
"Dari mana kamu mendapatkan foto ini?" Mata Sisca mendelik tajam menatap layar ponsel Yuri dengan pandangan nanar. Otot-otot wajahnya tiba-tiba tampak mengeras, tanda sebuah tanda tanya besar serta kemarahan kini memuncak di jiwanya.
"I-i-itu hanya ... " Yuri tergagap dan tidak tahu harus menjawab apa.
Tangan Yuri sontak saja terangkat dan bergerak cepat hendak merebut ponsel miliknya dari tangan Sisca, tetapi wanita muda, putri owner perusahaan tempatnya bekerja tersebut, menahan ponsel itu erat-erat serta menyembunyikan di belakang punggungnya.
"Tolong kembalikan ponsel saya, Nona!" Yuri kembali membungkuk dan mencakupkan kedua tangannya di dada. Dengan nada suara dibuat sememelas mungkin, Yuri berharap Sisca segera mengembalikan ponselnya. Dia sangat takut, kecerobohan yang dia perbuat kali ini akan berujung sangat rumit dan pasti juga menimbulkan masalah besar, terutama pada pekerjaan dan karirnya.
"Sebelum kamu mengatakan dari mana kamu mendapat foto ini padaku, aku tidak akan pernah mengembalikan ponsel kamu!"
Bentakan keras yang keluar dari mulut Sisca kali ini, membuat semua orang yang tengah berada di area lobby itu seketika mengalihkan pandangan ke arah Yuri dan Sisca. Siapa yang tidak mengenal Sisca di kantor itu? Ketika mendengar sebuah keributan kecil terjadi, pastilah semua perhatian seketika tertuju padanya.
Dua orang laki-laki berbadan kekar, juga langsung berhambur mendekati Sisca. Dua pria itu tidak lain adalah bodyguard yang selalu menemani kemana pun Sisca pergi serta memastikan keselamatannya.
"Ada apa, Nona? Apa ada masalah di sini?" tanya salah seorang pria itu dan menatap dengan sorot mata bengis ke arah Yuri. Dia mengira Yuri lah biang dari keributan yang terjadi di sana.
"Tidak ada apa-apa. Kalian berdua tidak usah mengkhawatirkan aku. Sebaiknya kalian suruh orang-orang itu pergi! Jangan ada yang berani menjadikan kami tontonan di sini!" perintah Sisca tegas, kepada dua orang bodyguard-nya itu. Sisca memang sangat tidak suka apabila ada orang lain terlalu mengurusi kehidupan pribadinya, apalagi sampai menjadikan semua itu sebagai buah bibir dan sorotan publik.
"Baik, Nona!" Kedua pria itu menjawab patuh perintah Sisca, sembari bergegas memerintahkan semua orang yang sempat berkerumun menyaksikan Sisca dan Yuri untuk segera kembali ke tempatnya masing-masing.
"Maaf, Non Sisca. Ponsel itu barang pribadi milik saya. Saya mohon kembalikan pada saya," rengek Yuri, kembali berupaya meminta ponselnya agar dikembalikan oleh Sisca.
"Sekali lagi aku minta, tolong katakan dari mana kamu mendapatkan foto ini?" Sisca kembali mengulang pertanyaannya, berharap kali ini Yuri akan menjelaskan semua hal secara jujur kepadanya.
"Foto itu ... ee ... ee ... " Lidah Yuri kembali tercekat dan tidak mampu berkata sepatah katapun. Wajahnya tertunduk dan mendadak pucat pasi, takut kalau sampai salah berbicara yang justru akan bisa membuat masalah menjadi semakin rumit.
Sisca langsung membuang nafas kasar dan menyadari kalau Yuri kala itu sangat gugup karena pertanyaannya. Perlahan Sisca meraih tangan Yuri dan mengajaknya duduk di sebuah kursi tunggu yang ada di lobby itu. Pada sebuah kursi panjang, keduanya duduk bersebelahan.
Sisca yang duduk dengan posisi sedikit memiringkan tubuhnya, lalu memegang kedua pundak Yuri dan menatap wajah gugup yang masih tertunduk di hadapannya.
"Aku tahu, kamu pasti takut mengatakan kepadaku, dari mana kamu mendapatkan foto ini, bukan?" tanya Sisca dengan suara datar. Dia tidak ingin Yuri merasa khawatir tentang apapun apabila berkata sejujurnya.
Yuri tetap hanya diam dan semakin bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Sisca.
"Ayo, Mayuri! Jangan diam saja, tolong jawab dengan jujur pertanyaanku!" Tak kunjung mendengar jawaban dari Yuri, Sisca kembali menegaskan nada bicaranya.
Yuri yang semula terlihat bingung, tiba-tiba tersentak kaget. Bagaimana mungkin putri orang tertinggi di perusahaan itu bisa menyebut namanya dengan sangat jelas. Mereka tidak saling kenal. Bertemu saja pun, ini adalah kali pertama mereka.
"Nona tahu nama saya?" Pertanyaan itu terbersit begitu saja dari bibir polos Yuri dengan mata yang membulat.
Sisca hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Yuri. Dia tidak menjawab, namun hanya melirik kartu pengenal yang masih menggantung di kemeja yang dikenakan Yuri.
__ADS_1
Lagi-lagi Yuri menundukkan kepala dan merasa malu. Tentu saja, putri tunggal pemilik Hardianto Corporations itu bisa membaca namanya yang tercantum pada name tag yang masih dipakainya.
"Maaf, Non Sisca. Panggil nama saya Yuri saja," lirihnya, sekedar menyembunyikan rasa gugup yang kembali tergambar jelas di raut wajahnya.
"Tidak apa-apa, Yuri. Kamu tidak perlu gugup ataupun merasa canggung terhadapku. Bersamaku, kamu akan aman dan kamu tidak usah takut pada siapapun!" Sisca mengulangi lagi arah pertanyaanya kepada Yuri.
"Jadi, kamu juga tidak perlu takut mengatakan dari mana kamu mendapatkan foto ini kepadaku. Aku pastikan rahasiamu juga akan tetap aman di tanganku."
Yuri menghela nafas dalam-dalam. Saat ini dia sungguh merasa terpojok oleh pertanyaan Sisca.
"Tadi saya tidak sengaja melihat Bu Tamara ada di ruangan Pak Hans, Non Sisca." Tidak ada pilihan lain bagi Yuri, selain mengatakan semua sesuai apa yang dia lihat siang itu di kantor Hans.
"Saya mohon, maafkan saya, Nona. Sa-sa-saya ... mengakui kesalahan, kalau saya sudah sangat lancang mengambil foto ini secara diam-diam. Saya siap menerima hukuman atas kecerobohan saya ini, Nona!" Wajah Yuri merah padam. Dia sadar, mengambil foto orang lain secara sembunyi-sembunyi dan tanpa izin adalah sebuah kesalahan dan dianggap mengganggu privasi orang lain.
Hembusan nafas kasar Sisca langsung terdengar, setelah Yuri menyelesaikan kalimat penyesalannya.
"Kamu tidak usah takut berlebihan seperti itu, Yuri! Sekarang, coba kamu jelaskan padaku lagi, apa yang kamu ketahui tentang Hans dan wanita ini?" Sisca terus meyakinkan Yuri agar tidak merasa takut untuk berkata jujur.
"Tadi kamu menyebut nama wanita di foto ini Tamara, bukan? Apa kau kenal dengannya?" tanya Sisca lagi, kian menelisik dan menginterogasi.
"Ibu Tamara itu ... di-dia ... " Ucapan Yuri terjeda lagi. Dia sangat takut apabila sampai salah berbicara.
"Ibu Tamara itu adalah client dari Pak Hans, Nona. Setahu saya mereka sedang menggarap sebuah project bersama," aku Yuri, tidak ingin sepenuhnya mengungkapkan apa yang dia ketahui tentang Tamara kepada Sisca.
"I-i-iya, Nona. Hanya itu!" jawab Yuri semakin salah tingkah dan terbata, karena dia tengah berbohong.
Hanya anggukan kepala saja yang ditunjukkan Sisca, tanpa ingin bertanya lagi kepada Yuri. Dia bisa menebak kalau Yuri memang tidak sepenuhnya berkata jujur. Dia paham kalau Yuri pasti takut mengungkapkan semua hal yang dia ketahui tentang Tamara.
"Baiklah. Keterangan kamu cukup, Yuri. Aku bisa cari tahu sendiri lebih banyak hal lagi tentang wanita yang bernama Tamara ini," gerutu Sisca. Meski belum puas akan jawaban Yuri, tetapi dia tidak ingin melanjutkan bertanya. Dia tahu kalau Yuri pastilah akan berbohong lagi kepadanya. Selain itu Sisca juga lebih tahu kemana dia akan mencari tahu jawaban dari semua rasa penasarannya tentang Tamara dan Hans.
"Sekarang, kalau kamu ingin aku mengembalikan ponselmu ini, aku hanya punya satu syarat!" Sisca menjulurkan tangannya dan memperlihatkan ponsel milik Yuri yang masih ada di tangannya.
"Aku hanya ingin kamu mentransfer foto ini ke aku, Yuri!" tegasnya.
"Tapi, Non Sisca ... " Yuri menggeleng.
"Sudah berkali-kali aku katakan padamu, Yuri! Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Rahasiamu aman bersamaku. Apa kamu masih meragukan itu?" Sisca langsung memotong ucapan ragu Yuri dan Yuri pun kembali terdiam tak bisa mengelak.
Sisca merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tas itu. Beberapa detik, jarinya bermain di layar ponselnya.
"Ini ponselmu dan segera transfer foto itu ke ponselku!" Sisca segera mengembalikan ponsel milik Yuri sembari menunjukkan sebuah barcode aplikasi pesan singkat dari layar ponsel miliknya kepada Yuri.
__ADS_1
Tangan Yuri pun bergegas meraih ponselnya dari tangan Sisca. Tanpa berani menolak lagi, dia segera merekam barcode itu melalui kamera ponselnya dan nomor kontak Sisca secara otomatis tersimpan di ponselnya. Melalui aplikasi pesan singkat, Yuri lalu mengirim foto itu sesuai perintah Sisca.
"Terima kasih, Yuri," ucap Sisca setelah foto itu kini sudah tersalin ke galeri foto di ponsel miliknya. Namun, ketika dia menatap foto yang sudah ada di layar ponselnya sendiri, tangannya seakan bergetar hebat. Aura kemarahan kembali terlihat dari sorot matanya yang menyala.
"Selain foto ini, apa ada lagi yang lain?" Pertanyaan penuh tuntutan itu kembali terlempar dari mulut Sisca yang mulai mengerucut, menegaskan kekesalannya.
"Ti-tidak ada lagi, Nona." Yuri berkata bohong. Walau sebenarnya dia masih punya beberapa foto lagi serta sebuah video yang menunjukkan perselingkuhan Tamara dan Hans, tetapi dia tidak ingin mengungkapkannya kepada Sisca.
"Ok, tidak masalah. Ini sudah lebih dari cukup!" pungkas Sisca, karena tidak ingin mencecar Yuri lagi dengan pertanyaan.
"Sekarang, kamu boleh pergi, Yuri!" Tanpa ada niat menahan Yuri lagi, Sisca mempersilahkan Yuri untuk meninggalkan lobby itu.
"Baik, terima kasih, Non Sisca!" Yuri juga tidak ingin berlama-lama meladeni Sisca. Mendapat izin segera pergi dari sana, Yuri pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Bergegas dia bangun dari tempat duduknya.
"Saya permisi, Non," pamitnya seraya membungkuk hormat dan secepatnya berlalu dari hadapan Sisca.
Setelah Yuri tidak ada lagi di hadapannya, rahang Sisca tampak kembali mengeras.
"Mas Hans!" dengusnya dengan kedua tangan mengepal. "Kalau kamu berani bermain api di belakangku dengan perempuan lain, maka aku tidak akan pernah diam saja! Lihat saja apa yang bisa aku lakukan!" Sisca menggeram penuh emosi. Hati perempuan mana yang tidak tercabik-cabik, melihat sebuah bukti permainan curang suaminya sendiri.
Sisca berdiri dari tempat duduknya dan mengangkat tangannya sebagai sebuah isyarat. Kedua orang bodyguard yang tadi mengawalnya, langsung berlarian mendekati dan membungkuk hormat.
"Kalian berdua, tolong selidiki siapa wanita yang bernama Yuri tadi dan apa hubungannya dengan wanita yang ada di foto ini!" Sisca menunjukkan layar ponselnya kepada dua orang pria pengawal pribadinya.
"Cari tahu juga sudah sejauh mana hubungan perempuan yang bernama Tamara ini dengan Mas Hansel!" tegas Sisca, menekankan perintahnya.
"Baik, Nona!" Kedua pria berbadan kekar itu mengangguk bersamaan.
"Aku harus temui Mas Hans dan minta penjelasannya!" Sisca menyimpan ponselnya ke dalam tasnya, dan kakinya bergerak ingin melanjutkan langkahnya untuk menemui suaminya di kantor itu.
"Tunggu, Nona! Pak Hans sedang tidak ada di kantornya. Beliau keluar makan siang bersama salah satu clientnya!" Salah seorang body guard itu menghadang langkah Sisca.
"Kamu tahu dari mana?" Sisca menghentikan langkahnya dan menyipitkan sebelah matanya.
"Tadi saya dapat info dari resepsionis."
Sisca mengangguk paham. "Ok! Aku tidak jadi menemuinya! Sekarang kalian antar aku pulang saja!" cetusnya merasa semakin kesal dan marah. Dia tahu kalau Hans pastilah keluar untuk makan siang bersama Tamara.
Di dalam mobil mewah yang mengantarnya pulang, hati Sisca terus diliputi rasa curiga dan marah terhadap suaminya. Cemburu itu kian menyesakkan dada kala melihat foto mesra Tamara bersama Hans. Dia juga sadar kalau penampilan wanita di foto itu sangatlah berbeda dengannya. Secara fisik, wanita itu tampak jauh lebih sempurna darinya, yang membuat rasa percaya dirinya juga semakin terkikis.
"Awas saja kalian berdua! Kalau benar terbukti kalian berselingkuh, aku tidak akan segan mempermalukan kalian di hadapan publik!"
__ADS_1
Senyum getir menghiasi bibir Sisca. Rasa kecewa terhadap suami yang sangat dicintainya tergambar jelas dari tatapan mata yang kian nanar.