
Hangat sinar mentari menyertai cerahnya pagi di hari yang baru.
Dengan langkah pelan dan sedikit gugup, Yuri melangkah memasuki sebuah gedung perkantoran megah yang letaknya ada di tengah kota.
Sesuai yang diutarakan Pandu, pagi itu dia datang ke sebuah kantor perusahaan yang cukup ternama untuk mengikuti wawancara kerja.
Jantung Yuri berdegup kencang, tangan dan kakinya gemetar serta keringat dingin pun membasahi telapak tangannya itu tanpa diundang. Rasa grogi dan kurang percaya diri memenuhi jiwanya. Maklum saja, pertama kalinya dia akan mengikuti sebuah wawancara kerja formal untuk melamar sebagai pekerja kantoran.
Sesungguhnya, dia sangat tidak yakin akan bisa diterima bekerja disana, karena secara pendidikan dia sangatlah kurang. Ijazah SMA saja dia tidak punya. Dulu, dia harus putus sekolah karena dipaksa menikah oleh bibinya di usia yang masih sangat belia.
Yuri juga tidak pernah bermimpi bisa masuk ke gedung megah seperti itu, apalagi berangan-angan bisa menjadi karyawan disana.
Di ruang tunggu kantor personalia, Yuri duduk di antara para pelamar lainnya untuk menunggu giliran wawancara. Disana, dia semakin merasa rendah diri, karena orang lain yang juga melamar disana adalah orang-orang yang notabene berpendidikan tinggi. Ada yang masih fresh graduated dan ada juga yang sudah punya banyak pengalaman.
"Tuhan! Tolong kuatkan aku. Beri ketenangan supaya aku tidak gugup menghadapi interview ini." Yuri terus berdoa dalam hati dan berusaha mengurangi rasa groginya.
Satu per satu pelamar yang datang dipanggil masuk ke ruangan personalia untuk wawancara, hingga kini giliran nama Yuri yang dipanggil.
Sambil membungkuk hormat, dia masuk ke ruang manager personalia.
"Ini daftar riwayat hidup saya, Pak." Yuri menyerahkan map yang sedari tadi dibawanya kepada manager personalia itu.
Pria berpakaian formal dan terlihat memiliki pembawaan selalu tenang itu perlahan membaca daftar riwayat hidup yang diserahkan Yuri.
"Oh ... jadi kamu yang bernama Mayuri, ya?" Pria di hadapan Yuri tersenyum ramah menatapnya.
"Benar, Pak Rudi," sahut Yuri lugas sambil ikut membalas tersenyum ramah kepada Rudi, yaitu kawan dari Pandu yang sebelumnya menginformasikan tentang lowongan pekerjaan itu kepada Pandu.
"Saya dan Pandu datang dari daerah yang sama. Dulu kami sama-sama merantau ke kota ini untuk menuntut ilmu dan mencoba peruntungan disini. Ternyata nasib kami berbeda. Pandu sukses dengan usaha tokonya, sedangkan saya hanya bisa bekerja untuk orang lain."
Bukannya mewawancarai Yuri, tetapi Rudi justru membeberkan sebuah kisah lama kepada Yuri. Sepertinya Rudi dan Pandu memang bersahabat baik semenjak lama.
Mendengar penuturan pria di hadapannya, Yuri hanya bisa diam tanpa tahu bagaimana harus menanggapi. Semua itu untuk sejenak membuat suasana menjadi hening di antara mereka.
__ADS_1
"Oh ya, Yuri! Kalau misalkan kamu saya terima bekerja disini, kapan kamu bisa mulai bekerja?" Sambil menjentikkan jarinya, Rudi bertanya lagi kepada Yuri.
"Kapan pun saya siap, Pak!" jawab Yuri kembali dengan sangat lugas.
"Apa bisa hari ini?" Pertanyaan Rudi kali ini terdengar singkat dan padat.
"Maksud, Pak Rudi?" Yuri mencoba memperhatikan mimik wajah pria itu untuk memastikan keseriusan ucapannya.
"Pandu yang merekomendasikan kamu untuk melamar kerja disini, Yuri. Saya dan Pandu bersahabat cukup lama. Saya yakin kalau dia berani merekomendasikan kamu, itu artinya kamu pasti mampu bekerja dengan baik."
Yuri hanya mengangguk dan paham akan penjelasan Rudi. "Kapanpun dibutuhkan saya siap, Pak," ucapnya, mulai sedikit lebih percaya diri.
"Baik kalau begitu, kamu saya terima magang disini, mulai hari ini juga. Saya butuh orang yang bisa mulai bekerja secepatnya." Rudi mengakhiri wawancaranya dengan Yuri semudah itu. Tali persahabatan yang terjalin lama antara dia dan Pandu membuatnya begitu percaya tanpa rasa keraguan sedikitpun akan rekomendasi dari Pandu tersebut.
"Terima kasih banyak, Pak Rudi." Hati Yuri seketika dipenuhi rasa senang. Rasa ragu dan rendah diri sebelumnya, perlahan mulai menghilang. Meski di antara banyak pelamar lainnya dia adalah satu-satunya pelamar dengan pendidikan terendah, pada akhirnya dia juga yang diterima, walau sementara hanya magang disana.
Hari itu juga, Yuri mulai bekerja part time sebagai karyawan magang di perusahaan itu. Yuri merasa sangat senang, karena dengan magang hanya setegah hari disana, dia masih bisa menjaga Chia setelah dia pulang bekerja.
Di hari pertama bekerja, tidak terlalu banyak hal yang Yuri kerjakan. Sebagai awal pelatihan dia hanya diberi tugas ringan dan membantu pekerjaan para admin senior di sana. Dia juga sangat senang, meski itu adalah hari pertamanya, semua karyawan senior di perusahaan itu menyambut kehadirannya dengan ramah.
"Yuri, tolong kamu fotocopy dokumen-dekomen ini!" Salah seorang admin senior disana memberinya tugas.
"Baik, Mbak!" Dengan sigap, Yuri meraih setumpuk dokumen yang dimaksud seniornya itu. Tumpukan kertas itupun segera dia bawa menuju ruang fotocopy.
Tanpa sengaja, ketika dia melewati sebuah standing AC yang ada di sudut ruangan itu, hembusan angin yang cukup kencang dari standing AC tersebut mengenai tumpukan kertas yang tengah dibawanya, sehingga kertas-kertas itupun berhamburan ke lantai.
"Aduh ... kertasnya terbang semua." Yuri bersungut sendiri seraya berjongkok dan mulai memunguti kertas-kertas yang berserakan di lantai bahkan ada yang terhempas cukup jauh.
Ketika tengah sibuk berjongkok sambil menunduk untuk mengambil kertas yang terhempas cukup jauh, tiba-tiba di pandangan Yuri terlihat sepasang sepatu pantofel pria berwarna hitam mengkilat tengah menginjak salah satu kertas itu.
Sontak Yuri menoleh ke atas untuk melihat siapa pria yang secara tidak sengaja menginjak kertas itu, sehingga dia tidak bisa mengambilnya.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap dan berbusana sangat formal dengan dasi dan jasnya, berdiri dan menatap tajam ke arah Yuri dengan gaya angkuhnya. Gara-gara kertas itu, pria itu merasa Yuri sudah menghalangi jalannya.
__ADS_1
"Permisi, Pak. Maaf kertas saja terjatuh dan ada di bawah kaki bapak. Izinkan saya mengambilnya!" ucap Yuri, mohon izin dengan sopan.
Pria itu terus menatap ke arah Yuri seraya menggeser kakinya dan membiarkan Yuri membungkuk mengambil kertas itu.
"Terima kasih, Pak." Yuri berdiri dan menunduk hormat, namun pria itu masih saja menatapnya.
"Kamu karyawan baru ya disini?" Pria itu bertanya, karena dia merasa baru pertama kali melihat Yuri disana.
"Iya, Pak. Saya baru mulai magang disini hari ini. Nama saya Mayuri." Yuri masih membungkukkan punggungnya hormat, sembari memperkenalkan dirinya.
Pria itu hanya mengangguk pelan dan tersenyum masam. Dengan wajah yang semakin terlihat datar dan dingin, dia tidak ingin terlalu peduli kepada Yuri. Pria itu segera buang muka dan melanjutkan langkahnya menuju ke lorong yang membawanya ke sebuah ruangan yang ada di kantor itu.
"Huh ... siapa sih pria itu? Gayanya sangat angkuh dan juga sangat tidak ramah!" Yuri menggerutu sendiri dan merasa kalau pria itu sangat tidak ramah, berbeda dari karyawan lain disana.
"Hati-hati kalau bicara, Yuri!"
Yuri terperanjat dan terlonjak kaget ketika seseorang menepuk pundaknya dan memberi sebuah kalimat peringatan.
Seseorang itu adalah seorang karyawan senior disana yang secara tidak sengaja melihat kejadian sebelumnya dan mendengar kala Yuri menggerutu dan mengumpat sendiri.
"Ma-ma-maaf, Mbak. Habisnya bapak yang tadi itu sepertinya sedikit angkuh. Sangat berbeda dari karyawan lain disini yang semuanya ramah," ucap Yuri dengan jujur dan kepolosannya.
"Apa kamu tahu siapa pria tadi itu, Yuri? Asal kamu tahu dia bukan karyawan disini," terang seniornya itu dengan nada mencibir.
Yuri hanya menggeleng. "Memangnya siapa dia, Mbak?" tanyanya penasaran.
"Dia itu Pak Hansel Sanjaya. CEO di perusahaan ini." Senior itu menerangkan siapa pria yang baru saja ditemui Yuri tersebut.
"Owh, jadi dia pimpinan tertinggi di perusahan ini ya, Mbak?" Mulut Yuri mengerucut membentuk huruf o. Ini hari pertamanya bekerja, tentu saja dia belum mengenal siapa saja key person di perusahaan itu.
"Hmm ... " Senior itu hanya menggeleng menyadari keluguan Yuri. Tanpa ingin berlama-lama disana, diapun segera berlalu meninggalkan Yuri untuk kembali ke meja kerjanya.
Untuk sesaat Yuri terdiam di tempat semula dia berdiri.
__ADS_1
"Jadi itu yang namanya Pak Hansel Sanjaya." Yuri menggumam. "Memang sangat tampan dan berwibawa, tapi sayangnya sedikit angkuh," pikirnya dalam hati.