Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 61. Dia Tidak Berdosa


__ADS_3

Pandu menginjak pedal gas sangat dalam dan memacu mobil dengan cepat meninggalkan rumahnya. Mengingat pengakuan Tamara akan kehamilannya, membuat kekecawaan terhadap wanita yang akan segera dia ceraikan itu semakin memuncak.


"Pa-pa ... Pa-pa ..." Chia yang saat itu duduk di baby car seat di sebelahnya juga terus saja mengeluarkan celotehan lucu dari bibir mungilnya. Pandu menatap wajah bayinya itu dan tersenyum gemas. Seberapa pun dia sedang merasa marah, semua itu akan teredam dengan sendirinya ketika melihat tingkah menggemaskan putri kecilnya.


Beberapa menit dalam perjalanan, mobil Pandu pun tiba di rumah kontrakan Yuri. Begitu mereka sampai, Yuri langsung keluar dari dalam rumahnya, menghampiri mobil Pandu dan menyambut dengan senyum lebar yang terpasang indah di bibirnya.


Yuri segera meraih tangan Pandu dan menciumnya, lalu membuka pintu penumpang bagian depan.


"Apa kabar, Chia ku yang cantik, hmm? Aku sudah kangen banget sama kamu." Yuri mengangkat tubuh mungil Chia dari baby car seat sembari mencium pipi bayi itu dengan sangat gemas lalu menggendongnya.


"Eheeemm!" Pandu berdehem. "Kangennya sama Chia saja, ya? Sama aku, apa kamu nggak kangen juga?" goda Pandu dengan senyum genitnya.


Yuri hanya tersenyum tersipu mendengar Pandu menggodanya.


"Memangnya Pak Pandu siapa? Kenapa saya harus kangen sama Bapak?" gurau Yuri berbalik menggoda Pandu.


"Kamu itu wanita paling cantik yang sebentar lagi akan jadi istriku." Pandu kembali menggoda dan Yuri tetap menanggapinya hanya dengan senyuman.


Ma-ma-ma-ma ... " Bibir mungil Chia terus berceloteh dan kedua tangan kecilnya meraba-raba wajah Yuri, seolah sangat senang berada di gendongan wanita pengasuhnya semenjak lahir itu.


"Nah, kamu dengar, 'kan? Chia selalu memanggilmu Mama. Karena kamulah satu-satunya wanita yang pantas menjadi mama buat Chia." Pandu memuji.


"Ahh, Pak Pandu bisa saja," balas Yuri semakin tersipu.


Pandu lalu merangkul pundak Yuri dan mereka masuk ke dalam rumah itu bersama-sama.


"Silahkan diminum dulu kopinya, Pak!" Setelah Pandu duduk di ruang tamu, Yuri langsung menyuguhkan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap tipis untuknya. Yuri juga ikut duduk di kursi yang sama di sebelah Pandu, sedangkan Chia, terlihat asyik duduk di kursi yang berbeda, sambil memainkan boneka-boneka kesayangannya.


"Terima kasih banyak, Sayang." Pandu langsung meraih cangkir kopi dari tangan Yuri dan meniupnya, lalu menyeruputnya perlahan.


"Kopi buatanmu selalu nikmat, Sayang." Pandu kembali memuji sambil menatap wajah cantik nan lugu wanita yang sebentar lagi akan dia nikahi secara sah.

__ADS_1


"Pak Pandu terlalu berlebihan," balas Yuri seraya menundukkan wajahnya. Tatapan pria tampan itu, membuatnya tersipu sekaligus juga terpesona.


"Sebentar lagi kamu akan jadi istriku, Yuri. Jadi kamu jangan canggung lagi terhadapku. Sebaiknya kamu berhenti memanggilku 'Pak'. Aku kan bukan bapak kamu."


"Lalu, saya harus panggil apa, Pak?"


"Panggil Sayang, Cinta, Beib, Papi ... atau apalah terserah kamu. Yang penting kedengarannya mesra gitu."


"Hmm ... baiklah, Cinta." Yuri terkekeh dan kembali tersipu, merasa konyol dengan panggilan baru yang diminta Pandu.


"Nah, gitu dong! 'Cinta' ... kan enak didengar." Pandu ikut terkekeh, tetapi sangat senang mendengar Yuri memanggilnya lebih mesra. Pandu lalu merangkul pundak Yuri dan membawanya ke dalam pelukannya, sambil mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening wanita itu.


"Yuri ... "


"Hmm ... "


"Aku sudah tidak sabar ingin segera menikah denganmu. Cuma kamu satu-satunya wanita yang pantas menjadi pendamping hidupku. Setelah proses perceraianku dengan Tamara, kita akan segera menjadi pasangan yang sah."


"Jangan berkata seperti itu, Yuri. Kamu bukan pelakor, kamu tidak pernah merebutku dari Tamara, tapi Tamara sendiri lah yang membuat semua ini terjadi."


"Bagaimana nanti tanggapan Bu Tamara terhadap saya ya, Pak?" tanya Yuri dengan keluguannya.


"Hei ... buat apa kamu memikirkan hal itu? Semua itu tidak penting Yuri. Tamara bukan siapa-siapa lagi buatku. Kamu juga tidak perlu menghormatinya lagi. Dia tidak pantas kamu panggil 'Ibu'. Panggil 'Tamara' saja cukup."


"Iya, Pak." Yuri mengangguk.


"Ahh, Yuri! Kapan kamu akan berhenti memanggilku 'Pak'? Mulai sekarang panggil 'Mas' saja, ok! Aku ini kan bukan bapakmu loh!"


Lagi-lagi Yuri dibuat tersenyum malu mendengar permintaan Pandu.


"Baik, Mas," sahut Yuri singkat, dan Pandu tersenyum senang mendengar panggilan itu dari Yuri.

__ADS_1


"Hari ini juga aku akan ke pengadilan untuk mengurus perceraianku dengan Tamara, Yuri. Semakin cepat semua ini selesai, semakin cepat pula kita akan menikah."


"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku kasihan terhadap Tamara, Mas. Setelah Hans masuk penjara dan kamu juga akan menceraikannya, pasti dia akan menanggung rasa malu. Aib Tamara, secara tidak langsung akan menjadi aib kamu juga, Mas."


Pandu menggeleng mendengar ucapan Yuri yang sangat jujur dan polos. "Buat apa kasihan, Yuri. Semua itu kan akibat dari kesalahan yang dia perbuat. Biar saja dia menanggung karmanya sendiri," sengit Pandu, dengan seringai kekecewaannya.


"Hari ini aku juga mendapatkan fakta baru tentang perbuatan menjijikkan Tamara dan Hans selama ini. Ternyata sekarang Tamara hamil akibat hubungan gelap mereka," sambung Pandu bercerita kepada Yuri.


"Apa, Mas? Tamara hamil?" Mata Yuri membulat dan terlihat sangat terkejut.


"Iya, dia hamil dan itu bukan anakku. Itu adalah anak hasil perselingkuhan kotornya bersama Hans."


"Kenapa kamu menuduh Tamara sekeji itu, Mas?" Yuri menggeleng. Sebagai sesama wanita, dia merasa tidak terima akan tuduhan Pandu terhadap Tamara.


"Sudah pasti itu bukan anakku, Yuri. Sudah lebih dari dua bulan, aku danTamara tidak pernah berhubungan, dia tidak pernah mau memberi nafkah batin untukku. Untung saja, beberapa minggu terakhir, aku bisa mendapatkan jatahku dari kamu, Sayang. Bahkan, yang kamu berikan jauh lebih berkesan." Sambil bercerita, Pandu masih sempat menyelipkan kata-kata genit untuk menggoda Yuri. Tentunya memang benar demikian. Kehadiran Yuri dalam hidupnya, membuat hari-hari Pandu terasa penuh warna.


"Hah, kamu bisa saja, Mas." Yuri kembali tersipu.


"Kalau benar Tamara sedang hamil, dan walaupun itu bukan anak kamu, sebaiknya kamu menunda perceraian kalian, Mas. Tidak baik menceraikan istri yang sedang hamil. Apa kata orang-orang nanti? Pasti mereka akan mengira kamu laki-laki yang sangat kejam, tega menceraikan istri yang sedang hamil. Sedangkan aku, orang-orang pasti juga akan mencemooh aku dan semakin bergunjing, mengatakan kalau aku ini adalah seorang pelakor," terang Yuri, mencoba menasehati Pandu.


Pandu menghela nafas dalam-dalam mendengar apa yang dikatakan Yuri. Semua itu terdengar masuk akal dan benar adanya. Pasti akan banyak dampak buruk apabila dia menceraikan Tamara, terlebih dalam keadaan hamil.


"Kehamilan Tamara juga bukan sebuah kesalahan, Mas. Hanya kelakuan buruk dan pengkhianatan Tamara lah kunci utama kesalahannya. Bayi yang di kandung Tamara saat ini juga tidak berdosa. Bagaimana kondisi psikis Tamara kalau dia harus menanggung malu, hamil sendiri tanpa ada seorang suami yang akan mengakui itu sebagai anaknya? Apa kamu setega itu membiarkan dia menderita, Mas?"


Pandu hanya terdiam dan tidak sanggup menjawab apa yang Yuri katakan. Dia semakin menyadari kalau Yuri memiliki hati yang sangat besar, tidak seperti dirinya yang tidak akan pernah bisa memaafkan semua pengkhianatan Tamara.


"Baiklah, Yuri. kali ini aku bisa terima pendapat kamu. Sampai bayi yang dikandung Tamara lahir, aku tidak akan menceraikannya. Kecuali, dia sendiri yang ingin pisah dariku."


Yuri tersenyum mendengar jawaban Pandu yang mulai bisa menerima nasehatnya.


"Tapi aku juga tidak mau terima alasan lain. Walau aku menunda untuk bercerai dari Tamara, aku tetap akan menikah dan menjadikan kamu istri sahku, Yuri." Meski setuju akan nasehat Yuri, tetapi untuk urusan menikah dengan Yuri, Pandu tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


"Iya, Mas." Yuri hanya menanggapi dengan senyum bahagia serta anggukan kepala.


__ADS_2