Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 54. Menyusul Ke Luar Kota


__ADS_3

Pandu mengusap kepalanya dan mendengus penuh amarah.


"Dugaanku ternyata benar! Hans yang telah menculik Yuri dari rumahnya." Tangan Pandu masih mengepal kuat dan gemetar hebat. Kemarahan kian memuncak di jiwanya.


"Nona Sisca, apa Nona tahu kemana anak buah Hans akan membawa Yuri?" tanya Pandu lagi dengan nada gusar.


"Iya, aku tahu." Sisca mengangguk. Rona kemarahan itu juga terpancar di wajahnya. Informasi yang disampaikan orang suruhannya, membuat dia tidak sanggup menahan kekesalan terhadap pengkhianatan suaminya.


"Anak buahnya Mas Hans pasti akan membawa Yuri ke sebuah villa di luar kota. Tadi sore, Mas Hans izin padaku dan bilang akan menginap beberapa hari di villa pribadi keluarga kami. Di kota itu, Mas Hans juga tengah menggarap sebuah proyek." Sisca benar-benar yakin akan dugaannya.


"Dimana alamatnya? Aku akan menyusulnya kesana," sergah Pandu, ingin segera menyusul dan sangat khawatir akan keselamatan Yuri.


"Villa itu ada di luar kota. Kalau kita kesana, butuh waktu sekitar tiga sampai empat jam dari sini," sahut Sisca.


"Berikan saja alamatnya! Aku harus segera kesana. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Yuri."


"Ini ...." Sisca menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Pandu.


"Ya, ampun, Tuhan! Teganya Hans menculik Yuri dan membawanya pergi sejauh itu?" Pandu merengut. Dia sangat tidak menyangka kalau Hans dan anak buahnya tega membawa Yuri pergi ke tempat yang cukup jauh, hanya karena takut rahasia perselingkuhannya terbongkar.


"Aku harus segera kesana. Tidak akan aku biarkan Hans menyakiti Yuri." Pandu membalikkan badannya dan hendak segera menyusul ke luar kota, mencari keberadaan Yuri.


"Tunggu, Pak Pandu!" Sisca menghadang langkah Pandu.


"Anda tidak akan sendiri menyusul kesana. Aku dan anak buahku juga akan ikut," tahan Sisca.


"Kalau anda pergi sendiri, keselamatan anda juga terancam, Pak. Mas Hans bisa melakukan apa saja untuk membungkam anda dan juga Yuri, karena kalian berdua tahu rahasianya."


Pandu sejenak terdiam dan menoleh ke arah Sisca.


"Tapi ini juga sangat berbahaya untuk seorang wanita seperti anda, Nona," ucap Pandu. Tidak ingin Sisca ikut dengannya.


"Jangan khawatirkan aku." Sisca menyanggah kekhawatiran Pandu. "Banyak pengawal yang akan menjagaku. Kita akan sama-sama kesana untuk membuka kedok kebusukan Hans!" decak Sisca juga merasa jengah.

__ADS_1


Senyum licik mengembang di bibir Sisca. Bersama Pandu, dia sangat yakin akan bisa memberi pelajaran yang cukup mengesankan kepada Hans. Dia sudah tidak sabar ingin mempermalukan pria yang sudah mempermainkan hati dan perasaanya. Perselingkuhan Hans dengan Tamara, sudah membuat kebencian meradang di jiwanya.


Pandu tidak ingin lagi menolak. Dengan adanya Sisca dan anak buahnya, dia merasa mendapat dukungan lebih banyak. Terlebih, Sisca juga sudah menghubungi anak buahnya yang lain untuk ikut menyusul ke villa pribadi miliknya yang ada di luar kota tersebut.


Menaiki sebuah SUV, Pandu, Sisca bersama dua orang pengawal pribadinya, malam itu juga langsung bergerak ke luar kota tempat dimana Hans saat itu berada. Perjalanan untuk sampai di kota itu akan mereka tempuh kurang lebih empat jam. Sudah pasti, menjelang subuh barulah mereka akan sampai di sana.


****


Waktu berjalan sangat cepat. Di sebuah kota kecil yang berbeda, tampak sebuah bangunan villa berdiri menyendiri di tengah area perkebunan kopi. Villa serta perkebunan itu juga adalah adalah milik dari Hardianto.


Hari masih gelap, walau kini sudah menjelang subuh. Sebuah mobil mewah tampak terparkir rapi di halaman villa itu dan beberapa lampu di dalam ruangan villa juga terlihat menyala.


Tak lama berselang, sebuah mobil yang lain juga memasuki halaman villa itu.


"Bawa dia masuk. Pak Hans sudah menunggu kita di dalam!" Seorang pria berbadan kekar turun dari kursi kemudi lalu membuka pintu penumpang bagian belakang mobil itu.


Seorang pria yang lain lalu menyeret dengan kasar seorang wanita yang tangannya sudah terikat tali, matanya ditutup kain hitam dan mulutnya dibekap menggunakan lakban.


Dengan sangat tergesa, kedua pria itu menarik paksa tangan sang wanita untuk masuk ke villa itu.


Dengan kasar, kedua pria tersebut mendorong tubuh wanita yang tak lain adalah Yuri itu, ke atas sofa di ruang tamu.


"Lepaskan penutup mata dan mulutnya! Biarkan aku bicara baik-baik dengannya!"


Dari anak tangga yang menuju ke lantai dua villa itu, Hans turun dengan tergesa dan memerintahkan dua pria orang suruhannya itu, untuk melepaskan penutup mata dan lakban di mulut Yuri.


"Baik, Bos!" Bergegas pria itu menjalankan apa yang diperintahkan oleh bos mereka.


"Aaargh ...." Yuri meringis merasakan sakit, ketika lakban itu ditarik paksa dari mulutnya.


"Pak Hans ... " Mata Yuri langsung terbelalak lebar ketika kain penutup matanya juga sudah dilepaskan oleh pria itu.


"Saya ada dimana? Dan ... untuk apa Pak Hans menyuruh orang-orang ini membawa saya kesini?" tanya Yuri dengan nada ketakutan. Dia sangat cemas kalau Hans dan anak buahnya akan menyakitinya.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu bertanya apapun padaku, Yuri! Aku lah yang harus bertanya banyak hal padamu." Hans tersenyum sinis dan menatap Yuri dengan wajah bengis.


"Apa yang Pak Hans inginkan dari saya?" Sekujur tubuh Yuri gemetar, dia sudah tahu pastilah Hans akan menanyakan tentang ponsel serta foto-foto yang tersimpan di ponsel miliknya itu.


"Kau sudah tahu pasti apa yang aku inginkan darimu, Yuri!" Jari telunjuk Hans terarah tepat di depan wajah Yuri. "Sekarang cepat katakan dimana ponsel itu dan dimana saja kamu menyimpan foto-foto itu? Kalau kau berani berbohong terhadapku, jangan harap kau bisa pergi dengan selamat dari tempat ini," ucap Hans sarat akan ancaman.


"Sa-sa-saya tidak tahu, Pak. Ponsel saya tidak ada di kamar sewaktu dua pria ini datang ke kontrakan saya." Yuri menundukkan wajahnya dan semakin ketakutan.


"Jangan coba membohongiku! Aku tahu kamu sengaja menyembunyikan ponsel itu dan mencoba membohongiku, 'kan?" bentak Hans dengan mata mendelik, menatap tajam seakan ingin menelan Yuri hidup-hidup dengan sorot mata iblisnya itu.


"Aku tidak tahu apa sebenarnya tujuan kamu mengambil foto itu dan memberikannya kepada Sisca. Tapi apapun alasanmu, kamu sudah menciptakan masalah besar dalam hidupku. Dan aku ... pasti akan segera melenyapkanmu!" Hans terus mengancam dengan aura kemarahan semakin membludak.


"Ma-maafkan saya, Pak Hans. Saya memang bersalah sudah lancang mengambil foto itu. Tapi, saya juga tidak sengaja memberikan foto itu kepada Nona Sisca. Dia memaksa saya untuk memberikan foto itu. Jadi, tolong lepaskan saya, Pak. Saya janji akan menemui Nona Sisca dan menjelaskan kalau ini adalah sebuah kesalahpahaman." Yuri merengek, berharap Hans akan melepaskan serta tidak menyakitinya.


"Lalu kau bawa kemana ponsel itu? Apa benar ponsel itu terbawa oleh temanmu?" Pertanyaan Hans kian menelisik.


"Tidak, Pak. Sekali lagi maafkan saya karena sudah berkata bohong. Sebenarnya ponsel itu terjatuh di kolong tempat tidur. Dua pria ini tidak bisa menemukannya di sana." Yuri menerangkan secara jujur bagaimana keadaan ponselnya kepada Hans.


"Hah ... kurang ajar!" Hans berdecak marah dan merasa sudah dibohongi.


"Ponsel itu pasti aman di sana, Pak. Tidak seorangpun akan bisa menemukannya. Ponsel itu juga sudah low bat. Tidak akan ada yang tahu kalau ponsel itu ada di bawah tempat tidur," urai Yuri lagi, tetapi kali ini dia tidak sepenuhnya menjawab dengan jujur.


"Tapi semua sudah terlambat, Yuri! Sisca pasti sudah tahu semuanya dan dia pasti sudah menyelidiki semuanya. Sebelum kamu lebih berani membeberkan semua yang kamu ketahui tentang aku dan Tamara kepada Sisca, maka aku akan membuatmu menghilang untuk selama-lamanya dari muka bumi ini terlebih dahulu."


"Tolong ... jangan sakiti saya, Pak. Saya yakin semua belum terlambat. Saya benar-benar janji akan memperbaiki semuanya dan menjelaskan kepada Nona Sisca." Yuri terus membujuk. Nyalinya menciut, dia sangat takut kalau Hans benar-benar akan membuktikan ancamannya.


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan untuk membuat Sisca percaya padaku?" Hans menyeringai, dia tidak yakin akan apa yang Yuri katakan kepadanya.


"Saya adalah mantan baby sitter di rumah Ibu Tamara, Pak. Saya pernah diusir dari rumah itu. Kalau saya katakan bahwa saya yang mengarang sebuah rekayasa untuk membalas dendam terhadap Ibu Tamara, Nona Sisca pasti akan percaya terhadap saya." Yuri menguraikan rencananya untuk meyakinkan Sisca bahwa foto itu hanyalah sebuah rekayasa yang dia buat.


Hans mengangkat satu ujung bibirnya, tetapi kepalanya mengangguk paham.


"Baiklah. Sementara ucapanmu cukup masuk akal dan bisa aku terima, Yuri. Tapi, aku akan selidiki dulu sejauh mana Sisca sudah mengetahui hubungan antara aku dengan Tamara." Hans berpaling dan tidak lagi menatap sinis ke arah Yuri.

__ADS_1


"Kalian berdua, sekap wanita ini di kamar itu. Jangan biarkan dia kabur selama aku belum benar-benar yakin kalau dia tidak berbohong. Tapi, jangan berbuat kasar terhadapnya. Kalau dia sampai terluka, Sisca pasti akan semakin curiga terhadapku." Hans memerintahkan kedua orang suruhannya untuk membawa Yuri ke sebuah kamar di villa itu dan menyekapnya di sana.


__ADS_2