
"Ini Yuri! Sejak kapan dia bekerja di sini, Hans?" Mata Tamara kian terbelalak lebar. Dia seakan tidak percaya dengan siapa wanita yang dia lihat di layar laptop milik Hans.
"Jadi kamu benar-benar mengenal wanita ini, Tamara?" Hans ikut merasa terkejut.
"Iya! Tentu aku mengenalnya, Hans. Nama wanita ini adalah Mayuri Akhila. Dia mantan baby sitter-ku. Tapi, dulu aku sudah mengusirnya dari rumahku, karena dia itu seorang janda gatel dan dia juga suka menggoda suami orang! Bahkan, Mas Pandu juga hampir tergoda oleh sikapnya yang sok polos itu!" ucap Tamara dengan nada sengit.
Hans tidak menyahut dan hanya mengernyitkan dahinya sambil menatap wajah Tamara dengan sorot mata yang langsung bisa dipahami oleh Tamara.
"Ee ... maaf, Hans! Kenyataannya, Yuri itu memang perempuan penggoda suami orang. Banyak yang sudah menjadi korbannya termasuk Lisa, temanku. Tapi, aku dan Yuri tidak bisa disamakan, kami sangat berbeda. Aku tidak pernah menggodamu, bukan? Justru kamu yang menggoda aku duluan!" Tamara berkilah dan tersipu malu serta menundukkan kepalanya.
"Oh ya? Seperti itu ya? Ehmm ... " Hans tersenyum kecut dan terkekeh kecil melihat Tamara yang tampak gugup dan salah tingkah. Tentu saja semua ucapan Tamara itu, ibaratkan dia tengah menepuk air di dulang dan terpercik ke wajahnya sendiri.
"Ahh ... sudahlah, Hans! Kamu tidak perlu mengejekku!" ketus Tamara kesal.
"Lalu ... bagaimana Yuri bisa bekerja di sini, Hans? Dia itu putus sekolah dan tidak punya skil apa-apa untuk bisa bekerja di kantoran, bukan?" sambung Tamara mengalihkan topik pembahasan mereka.
Hans hanya menggeleng. "Yuri cukup cakap mengoperasikan komputer dan juga Bahasa Inggris. Selama bekerja disini, tidak ada yang mengeluhkan kinerjanya," terangnya.
"Dari mana Yuri bisa belajar komputer dan Bahasa Inggris secepat itu? Setahuku dia hanya bisa mengerjakan pekerjaan kasar saja." Tamara menggumam dalam hati. Banyak pertanyaan yang kian memenuhi benaknya.
__ADS_1
"Tadi aku sudah cek ke bagian personalia, Yuri juga bekerja disini murni karena lulus wawancara. Bukan atas rekomendasi siapapun. Itu sebabnya aku masih belum bisa memahami, motivasi apa yang mendorong Yuri melakukan semua itu," ujar Hans kembali mengungkapkan keraguannya.
"Mungkin alasannya aku, Hans. Yuri bisa saja punya dendam terhadapku, karena aku pernah memperlakukannya dengan tidak baik. Dan sekarang dia sengaja ingin menghancurkan aku dengan foto itu!" terka Tamara dengan wajah yang mulai terlihat panik.
"Aah, gawat! Kalau Yuri sampai melakukan itu ... kita akan dalam bahaya besar, Hans! Bagaimana kalau dia menyebarkan foto itu kepada semua orang, terutama suamiku? Mas Pandu bukan hanya akan menceraikan aku, tetapi nama baik kita juga akan tercoreng di hadapan publik!" Tamara semakin tidak mampu menyembunyikan kekhawatirannya.
"Aku pun mengkhawatirkan hal yang sama, Tamara! Kalau Sisca benar-benar menemukan bukti tentang hubungan kita, maka rencanaku untuk bisa menguasai semua kekayaan Hardianto, juga akan hancur. Bisa jadi Sisca dan papanya justru akan memasukkan aku ke dalam penjara." Seperti halnya Tamara, Hans juga menunjukkan kepanikan dan kecemasan yang sama. Keduanya tampak begitu khawatir kalau hubungan terlarangnya selama ini, justru akan menjadi ambang kehancuran untuk mereka berdua.
"Kamu harus melakukan sesuatu, Hans! Jangan biarkan semua itu sampai benar-benar terjadi. Sebelum yang kita takutkan menjadi kenyataan, kita harus bisa singkirkan Yuri secepatnya!" sergah Tamara.
"Iya! Aku juga sedang memikirkan itu, Tamara. Saat ini aku tidak mungkin memecatnya. Karena Sisca pasti akan semakin curiga kalau tiba-tiba aku mengeluarkannya dari kantor ini!" Hans menekan keningnya. Sejauh itu, dia belum bisa memikirkan upaya apa yang akan dia lakukan untuk membungkam Yuri agar tidak sampai membocorkan semua rahasianya bersama Tamara.
"Aha ... aku punya ide, Hans!" Tiba-tiba Tamara menjentikkan jarinya dan tersenyum sumringah. Ada sebuah ide brilian yang kini melintas di kepalanya.
Tamara berdiri dari tempat duduknya dan membisikkan apa yang terpikirkan di kepalanya kepada Hans.
"Hmm ... ide bagus, Sayang! Kamu memang seorang pemikir yang hebat." Hans tersenyum licik. Apa yang disampaikan Tamara kepadanya, membuat banyak ide-ide yang lebih menguatkan juga datang begitu saja dalam pikirannya.
"Tapi, kamu tetap harus hati-hati menjalankan semuanya, Hans. Jangan sampai salah langkah yang justru akan mempersulit dan tambah membahayakan posisi kita!"
__ADS_1
"Tentu saja, Sayang. Kamu tidak usah mengkhawatirkan semua itu. Aku akan bekerja sama dan membayar orang yang sangat profesional untuk menjalankan semua itu dengan serapi mungkin, tanpa melibatkan kita berdua." Hans terus tersenyum dan sangat yakin akan kemampuan orang kepercayaannya, yang akan ia tugaskan untuk meluruskan rencana itu.
"Kalau begitu, segera jalankan rencana ini, Hans! Semakin cepat kita melaksanakannya, semakin mudah kita membungkam Yuri, sebelum dia benar-benar menyebarkan foto itu kepada semua orang!" Senyum durjana juga menghiasi bibir Tamara. Sebuah rencana keji, yang akan mereka jalankan, bisa memberi sedikit ketenangan baginya. Dia pun sangat yakin kalau Hans pasti akan bisa melenyapkan bukti perselingkuhan mereka dengan cara mudah.
Hans lalu meraih ponsel miliknya yang sedari tadi ada di atas meja kerjanya. Dia segera menakan sebuah nomor kontak di sana, untuk menghubungi seseorang yang akan bisa membantu menjalankan semua rencananya.
Beberapa menit, Hans terlihat begitu serius berbicara melalui sambungan teleponnya.
"Ok! Aku percayakan semua tugas ini kepada kalian. Semakin cepat kalian melaksanakannya, akan semakin baik. Dan ingat! Lakukan semua dengan serapi mungkin. Kalau sampai terjadi apa-apa ... jangan pernah kalian membawa namaku dalam kasus ini!" Hans menegaskan semua keinginannya kepada seseorang yang tengah di telponnya.
"Bagus! Kalau semua sudah berhasil, aku pasti akan membayar kalian sangat tinggi!" pungkas Hans, sambil menutup sambungan teleponnya dan sebuah senyum kemenangan kian mengembang di bibirnya.
"Bagaimana, Hans? Apa semua beres?" tanya Tamara penasaran. Melihat senyum Hans yang terlihat begitu senang, membuat dia tidak sabar ingin mendengar semua hal dari Hans.
"Kamu tenang saja, Tamara! Aku sudah membayar orang yang tepat untuk menjalankan rencana kita. Kita akan secepatnya menyingkirkan Yuri. Aku tidak akan membiarkan wanita itu menghancurkan semua rencanaku untuk menguasai seluruh kekayaan Hardianto!" ucap Hans dengan suara datar, namun menyiratkan sebuah kelicikan.
Tamara ikut tersenyum dan sangat yakin kalau Hans pasti akan bisa menjalankan rencana itu sebaik mungkin. Dengan uang dan kekuasaan yang dia miliki saat ini, tentunya tidak sulit baginya membayar orang hanya untuk melenyapkan seorang Yuri dan tanpa sedikitpun menyinggung dirinya dan juga Hans.
"Untuk sementara sampai kita benar-benar sudah berhasil menyingkirkan Yuri, sebaiknya kita tetap harus menjaga jarak dulu, Sayang. Aku tidak ingin orang-orang mencurigai kita." Hans kembali menyampaikan apa yang di awal sudah dia katakan kepada Tamara.
__ADS_1
"Iya, Hans! Aku mengerti." Tamara mengangguk paham. Tidak ada pilihan lain kecuali memang untuk sementara waktu mereka harus mengurangi frekuensi pertemuannya.