
Di kursi ruang tunggu IGD rumah sakit, Yuri dan Pandu duduk bersebelahan dan menunggu Tamara yang tengah mendapat penanganan dari para petugas medis.
Sambil menekan kening dan wajahnya yang terlihat panik, Pandu hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Maafkan aku, Mas. Semua terjadi memang karena salahku. Tapi, aku tidak pernah ingin menyakiti Tamara. Semua terjadi di luar kendaliku." Yuri berucap mengungkapkan penyesalan serta berusaha mencairkan suasana yang masih terasa tegang antara dirinya dengan suaminya itu.
Pandu tetap diam, tidak menanggapi ucapan Yuri. Dia hanya sekilas menoleh ke arah istrinya dan kembali memasang wajah datar.
"Mas, jangan diam saja. Ayo, katakan sesuatu!" Yuri memegang tangan Pandu dan mengguncang-guncangkannya, berharap Pandu mau berbicara kepadanya.
"Diamlah, Yuri. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu," ucap Pandu dengan nada dingin sambil mengalihkan pandangannya dari Yuri.
"Tapi, Mas ... " Yuri menatap wajah Pandu dengan mata berkabut. Air matanya menggenang, ketika menyadari sikap Pandu yang seolah menyalahkan dirinya atas hal yang tengah menimpa Tamara.
"Permisi, Pak. Apa anda suaminya Ibu Tamara?" Seorang pria mengenakan snelli dan stetoskop menggantung di lehernya, bergegas menghampiri Pandu dan Yuri.
"Iya benar, Dok." Pandu langsung berdiri dari tempat duduknya dan ikut mendekati dokter itu.
"Bagaimana keadaan Tamara, Dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Pandu dengan nada cemas.
"Ibu Tamara mengalami pendarahan, Pak. Sepertinya terjadi benturan keras di perutnya dan kami mohon maaf, karena kami tidak bisa menyelamatkan janin dalam kandungannya," terang dokter itu dengan ekspresi sedih menjelaskan keadaan Tamara.
"Apa, Dok? Tamara keguguran?" Pandu membulatkan matanya, seolah tidak percaya mendengar penjelasan dokter kepadanya.
"Iya, Pak. Karena itu, kami harus segera melakukan tindakan kuretase," lanjut sang dokter kembali memperjelas keterangannya.
__ADS_1
"Innalillahiwainnailaihirojiun." Yuri yang mendengar penjelasan dokter ikut beranjak dan mendekati Pandu serta dokter itu lalu mengusap pundak suaminya.
"Ya, Tuhan, kenapa jadi seperti ini?" Pandu meremas rambutnya, merasa menyesal sekaligus juga sedih.
"Maafkan aku, Mas. Aku nggak tahu semuanya akan jadi seperti ini," sesal Yuri lagi, menunjukkan rasa bersalah terhadap Tamara. Namun, Pandu tetap tidak menanggapi semua yang diucapkan Yuri. Dia hanya memalingkan wajahnya tidak ingin menatap ke arah Yuri lagi.
"Mohon maaf, Pak. Sekarang, kami juga membutuhkan tanda tangan Bapak sebagai persetujuan tindakan yang kami akan lakukan terhadap Ibu Tamara," sela dokter, untuk sesaat mengalihkan semua yang terjadi antara Pandu dan Yuri.
"Baik, Dok. Lakukan saja yang terbaik," ucap Pandu, sambil meraih sebuah map dengan beberapa lembar kertas di dalamnya yang disodorkan dokter kepadanya. Tanpa ingin menunda waktu, Pandu bergegas menandatanganinya.
"Terima kasih, Pak Pandu. Kami akan segera menangani Ibu Tamara. Sambil menunggu, Bapak silahkan urus administrasinya di kasir," pungkas dokter itu, sambil mengambil kembali kertas dari tangan Pandu dan bergegas kembali masuk ke ruang IGD.
Sesuai saran dokter, Pandu langsung ke konter kasir untuk menyelesaikan administrasi dan meninggalkan Yuri sendiri di ruang tunggu.
Selama menunggu Tamara menjalani proses kuretase pun, Pandu dan Yuri tetap tak banyak bicara. Pandu lebih banyak hanya diam, tidak menanggapi apa yang Yuri coba bicarakan dengannya. Semua itu membuat Yuri merasa serba salah sekaligus juga sedih. Dia merasa, Pandu pastilah benar-benar menyalahkan dirinya atas semua kejadian yang menimpa Tamara hari itu.
"Sudahlah, Yuri. Tidak ada yg harus kita bahas saat ini." Pandu kembali hanya berucap dingin, tanpa menoleh ke arah Yuri.
Mendengar jawaban Pandu, Yuri sudah tidak mampu lagi menahan semua perasaannya. Matanya seketika berkaca-kaca, tidak tahu apa lagi yang harus dia katakan untuk meminta maaf dari suaminya itu.
Setelah beberapa menit sama-sama diam, pintu ruang IGD tampak terbuka. Dokter yang tadi menangani Tamara, keluar dari ruangan itu seraya mendekati Pandu dan juga Yuri.
"Bagaimana keadaan Tamara, Dokter? Apa kuretnya berjalan lancar?" Pandu langsung bertanya, sangat ingin tahu keadaan Tamara.
"Sudah, Pak. Kondisi Ibu Tamara saat ini sangat stabil dan beliau juga sudah siuman dari pengaruh anastesi yang kami berikan kepadanya. Saat ini, pasien masih harus menjalani observasi dulu selama beberapa jam," terang dokter itu.
__ADS_1
"Apa saya sudah boleh menemuinya, Dok?"
"Oh ya, Silahkan. Ibu Tamara juga sempat menanyakan anda tadi, Pak Pandu." Dokter itu menengadahkan tangannya mempersilahkan Pandu untuk masuk ke ruang IGD menemui Tamara.
"Terima kasih, Dok." Pandu bergegas masuk ke ruang IGD sedangkan Yuri, hanya mengikutinya sampai di depan pintu IGD saja.
Di atas ranjang di ruang IGD, Tamara tampak terbaring lemah. Tubuhnya belum sepenuhnya terbebas dari pengaruh anastesi sehingga kepalanya masih terasa sedikit pusing dan pandangannya berkunang.
"Tamara, bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" Pandu yang kini sudah berdiri di samping ranjang Tamara langsung bertanya serta mengusap wajah Tamara yang tampak masih pucat.
"Mas Pandu," panggil Tamara lirih dengan air mata yang mengalir di pipinya, saat tahu Pandu sudah ada di dekatnya.
"Aku kehilangan bayiku, Mas. Dan semua itu karena perbuatan kejam Yuri! Dia yang menjadi penyebab semua ini, Mas," hardik Tamara dengan isak tangisnya sambil memegang erat tangan Pandu.
"Dari dulu Yuri memang sangat mengharapkan semua ini. Dia ingin yang sangat tidak ingin aku melahirkan bayiku, karena dia ingin segera mengusirku dari rumah kita. Dia sengaja membuatku keguguran, agar kamu segera menceraikan aku, Mas." Tamara semakin mengeraskan tangisnya dan melimpahkan semua kesalahan pada Yuri, seolah dia adalah korban.
"Sudahlah, Tamara. Kamu jangan memikirkan semua itu. Tidak baik menyalahkan orang lain atas apa yang sudah terjadi. Setiap perbuatan, pastilah akan mendapatkan karmanya. Mungkin semua ini memang sudah takdir dan kamu harus bisa menerima dengan lapang dada," ujar Pandu menasehati wanita yang masih menjadi istrinya tersebut.
"Mas, sekarang aku sudah tidak hamil lagi, apa itu artinya kamu akan segera menceraikan aku?" Tamara bertanya dengan air mata semakin membanjiri wajahnya.
Rasa takut kalau Pandu akan segera mengakhiri hubungan mereka kini mengisi hatinya. Setelah tidak ada lagi bayi itu di rahimnya, sesuai apa yang Pandu pernah utarakan sebelumnya, pastilah dia akan segera menceraikan dirinya.
"Kamu tidak usah memikirkan hal itu dulu, Tamara. Pikirkan keadaanmu sendiri. Aku ingin kamu segera pulih dan kamu bisa segera keluar dari rumah sakit," hibur Pandu, tidak ingin Tamara terlalu memikirkan akan perceraian mereka.
Air mata tak tertahankan menetes di kedua mata Yuri, ketika mendengar percakapan Pandu dan Tamara. Dia yang sedari tadi berdiri di depan pintu, segera kembali diduk di kursi ruang tunggu.
__ADS_1
"Tega kamu, Tamara. Mengapa kamu menyalahkan aku atas semua kejadian ini? Bukan aku yang mengancammu, aku juga tidak berniat mencelakaimu apalagi membuatmu kehilangan bayimu. Tapi kenapa kamu malah menyalahkan aku atas semua ini?" Yuri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis terisak. Kesal, marah dan kecewa seakan bergejolak di hatinya. Dia tidak menyangka kalau Tamara semudah itu mempengaruhi Pandu dan melimpahkan semua kesalahan terhadap dirinya.