
Tamara seketika menutup telinganya dengan kedua tangan. Matanya dia pejamkan dan mendengus marah.
"Kalian berdua memang sengaja ingin membuat aku semakin tersiksa di rumah ini! Kalian sangat menjijikkan, tidak punya perasaan! Kalian tega memamerkan kemesraan di hadapanku!" decaknya sangat gusar.
Wajah Tamara seketika merah padam dan ada genangan air mata menghiasi kedua netranya. Kedua tangan Tamara mengepal dan meremas kuat-kuat ujung piyama tidur yang tengah digunakannya. Apa yang dia dengar dan dia ketahui tengah terjadi di dalam kamar di samping tempatnya berdiri, membuat berbagai perasaan bergemuruh di dadanya. Emosi, cemburu dan rasa sakit hati, semua itulah yang kini terasa begitu menyesakkan,
Sambil menahan air mata agar tidak sampai menetes, Tamara melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan tempat itu dan bergegas masuk ke kamar Chia. Dia merasa muak dan tidak ingin membayangkan lagi apa yang tengah Pandu dan Yuri nikmati berdua di dalam kamar itu.
Di kamar Chia, cahaya terlihat hanya remang-remang saja. Yuri memang selalu mematikan lampu ketika Chia sudah tidur, tetapi lampu di bedside table tetap menyala redup.
Tamara menghampiri box bayi tempat tidur putrinya serta menatap wajah imut yang sudah lelap tertidur.
"Chia sayang ... mama kangen sama kamu, Nak." Tamara mengusap kulit yang masih sangat halus di pipi putrinya.
"Maafkan mama, karena selama ini selalu mengabaikan kamu. Sekarang mama menyesal, tidak seharusnya mama melakukan kesalahan sebesar ini." Tanpa diminta, air mata kini lolos membasahi pipinya. Dia semakin menyesali kesalahannya, karena semua itu lah yang sudah membuat Chia selama ini jauh darinya. Tamara sangat sedih, kala menyadari kalau Chia selalu menangis dan tidak mau apabila ada di dekatnya.
"Tapi semua belum terlambat, Sayang. Mungkin ada baiknya Mas Pandu membawa Yuri ke rumah ini juga, karena semua itu akan membuat kamu selalu ada di rumah ini bersama mama." Meski merasa sangat kecewa karena Pandu membawa Yuri ke rumah itu, tetapi ada sekelumit rasa senang juga mengisi hatinya. Apabila Yuri tinggal di rumah itu, otomatis Chia juga tidak akan kemana-mana dan selalu ada di rumah bersamanya.
"Malam ini aku akan tidur disini saja bersama Chia. Mungkin dengan begitu, Chia bisa merasa dekat lagi denganku." Tamara mencoba mengulas sebuah senyum. Dari semua kekesalan yang dia rasakan, hanya wajah imut putrinya yang membuat dia bisa memiliki semangat.
"Aha ... aku tahu!" Sebuah senyum berbeda kini juga mengembang di bibir Tamara. "Chia bisa menjadi satu-satunya alat agar Mas Pandu bisa kembali padaku. Bagaimanapun juga, Chia adalah darah dagingku. Mas Pandu tidak boleh memisahkan aku darinya," gumam Tamara penuh keyakinan. Dia tahu, adanya Chia di antara dirinya dan Pandu pasti akan menjadi penghubung agar mereka bisa bersama lagi seperti dulu.
"Yuri!" Tamara menyeringai licik. "Sekarang kamu boleh bersenang-senang di atas penderitaanku. Tapi sebentar lagi, kamu yang akan aku usir lagi dari rumah ini."
__ADS_1
Perlahan Tamara duduk di tepi tempat tidur yang ada di sebelah box bayi. Dengan tatapan menerawang, dia merebahkan tubuhnya di atas pembaringan dan memikirkan apa yang dia akan lakukan untuk bisa menyingkirkan Yuri dari kehidupannya.
Sementara itu, di kamar samping. Pandu dan Yuri baru saja menyelesaikan penyatuan mereka. Keduanya sama-sama berbaring lelah di atas peraduan dan senyum bahagia sama-sama terus melengkung di bibir mereka.
"Terima kasih ya, Sayang. Kamu memang selalu bisa memuaskanku. Aku suka sekali gayamu yang seperti tadi," bisik Pandu genit, sambil mengecup kening Yuri yang berbaring di pelukannya.
"Sama-sama, Mas. Kamu juga sangat perkasa. Kamu selalu membuatku kewalahan," balas Yuri, ikut memuji ketangguhan Pandu ketika bersamanya untuk menemukan kenikmatan nirwana.
"Aku haus, Mas. Aku akan ke dapur dulu untuk mengambil air minum." Perlahan Yuri melepaskan pelukan Pandu dan mulai beranjak dari tempat tidur.
"Iya, Sayang. Tolong ambilkan segelas air juga untukku." Pandu sama sekali tidak melarang. Dia hanya memperhatikan saja Yuri yang kini sudah kembali mengenakan semua pakaiannya.
Yuri mengganguk dan bergegas keluar dari kamar itu dan menuju dapur.
"Ahh, melayani Mas Pandu memang sangat melelahkan. Sekarang tenggorokanku rasanya kering sekali." Dengan tangannya yang sibuk menampung air ke dalam gelas dari kran dispenser, Yuri menggumam sendiri. Sebuah senyum juga tidak pernah lepas dari bibirnya ketika mengingat apa saja yang baru dia nikmati bersama suaminya.
"Hhhh ... " Yuri terkesiap. Belum sempat dia menuguk air dari gelas itu, sebuah tangan tiba-tiba saja dengan kasar merampas gelas itu dari tangannya. Air di dalam gelas juga seketika tumpah dan membasahi bajunya.
"Apa-apaan kamu, Tamara?!" Yuri mendengus marah ketika melihat siapa yang merampas gelas itu dari tangannya.
"Apa maksudmu melakukan semua ini?" tanyanya kesal, sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang basah tersiram air minum dari gelas yang kini sudah berpindah ke tangan Tamara.
Tamara ikut menatap sinis kepada Yuri. "Apa masih perlu aku jelaskan apa maksudku hah? Dasar perempuan pelakor!" seringainya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Tidak perlu, Tamara! Aku tahu apa yang kamu inginkan dariku. Kamu pasti merasa tidak senang dengan kehadiranku di rumah ini, 'kan?" pekik Yuri acuh.
"Bagus kalau kamu sudah tahu, Yuri. Kamu berani masuk ke rumah ini, itu artinya kamu sudah berani menabuh genderang perang denganku. Lihat saja, Yuri! Kita lihat siapa yang akan menang dalam peperangan ini?!"
"Perang? Ha ... ha ... ha ... " Yuri terkekeh mendengar ucapan Tamara. "Memangnya siapa yang peduli? Aku tidak perlu perang melawanmu, karena sebelum perangpun kamu sudah kalah. Mas Pandu sudah tidak mencintaimu lagi. Dan semua itu karena salahmu sendiri. Kamu yang tidak bisa menjaga cinta Mas Pandu dan berkhianat dengan laki-laki lain!" balas Yuri tegas dan ikut memberi tantangan.
"Tidak usah banyak bacot kamu! Sampai saat ini, Mas Pandu juga masih suamiku. Sebelum kami resmi bercerai, aku masih punya kesempatan untuk merebut kembali cintanya. Kamu jangan lupa, Yuri, sebelum ada kamu, cinta Mas Pandu hanya untukku seorang dan aku yakin jauh dalam hatinya, cinta itu juga pasti masih ada untukku," gertak Tamara memberi ancaman dan berusaha menjatuhkan mental Yuri.
"Aku tidak peduli akan semua itu, Tamara. Asal kamu tahu, pengkhianatanmu sudah membuat Mas Pandu sangat membencimu. Aku yakin cintanya tidak akan pernah kembali untukmu lagi!"
"Ok! Kita lihat saja nanti! Sekarang kamu boleh merasa menang, Yuri. Tapi, perlu kamu catat, Tamara bisa melakukan apapun untuk bisa mendapatkan keinginannya!" Tamara kembali mengancam.
Untuk sejenak, Tamara dan Yuri saling memberi tatapan tajam seakan sama-sama tidak takut untuk memulai sebuah permusuhan besar.
"Ada apa ini ribut-ribut, hah?!"
Tiba-tiba Pandu ikut masuk ke dapur dan memasang wajah tidak senang mendengar pertengkaran kedua istrinya.
Tamara langsung memalingkan wajahnya dan bergegas keluar dari dapur. Dia tahu pasti, kehadiran Pandu ikut disana, pasti hanya akan membela Yuri dan menyalahkan dirinya saja.
Pandu dan Yuri sama-sama terdiam sejenak dan memandangi Tamara yang sudah pergi meninggalkan dapur.
"Apa yang Tamara lakukan terhadap kamu, Sayang?" tanya Pandu sambil memperhatikan baju Yuri yang tampak basah akibat tersiram air minum.
__ADS_1
"Tidak ada, Mas. Tadi hanya kebetulan saja kami bersamaan mengambil air minum," jawab Yuri menyembunyikan semua apa yang dilakukan Tamara terhadapnya.
"Jangan terlalu mempedulikan apa yang dia katakan, Sayang. Aku tahu dia pasti masih belum bisa terima kehadiran kamu di rumah ini." Pandu memegang kedua pundak Yuri serta menatap wajahnya. Walau Yuri berbohong, tetapi dia sudah mendengar apa yang sesungguhnya kedua istrinya itu bicarakan sebelumnya.