
Mobil Pandu bergerak sangat cepat melewati jalanan kota. Hanya dalam beberapa menit, dia sudah sampai di sebuah rumah besar di kawasan perumahan elite. Pandu menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang sudah terlihat sepi tersebut.
"Alamatnya sudah tepat seperti petunjuk map. Aku sangat yakin ini pasti rumahnya." Pandu memeriksa ulang aplikasi penunjuk arah pada ponselnya dan mencocokkan alamat yang tengah dia cari di sana.
Pandu bergegas turun dari mobilnya dan mendekati pintu gerbang utama rumah berlantai tiga yang sangat besar dan mewah di hadapannya.
"Anda kesini mau cari siapa, tengah malam begini? Mohon maaf kami sudah tidak menerima tamu lagi!"
Seorang petugas jaga di rumah itu, menyambut kedatangan Pandu dengan senyum sinis dan terlihat tidak senang akan kehadirannya di sana.
"Saya ingin bertemu Pak Hansel. Ada hal penting yang ingin saya tanyakan padanya?" sahut Pandu, sangat berharap penjaga itu bersedia mengizinkannya masuk ke dalam rumah besar itu.
"Memangnya anda itu siapa? Anda tahu ini jam berapa? Apa pantas seseorang datang bertamu selarut ini?" Penjaga rumah itu menyeringai tajam. Dia semakin tidak senang mendengar permintaan Pandu.
"Tolong izinkan saya menemui Pak Hans sebentar saja. Masalah ini sangat mendesak. Kalau tidak terlalu penting, saya tidak mungkin datang kesini tengah malam begini." Pandu terus membujuk dan memohon, sedangkan penjaga rumah tetap bersikeras melarangnya masuk.
"Sebaiknya anda pergi dari sini dan silahkan datang lagi besok pagi. Tuan pemilik rumah ini tidak akan mau menerima anda!" pungkas sang penjaga rumah, mengusir Pandu dari tempat itu.
"Sebelum saya bertemu dengan Pak Hans. Saya tidak akan pergi dari sini!" Pandu sedikitpun tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
Untuk beberapa saat, adu mulut di antara mereka berlangsung sengit, sehingga suara keras perdebatan mereka cukup menimbulkan keributan yang menyebabkan beberapa orang penghuni rumah itu terbangun dan menengok ke luar.
"Ada apa ribut-ribut tengah malam seperti ini?"
Dari teras sebuah kamar di lantai dua rumah besar itu, terdengar teriakan suara seorang wanita yang ikut menengok ke luar kamarnya ketika mendengar ada keributan di depan rumahnya.
"Maaf, Non Sisca. Pria ini memaksa masuk untuk menemui Tuan Hans. Saya sudah melarang dan mencoba menyuruhnya pulang, tapi dia terus saja memaksa masuk." Penjaga rumah ikut berteriak menjelaskan kejadian itu kepada sang pemilik rumah.
"Siapa dia?"
Wanita yang tidak lain adalah Sisca Martina, putri tunggal pemilik perusahaan Hardianto Corporations sekaligus juga istri dari Hansel, kembali bertanya dan terlihat penasaran. Tidak biasanya ada orang bertamu di tengah malam seperti itu.
__ADS_1
"Saya Pandu, Nona. Sahabat lama Pak Hans." Pandu menyahut mendahului si penjaga rumah. Dia memang tidak kenal dan belum pernah bertemu langsung dengan Sisca. Tetapi, semua orang di kota itu, tentunya tahu siapa Sisca, walau hanya melalui sosial media dan pemberitaan publik.
"Pandu?" Sisca mengerutkan kening dan mengusap matanya. Tanpa memakai kacamata, dia sangat sulit melihat, apalagi mengenali orang dengan jelas. Kendati demikian, dia langsung teringat sesuatu ketika mendengar nama 'Pandu'.
"Biarkan dia masuk! Aku akan menemuinya." Sisca memberi isyarat agar penjaga rumah mengizinkan Pandu masuk ke dalam rumahnya.
"Baik, Nona." Tanpa berani membantah, penjaga rumah langsung mengantarkan Pandu masuk dan menyuruhnya menunggu di ruang tamu.
Dari tangga di rumah tersebut, Sisca melangkah turun dengan tergesa untuk menemui Pandu.
"Maafkan saya datang kesini tengah malam begini, Nona. Kalau boleh, saya ingin bertemu dengan Pak Hans. Ada hal penting yang ingin saya tanyakan padanya." Pandu membungkuk hormat dan berkata dengan sopan.
"Mas Hans sedang tidak ada di rumah. Dia berangkat ke luar kota tadi sore. Kalau boleh saya tahu, apa urusan anda ingin bertemu dengannya?" Sisca bertanya dengan wajah yang terlihat semakin penasaran.
"Apa anda ini Pandu, suaminya Tamara?" sambung Sisca meyakinkan dugaanya. Meski tidak saling kenal, setelah Sisca mengetahui hubungan gelap antara suaminya dengan Tamara, diam-diam dia sudah menugaskan anak buahnya menyelidiki semua hal tentang Tamara. Dari hasil penyelidikan itu, tentunya dia tahu kalau Tamara sudah memiliki seorang suami bernama Pandu.
"Bagaimana Nona bisa tahu tentang saya?" Pandu tersentak. Dia tidak menyangka kalau Sisca tahu, dia adalah suami dari Tamara.
Untuk kedua kalinya, Pandu terperanjat mendengar pertanyaan Sisca. "Kenapa Nona bisa mengetahui semua itu?" tanyanya dengan mata membentuk bola.
"Sayangnya Hans sedang tidak ada di rumah. Seharusnya, dia yang bisa menjelaskan semua ini terhadap anda, Pak Pandu! Suami saya dan istri anda, sudah berselingkuh dan berkhianat di belakang kita!" Sisca berdecak jengah. Mendapati kehadiran Pandu di rumahnya, membuat dia tidak mampu menahan rasa marah dan seketika meluapkan semua itu di hadapan Pandu.
"Jadi, Nona sudah tahu tentang semua itu?" tanya Pandu masih dengan rasa heran bercampur bingung.
"Iya, saya tahu semuanya. Dan Yuri lah yang sudah membongkar perbuatan hina mereka!"
"Yuri?" Belum habis rasa heran Pandu sebelumnya, apa yang baru saja diungkapkan Sisca kembali membuatnya sangat tercengang.
"Nona kenal dengan Yuri?" Pandu bertanya heran.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan Yuri di kantor Mas Hans. Dan disanalah saya mengetahui semua rahasia Mas Hans bersama istri anda."
__ADS_1
Sisca lalu menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan foto Hans bersama Tamara sewaktu di kantor tersebut dari Yuri, kepada Pandu.
"Setelah mendapatkan foto itu, aku putuskan untuk menyelidiki semua hal tentang Yuri, Tamara dan juga anda, Pak Pandu."
Sisca juga menerangkan kepada Pandu, apa saja informasi yang sudah dia dapatkan tentang hubungan Hans dan Tamara, termasuk juga hubungannya dengan Yuri. Namun, yang Sisca ketahui tentang hubungan yang terjalin antara dirinya dengan Yuri, hanyalah sebatas hubungan seorang majikan dengan mantan baby sitternya saja.
Kedua tangan Pandu seketika mengepal mendengar apa yang diceritakan Sisca. Menguak rahasia dan menyadari kecurangan yang dilakukan istrinya selama ini, membuat berbagai perasaan bergemuruh di dalam dadanya.
"Tamara benar-benar keterlaluan. Rupanya dia berubah dingin dan acuh terhadapku, itu karena adanya Hans!" decaknya gusar.
"Nona, apa hanya foto itu yang anda miliki sebagai bukti perselingkuhan mereka?" Pandu menatap ke arah Sisca yang juga terlihat marah, sama seperti dirinya.
"Hah ... istri anda itu, hanya seorang perempuan matrealistis dan Mas Hans juga sangat memanjakannya. Mas Hans sudah memberikannya banyak barang-barang mewah dan juga mobil. Tapi sayangnya, Mas Hans sangat bodoh! Dia membelikan semua itu untuk Tamara, menggunakan uang perusahaan. Mereka berdua sama-sama culas!"
Pandu mendengus kasar mendengar apa yang dibeberkan lagi oleh Sisca. Ternyata, semua perubahan gaya hidup Tamara selama ini pun, adalah karena dipengaruhi oleh Hans.
"Non Sisca, saat ini Yuri juga menghilang dari rumahnya. Apakah Nona tahu ... apa ini ada hubungannya dengan Hans?" Pandu akhirnya melontarkan pertanyaan yang sedari tadi masih mengganjal di benaknya.
"Apa? Yuri menghilang dari rumahnya?" Sisca ikut tersentak dengan apa yang Pandu tanyakan kepadanya.
"Iya, Nona. Saya curiga, ini semua ada kaitannya dengan foto-foto itu, karena saya menemukan ponsel Yuri tertinggal di rumahnya."
Sisca terdiam dan untuk sejenak Pandu juga tidak berkata apapun, sehingga suasana menjadi hening. Keduanya sibuk berpikir sendiri dan menerka-nerka semua hal tentang kecurigaan mereka terhadap Hans.
"Sebentar ... aku akan cari tahu." Sisca menjentikkan jarinya dan menyentuh layar ponsel yang sedari sebelumnya dia bawa lalu terdengar menelepon seseorang.
"Kurang ajar! Mas Hans benar-benar keterlaluan!" Setelah menutup sambungan telepon dengan seseorang di seberang sana, Sisca kembali berdecak dan terlihat semakin marah.
"Ada apa, Non Sisca?" Pandu ikut merasa ingin tahu apa yang dibicarakan Sisca dengan seseorang yang baru saja dia hubungi.
"Anak buah Hans yang sudah menculik Yuri. Mereka membawanya ke luar kota untuk bertemu dengan Mas Hans disana," jelas Sisca, menerangkan berita yang baru saja dia dapatkan dari anak buahnya melalui pembicaraan telepon.
__ADS_1