
"Jangan menangis, Yuri. Ini semua bukan salahmu. Aku tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Tamara kehilangan bayinya juga bukan karena kamu yang mencelakainya, tapi itu terjadi akibat kecerobohannya sendiri. Maafkan aku, Yuri. Yang sebenarnya paling pantas disalahkan atas semua kejadian ini adalah aku."
Yuri mengangkat wajahnya dan segera menoleh ke arah seseorang yang kini ikut duduk di sebelahnya serta mengusap punggungnya dengan lembut.
Yuri terkesiap menatap wajah Pandu yang kini ada di sampingnya serta menatapnya dengan raut wajah tampak berbeda. Akan tetapi, arti dari tatapan itu belum bisa diartikan oleh Yuri.
"Maksud kamu apa, Mas? Apa ini artinya kamu tidak menyalahkan aku atas semua ini?" tanya Yuri seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja Pandu ucapkan.
"Tidak, Yuri. Aku tidak pernah menyalahkan kamu, Sayang. Aku tahu pasti seperti apa sifat Tamara. Hanya demi aku bisa membatalkan perceraianku dengannya, dia sengaja memfitnah kamu dan menempatkan dirinya sebagai orang yang menjadi korban. Tapi, semua itu tidak akan mengurungkan niatku untuk berpisah darinya." Pandu menggeleng serta mengungkapkan apa yang sesungguhnya ada di hatinya kepada Yuri.
"Kalau kamu tahu semuanya, kenapa dari tadi kamu hanya diam dan tidak mau berbicara denganku, Mas? Aku bahkan mengira kalau kamu akan lebih membela Tamara dari pada aku." Yuri masih tidak percaya. Sikap Pandu yang sebelumnya sangat dingin terhadapnya, membuat dia ragu akan pengakuan suaminya. Air mata juga belum berhenti menetes dari kedua matanya. Dia merasa kesal karena Pandu sudah mempermaikan perasaannya.
"Sekali lagi, maafkan aku, Yuri. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa bersalah. Tadi itu aku hanya sedang mempelajari dan menunggu reaksi Tamara terhadapmu. Sekarang aku tahu kalau Tamara memang hanya bersandiwara. Dia memanfaatkan situasi agar bisa menjatuhkan kamu di mata aku. Dia yang sengaja mendramatisir keadaan." Pandu terus berusaha meyakinkan Yuri.
"Tapi sebenarnya, akulah yang paling pantas untuk disalahkan. Tidak seharusnya aku membawamu tinggal dalam satu rumah bersama Tamara. Harusnya dari awal, aku memberikan rumah baru yang sudah aku beli kepadamu dan membiarkan Tamara tinggal di rumah yang sekarang," urai Pandu lagi mengakui semua kesalahannya dalam mengambil keputusan.
"Aku terlalu egois, Yuri. Sebenarnya aku yang tidak ingin Tamara tinggal di rumah itu, aku tidak rela apabila harus menyerahkan rumah itu padanya setelah kami bercerai. Aku ingin kita yang akan tinggal di rumah itu, bahkan sampai kita menua nanti." Pandu menyambung ceritanya dan Yuri hanya menyimak, membiarkan Pandu mencurahkan semua isi hatinya.
"Mungkin kamu juga perlu tahu, Yuri. Rumah itu adalah rumah yang aku bangun dengan bersusah payah. Aku membeli rumah itu dengan melewati banyak rintangan, peluh dan juga air mata. Rumah itu aku beli dari hasil aku memulai usahaku dan itu semua tidak mudah. Rumah itu adalah lambang kerja kerasku ketika aku mulai merantau di kota ini." Pandu menerangkan bagaimana perjuangannya untuk bisa memiliki rumah sendiri di kota itu, sedangkan dia sebenarnya hanya seorang warga pendatang disana.
"Karena itulah, aku tidak rela memberikan rumah itu padanya." Pandu mengakhiri ceritanya. Namun, raut wajahnya kini menyiratkan penyesalan. Karena ketidak relaanya itu, dia sudah membuat perasaan Yuri terluka. Membawa dua wanita yang sama-sama memiliki status sebagai istri sahnya ke dalam satu atap, adalah sebuah kesalahan terbesar yang dia perbuat.
__ADS_1
"Setelah ini, aku akan berusaha berbesar hati dan merelakan rumah itu untuk Tamara, Yuri. Aku sudah putuskan kalau kita yang akan tinggal di rumah baru dan membangun rumah tangga kita, tanpa ada lagi kenangan tentang Tamara di antara kita. Kamu mau 'kan, Sayang?" Pandu bertanya sambil menatap wajah Yuri dengan senyumnya.
"Kamu serius, Mas?" Yuri membalas tatapan Pandu masih dengan keraguannya.
"Iya, Sayang." Pandu mengangguk.
"Terima kasih, Mas. Aku sangat senang mendengar keputusanmu." Yuri langsung berhambur memeluk Pandu dengan linangan air mata haru membasahi pipinya.
"Sama-sama, Sayang." Pandu ikut memeluk Yuri dengan erat, sambil mengusap-usap punggungnya dengan lembut.
****
Tiga bulan setelah perpisahan Pandu dan Tamara, hak asuh atas Chia yang seharusnya adalah hak Tamara, juga berhasil dimenangkan oleh Pandu. Bukti perselingkuhan Tamara dengan Hans, membuat Pandu bisa mengalihkan hak asuh atas putrinya itu dengan sangat mudah.
Bercerai dengan Pandu dan kehilangan hak asuh atas putrinya, membuat Tamara merasa sangat terpuruk dan seolah tengah berada pada titik terendah dalam hidupnya. Mendapat pekerjaan baru juga kini tidak mudah baginya. Dia tidak bisa mendapatkan rekomendasi, lantaran nama baiknya sudah tercoreng akibat kesalahan yang dia buat sendiri. Selain Mr Tim, Sisca dan semua perusahaan dibawah Hardianto Corporations juga sudah mem-black list namanya sebagai pencari kerja.
Hari masih pagi ketika Tamara melangkahkan kakinya dengan perlahan masuk ke halaman sebuah rumah yang baru pertama kalinya dia kunjungi. Meski wajahnya menyiratkan keraguan, tetapi dia tetap memberanikan diri mengetuk pintu rumah itu.
"Mas ... Mas Pandu, ada suara ketukan pintu. Sepertinya ada yang datang bertamu. Bisa tolong bukakan pintunya?!"
Rumah itu memang tidak terlalu besar, sehingga walaupun Tamara masih berada di luar, dengan jelas dia mendengar suara seorang wanita yang sangat dia kenal dan sepertinya suara itu datang dari arah dapur.
__ADS_1
"Iya, Sayang!"
Jawaban seorang pria juga jauh lebih jelas terdengar di telinga Tamara.
Hanya selang beberapa detik, pintu rumah itupun terbuka dan seorang pria langsung menatap Tamara dengan raut wajah tampak sangat heran.
"Apa kabar, Mas Pandu?" Tamara bertanya kepada laki-laki yang masih terpaku di hadapannya.
"Tamara ... untuk apa kamu datang kesini?" tanya Pandu.
"Aku kesini untuk bertemu Chia, Mas. Kalau kamu izinkan, aku ingin mengajaknya ke rumah dan malam ini aku ingin agar Chia menginap di rumahku." Tamara mengutarakan tujuannya datang ke rumah itu.
"Aku tidak pernah melarangmu untuk bertemu dengan Chia, Tamara. Selama ini aku bahkan selalu berusaha agar kamu bisa dekat dengannya. Tapi, kamu tahu sendiri 'kan, kalau Chia dari dulu tidak mau dan akan selalu menangis bila sama kamu." Pandu memang tidak pernah melarang Tamara menemui putrinya. Akan tetapi, hari itu Pandu merasa sangat ragu membiarkan Chia bersama Tamara. Putri kecilnya itu memang akan sangat rewel dan selalu menangis apabila berada bersama Tamara.
"Aku mohon, Mas. Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku dulu, yang selalu menelantarkan dan kurang perhatian sama putri kita. Sekarang aku sudah menerima karma dari semua itu, Mas. Chia tidak bisa dekat denganku dan tidak pernah menganggapku sebagai ibunya. Apa kamu tahu, itu sudah sangat membuatku menyesal, Mas," ujar Tamara memelas serta semakin menyesali semua kesalahannya di masa lalu.
"Siapa, Mas?"
Belum sempat Pandu menjawab lagi permintaan Tamara, Yuri yang sebelumnya sibuk di dapur, ikut datang ke arah pintu utama, untuk melihat siapa yang datang bertamu sepagi itu.
"Tamara ... " Mata Yuri terbelalak melihat siapa wanita yang kini tengah ada di hadapannya.
__ADS_1