
Hari sudah beranjak siang.
Cukup lama Pandu dan Sisca berada di kantor polisi untuk mengajukan sebuah laporan. Setelah membuat laporan dan menyerahkan semua bukti-bukti yang mereka sudah kantongi sebelumnya, Pandu dan Sisca memutuskan untuk kembali ke villa.
"Yuri ... apa yang terjadi dengannya? Aku sangat mencemaskan keadaannya. Kalau sampai Hans melakukan hal buruk terhadapnya, maka aku tidak akan takut untuk menghabisi Hans!" Pikiran Pandu sangat tidak tenang. Di dalam mobil yang akan membawa mereka kembali ke villa itu, Pandu menggumam dan berdecak kesal.
"Tenang saja, Pak Pandu. Polisi pasti akan segera bertindak dan orang-orang suruhanku juga terus ikut mencari Mas Hans. Aku yakin, tak lama lagi, laki-laki pengkhianat itu akan tertangkap." Melihat Pandu terlihat gusar, Sisca berusaha menghiburnya dan sedikit meredam kemarahannya.
"Sejujurnya, saya sangat malu terhadap anda, Non Sisca. Saya malu mengakui Tamara sebagai istri saya. Saya tidak pernah menyangka, di belakang saya ternyata selama ini dia berbuat hal yang tidak sepantasnya." Pandu berujar sengit.
Hari itu, dari keterangan Sisca dia juga mendapat fakta baru tentang kecurangan Hans bersama Tamara. Dari hasil penyelidikan Sisca, dia tahu kalau diam-diam Hans selama ini sudah memanupulasi laporan keuangan di perusahaannya dan menggunakan dana operasional perusahaan tersebut untuk kepentingan pribadinya, termasuk memanjakan Tamara dengan barang-barang mewah pemberiannya.
"Mereka berdua sama saja!" timpal Sisca. "Aku tidak akan pernah memaafkan Mas Hans. Dia sudah berbohong terhadapku. Selama ini dia tidak pernah mencintaiku, dia menikahiku hanya karena harta papa saja," geram Sisca dengan kekecewaan teramat sangat terhadap pria yang sudah enam bulan menjadi suaminya itu.
"Aku pastikan Mas Hans akan mendekam di penjara. Dia benar-benar licik. Selain berpura-pura mencintaiku, dia juga sudah menipu papa. Mas Hans selalu mencoba mencari cara agar bisa mengalihkan semua aset-aset Hardianto menjadi atas nama dia." Kemarahan kian tersirat di wajah Sisca. Semua kebusukan Hans sudah berhasil diketahuinya. Tentu saja, semua kecurigaan itu bermula dari foto Hans bersama Tamara yang dia dapatkan dari Yuri.
Pandu tersenyum kecut mendengar penuturan Sisca. Dia semakin menyadari kalau Tamara juga selalu mendukung semua rencana-rencana jahat Hans terhadap istri dan papa mertuanya.
"Setelah mengetahui semua ini, aku juga tidak akan mempertahankan Tamara lagi. Aku akan menceraikannya secepatnya. Aku tidak sudi mempunyai seorang istri pengkhianat dan juga berpikiran culas seperti dia." Pandu ikut menggeram jengah. Rasa kecewa terhadap Tamara, membuat rasa emosi juga memuncak di jiwanya.
Mobil itu terus bergerak dan kini mereka sudah memasuki area perkebunan milik Hardianto.
Drrtt! Drrtt! Drrtt!
Ponsel yang ada di dalam tas Sisca bergetar dan mengeluarkan suara. Bergegas dia morogoh tasnya dan mengambil ponsel tersebut.
__ADS_1
"Iya, hallo ... " Sisca menjawab sebuah panggilan yang masuk.
"Kabar baik?" Sejenak Sisca menoleh ke arah Pandu yang juga menoleh ke arahnya, ketika seseorang yang menelpon mengatakan membawa sebuah kabar baik untuknya.
"Benarkah? Dimana?" Sebuah senyum kemenagan mengembang di bibir Sisca.
"Ok! Tetap awasi dia dan aku juga akan segera menyusul kesana." Sisca menutup teleponnya dan senyum itu terlihat semakin jelas seiring binar licik di matanya.
"Ada apa, Non Sisca? Apa sudah ada kabar tentang Hans?" tanya Pandu. Melihat ekspresi di wajah Sisca, dia menjadi sangat tidak sabar mendengar informasi yang akan Sisca sampaikan.
"Orang-orang suruhanku sudah menemukan jejak Mas Hans dan anak buahnya. Mereka ternyata sudah keluar dari perkebunan ini dan sekarang mereka sedang menuju ke kota utama. Polisi juga sudah bergerak mengikuti jejak itu." Sisca menjelaskan semua apa yang disampaikan orang suruhannya kepada Pandu.
"Kalau begitu, ayo ... kita juga harus segera menyusul kesana. Jangan sampai Hans berhasil melarikan diri dan mengecoh kita!" ajak Pandu semakin tidak sabar dan juga khawatir Hans akan berbuat curang.
"Tentu saja, Pak Pandu!" sahut Sisca.
"Siap, Non."
Pengawal sekaligus sopir pribadi Sisca itu segera mencari sebuah persimpangan dan memutar balik laju kendaraannya, bergerak cepat menuju kota utama.
SUV hitam milik Sisca itu meliuk-liuk sangat lincah di jalanan kota kecil dan menyelip di sela-sela kepadatan kendaraan-kendaraan bermuatan besar antar kota. Semua penumpang yang ada di mobil itu tentunya sudah sangat tidak sabar untuk menyusul dan segera tiba di tempat tujuannya tepat waktu.
Kurang lebih tiga puluh menit dalam perjalanan, mereka tiba di perbatasan kota. Laju kendaraan itu mulai melambat, karena jalur yang mereka lalui sangat padat.
"Bagaimana, Non Sisca? Kita sudah tiba di perbatasan. Apa ada kabar lagi dari orang suruhan Nona?" Pandu bertanya sambil terus mengarahkan pandangannya ke luar mobil, mengawasi kalau seandainya dia menemukan petunjuk tentang Hans di sekeliling jalan yang tengah mereka lalui.
__ADS_1
"Aku akan mencoba menghubungi mereka lagi." Sisca yang juga sama sibuknya memperhatikan sepanjang jalan di sekitarnya, kembali mengambil ponselnya, lalu menghubungi orang suruhannya.
"Aaahh, kenapa mereka tidak mengangkat telrpon dariku? Apa mereka kehilangan jejak Hans?" Sisca terus mengulang menghubungi orang suruhannya. Akan tetapi, tetap tidak ada jawaban.
"Jalanan juga sangat macet. Ada apa ini?" kalut Pandu.
Semua orang di dalam mobil itu kembali panik, seraya menerka-nerka apakah kemacetan tersebut itu ada kaitannya dengan Hans.
"Non Sisca, lihat itu!" pekik salah seorang pengawal Sisca secara tiba-tiba sembari menunjuk ke arah depan, sehingga Pandu dan Sisca sontak menoleh ke arah tersebut.
Tidak terlalu jauh dari posisi mobil mereka yang terjebak macet saat itu, tampak sebuah mobil sedan polisi berhenti di tepi jalan dan sebuah mobil lain juga ada di sana. Banyak orang terlihat berkerumun menyaksikan dari kejauhan apa yang tengah terjadi di sana.
"Itu mobil Mas Hans." Sisca menunjuk mobil lain yang ada di sebelah mobil polisi. Dengan mudah dia bisa mengenali mobil mewah yang sehari-hari biasa dipakai oleh suaminya itu.
"Apa ini artinya, polisi sudah berhasil menangkap Mas Hans dan anak buahnya?" Ada keyakinan yang tersirat dari pertanyaan Sisca.
"Ayo kita turun dan melihat langsung kesana, Nona!" ajak Pandu seraya membuka pintu mobil di sebelahnya.
"Iya, Pak. Ayo kita kesana." Tanpa berpikir panjang, Sisca ikut membuka pintu mobil di sebelahnya dan menyusul Pandu yang sudah lebih dulu berjalan cepat menghampiri mobil polisi di depannya itu.
Di antara kerumunan orang-orang, Pandu dan Sisca menyeruak dan berusaha mendekat ke arah mobil polisi.
"Tunggu!" Sisca berteriak lantang ketika melihat beberapa orang petugas berpakaian polisi tengah memegang tangan seorang pria yang sudah terpasangi borgol dan kepalanya tertunduk lesu.
"Nona Sisca, kebetulan anda sudah tiba disini. Kami sudah berhasil menangkap Pak Hansel dan kami akan membawanya ke kantor sekarang juga, untuk proses selanjutnya." Salah seorang polisi disana menyambut hormat dan menerangkan kalau mereka sudah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik kepada Sisca.
__ADS_1
"Mas Hans!" Sisca menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati Hans yang masih dalam pengawalan ketat polisi.
Hans semakin menundukkan wajahnya. Dia sadar kalau Sisca kini sudah mengetahui semua kebohongannya selama ini.