
Oleh polisi, siang itu juga Hans dimasukkan ke dalam sel tahanan. Selain atas kasus penculikan terhadap Yuri, dia harus menghadapi tuntutan dari Sisca, karena Hans terbukti melakukan penggelapan uang perusahaan dan pemalsuan beberapa dokumen untuk pengalihan aset Hardianto ke tangannya.
Pandu dan Yuri duduk berdua di kursi ruang tunggu kantor polisi. Keduanya baru saja selesai memberi keterangan kepada polisi. Sedangkan Sisca, masih berada di ruang penyidikan guna memberi keterangan lebih lanjut.
"Aku sangat senang karena kamu selamat, Yuri. Dari semalam aku sangat khawatir, aku takut Hans berbuat jahat sama kamu." Pandu merangkul erat pundak Yuri dan merebahkan kepala wanita itu di bahunya.
"Pak Hans beberapa kali mengancam akan melenyapkan saya, Pak. Dia sangat takut kalau saya akan membocorkan semua rahasia hubungannya dengan Ibu Tamara. Tapi, sekarang syukurnya semua sudah terbongkar," ucap Yuri lega. Dia merasa tidak ada lagi beban karena menyimpan sendiri rahasia perselingkuhan Hans dan Tamara.
"Kamu tahu semua pengkhianatan Tamara, tapi kenapa kamu tidak memberitahuku, Yuri? Untuk apa kamu menyimpan rahasia sebesar itu sendiri?" Pandu memegang kedua pundak Yuri sambil memberinya tatapan menelisik.
"Maafkan saya, Pak. Saya sengaja tidak bercerita pada Bapak, karena saya tidak ingin memanfaatkan kesempatan. Saya tidak mau Pak Pandu menganggap saya tukang ngadu dan menjadikan semua itu sebagai senjata agar saya bisa memisahkan Bapak dari Ibu Tamara. Saya kan sudah pernah bilang, kalau saya tidak akan menuntut apapun dari Bapak," aku Yuri jujur.
"Apalagi, Pak Pandu sudah janji akan menikahi saya secara siri. Saya tidak akan pernah berharap lebih dari itu, Pak," sambung Yuri lagi.
Pandu menghela nafas dalam-dalam mendengar pengakuan Yuri. Dia semakin menyadari kalau wanita di hadapannya itu ternyata sangatlah polos dan tidak banyak menuntut. Kebesaran hati dan ketulusan Yuri, membuatnya semakin terkesan.
"Lalu apa kamu pikir setelah aku tahu semua ini aku akan tetap mau menikah siri dengan kamu?" tanya Pandu sedikit menyeringai sinis.
"Maksud, Bapak?" Yuri tersentak kaget. Pertanyaan Pandu membuatnya merasa semakin bersalah.
"Sekali lagi maafkan saya, Pak. Ini semua memang salah saya. Kalau Bapak ingin membatalkan pernikahan itu, saya bisa apa? Semua terserah Pak Pandu saja." Yuri menundukkan wajahnya pasrah. Dia sadar sudah membuat kesalahan dan karena kesalahan itu, dia harus siap menerima konsekuensinya. Namun, dalam hatinya bergejolak, dia sangat takut dan sejujurnya dia sangat tidak ingin Pandu membatalkan pernikahan itu.
"Dengar, Yuri! Setelah aku tahu semua ini, aku tidak akan pernah menikahimu secara siri. Tapi, aku akan menikahimu secara sah, karena aku akan segera menceraikan Tamara. Wanita pengkhianat seperti dia, tidak pantas menjadi istriku!" ujar Pandu bernada jengah.
Yuri terkesiap mendengar ucapan Pandu. Perlahan dia mengusap dadanya dan menghembuskan nafas datar. Tanpa bisa ditahan, air mata haru menitik begitu saja dari sudut matanya.
"Bagaimana, Yuri? Kamu mau kan jadi istriku satu-satunya, sekaligus jadi ibu untuk Chia?" Pandu menatap lekat mata Yuri dengan sorot menyiratkan banyak arti.
"Iya, Pak. Saya mau." Yuri mengangguk dan air mata haru semakin membasahi pipinya.
"Aku mencintaimu, Yuri. Hanya kamu yang pantas menjadi pendamping hidupku. Kamu berhak mendapatkan seluruh hati dan cintaku, karena semua itu tidak akan pernah lagi aku berikan kepada Tamara." Pandu kembali merangkul pundak Yuri dan menyandarkan kepala wanita itu di dadanya. Berbagai perasaan yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata apapun bergejolak di hati keduanya.
Untuk sejenak, tidak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Mereka hanya membiarkan hati dan detak jantung yang saling berpacu, seakan saling mengungkapkan perasaan di antara mereka.
__ADS_1
"Mas Pandu! Yuri! Apa-apaan ini?"
Pandu dan Yuri terlonjak, sangat terkejut karena tidak menyangka seorang wanita tiba-tiba sudah ada di dekat mereka dan menatap dengan wajah penuh kebencian.
"Tamara!" Pandu bergegas melepaskan pelukannya dari Yuri lalu berdiri dan membalas menatap tajam ke arah Tamara. Sedangkan Yuri, tetap hanya duduk dan menundukkan kepalanya.
"Akhirnya berani juga kamu datang kesini?" Pandu tersenyum kecut dan bertanya dengan nada mencibir.
Tamara hanya tersenyum miring tanpa menjawab. Sebenarnya dia pun sangat enggan dan takut datang ke kantor polisi. Akan tetapi setelah mendapat surat panggilan polisi, mau tidak mau dia juga harus datang kesana, untuk ikut memberi keterangan tentang kasus Hans, dengan status sebagai saksi. Namun, ketika melihat Pandu dan Yuri di tempat itu, seakan menyulut berbagai macam emosi di hatinya.
"Rupanya seperti ini kelakuan kamu di belakangku, Mas. Diam-diam kamu masih berhubungan dengan janda gatal ini!" Tamara mengumpat dengan penuh emosi, sambil menatap sinis kepada Pandu dan Yuri bergantian.
"Sekarang aku tahu, semalam kamu tiba-tiba pergi dari rumah, hanya untuk menemui perempuan ini, 'kan? Dan sekarang aku juga tahu, selama ini kamu tidak menitipkan Chia di daycare, tapi perempuan inilah yang menjaganya!" tuduh Tamara, berteriak berang.
"Dasar perempuan penggoda suami orang. Tidak tahu malu!" Tangan kirinya berkacak pinggang, sedangkan jari telunjuk tangan kanannya dia tudingkan ke wajah Yuri.
"Kalian berdua sangat menjijikkan, kalian berdua bermain gila di belakangku!" Tamara terus mengumpat marah
Pandu hanya mendengus pelan dan mengangkat satu ujung bibirnya mendengar tuduhan dan umpatan Tamara. Dia sengaja diam tidak menanggapi dan membiarkan Tamara mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Heh ... perempuan murahan! Kamu itu memang pembawa masalah." Tangan Tamara tergerak dan menarik lengan Yuri, sehingga Yuri ikut bangun dan berdiri.
"Sekarang aku akan memberimu pelajaran! Rasakan ini!" Tangan Tamara terangkat lagi dan sudah dalam posisi akan menampar Yuri.
Yuri refleks memejamkan matanya, tetapi dia hanya diam tanpa ada niat melawan ataupun menghindar.
"Hentikan, Tamara!" Tangan Pandu bergerak lebih cepat menahan tangan Tamara, sehingga dia gagal memukul Yuri.
"Jangan pernah berani menyentuh Yuri! Sedikit saja kamu menyakitinya, aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Tamara!" Pandu tetap mencengkram tangan Tamara dan memberi ancaman.
"Tega kamu, Mas! Kamu lebih membela wanita ini daripada aku, istrimu! Kamu sudah mengkhianati hubungan kita!" Tamara melepaskan tangannya dengan kasar lalu menatap semakin marah terhadap Pandu.
"Kamu bilang apa? Tega?" Pandu terkekeh. "Siapa yang lebih tega berbuat curang di antara kita? Aku atau kamu? Lalu dengan berselingkuh dengan Hans, apa itu juga bukan pengkhianatan?" bentak Pandu juga sangat marah akan tuduhan Tamara.
__ADS_1
Tamara kembali mendengus marah. Dia menyadari kalau dirinya kini dalam keadaan terjepit. Pandu sudah mengetahui semua rahasianya dan Yuri lah penyebab dari semua itu.
"Dengar, Tamara! Sebentar lagi aku akan menceraikan kamu dan aku akan menikah dengan Yuri!"
Amarah Tamara semakin tersulut mendengar apa yang Pandu katakan.
"Ini semua gara-gara kamu, Yuri!" Dengan kemarahan yang sudah tidak mampu lagi ditahannya, Tamara kembali bergerak menjambak rambut Yuri.
"Aaww!" Yuri meringis. Dia tidak sempat mengelak, tangan Tamara bergerak sangat cepat dan berhasil menarik rambutnya.
"Lepaskan dia, Tamara!" Pandu memekik dan ikut menarik Tamara agar melepaskan rambut Yuri.
"Sudah ku bilang jangan berani menyentuhnya!" bentak Pandu dengan raut wajah yang juga terlihat sangat marah akan perlakuan istrinya itu.
Yuri kembali terduduk dengan wajah tertunduk. Dia tidak berani menyela, tidak ingin melawan dan juga tidak berani menatap ke arah Tamara.
"Ok, Mas! Kamu bela saja terus perempuan ini! Perempuan sial! Dasar pelakor!" Tamara mengumpat lagi dengan kata-kata kasarnya.
"Keterlaluan kamu, Tamara! Perempuan tidak punya akhlak! Siapa yang kamu sebut pelakor, hah?!"
Plakk!
Di luar sepengetahuan Pandu dan Tamara, Sisca tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka. Dengan kasar Sisca menarik pundak Tamara lalu memberinya sebuah tamparan keras di pipi.
"Aaaww!" Tamara segera menyentuh pipinya yang terasa panas setelah mendapat sebuah hadiah kemarahan dari Sisca.
Perlahan Tamara membalikkan badannya dan menatap ke arah Sisca yang juga terlihat sangat marah kepadanya.
Sisca tersenyum kecut menatap miring ke arah Tamara.
"Luar biasa, Tamara! Kamu menyebut Yuri adalah seorang pelakor, sedangkan pelakor yang sebenarnya itu adalah kamu!" Dengan suara tinggi Sisca membentak, serta mengarahkan telunjuknya tepat di depan kedua mata Tamara.
"Sekarang kamu terima saja balasan atas perbuatanmu, Tamara. Mas Hans akan menjadi penghuni tahanan dan Pak Pandu pasti akan segera melemparmu ke jalanan!" jengah Sisca.
__ADS_1
"Kamu sudah berani bermain api dan mencurangi aku, maka sebentar lagi kamu akan merasakan sendiri karmanya. Aku akan membuat hidupmu sangat menderita!" Ucapan Sisca menyiratkan sebuah ancaman. Tentu saja amarah dan dendam membuat kebenciannya terhadap wanita yang sudah bermain curang dengan suaminya itu, membuatnya ingin membalas Tamara, agar semakin terpuruk dalam kesalahannya sendiri.