Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Pengumuman Karya Baru : JANDA BOLONG TAK LAGI TRENDING


__ADS_3

Hai ... Sahabat Author Bau Kencur semua,


Author datang lagi nih, bawa cerita baru yang tak kalah seru loh. Buruan dicari dan ikuti ceritanya!


Tetap ditunggu dukungannya ya 🙏🙏


...----------------...


JANDA BOLONG TAK LAGI TRENDING



Cuplikan Bab #01. Perkenalan Awal Sebuah Kisah


"Bunga ... bunga ... bunga .... "


"Bunganya, Bu! Bunga, Mbak!"


Seorang pemuda tampan dengan beribu daya pikat maha sempurna, berdiri di sebelah mobil bak terbuka dan sibuk menjajakan aneka jenis tanaman hias yang dia jual. Hari itu dia menggelar lapaknya di pinggir jalan, di depan sebuah pasar tradisional yang ada di kampung tempat tinggalnya.


Hari sudah semakin siang. Matahari kian terik menyinari jagat raya. Pasar yang sebelumnya ramai berangsur-angsur mulai sepi. Pemuda penjual tanaman hias itu menyeka peluh yang menetes di keningnya. Kemeja planel bermotif kotak-kotak dan berwarna abu-abu yang tengah dipakainya, juga tampak sedikit basah oleh keringat.


Pemuda itu lalu melepaskan topi yang biasa dia pakai terbalik dari atas kepalanya, serta mengibas-ngibaskan topi itu di wajahnya, untuk mengurangi udara panas yang mendera di pagi hari menjelang siang itu.


"Sudah sesiang ini, belum satupun bunga ini laku terjual." Pria itu menggerutu dengan wajahnya yang tampak lelah.


"Kalau bunga-bunga ini tidak ada yang terjual, aku harus cari uang dimana? Emak pasti akan marah kalau aku pulang tanpa membawa hasil." Sambil meneguk sebotol air mineral, pria itu menghela nafas panjang.


Beberapa bulan belakangan ini, peminat tanaman hias memang tidak seperti dulu lagi. Seiring kian menurunnya animo masyarakat akan tanaman hias, kian menurun pula penghasilan yang didapatkan pemuda kampung bernama Cakrawala Semesta tersebut.


'Wala' seperti itu orang-orang biasa memanggilnya. Kehilangan pekerjaan akibat pandemi melanda dunia, Wala beralih profesi sebagai penjual tanaman hias keliling. Di pasar itulah, setiap pagi dia biasa membuka lapak di atas mobil bak terbuka miliknya.


Di awal pandemi, banyak orang yang mengisi waktu di rumah saja dengan merawat aneka jenis tanaman hias. Bisa dikatakan, saat itu adalah masa kejayaan Wala. Hampir setiap hari lapaknya tidak pernah sepi. Pembeli yang kebanyakan para wanita dan emak-emak, selalu menantikan kehadirannya di pasar itu.


Meski berpenampilan sangat sederhana, tetapi Wala memiliki paras yang sangat sangat rupawan. Hal itulah yang membuat banyak kaum hawa begitu mengidolakannya.


Akan tetapi, kini semuanya tak lagi sama. Jenis-jenis tanaman hias yang sempat menjadi trend dan bernilai fantastis, bahkan sudah tidak laku lagi dijualnya. Tanaman hias yang sebelumnya sempat viral dan digadang-gadang bernilai seharga satu unit mobil kategori low MPV buatan Jepang itu pun, kini sudah tak lagi trending.


"Hari ini, bawa bunga apa aja, Bang?"


Wala melebarkan senyuman, ketika seorang wanita tiba-tiba mendekati lapaknya dan terlihat memperhatikan tanaman-tanaman hias yang ada di bak mobilnya.


"Eh, Mbak Rida ... kok tumben, Mbak?" Wala menyapa wanita itu dengan senyum ramah, karena dulunya wanita itu adalah salah seorang langganan yang biasa membeli tanaman hias darinya.

__ADS_1


"Iya nih, Bang. Sudah beberapa bulan hujan nggak turun, tanaman hiasku layu dan mati semua. Maklumlah, tanpa disiram, tanah pasti gersang dan tanaman tidak tumbuh dengan sempurna, seperti diriku saat ini, Bang," ujar wanita yang bernama Rida itu dengan senyum genitnya, seolah tengah menggoda Wala.


Wala hanya tersenyum tipis dan memalingkan wajah dari tatapan nakal wanita berparas cantik dengan lesung pipit di pipinya itu. Ucapan ambigu ibu muda yang sudah memiliki seorang anak tersebut, juga sangat mudah bisa dipahami oleh Wala.


Maklum saja, Rida sudah hampir tiga tahun tinggal jauh dari suaminya yang merupakan seorang pekerja kapal pesiar dan hanya pulang setiap delapan bulan sekali. Karena itu, bisa dibilang Rida adalah wanita jablay tanpa kehadiran suami bersamanya. Tak jarang Wala merasa risih dengan tingkah ganjen Rida terhadapnya, yang seolah selalu saja ingin menarik perhatiannya.


"Oh ya, hari ini aku bawa banyak jenis tanaman nih. Mbak Rida, tinggal pilih saja mau yang mana." Dengan cepat Wala mengalihkan semua dari Rida.


"Ada aglaonema, caladium, adenium, lili paris, puring, monstera ... pokoknya hari ini semua ada, Mbak," sambung Wala seraya menunjuk semua tanaman hias dari bak mobil serta mempromosikan dagangannya.


"Bunga miana ada nggak, Bang?" tanya Rida lagi, tetapi tatapannya tidak pernah berpaling dari wajah Wala. Semua itu tentu membuat Wala menjadi salah tingkah.


"Oh ada, Mbak. Ada miana jenis red velvet, rainbow, bolu pandan, bolu nanas ..."


"Ihh, Bang Wala jualan bunga apa jualan kue sih, Bang?" kekeh Rida sambil terus menunjukkan senyum genitnya, menatap wajah pria tampan di hadapannya.


"Ya ... bunga dong, Mbak." Wala menunduk dan tersipu malu.


"Kalau bunga yang daunnya bergelombang dan bisa menggetarkan hatiku, ada tidak, Bang?" Rida bertanya ambigu lagi dan kian terlihat pecicilan.


"Ohh, anthurium gelombang cinta maksudnya, Mbak? Hari ini kebetulan aku nggak bawa. Kalau mau besok ya aku bawakan." Wala tetap menjawab profesional tidak terlalu menanggapi Rida yang terkesan semakin berani menggodanya.


"Nah ini aku punya monstera adansonii, Mbak. Tanaman ini baru punya tujuh daun, masih muda dan tumbuhnya sangat subur." Tanpa ingin berbasa-basi lebih jauh, Wala kembali mempromosikan barang jualannya, sambil mengambil sebuah polybag yang berisi sebuah tanaman dengan daun berlubang-lubang nan aesthetic.


Wala ikut terkekeh, tetapi tetap tidak ingin menanggapi gurauan Rida.


"Bang Wala, kok kamu ganteng banget sih?" Rida kembali bertanya dan semakin terang-terangan mengoda pemuda yang sangat mempesona di matanya.


"Sewaktu kecil, Mak Ratna ngasih kamu imunisasi apa, kok bisa sih gedenya seganteng dan setampan ini?" sambungnya sambil terus memandangi wajah Wala dengan tatapan penuh hasrat tersembunyi.


"Imunisasi campak dan vaksin rabies, Mbak," sahut Wala slengean.


"Aihh, Bang Wala bisa aja deh," ucap Rida cengengesan dan Wala hanya mencebikkan ujung bibir menanggapinya.


Pada saat Rida masih sibuk memilih bunga, dari kejauhan tampak sebuah premium hatchback mendekat dan melintas lambat, tepat di depan posisi Wala berjualan saat itu.


"Wah ... mobil siapa itu? Tumben ada mobil mewah seperti itu melintas di jalan kampung ini?" Wala menggumam dan sangat takjub melihat mobil mewah berwarna hitam tersebut, melintas tepat di hadapannya. Akan tetapi, hanya selang beberapa meter, tiba-tiba mobil itu berhenti dan lampu mundur di mobil tersebut juga terlihat menyala.


Wala mengerutkan keningnya, karena mobil itu kini berhenti tepat di depan lapak jualannya dan pintu bagian kemudi juga terbuka lebar.


Wala ternganga ketika yang pertama kali terlihat adalah sebuah kaki jenjang mengenakan high heels berwarna perak turun dari mobil tersebut. Seorang wanita dengan rambut panjang dicat dark brown dan memakai kacamata hitam, keluar dari mobil itu, lalu berjalan mendekat ke arah Wala.


"Permisi ... apa saya boleh numpang bertanya?" Wanita itu tersenyum ramah dan langsung bertanya kepada Wala.

__ADS_1


Sama seperti Wala, Rida yang sebelumnya masih sibuk memilih tanaman hias, sontak ikut menatap wanita itu tanpa berkedip. Selain paras yang sangat cantik menawan, wanita itu juga terlihat ramah dan bertanya dengan sangat sopan.


"Saya sedang mencari alamat ini. Apa masih jauh dari sini?" Melihat Wala dan Rida tidak menjawab, tetapi hanya memandangnya dengan mulut ternganga, wanita itu mengulang bertanya sembari menunjukkan sebuah kartu nama ke hadapan Wala.


Tanpa memberi kesempatan Wala untuk mengambil kartu nama dari tangan wanita itu, Rida bergegas menyambarnya lebih dulu.


"Oh, Yayasan Cempaka Floria. Saya tahu, Mbak!" seru Rida setelah membaca apa yang tercantum di kartu nama itu.


"Iya, betul, Mbak." Wanita itu mengangguk.


"Alamatnya tidak jauh dari sini, Mbak. Tinggal lurus terus, perempatan di depan sana belok kanan. Nah ... nanti ketemu kebun pisang di sebelah kanan jalan ada sebuah gang. Mbak tinggal masuk saja di gang kecil itu." Rida menjelaskan alamat yang tengah dicari oleh wanita itu.


Tentu saja sangat mudah baginya menjelaskan semua, karena di kampung itu semua orang pasti tahu tentang Yayasan Cempaka Floria. Sebuah yayasan sosial yang didirikan oleh seorang pria bule asal Belanda, bernama Elliot Gerlach.


Yayasan Cempaka Floria adalah yayasan yang sedia membantu anak-anak putus sekolah untuk bisa terus belajar serta memberikan pelatihan keterampilan tambahan untuk kaum ibu rumah tangga di kampung itu, sehingga bisa meningkatkan taraf hidup serta perekonomian di sana.


Karenanya, siapa yang tidak mengenal Elliot Gerlach. Bule lanjut usia itu sudah bagaikan seorang pahlawan di kampung itu. Dia adalah orang yang sangat peduli dengan warga kampung itu akan sulitnya mendapat pendidikan serta pekerjaan yang lebih baik, terlebih di masa pandemi berkepanjangan.


"Ngomong-ngomong, Mbak ini siapa ya? Tumben saya lihat di kampung ini?" sela Wala, menyambung penjelasan dari Rida tentang alamat yayasan itu.


"Oh, perkenalkan saya Zinnia, Bang. Saya istri dari almarhum Mr Elliot pendiri Yayasan Cempaka Floria. Setelah Mr Elliot meninggal, mulai sekarang, saya yang akan mengurus yayasan," sahut wanita yang mengaku bernama Zinnia itu, sambil melepaskan kacamata hitamnya serta menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan Wala.


"Saya Wala, Mbak." Wala menjabat tangan Zinnia dan tersenyum manis kepadanya.


Jantung Wala berdegup kencang, ketika tatapan matanya dan mata wanita itu bertemu. Wala sangat terpesona akan kecantikan Zinnia yang bak bidadari, baru saja turun dari kahyangan. Tanpa sadar, tangan Wala dan tangan Zinnia saling berpegangan cukup lama.


"Hmm ... cantik sekali jandanya Mr Elliot ini," batin Wala berdecak kagum.


Kekaguman yang sama juga tampak di wajah Zinnia. Paras rupawan nan maskulin seorang Wala, membuatnya sangat takjub dan sekan sangat betah untuk memandangi, meski penampilan pria tersebut terlihat sangat sederhana.


"Saya Rida, Mbak." Rida yang merasa tidak senang melihat cara Wala dan  Zinnia saling bertatapan, bergegas menyela dan meraih tangan Zinnia agar lepas dari tangan Wala.


"Baik terima kasih banyak atas informasinya, Mbak Rida. Saya permisi," pungkas Zinnia dan segera kembali masuk ke dalam mobilnya untuk menuju alamat yang dia cari.


Saking terpesonanya, mulut Wala terus menganga. Hingga mobil yang dikendarai Zinnia sudah tidak terlihat lagi pun, dia masih bengong menatap ke ujung jalan.


"Ushh, sampai segitunya kamu memperhatikan wanita itu, Bang! Lihat tuh, ilermu netes!" Rida mendengus kesal dan menepuk kedua tangannya di hadapan Wala, sehingga menyadarkan Wala dari lamunan kekagumannya.


"Aah, iya, Mbak. Jadi ... mau beli bunga yang mana nih?" tanya Wala gugup dan segera mengalihkan kembali ke barang jualannya.


Rida hanya tersenyum kecut. "Nggak jadi beli, Bang. Lain kali aja!" serunya sambil berlalu begitu saja dari lapak tanaman hias milik Wala.


Wala hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rida. Sedari awal dia pun sudah menduga, kalau wanita itu menghampiri lapaknya bukanlah untuk membeli bunga darinya, melainkan hanya ingin menggodanya saja.

__ADS_1


__ADS_2