
Matahari sudah muncul dan bulat sempurna di langit bagian timur. Bias sinar sudah sepenuhnya hadir menerangi semua yang ada di permukaan bumi. Pejalan kaki dan berbagai jenis kendaraan pun sudah terlihat memadati setiap ruas jalan. Aktivitas dan kesibukan warga mulai bergeliat di pagi yang sangat cerah tersebut.
Hari sudah sangat siang ketika SUV hitam yang membawa Pandu, Sisca beserta dua orang bodyguard-nya memasuki wilayah kota kecil yang mereka tuju.
"Aaah, sial! Gara-gara kecelakaan beruntun yang terjadi tadi malam, kita terlambat tiba di kota ini." Pandu bersungut kesal, menyadari mereka tiba di kota itu sangat terlambat.
Memang benar, mobil yang mereka tumpangi sempat terjebak dalam kemacetan parah di jalur yang menghubungkan kota utama dan kota kecil itu. Terjadi sebuah kecelakaan yang berbuntut kemacetan parah, sehingga perjalanan mereka menjadi sangat terhambat. Durasi maksimum empat jam yang seharusnya mereka tempuh untuk sampai di kota kecil itu, molor hingga lebih dari dua jam lamanya.
Untuk mencari jalur alternatif juga tidak memungkinkan, karena hanya ada satu jalur untuk mereka sampai di kota kecil itu.
"Bersabarlah, Pak Pandu. Yang penting sekarang kita sudah di kota ini. Lima belas menit lagi kita akan sampai di villa itu," terang Sisca yang kala itu duduk di kursi penumpang bagian tengah, bersebelahan dengan Pandu.
"Tapi kita sudah kesiangan! Saya sangat takut kalau sampai terjadi hal buruk dengan Yuri." Wajah Pandu terlihat cemas, dia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya akan keselamatan kekasihnya itu.
"Tenanglah! Aku yakin tidak terjadi apa-apa. Orang suruhanku juga sudah sedari tadi malam mengawasi mereka di villa itu," hibur Sisca, tidak ingin Pandu terlalu khawatir.
Mobil itu terus bergerak dan masuk ke sebuah area perkebunan yang sangat luas.
"Apa ini villanya?" Pandu bertanya lagi ketika mobil itu kini berhenti di depan sebuah bangunan megah yang berdiri tersendiri di tengah sebuah area perkebunan kopi.
"Iya, benar. Villa ini adalah villa pribadi milik papaku dan seluruh area perkebunan ini juga adalah aset dari Hardianto Corporations," terang Sisca, seraya melepaskan sabuk pengamannya. Keduanya lalu sama-sama turun dari mobil.
Pandu berdiri dan sejenak merasa sangat terpukau. Pandangannya beredar, menyapu semua area di tempat tersebut. Perkebunan kopi dan cengkeh menghampar di hadapannya. Kemilau sinar matahari pagi yang terpantul dari sebuah kolam ikan yang cukup luas di belakang villa, membuat matanya untuk sejenak bagai dimanjakan indahnya pemandangan di sana.
"Ayo, Pak, kita masuk saja." Sisca menepuk pundak Pandu dan mengajaknya masuk. Semua itu sontak membuat Pandu terkesiap dan membuyarkan kekagumannya.
"Kenapa disini terlihat sepi? Apa mungkin Mas Hans tidak datang ke villa ini?" Di depan pintu utama villa itu, Sisca menghentikan langkahnya. Villa itu tampak kosong. Mobil mewah milik Hans juga tidak ada lagi terparkir di halaman villa.
__ADS_1
"Tapi, menurut informasi yang disampaikan orang suruhanku ... tadi malam Mas Hans memang ada di sini." Sisca bersungut dan tiba-tiba terlihat ragu.
"Ada apa, Non Sisca?" Pandu melirik dan memperhatikan perubahan ekspresi wajah wanita di sebelahnya.
Sisca tidak menjawab pertanyaan Pandu, tetapi dia mengalihkan pandangan kepada dua orang pengawal pribadinya yang selalu setia mengikuti dia dan Pandu hingga masuk ke area villa itu.
"Menurut kalian, apa ada orang di dalam?" Sisca bertanya kepada dua pengawalnya.
"Izinkan kami memeriksanya dulu, Nona." Kedua pria berbadan kekar itu langsung masuk ke dalam villa mendahului Sisca dan Pandu untuk memastikan semua aman-aman saja disana.
"Mohon maaf, Non Sisca. Di dalam kosong. Sepertinya Pak Hans sudah meninggalkan villa ini sebelum kita sampai disini."
Hanya beberapa menit setelah memeriksa ke dalam villa, pengawal itu sudah kembali menemui Sisca, serta melaporkan keadaan di dalam villa.
"Mas Hans sudah tidak di sini?" sentak Sisca, membelalakkan matanya. "Lalu kenapa orang suruhanku tidak mengabari kita? Mereka juga tidak ada di sini. Jangan-jangan ... " Sisca menghentikan ucapannya. Ada kecurigaan yang tiba-tiba mengisi hatinya. Dia khawatir apabila orang-orang suruhan yang dia tugaskan mengawasi villa itu, ternyata berkhianat dan justru berpihak kepada Hans.
"Hallo ... kalian dimana? Kenapa villa ini kosong dan Mas Hans juga tidak ada disini?" Sisca langsung mencecar seseorang yang kini sudah menjawab panggilan teleponnya.
"Maafkan kami, Non Sisca. Di luar pengawasan kami, Pak Hans dan anak buahnya sudah membawa wanita itu pergi dari villa. Sepertinya mereka juga mengawasi kita dan mereka tahu kalau anda akan menyusul ke villa itu," sahut suara di seberang.
"Apa?" Sisca semakin membulatkan matanya mendengar apa yang disampaikan seseorang yang tengah ditelponnya.
"Iya, Nona. Sekarang kami sedang bergerak untuk mengejar dan mencari dimana Pak Hans berada saat ini. Sepertinya mereka masih ada di area perkebunan ini."
"Baiklah cari terus dan apabila perlu, kerahkan orang-orang mu lebih banyak lagi untuk mencari mereka! Kabari aku segera kalau kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan."
Sisca menutup sambungan telepon dan menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Ada apa, Non?" Pandu menyela dengan cepat. Dia sudah sangat tidak sabar ingin mengetahui isi pembicaraan Sisca dengan orang suruhannya tersebut.
"Kurang ajar! Mas Hans ternyata sudah bergerak lebih cepat dari perkiraan kita. Dia bersama anak buahnya sudah pergi tadi pagi dari villa ini." Sisca mendengus kesal.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Pandu menatap Sisca dan semakin terlihat panik. Semakin khawatir akan keselamatan Yuri.
"Jangan terlalu khawatir, Pak Pandu. Percayalah, orang-orang suruhan saya pasti akan menemukan mereka. Kemungkinan, Mas Hans juga belum terlalu jauh dari sini. Jadi, untuk saat ini sebaiknya kita tunggu saja kabar dari mereka."
"Tidak bisa, Non Sisca. Saya tidak bisa menunggu. Keselamatan Yuri pasti sangat terancam, apalagi setelah Hans tahu kita menyusul kesini." Kecemasan semakin melanda di jiwa Pandu
"Lalu apa yang bisa kita lakukan, Pak Pandu?" Sisca menatap wajah Pandu yang terlihat sangat panik. "Apa dengan panik seperti ini, akan menyelesaikan masalah? Biarkan orang suruhan saya yang bekerja, Pak. Kita cukup hanya menunggu disini sampai ada kabar selanjutnya dari mereka," urai Sisca menasehati dan berusaha meredam kepanikan Pandu.
"Tidak, Non. Saya tidak akan berdiam diri saja disini. Saya akan lapor polisi. Ini adalah sebuah kasus penculikan!" ucap Pandu dengan tangan mengepal dan terlihat sangat gusar.
"Permisi, Non Sisca. Saya akan pergi mencari kantor polisi terdekat dari sini." Pandu membalikkan badannya dan hendak keluar dari area villa tersebut. Namun, dengan cepat Sisca menghadangnya.
"Tunggu, Pak Pandu!" cegah Sisca, menghadang langkah Pandu.
"Memangnya anda mau kemana, Pak Pandu? Apa anda cukup mengenal area perkebunan ini? Apa anda juga tahu dimana anda akan menemukan kantor polisi di kota ini?" Sambil terus menatap wajah Pandu, Sisca bertanya dengan nada menyeringai.
Pandu terdiam. Dia memang baru pertama kali masuk ke area perkebunan pribadi milik Hardianto tersebut. Selain itu, dia juga sangat jarang berkunjung ke kota itu. Sudah pasti, dia tidak akan mudah menemukan sendiri dimana kantor polisi terdekat dari area perkebunan.
"Saya dan pengawal saya akan ikut ke kantor polisi bersama anda, Pak. Kita akan sama-sama melaporkan Mas Hans kepada polisi. Hari ini juga, kita akan bongkar ke hadapan publik, siapa Hansel Sanjaya yang sebenarnya." Sisca berdecak jengah.
"Hans hanya seorang pengecut dan juga penipu! Bersiaplah ... aku akan segera mempermalukannya di depan semua orang!" Kemaraan Sisca kian meradang. Kaburnya Hans dari villa dan perkebunan itu, membuat kekesalan semakin membludak di hatinya. Keinginan untuk membongkar kecurangan yang dilakukan oleh sang suami juga kian tak terbendung.
"Kalau begitu, ayo kita bertindak secepatnya, Nona. Jangan biarkan Hans semakin jauh membawa Yuri pergi dari tempat ini!" ajak Pandu. Dengan cepat dia melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam mobil diikuti oleh Sisca.
__ADS_1
Mobil itu pun melaju cepat keluar dari villa, untuk menuju kantor polisi yang ada di kota itu.