
Raut wajah Yuri berubah masam ketika pandangannya tertuju pada tangan Tamara yang terlihat tengah memegang tangan Pandu.
Sedari awal Tamara membujuk Pandu agar mengizinkannya membawa Chia, Dia memang merengek seperti anak kecil, sambil terus memegang dan menggoyang-goyangkan tangan mantan suaminya itu.
"Apa tujuanmu datang kesini, Tamara?" Yuri menatap Tamara dengan raut wajah tidak suka seraya menarik tangan Pandu agar lepas darinya.
Tamara hanya tersenyum datar. Dia tahu pastilah Yuri sangat tidak suka akan kehadirannya disana.
"Jangan salah sangka dulu, Yuri. Aku kesini bukan untuk mencoba menggoda Mas Pandu. Tapi, aku kesini untuk menjemput Chia. Sebagai ibu kandungnya, aku juga punya hak menemui anakku sendiri," tegas Tamara menjelaskan tujuan utamanya datang ke rumah itu.
Mendengar pengakuan Tamara, Yuri sejenak menoleh ke arah Pandu dan pria itu tampak menganggukkan kepala, tanda ia menyetujui permohonan Tamara.
"Tamara ingin membawa Chia menginap semalam di rumahnya, Sayang. Selama ini Chia tidak pernah mau dekat dengannya. Ku rasa tidak ada salahnya kita membiarkan Tamara mencoba mendapatkan hati Chia. Bagaimanapun juga, Tamara adalah ibu kandung putriku, dia punya hak untuk bisa bersama Chia," ujar Pandu, memperjelas keinginan Tamara itu kepada Yuri.
Yuri hanya menanggapi dengan senyuman dan dia bisa mengerti apa yang Pandu terangkan kepadanya.
"Aku juga tidak pernah punya keinginan melarang kamu membawa Chia bersamamu, Tamara. Walau aku sudah menganggap Chia seperti anak kandungku sendiri, tapi kamu jauh lebih berhak bersamanya, karena Chia adalah darah dagingmu," urai Yuri, sama sekali tidak keberatan akan permintaan Tamara tersebut.
"Terima kasih banyak. Aku jaanji, besok aku akan mebawa Chia kembali ke rumah ini." Tamara membungkukkan punggungnya sebagai tanda mempertegas rasa terima kasihnya, karena Pandu dan Yuri menginzinkan untuk membawa Chia ke rumahnya.
"Ayo, mari masuk dulu! Aku akan siapkan baju dan susu untuk Chia bawa nanti bersamamu." Yuri menengadahkan tangannya, dan mempersilahkan Tamara untuk masuk ke rumah itu.
__ADS_1
Sementara Pandu dan Yuri mempersiapkan semua keperluan untuk Chia, Tamara duduk sendiri menunggu di kursi ruang tamu. Pandangannya beredar ke semua sudut ruangan di rumah itu. Rumah baru yang ditempati Pandu bersama Yuri itu, memang tidak terlalu besar. Akan tetapi, di tangan Yuri semua barang-barang dan perabotan di rumah itu, tampak tertata rapi dan bersih.
Mata Tamara tertuju pada sebuah foto pernikahan antara Pandu dan Yuri yang di tempel pada dinding ruang keluarga. Berbagai perasaan seketika muncul di hatinya ketika melihat foto itu. Cemburu dan juga menyesal, itulah yang selalu ada mengisi benaknya setelah dia resmi bercerai dari Pandu, pria yang sesungguhnya masih dia cintai.
Tanpa sadar, ada butiran bening yang menetes membasahi pipinya, ketika dia tahu bahwa kini sudah sangat terlambat untuk menyadari semua kesalahan.
Namun, apalah daya, penyesalan selalu datang di akhir cerita. Karena apabila adanya di awal, bisa jadi itu hanya prolog atau pendahuluan dari sebuah karya fiksi.
"Chia ... malam ini kamu akan menginap di rumah Mama Tamara. Mama Yuri harap kamu tidak rewel dan betah disana ya!" pesan Yuri kepada Chia yang kini tengah ada dalam gendongannya.
Sambil berjalan menuju ruang Tamu, Yuri terus memeluk tubuh mungil putri sambungnya itu sambil menenteng sebuah tas berisi keperluan bayi.
"Chia ... sini sama mama, Sayang!" Tamara langsung menjulurkan tangannya hendak mengambil alih Chia dari gendongan Yuri. Akan tetapi, bocah kecil yang kini sudah berusia lima belas bulan itu, sama sekali tidak mau menoleh ke arah Tamara. Chia justru semakin erat mengalungkan kedua tangannya di leher Yuri dan seakan tidak ingin bersama Tamara.
"Chia, ini Mama Tamara, Sayang. Mama Tamara mau ngajak kamu jalan-jalan," bujuk Yuri sambil berusaha melepaskan tangan Chia yang semakin erat memeluknya.
"Iya, Chia. Mama akan belikan banyak mainan buat kamu." Tamara juga kembali membujuk. Namun, Chia justru menangis tidak mau lepas dari Yuri.
"Chia, aku ini mama kandung kamu, bukan Yuri, Sayang. Tapi kenapa kamu sama sekali tidak mau bersama denganku?" Tamara bersungut kecewa. Sejauh itu dia tetap belum bisa membujuk bocah putri kecilnya untuk mau dia gendong.
Menyadari penolakan putrinya, Tamara tidak dapat membendung air mata menetes begitu saja membasahi pipinya. Hatinya terasa sangat sakit. Bukan hanya kehilangan cinta dari suaminya, semua kesalahannya juga sudah membawanya jauh dari cinta sang buah hati.
__ADS_1
"Jangan sedih, Tamara. Aku akan membujuk Chia lagi. Tunggu sebentar, ya!"
Melihat kesedihan Tamara, Yuri berusaha menghiburnya.
Setelah berbagai cara Yuri lakukan untuk membujuk Chia, akhirnya bocah itu bersedia di gendong oleh Tamara.
"Sekarang kamu bisa membawa Chia, Tamara. Aku yakin, lama-kelamaan dia pasti akan terbiasa bersamamu." Yuri tersenyum senang sambil mengusap kepala Chia yang kini sudah ada dalam gendongan Tamara.
"Terima kasih banyak, Yuri. Sekarang aku pamit dulu Aku janji besok aku pasti akan membawa Chia kembali ke rumah ini," pamit Tamara, ingin segera membawa Chia ke pulang rumahnya.
Dengan menaiki sebuah taksi online, Tamara bersama Chia bisa sampai di rumahnya dengan selamat. Sampai disana Chia juga masih terlihat tenang bersamanya, karena banyak mainan yang selalu Tamara berikan untuk menghibur putrinya itu. Sebuah senyum juga tidak pernah lepas dari bibirnya. Dia sangat senang karena Chia sudah mau bersamanya.
"Chia Sayang, kita sudah ada di rumah. Ini adalah rumah Chia juga dan disini mama akan menjagamu dengan baik." Tamara mengusap kepala dan mencium pipi Chia penuh kasih sayang.
"Chia mau main apa, Sayang? Hari ini, Chia ingin apapun, mama pasti akan berusaha memenuhinya." Tamara benar-benar merasa bahagia karena untuk pertama kali setelah bercerai dengan Pandu, putri kecilnya itu mau diajak bersamanya.
Hingga hari menjelang malam, Chia masih anteng bersama Tamara dan Tamara pun tidak pernah melepaskan perhatian menjaga balita kecilnya itu. Dia selalu menemaninya bermain, membuatkan susu dan memberinya makan tepat waktu. Dengan berbagai cara dia terus berusaha mendapatkan hati malaikat kecil itu.
Akan tetapi, ketika waktunya Chia akan tidur, bocah kecil itu tiba-tiba terlihat gelisah. Entah apa yang terasa kurang baginya, bocah itu akhirnya kembali menangis bahkan semakin lama semakin histeris sehingga Tamara sangat kesulitan untuk menenangkannya.
Meski Tamara terus berusaha dan tetap sabar menghadapi putrinya itu, tidak mudah baginya meredakan tantrum yang dialami Chia. Dia tahu, apabila anak kecil mengantuk, biasanya dia pasti akan sangat rewel sampai dia benar-benar bisa tertidur lelap.
__ADS_1