
Hari sudah sore ketika Pandu menjemput Tamara dari kantornya dan mereka sudah sama-sama pulang dari bekerja.
"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Baby Chia. Hari ini pertama kalinya kamu mulai meninggalkan dia bekerja. Dia pasti sudah kangen sama kamu, Sayang. Semoga saja dia tidak rewel selama kita tinggal." Dalam perjalanan pulang dan sembari menyetir, Pandu terus berceloteh.
"Kan sudah ada Yuri, Mas. Semenjak lahir, Chia sudah sangat dekat dengannya. Aku yakin dia tidak akan rewel," sahut Tamara dengan santainya.
"Lagian, anak itu sedari kecil memang sudah harus dididik untuk mandiri dan tidak tergantung sama orang tua terus," sambung Tamara.
Pandu membuang nafas pelan mendengar jawaban istrinya. "Walaupun begitu, kamu tidak boleh terlalu membiarkan Chia dekat dengan Yuri. Kamu kan ibunya, apa kamu mau kalau sudah besar nanti, Chia malah lebih dekat dengan Yuri daripada kamu, Sayang?" tanyanya sarat akan nasehat.
"Nggak mungkin lah, Mas. Chia kan darah dagingku, mana mungkin dia lebih memilih orang lain. Dia pasti akan selalu lebih dekat dengan ibu kandungnya." Tamara hanya menaikkan satu ujung bibirnya dan tidak terlalu menanggapi nasehat suaminya.
Tiba di rumah, Pandu langsung menurunkan beberapa tas belanja dari dalam mobilnya.
"Loh kamu habis berbelanja sendiri, Mas? Kok nggak ngajak aku?" tanya Tamara heran. Tidak biasanya Pandu membeli barang-barang kebutuhan rumah tanpa mengajak dirinya ikut serta.
"Iya, Sayang. Aku sengaja belanja sendiri karena aku ingin membelikan beberapa kejutan buat kamu." Pandu tersenyum menggoda sambil mencubit gemas ujung hidung istrinya.
"Kamu beli apa aja, Mas?"
"Yuk, kita masuk saja dulu! Nanti akan aku tunjukkan semuanya sama kamu." Pandu merangkul pundak istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Ketika sampai di ruang tengah, Pandu menautkan kedua alisnya. Seisi rumah tampak rapi dan bersih. Sepertinya ada tangan-tangan yang sangat telaten yang sudah dengan sangat cekatan membersihkan rumahnya.
"Wah ... senangnya. Semua pekerjaan rumah sudah beres," seru Tamara seraya tersenyum sumringah, dia tahu Yuri sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah yang seharusnya adalah kewajibannya.
Pandu dan Tamara lalu melangkah menuju dapur. Tiba disana, keduanya kembali tersenyum. Yuri terlihat tengah sibuk mempersiapkan makan malam dan beberapa jenis makanan juga sudah tersaji di atas meja makan.
"Jadi kamu yang mempersiapkan semua ini, Yuri?" tanya Pandu takjub.
"Iya, Pak." Yuri hanya tersenyum tipis dan tetap sibuk melanjutkan semua pekerjaannya.
__ADS_1
"Chia mana? Apa dia sudah tidur?" Pandu sudah tidak sabar ingin segera menemui putri kecilnya.
"Sudah, Pak. Chia sudah cukup kenyang minum susu. Sekarang, dia tidur sangat nyenyak," terang Yuri dan Pandu hanya mengangguk.
Selama bekerja di rumahnya, Yuri memang sangat pintar membagi waktu. Selain membersihkan rumah, Yuri juga masih sempat memasak serta mempersiapkan makanan untuk makan malam dirinya bersama Tamara. Padahal dia juga harus menjaga Chia. Bahkan, semua pekerjaan rumah bisa diselesaikan dengan baik, tanpa mengabaikan tugas utamanya sebagai baby sitter untuk putri kecilnya.
"Makan malam sudah siap. Apa Pak Pandu dan Bu Tamara mau makan sekarang?" ujar Yuri, sambil tersenyum puas, karena sudah berhasil menyelesaikan semua pekerjaannya tepat pada saat kedua majikannya itu tiba di rumah.
"Nanti saja, Yuri. Kami mau mandi dulu." Pandu kembali merangkul pundak Tamara dan mengajaknya menuju kamar mereka.
"Kita sangat beruntung mempekerjakan Yuri disini, Mas. Semenjak ada dia, pekerjaanku jauh lebih ringan dan aku punya lebih banyak waktu, untuk bisa fokus sama karir ku," curhat Tamara juga ikut memuji Yuri.
Mereka berdua kini sudah ada di kamarnya. Tamara meletakkan handbag-nya di atas meja nakas serta melepaskan blazer yang masih melekat di tubuhnya.
"Iya ... tapi kamu jangan keenakan, Sayang. Kamu tetap harus membantunya karena semua yang dia kerjakan itu seharusnya adalah tanggung jawabmu," sahut Pandu, sambil duduk di tepi ranjang dan melepaskan sepatunya.
"Lagi pula, kita hanya membayar Yuri sebagai baby sitter, kalau dia melakukan semua pekerjaan yang lain, artinya kita harus siap memberinya gaji yang lebih besar," celoteh Pandu menyambung semua nasehatnya untuk Tamara.
"Itu urusan kecil, Mas. Mulai bulan ini, aku akan naikkan gajinya lima puluh persen. Aku sangat puas dengan kinerjanya," balas Tamara, menganggap gaji untuk Yuri hanyalah hal sepele.
Pandu melingkarkan kedua tangan erat di pinggang Tamara. Pupil matanya seketika melebar. Ada sesuatu yang sudah sangat ingin dia dapatkan dari wanita yang sangat dicintainya itu.
"Sayang, aku ingin itu," bisik Pandu sambil mencium mesra pipi dan mengecup bibir istrinya. Tentu saja ucapan yang terdengar ambigu itu menegaskan jelas keinginannya mendapatkan hak sebagai suami bagi Tamara.
"Nanti saja setelah mandi ya, Mas." Tamara menolak keinginan suaminya secara halus.
"Hmm ... " Pandu mengangguk penuh harap. "Tapi malam ini kamu jangan ingkar lagi ya, Sayang. Aku kangen banget sama kamu," pintanya memelas.
"Oh ya, Mas ... tadi kamu bilang, kamu membelikan kejutan buat aku ... Mana?" sela Tamara mengalihkan.
Pandu hanya membalas dengan tersenyum, lalu melepaskan pelukan dari Tamara dan meraih barang-barang pada kantong-kantong belanjaan yang sebelumnya ia beli.
__ADS_1
"Bukalah!" ujar Pandu sambil menyerahkan tas-tas itu kepada istrinya.
"Apa ini, Mas?" Kening Tamara berkerut, ketika ia memperhatikan sebuah kotak yang baru saja dia keluarkan dari sebuah tas.
"Itu alat pompa ASI electric, Sayang. Walau kamu sudah balik bekerja, dengan alat itu kamu bisa tetap memberi ASI untuk Chia."
"Aku tidak memerlukan alat ini, Mas!" ketus Tamara, sambil melemparkan kotak itu dengan kasar di atas kasur.
"Aku nggak mau aset berharga milikku ditarik-tarik dan disedot kasar oleh alat itu? Memangnya kamu mau, setelah itu punyaku jadi kendur dan terlihat tidak seksi lagi!" seringai Tamara, tidak senang.
"Sayang, punyamu itu kan sangat elastis. Setelah selesai menyusui dan Chia sudah besar, nanti pasti kembali lagi seperti semula."
"Pokoknya aku nggak mau, Mas. Sampai kapanpun aku tidak akan mau memakai alat seperti itu. Justru Chia harus segera disapih. Aku tidak mau menyusuinya lagi!"
Pandu menghela nafas kasar dan menggeleng. Mengubah perangai keras kepala Tamara, masih sangat sulit dilakukannya.
"Kalau yang ini, apa isinya, Mas?" Tamara membuka lagi satu tas yang lain.
"Ini baju buatku, Mas?" Tamara membulatkan matanya. Wajahnya berubah masam ketika melihat sebuah dress berwarna biru muda yang dia temukan di dalam tas itu.
"Iya, Sayang. Tadi pagi kan kamu bilang kalau semua baju kerjamu kesempitan, jadinya aku membelikan dress itu khusus buat kamu," jawab Pandu.
"Baju macam apa ini, Mas? Aku nggak suka ... warnanya norak dan ukurannya juga kebesaran." Lagi-lagi Tamara melemparkan baju itu dengan kasar ke atas kasur.
"Kita sudah bersama hampir tujuh tahun, Mas. Masa kamu belum hafal juga kesukaanku!" sungut Tamara ketus sambil cemberut menatap suaminya.
"Sayang, aku sengaja pilihkan baju yang sedikit lebih longgar, itu agar kamu merasa lebih nyaman memakainya. Dan warna biru muda ... bukankah itu warna favorite kamu?"
"Siapa bilang baju longgar membuatku nyaman? Yang ada aku terlihat seperti ondel-ondel pakai baju dengan ukuran kebesaran seperti itu!" Tamara memalingkan wajahnya, menyilangkan kedua tangannya di dada dan semakin cemberut. Dia sangat kecewa karena semua pemberian suaminya tidak sesuai dengan kesukaannya. Selama ini dia lebih suka mengenakan baju-baju slim fit yang sangat ketat melekat di tubuhnya. Dia menjadi sangat tidak senang karena suaminya justru membelikannya baju berukuran longgar untuknya.
"Ya sudah, kalau kamu tidak suka, besok kita akan membeli lagi baju-baju yang sesuai dengan kesukaan kamu." Meski merasa pemberiannya kurang dihargai, Pandu tetap berusaha untuk tidak marah terhadap istrinya.
__ADS_1
Walau ada perasaan kecewa, Pandu tetap mencoba memahami segala perubahan psikologis istrinya. Semua itu mungkin saja terjadi karena sesungguhnya Tamara belum siap menjadi seorang ibu.
Maklum saja, usia Tamara baru 22 tahun ketika mereka menikah. Di usia yang masih cukup belia itu, pastilah emosi Tamara belum cukup terkontrol, sehingga Pandu lebih sering mengalah agar tidak sampai terjadi pertengkaran, apalagi selisih paham di antara mereka.