
"Heh, kamu kenapa?" Pandu mengerutkan wajahnya melihat Yuri tampak terpaku menatapnya.
"Ti-tidak apa-apa, Pak!" Dengan sangat gugup, Yuri memalingkan wajahnya yang mulai memerah, karena malu mendengar pertanyaan dari Pandu.
"Ayo dibuka bajunya, Pak. Saya akan memasang kancingnya yang lepas!" ujar Yuri, mengalihkan semua rasa malunya.
Pandu pun segera melepaskan kemejanya dan langsung dia serahkan kepada Yuri.
"Tunggu ya, Pak! Hanya dalam lima menit, semuanya pasti beres!"
Yuri segera menggeser kursi meja rias dan membawanya ke sebelah lemari pakaiannya yanng tingginya jauh melebihi tinggi badannya.
"Loh ... apa yang akan kamu lakukan, Yuri?" tanya Pandu heran.
"Alat-alat menjahitnya saya simpan di atas lemari ini, Pak. Kalau saya ingin mengambilnya, saya harus pakai kursi untuk tumpuan," jawab Yuri sambil perlahan menaiki kursi itu. Tangannya juga langsung sibuk menggapai sisi atas lemarinya, mencari-cari dimana dia biasa menyimpan kotak peralatan jahitnya.
"Nah sudah ketemu!" Yuri tersenyum girang, karena sudah menemukan apa yang dicarinya. Akan tetapi, ketika dia hendak turun dari kursi pijakannya, tiba-tiba kaki Yuri terasa tidak seimbang.
Braaakk!
Kursi itu bergeser dan tubuh Yuri terpelanting ke belakang. Dia tidak mampu menahan beban tubuhnya dan sebelah kakinya tidak bisa lagi bertumpu pada kursi.
"Yuurriii ... " Pandu yang menyaksikan kejadian tersebut, berteriak histeris. Refleks saja motoriknya bergerak dan menangkap tubuh Yuri sehingga Yuri tidak sampai terjatuh ke lantai.
"Yuri ... kamu tidak apa-apa, kan?" Dengan raut wajah cemas, Pandu menatap wajah Yuri yang tampak masih shock. Di saat itulah, wajah Yuri dan Pandu seakan begitu dekat tanpa jarak. Pandu secara tidak sadar mendekap erat tubuh Yuri, dan Yuri juga tidak sengaja mengalungkan kedua tangannya di bahu Pandu, karena takut terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak. Untung saja Pak Pandu menangkap saya, kalau tidak mungkin akan sangat sakit karena saya jatuh ke lantai." Yuri bergegas memalingkan wajahnya. Akan tetapi, jantungnya berdegup sangat kencang. Entah karena masih deg-degan karena hampir terjatuh, atau karena saat itu tubuhnya menempel sangat dekat dengan Pandu.
Pandu pun merasakan hal yang sama dengan Yuri. Dia juga salah tingkah dan segera mengalihkan tatapannya. Tetapi, ketika dia menoleh ke arah yang berbeda, matanya justru disajikan pemandangan yang jauh lebih membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Ketika Yuri terjatuh, daster longgar yang tengah dikenakan Yuri tersingkap. Dengan tanpa halangan, Pandu bisa melihat kedua paha putih nan mulus milik Yuri terpampang di hadapannya.
Pandu menelan ludahnya. Sebagai seorang laki-laki normal, pemandangan seperti itu pastilah membuat sesuatu tiba-tiba membuncah dalam benaknya.
"Aaah ... Yuri, kamu seksi sekali." pikiran nakal itu terlintas begitu saja dalam pikirannya.
"Aww ... kaki saya sakit, Pak!" ringis Yuri. Kakinya terasa sedikit nyeri, karena sempat terbentur pada kursi saat dia mencoba mengembalikan keseimbangan tubuhnya.
"Seharusnya, tadi kamu minta bantuanku, jangan ambil kotak itu sendiri!" celoteh Pandu mengalihkan semua rasa yang bergejolak tidak menentu dalam hatinya. Pandu tetap membopong tubuh Yuri, dan membawanya berbaring di atas tempat tidur.
Jantung Pandu berdebar kian tidak menentu. Ini untuk pertama kalinya dia menyentuh kedua kaki jenjang Yuri secara langsung. Memang terlihat ada sedikit luka memar disana, tetapi tidak seberapa parah.
"Hanya sedikit memar, Yuri. Nanti aku akan ke apotik membelikan penghilang lebam untukmu."
"Tidak usah repot-repot, Pak! Nanti saya cukup kompres handuk hangat saja."
Pandu mengangkat punggungnya. Tidak ingin terus diganggu perasaan tidak menentu yang memenuhi benaknya, dia tidak berniat berlama-lama bersentuhan dekat dengan Yuri.
"Tunggu, Pak! pak Pandu mau kemana?" Tangan Yuri bergerak menahan tangan Pandu agar tidak meninggalkannya.
"Aku mau mencoba baju baru yang kamu belikan, Yuri. Aku juga akan segera pulang, karena ini sudah malam."
__ADS_1
"Jangan pulang dulu, Pak!" Yuri menarik tangan Pandu, sehingga kembali mendekat padanya yang masih berbaring di atas ranjang.
"Hanya dalam lima menit, saya pasti bisa memasang kancing kemeja bapak. Saya harap Pak Pandu bisa menunggu sebentar." Tangan Yuri bergerak begitu saja menarik tangan Pandu lebih kuat, sehingga wajah Pandu kembali dalam posisi yang begitu dekat dengan wajah Yuri.
Entah setan dari mana yang menggoda, sehingga Yuri secara tidak sadar kembali menggerakkan kedua tangannya dan melingkarkannya di bahu kokoh milik Pandu. Merasakan wajah mereka berdekatan lagi, darah pandu seakan berdesir lebih cepat. Rasa yang tadi berusaha dialihkan oleh Pandu, kembali melingkupi jiwanya.
"Yuri ... " bisik Pandu sambil menatap wajah Yuri penuh makna.
"Pak Pandu ... " Yuri juga berbisik yang sama dan tersenyum menawan menatap wajah tampan Pandu yang begitu dekat di hadapannya.
Tidak dapat menolak sesuatu yang sudah sangat membludak dalam jiwanya, tanpa sadar, wajah Pandu tergerak. Bibirnya dengan sengaja menyentuh bibir Yuri, dan sebuah kecupan mesra pun tidak terelakkan dia daratkan di bibir manis nan ranum milik Yuri.
Pandu sangat tidak menduga. Awalnya dia berpikir kalau Yuri pasti akan marah dan menolak kecupan itu. Namun, di luar dugaanya, Yuri justru menyambut hangat kecupannya.
Merasa tidak ada penolakan dari Yuri, Pandu kembali mengulang mengecup bibir itu, bahkan sekarang Pandu justru sedikit lebih berani. yang semula hanya sebuah kecupan, berganti menjadi ciuman yang hangat.
Yuri juga tidak sedikitpun ingin mengelak dari ciuman bibir Pandu, dia justru merespon sangat agresif. Ketika Pandu mengulang kecupannya, Yuri sengaja membuka sedikit mulutnya sehingga ciuman mereka menjadi sedikit lebih panas. Pandu pun mulai semakin berani memperdalam ciumannya, dan tak terelakkan Pandu mulai menggigit lembut bibir Yuri dengan bibirnya serta mellumat bibir itu penuh gairah.
Untuk sesaat, ciuman yang semakin lama kian panas itu, membuat keduanya terbuai. Ada rasa yang tidak terbendung semakin memuncak di hati keduanya. Mereka sama sekali tidak menyadari kalau jutaan setan kini menari-nari menggoda dua insan yang mereka sendiri tidak tahu apa yang tengah mereka rasakan.
"Sambil menatap binar mata Yuri yang terlihat pasrah, Pandu semakin lancar memberikan serangannya. Ciuman yang semula hanya di bibir, sudah menjalar ke area yang lain. Semua bagian yang ada di wajah Yuri dikecupnya dengan lembut dan penuh rasa kasih sayang.
Sesekali mata Yuri terpejam. Setiap sentuhan bibir Pandu di bibir serta bagian lain di wajahnya, sukses membangkitkan sebuah rasa yang dia sendiri juga tidak paham apa itu. Hanya kehangatan dan kelembutan kasih dari seorang Pandu yang bisa dia nikmati, sehingga dia merasakan sebuah getaran hati dan kebahagiaan yang selama ini sama sekali belum pernah dirasakannya.
Begitu juga dengan yang Pandu rasakan. Respon Yuri yang sangat positif akan perlakuannya, seolah menantang sebuah hasrat berbeda semakin bergejolak dalam sukmanya. Tanpa ada keraguan, Pandu juga semakin intens memberi kecupan panas di wajah Yuri bahkan kini sudah semakin berpindah ke dagu, leher, dada serta panggkal telinga Yuri yang membuat dodaan hasrat seketika datang menyelimatan dua jiwa yang sama-sama tengah dilanda kesepian tersebut.
__ADS_1