubuh istrinya dan membopong menuju ke kamar.
"Mas Pandu." Tangan Tamara perlahan bergerak dan matanya mulai terbuka, ketika Pandu membaringkannya di atas tempat tidur, saat itulah dia juga siuman dari pingsannya.
"Apa kamu sakit? Kenapa bisa tiba-tiba pingsan seperti ini?" tanya Pandu dengan wajah terlihat khawatir.
"Ayo, minum dulu air ini." Pandu mengangkat punggung Tamara dan membantunya meminum air dari dalam gelas yang dia bawakan. Meskipun saat itu dia membenci dan sudah tidak mencintai Tamara lagi, tetapi wanita itu masih istri sahnya, karena itu Pandu masih merasa tetap peduli dan bertanggung jawab terhadapnya.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Hanya sedikit pusing. Terima kasih karena kamu masih peduli terhadapku." Tamara tersenyum senang menatap wajah Pandu dan menyadari kalau sebenarnya Pandu masih sangat khawatir dan peduli akan keadaannya.
"Lagian aku begini kan sudah biasa. Di awal kehamilan, wanita memang akan merasa lemah." Tamara menerangkan keadaannya pada Pandu dan berharap Pandu akan makin peduli terhadapnya.
"Apa ... kamu hamil?" Pandu membulatkan matanya.
"Iya, Mas. aku sudah terlambat datang bulan lebih dari dua minggu. Sebentar lagi Chia akan mempunyai seorang adik." Sama seperti waktu mengatakan kehamilan pertamanya, Tamara berharap Pandu akan sangat senang mendengar kabar baik itu darinya.
"Dua minggu?" Sebuah senyum kecut langsung terpasang di bibir Pandu. Kedua matanya mendelik dan menatap tajam ke arah Tamara.
"Anak siapa yang kamu kandung, Tamara? Apa ini hasil hubungan kotormu bersama Hans?" hardik Pandu dengan raut wajah terlihat memerah, semakin marah terhadap Tamara.
"Bukan, Mas. Ini anak kamu," pekik Tamara, berusaha meyakinkan Pandu.
"Hah, aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan, Tamara. Jangan coba membohongiku! Apa kamu lupa kapan terakhir kita berhubungan? Kapan kamu melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri untukku?" Pandu menghardik dengan seringai sinisnya. Tentu saja dia sangat yakin kalau benar Tamara saat itu tengah hamil, pastilah itu bukan dari benihnya. Sudah lebih dari dua bulan, Tamara tidak pernah memberinya nafkah batin.
"Ini anak kamu, Mas. Sekarang aku mengandung anak kamu, dan kamu tidak bisa menceraikan aku."
Pandu mendengus kesal mendengar perkataan Tamara.
"Kamu hamil bukan anak dariku, Tamara. Jadi jangan bermimpi aku akan membatalkan tuntutan cerai dengan kamu!" ketus Pandu, seraya bergegas keluar dari kamar itu, meninggalkan Tamara.
"Tunggu, Mas! Jangan pergi! Percayalah, ini anak kamu, Mas."
__ADS_1
Meski Tamara terus memanggil dan tetap berusaha meyakinkan, tetapi Pandu sama sekali tidak ingin mempedulikannya.