
Malam semakin larut, tetapi Tamara masih sangat kesulitan untuk menenangkan Chia.
Balita itu tidak henti-hentinya menangis seakan ada hal yang belum terpenuhi, sehingga dia menjadi sangat gelisah.
Berbagai cara sudah Tamara lakukan, tetapi tangis Chia hanya sempat berhenti sebentar saja dan kembali menangis beberapa menit kemudian. Begitu saja seterusnya.
"Mama ... mama ... mama." Hanya panggilan itu yang terus terucap dari bibir Chia ketika dia menangis.
"Chia Sayang, ini mama, Nak. Dari tadi kamu selalu memanggil mama. Mama ada disini sama kamu, Sayang." Isak tangis itu kini juga tak bisa ditahan datang dari Tamara sendiri. Dia semakin menyadari kalau yang dipanggil 'Mama' oleh Chia bukanlah dirinya, melainkan Yuri.
Kalau sebelumnya Chia terlihat mulai senang bersamanya, tetapi tangisnya yang kian tidak bisa dihentikan malam itu, membuat Tamara semakin tidak bisa membendung rasa penyesalannya. Darah daging yang dia susah payah lahirkan dari rahimnya sendiri dan belum mengerti apapun, seakan sedang sangat marah dan ikut tidak bisa memaafkan semua kesalahannya.
Dengan berderai air mata, Tamara menggendong Chia dan membawanya keluar sampai di teras rumah. Dia sangat berharap, mendapat udara segar di luar rumah bisa membuat Chia merasa lebih tenang.
"Nah, disini lebih adem, Sayang. Chia jangan nangis lagi ya! Mama akan gendong kamu terus sepanjang malam, asal kamu tidak rewel." Tamara bisa sedikit tersenyum lega, karena Chia terlihat sedikit tenang ketika ada di teras itu.
Ketenangan itu juga tidak bertahan lama dirasakan oleh Tamara. Beberapa menit kemudian, Chia kembali menangis serta terus melengkungkan badannya sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
"Mama ... mama ... mama." Kata-kata itu terus terucap dari bibir mungilnya.
Mendengar tangisan Chia yang tidak pernah berhenti tersebut, dua orang tetangga samping rumah terdekat Tamara, ikut datang menengok kesana, merasa penasaran dengan keadaan Chia.
"Chia kenapa, Jeng Tamara? Dari tadi saya dengar menangis terus." Tetangga itu bertanya kepada Tamara dan terlihat penasaran.
"Nggak tahu nih, Jeng. Dari tadi sore anak saya nangis terus dan sangat tidak tenang. Padahal, dia tidak sakit. Badannya juga tidak panas," jawab Tamara dengan wajah yang terlihat mulai cemas, takut sesuatu terjadi pada putrinya apabila tangisnya tidak bisa berhenti.
"Mama ... mama ... mama." Chia juga terus menyebut panggilan itu, sambil terus menunjuk pintu keluar.
"Loh, yang dipanggil mama sama Chia siapa, Jeng Tamara? Dia lagi sama mamanya sendiri, tapi kenapa masih panggil-panggil mama?" Wanita tetangga Tamara itu, tersenyum mencibir.
__ADS_1
"Pasti yang dipanggil mama oleh Chia itu adalah Yuri, ya? Mantan baby sitter yang sekarang jadi ibu sambungnya Chia." Tetangga satunya menjawab juga dengan nada nyinyir.
"Ya pastilah! Salah sendiri dari dulu nggak perhatian sama anak sendiri."
Kedua wanita itu saling berbisik sambil memandang Tamara dengan tatapan penuh ejekan.
"Iya, kalau anak semasa bayinya nggak mau disusui, ya gitu ... nggak akan mau dekat dengan ibu kandungnya sendiri." Keduanya sama-sama terkekeh.
"Sibuk selingkuh, anak sendiri tidak diurus. Sekarang rasain tuh, darah dagingnya sendiri ikut membencinya," sindir wanita itu semakin menohok.
Tamara mendengus kesal mendengar cibiran dua orang tetangganya, yang terang-terangan mengejek dirinya.
"Heh! Kalian berdua urus saja urusan kalian sendiri! Tidak perlu julid sama orang lain!" bentak Tamara mengumpat, sangat kesal mendengar ejekan dua tetangganya itu.
"Pergi dari rumahku sekarang juga!" usir Tamara dengan nada suaranya yang meninggi dan kedua matanya mendelik memberi tatapan sangat tajam.
"Ahh ... dasar mulut tetangga! Mulut-mulut comberan, isinya sampah semua!" Tamara sangat marah dan masih terus mengumpat sendiri, walau kedua orang itu sudah tidak lagi berada di area rumahnya.
Dengan perasaan marah dan kesal, Tamara kembali membawa Chia masuk ke dalam rumahnya. Omongan-omongan miring tetangganya itu, membuat berbagai perasaan berkecamuk di dalam benaknya.
Walau dia tahu selama ini para tetangga diam-diam memang selalu menjadikan dirinya bahan pergunjingan, baru kali ini dia medengarnya langsung, bahkan dari tetangga paling dekatnya.
Hingga malam terus berjalan, Chia masih saja terus menangis. Tamara pun kini sudah pasrah. Tidak ada lagi cara yang bisa dia lakukan untuk menenangkan bocah kecil itu.
Perlahan Tamara membaringkan tubuh Chia di atas tempat tidurnya. Dengan air mata yang juga selalu ada menggenang di kedua netranya, Tamara duduk di sisi tempat tidur dan membiarkan saja Chia sendiri di sana.
"Apa lagi yang harus aku lakukan untuk bisa menenangkan Chia? Ya, Tuhan ... kenapa semua jadi seperti ini. Kesalahanku memang sangat besar, tapi apa aku juga salah kalau aku mencoba memperbaikinya?" sesal Tamara. Air mata itu kini mengalir deras membasahi pipinya. Tangisan Chia yang tidak pernah berhenti juga membawa tangisan paling dalam di hati Tamara.
Untuk sesaat, tiba-tiba pandangan Tamara tertuju pada sebuah lemari yang ada di kamar putrinya itu. Dia ingat, sewaktu Chia masih bayi, lemari itu digunakan oleh Yuri untuk menyimpan pakaiannya.
__ADS_1
Tamara bergegas berdiri dari tempat duduknya dan membuka lemari itu. Tidak banyak pakaian terdapat di dalamnya. Hanya beberapa kebutuhan seperti sprei, sarung bantal, selimut dan handuk yang tersimpan di sana.
Tamara lalu berjongkok dan memeriksa rak paling bawah di lemari itu. Dia mencoba mengulas senyum ketika menemukan sebuah baju bekas Yuri ada di sana.
Sambil membawa baju itu ditangannya, Tamara kembali mendekati Chia yang masih menangis di atas tempat tidur.
"Chia, Mama menemukan ini di lemari." Tamara mendekatkan baju itu kepada Chia dan tangan mungil gadis kecil itu segera meraihnya.
Pada saat baju itu sudah ada di tangan Chia, entah apa penyebabnya, tangis Chia langsung terhenti.
"Mama ... mama ...." Kata-kata itu kembali terucap. Namun, kali ini tidak ada tangis lagi yang keluar dari bibir mungil Chia lagi.
Sambil terus memegang baju bekas milik Yuri, Chia tidur di atas tempat tidur dan meminum susu dari botolnya. Cukup lelah akibat terus menangis, bocah polos itu akhirnya tertidur juga.
Tamara terpaku menatap wajah putrinya. Setelah berbagai usaha, ternyata hanya sebuah baju bekas milik Yuri yang akhirnya bisa menenangkan balita itu.
"Yuri ... aku menyerah dan kamu sudah memenangkan semuanya." Tamara bersungut sendiri, tidak tahu harus menumpahkan kekecewaan kepada siapa.
Tanpa berbuat banyak hal, Yuri sudah sedemikian mampu mengambil perhatian putrinya. Dia semakin sadar kalau selama ini Yuri lah yang paling dekat dengan Chia dan memberikan kasih sayang dengan penuh ketulusan hati padanya.
"Aku sudah tidak ada harapan apa-apa lagi tinggal di kota ini. Namaku sudah tercoreng, aku tidak bisa mendapat pekerjaan disini. Sedangkan, orang-orang yang seharusnya menyayangiku juga sudah tidak menganggap aku ada." Tamara menggumam sendiri. Tanpa harus diungkapkan lagi, penyesalan itu seolah sudah akan membunuhnya.
Sambil mengusap-usap kepala Chia, Tamara ikut merebahkan tubuhnya di samping Chia. Tatapannya kosong, berbagai kegundahan berkecamuk dalam hatinya.
Dari atas meja nakas, tangan Tamara meraih ponselnya. Dari album galeri di ponsel itu, Tamara membuka foto-foto lamanya bersama Pandu.
"Mas Pandu, aku sudah tidak ingin lagi memohon maaf darimu. Kesalahanku sudah terlalu besar untuk bisa kamu maafkan. Apapun yang aku lakukan, mungkin semua itu tidak akan bisa menebus semua kesalahanku."
Sepanjang malam, Tamara sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Meski Chia sudah tenang, justru kini perasaannya lah yang semakin tidak tenang. Dia merasa tidak berguna lagi ada di kota itu.
__ADS_1