
"Mbak Yuri, sudah berapa lama kamu menjanda?" Tiba-tiba Trisno melontarkan sebuah pertanyaan sembari menatap Yuri dengan sorot mata penuh arti. Namun, sorot mata itu terlihat semakin menakutkan bagi Yuri. Dari ekspresi wajah yang ditunjukkan Trisno, jelas ada maksud tidak baik tersirat disana.
"Maaf, Pak. Saya rasa urusan saya disini sudah selesai, saya pamit. Rantangnya biar nanti sore, teman saya yang mengambilnya," elak Yuri, sambil berusaha menghindari tatapan Trisno yang tidak biasa dan terus menatapnya jallang.
Yuri bergegas membalikkan badannya, ingin sekali dia segera keluar dari rumah Trisno.
"Ehh ... kamu mau kemana? Disini saja dulu, kita ngobrol sebentar. Berhubung istriku sedang tidak ada di rumah, hmm ... " Trisno menahan tangan Yuri seraya terus menatap Yuri dengan tatapan yang terkesan kian berani.
Yuri menundukkan wajahnya, apa yang dikatakan oleh Trisno membuatnya semakin merasa ketakutan.
"Ayo, duduklah! Aku ingin membagi sesuatu yang istimewa buat kamu." Trisno tersenyum genit menatap wajah Yuri yang memerah menahan rasa takut, dengan pupil matanya yang kian melebar.
"Maaf, Pak. Izinkan saya pergi dari sini sekarang, pekerjaan saya masih banyak." Meski Yuri bisa menyadari maksud kurang baik dari perlakuan Trisno, dia tetap berusaha menolak dengan sopan.
"Tidak usah buru-buru! Di sini saja dulu temani aku. Kita hanya berdua disini, dan tidak akan ada yang melihat kita," bisik Trisno semakin genit sambil mencengkram tangan Yuri lebih kuat.
"Lepaskan saya, Pak! Jangan berani lancang menyentuh saya!" bentak Yuri kesal akan perlakuan tidak senonoh Trisno terhadapnya. Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan tangan Trisno dan menjauh darinya.
"Selama ini, kamu pasti kesepian bukan? Ayolah! Jangan munafik, Yuri. Kamu sudah lama menjanda kan? Percayalah aku pasti bisa memberikan kepuasan untukmu." Trisno kembali mendekati Yuri dan menjulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Yuri.
"Hentikan, Pak! Jangan coba-coba mendekati saya! Asal bapak tahu ... walau saya ini janda, bapak tidak bisa seenaknya berbuat tidak sopan terhadap saya!" Yuri mundur beberapa langkah, berupaya menjauh dari Trisno yang kian mendesaknya.
Trisno tersenyum kecut. Kalimat penolakan Yuri justru membuatnya semakin tertantang untuk mendekati janda muda yang sudah seminggu ini menarik perhatiannya itu.
"Jangan terlalu jual mahal! Aku tahu banyak hal tentang kamu, Yuri. Kalau kamu bersedia mengikuti kemauanku, aku pastikan hidup kamu akan tenang, tidak akan ada yang tahu tentang hubungan kita!"
Trisno terus mendesak Yuri dan dengan kasar memegang kedua pundak Yuri yang gemetar takut akan tatapan Trisno dan seolah akan menelanjangi Yuri dengan kedua mata jallangnya.
"Saya mohon jangan lakukan apapun terhadap saya, Pak. Saya bukan wanita seperti yang bapak pikirkan!" Yuri mencoba meronta dan melepaskan cengkraman Trisno. Namun, tenaganya tidaklah sebanding dengan pria berwajah sangar yang kini semakin kuat mendesaknya itu.
__ADS_1
"Kalau bapak berani macam-macam, saya akan berteriak!"
"Berteriak saja! Teriak sekerasnya ... dan tidak akan ada seorang pun yang mendengarmu! Ha ... ha ... ha ... " Trisno terbahak penuh kemenangan. Dia tahu kalau dengan mudah dia bisa menguasai Yuri.
Bruugh!
Yuri tidak sanggup lagi menahan Trisno yang terus mendesaknya sehingga dia terjatuh di atas kursi ruang tamu dan tak khayal tubuh tambun Trisno pun menindihnya.
Trisno semakin melebarkan senyumannya. Dalam posisi seperti itu, dengan mudah dia bisa mendekatkan wajahnya ke wajah Yuri dan mencoba mencumbu wanita yang terus meronta di bawah kungkungan tangan kekarnya.
"Saya mohon lepaskan saya, Pak. Jangan lakukan ini terhadap saya!" rengek Yuri dengan air mata tak tertahankan menetes membasahi wajahnya, ketakutan setengah mati.
"Diamlah! Kita hanya akan bersenang-senang sebentar!" bisik Trisno sambil menggigit bagian belakang telinga Yuri dengan bibirnya, penuh hasrat.
Semakin Yuri menolak dan meronta, semakin besar pula keinginannya untuk menumpahkan nafsu bejatnya terhadap janda yang sudah membuatnya cukup terobsesi tersebut.
"Memangnya siapa yang akan menyakitimu? Aku justru akan mengajakmu mencari kenikmatan." Trino terkekeh dan terlihat sudah sangat tidak sabar ingin segera menumpahkan segala hal yang sangat ingin dia lampiaskan kepada Yuri. Dengan sangat garang, tangan Trisno juga meraba semua bagian tubuh Yuri.
Dalam keadaan sangat terdesak seperti itu, Yuri hanya bisa berpikir bagaimana dia bisa lepas dari cengkraman pria yang semakin ganas menjamahnya. Spontan saja, tangan Yuri meraih sebuah vas bunga yang ada di meja di sebelah kursi dan dengan sekuat tenaga dia memukul kepala Trisno dengan vas bunga tersebut.
Praakk!
Vas bunga di tangan Yuri seketika pecah dan hancur berkeping-keping.
"Aaarrghhh ... " Trisno meringis panjang seraya memegang kepalanya yang terluka dan mengeluarkan darah terkena pukulan vas bunga dari Yuri.
Saat itulah Yuri bisa merasakan Trisno mulai lengah. Bergegas di dorongnya dada pria itu kuat-kuat sehingga Trisno sedikit tertohok ke belakang. Secepat kilat, Yuri bangun dari kursi itu dan menghindar dari Trisno.
"Aahh, sialan! Perempuan tidak tahu diuntung! Beraninya kau melakukan ini terhadapku!" teriak Trino sangat marah atas perbuatan Yuri yang dengan sengaja telah membuat kepalanya terluka. Sambil memegang kepalanya yang berdarah, Trisno kembali menatap Yuri dengan sorot mata tajam, bahkan ada kemarahan yang memuncak juga terlihat dari pancaran kedua matanya itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskanmu, Yuri. Kau sudah berani melukai aku dan jangan harap kamu akan keluar dari rumah ini dalam keadaan selamat." Trisno berteriak mengancam, sangat marah terhadap Yuri.
"Tidak!" Yuri ikut berteriak sambil berlari menuju pintu rumah itu dan mencoba membukanya.
"Tolong buka pintu ini, Pak. Biarkan saya pergi dari sini!" rengek Yuri memelas. Meskipun dia mampu lepas dari cengkraman Trisno, akan tetapi dia tidak bisa melarikan diri, karena pintu rumah itu terkunci rapat dan Yuri tidak tahu dimana Trisno menyimpan kuncinya.
"Tidak semudah itu, Yuri. Kalau kau ingin keluar dari sini, kau harus mengikuti keinginanku!" Trisno menyeringai. Tentunya dia tahu kalau Yuri tidak akan bisa lari darinya.
Tidak ingin menyerah sampai disitu, Yuri terus berusaha mencari cara agar bisa kabur dari rumah itu. Meski masih sangat ketakutan, matanya menyapu semua sudut ruangan dan berharap menemukan sesuatu yang bisa membantunya keluar dari rumah itu.
Yuri menghela nafas dalam-dalam. Di sudut ruangan dan tak jauh dari pintu terdapat sebuah guci hias. Dengan segera dia menyambar guci itu dan ditodongkannya ke hadapan Trisno.
"Jangan coba mendekat lagi, Pak. Atau saya tidak akan segan memukul bapak lagi dengan guci ini!" Yuri berbalik memberi ancaman pada Trisno.
"Lakukan saja kalau kamu berani, Yuri!" cibir Trisno tanpa rasa takut.
Yuri mendengus, ucapan Trisno membuatnya sadar kalau sejujurnya dia memang tidak mungkin melakukan itu. Apabila terjadi sesuatu dengan Trisno, sudah pasti akan menimbulkan banyak masalah lain terhadap dirinya.
Dalam keadaan terdesak seperti itu, tangannya tergerak begitu saja dan menghantamkan guci itu dengan keras pada jendela kaca di sebelah pintu.
Praangg!
Kaca rumah itu pun seketika hancur berkeping-keping sehingga membuka ruang cukup besar untuk Yuri bisa keluar melalui kaca itu. Tanpa ingin membuang waktu, Yuri menyeruak keluar melewati pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Hei ... jangan lari! Kau tidak akan bisa kabur dariku!" pekik Trisno berang. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Yuri bisa meloloskan diri melalui kaca jendela yang sudah dipecahkannya.
Dengan rasa ketakutan yang masih memenuhi jiwanya, Yuri berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah Trisno. Bahkan, dia melupakan motornya yang masih terparkir di depan rumah itu.
Tanpa tahu akan kemana, sebisa mungkin dia tetap berlari, khawatir apabila Trisno akan mengejarnya.
__ADS_1