Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 72. Pesan Singkat Dari Tamara


__ADS_3

Malam berganti pagi dan aktifitas kehidupan kota kembali berjalan seperti biasa.


Di rumah kediaman Pandu dan Yuri, kesibukan pagi hari itu juga sudah mulai terlihat. Yuri bergulat di dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi, sedangkan Pandu sibuk mempersiapkan diri, karena pagi itu dia akan ke rumah Tamara untuk menjemput putrinya terlebih dahulu, sebelum dia sendiri berangkat ke tokonya.


"Mas Pandu! Sarapan sudah siap, Sayang!"


Setelah menyajikan nasi goreng dan secangkir kopi di meja makan, Yuri memanggil suaminya untuk segera sarapan pagi bersama dengannya.


"Sudah, Sayang." Mendengar Yuri memanggilnya, Pandu bergegas menuju ruang makan.


"Kamu masak apa pagi ini, Sayang? Aromanya sedap sekali," piji Pandu sambil menarik kursi dan duduk di ruang makan.


"Hanya nasi goreng seafood kesukaan kamu saja, Mas. Pagi ini Chia tidak ada di rumah, aku jadi malas masak," celoteh Yuri, juga ikut duduk di sebelah Pandu.


Biasanya setiap pagi dia juga akan sibuk memasak sarapan untuk Chia. Namun, pagi itu dia merasa sedikit malas, karena dia hanya mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua saja.


"Aku kangen sama Chia, Mas. Entah kenapa, tadi malam tidurku tidak nyenyak. Aku kepikiran Chia terus. Aku takut Chia rewel selama bersama Tamara." Sambil megisi piring Pandu dengan nasi goreng, Yuri terus menyambung ocehannya. Sebenarnya ada perasaan tidak tenang dalam hatinya, meninggalkan Chia bersama Tamara.


"Tamara itu ibu kandungnya Chia, Sayang. Aku yakin Tamara pasti bisa menjaganya dengan baik. Bagaimanapun juga Chia dan Tamara pasti masih memiliki ikatan batin yang sangat kuat," timpal Pandu, tidak ingin Yuri terlalu mengkhawatirkan putri kecilnya itu.


"Iya, Mas, aku tahu itu. Toh juga hari ini kamu akan menjemputnya, bukan?" Yuri hanya tersenyum kecil dan tidak ingin terlalu mengkhawatirkan keadaan putri sambungnya itu.


Tanpa banyak berbicara lagi, Pandu dan Yuri menghabiskan sarapannya dengan cepat.


Tring! Tring! Tring!


Pandu merogoh saku celananya ketika mendengar beberapa kali ada notifikasi pesan singkat yang masuk ke ponselnya. "Ini pasti pesan dari Tamara," gumamnya seraya membuka kunci layar ponsel itu dan membaca beberapa pesan yang masuk.


"Tamara sudah kirim pesan agar aku menjemput Chia di rumahnya, Sayang," ucap Pandu setelah membaca pesan yang memang dikirim oleh mantan istrinya itu.


"Kamu akan kesana sekarang, Mas?" tanya Yuri.


"Iya, Sayang."

__ADS_1


"Apa aku boleh ikut sama kamu, Mas? Pekerjaan rumah sudah beres. Aku mohon, izinkan aku ikut jemput Chia," pinta Yuri sedikit memelas.


"Tentu saja, Sayang. Ayo kita berangkat sekarang," ajak Pandu, sama sekali tidak melarang Yuri ikut bersamanya.


Mobil Pandu melaju dengan lancar di jalanan kota yang masih cukup lengang pagi itu. Hanya satu jam dalam perjalanan, mereka sudah sampai di rumah Tamara. Rumah yang sebelumnya adalah rumah miliknya.


Pandu dan Yuri bergegas turun dari mobilnya ketika mereka sudah parkir di halaman rumah itu. Akan tetapi, keduanya cukup terkesiap, karena rumah Tamara itu terlihat sepi dari luar. Lampu teras masih menyala dan semua tirai juga tampak masih tertutup rapat. Seakan belum ada aktifitas apapun di rumah itu.


"Kok rumahnya terlihat sepi? Apa mungkin Tamara dan Chia belum bangun, Mas?" Yuri merasa penasaran dengn keadaan rumah yang terlihat sepi itu.


"Tamara pasti sudah bangun, Sayang. Dia sudah mengirim pesan ini untukku, itu artinya dia sudah bangun sedari tadi." Pandu menunjukkan pesan Tamara di ponselnya kepada Yuri dan sangat yakin kalau Tamara pasti sudah bangun pagi itu.


Keduanya lalu berjalan bersamaan menuju pintu utama rumah yang juga terlihat masih tertutup rapat.


Tok! Tok! Tok!


"Tamara! Chia! Aku sudah datang." Sambil mengetuk pintu, Pandu memanggil mantan istri dan putrinya.


"Chia ... papa datang untuk jemput kamu, Sayang!"


"Sepertinya rumah ini sudah kosong, Mas. Tidak ada tanda orang di dalam." Yuri mulai terlihat khawatir.


"Jangan-jangan Tamara membawa Chia kabur dari sini, Mas," sangka Yuri semakin cemas.


"Tidak boleh berburuk sangka, Yuri. Tamara tadi jelas-jelas mengirim pesan untukku. Aku yakin dia tidak mungkin membawa Chia pergi," sangkal Pandu, menampik kecuridaan istrinya.


"Coba hubungi ponsel Tamara saja, Mas. Mungkin saja dia membawa Chiajalan-jalan di sekitar komplek," usul Yuri lagi.


"Kamu benar, Sayang." Pandu mengangguk setuju seraya mulai menghubungi Tamara melalui ponselnya.


Tuutt! Tuutt! Tuutt!


Pandu bisa mendengar panggilannya tersambung. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari Tamara. Pandu juga mengulang beberapa kali lagi panggilan itu, tetapi tetap sama saja. Tamara tetap tidak menjawab panggilan itu.

__ADS_1


Pandu juga ikut merasa cemas dan hatinya terus bertanya-tanya. Tamara yang baru beberapa waktu sebelumnya sempat menghubunginya melalui pesan singkat, justru kini tidak bisa dia hubungi melaui panggilan.


"Bagaimana, Mas? Apa Tamara menjawab teleponnya?"


Pandu menggeleng dan semakin merasa cemas.


Ketika keduanya dilanda cemas dan rasa kebingungan, tiba-tiba saja tangan Yuri tergerak memutar handle pintu.


"Ternyata pintunya tidak terkunci, Mas." Yuri berseru tatkala tanpa sengaja pintu itu terbuka setelah dia memutar handle-nya.


Tidak ingin menunggu, keduanya langsung berhambur masuk ke dalam rumah. Ruangan pertama yang mereka tuju adalah kamar bayi. Kamar dimana biasanya Chia tidur sebelum mereka pindah ke rumah yang baru.


"Chia!" seru Yuri ketika melihat putri sambungnya masih lelap tertidur di atas pembaringan lengkap dengan selimut dan sebotol susu di sebelahnya.


Yuri dan Pandu bergegas mendekati Chia yang masih tertidur dan duduk di tepi ranjang.


"Chia disini, tapi kemana Tamara? Kenapa rumah ini sepi? Apa Tamara tega meninggalkan Chia sendiri di rumah?" Pandu menggumam dan merasa bingung dengan kelakuan Tamara pagi itu.


Ting! Ting! Ting!


Belum habis kebingungan yang dirasakan Pandu dan Yuri, suara notifikasi pesan singkat terdengar kembali dari ponselnya dan Pandu juga bergegas membuakanya.


(Mas Pandu, Yuri) Kata sapaan itu tertulis di pesan pertama yang dibaca oleh Pandu di ponselnya. Pesan itu adalah pesan yang dikirim oleh Tamara.


(Ketika kamu sudah membaca pesan ini, itu artinya aku sudah pergi jauh dari rumah ini, Mas. Terima kasih banyak karena kamu dan Yuri sudah mengizinkan aku bersama Chia tadi malam. Tapi bersamaku, hampir semalaman Chia terus menangis. Dia tidak bisa tenang bersamaku. Aku yang adalah ibu kandungnya sendiri, tidak bisa menghentikan tangisan Chia. Karenanya, aku sadar kalau selama ini Chia juga tidak pernah bisa menerima aku sebagai ibunya. Kesalahanku memang sangat besar, Mas. Aku juga tahu kalau aku memang tidak pantas untuk dimaafkan.)


Pandu menghela nafas dalam-dalam setelah membaca pesan kedua dari Tamara tersebut.


{Di kota ini, aku sudah tidak punya masa depan lagi, Mas. Semua perusahaan sudah memasukkan namaku dalam daftar hitam. Aku tidak bisa lagi mendapat pekerjaan disini. Karena itu, aku putuskan akan pergi dari sini dan mengadu nasib di kota lain. Aku titip Chia sama kamu dan juga Yuri. Aku juga mohon satu hal. Tolong jangan pernah buat Chia membenciku. Bagaimanapun juga, Chia tetap adalah putri kandungku, darah dagingku sendiri. Kami akan selalu memiliki ikatan batin yang kuat, walau kami tidak tinggal bersama lagi.)


Tangan Pandu mulai bergetar saat membaca pesan itu.


(Selamat tinggal, Mas Pandu. Aku tidak akan meminta maaf lagi darimu, karena aku tahu, aku tidak pantas menerima maaf itu. Kalau Tuhan masih memberiku umur panjang, semoga nanti ada kesempatan untuk bisa bertemu lagi. Tolong jaga Chia untukku.)

__ADS_1


Pandu mengusap wajahnya. Pesan-pesan yang dikirim Tamara, menunjukkan kalau Tamara benar-benar sudah memutuskan untuk pergi dari kota itu meninggalkan dirinya dan berbagai kenangan yang pernah mereka lewati bersama.


__ADS_2