Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 45. Jangan Merasa Bersalah


__ADS_3

Sorot gairah terbias dari empat netra yang saling menatap. Tanpa disadari, dua hati menyatu dalam sebuah perbuatan yang tidak seharusnya. Akan tetapi, semua hal yang dianggap terlarang itu, seolah tidak jadi penghalang ketika ada hasrat nan hangat tengah berkuasa.


Tubuh Pandu dan Yuri berdempetan, berguling dan saling menindih di atas ranjang. Perlahan, tangan Pandu mulai berkelana, menjelajahi setiap lekuk tubuh Yuri, menelusup di balik kain yang masih menutupi raga yang sudah terlihat pasrah dan siap menerima semua sentuhan darinya.


"Aaahhh ... Pak Pandu!" Bibir Yuri yang sudah basah akibat terus menerus bertukar saliva dengan bibir Pandu, mengeluarkan suara lenguhan tanpa bisa tertahan. Gairahnya semakin bergelora dan dia sama sekali tidak ingin menolak apa pun yang akan Pandu lakukan terhadap dirinya. Namun, di saat yang sama, tiba-tiba Pandu menghentikan semua kegiatannya. Rasa bersalah terlintas begitu saja menghantui pikirannya. Sejenak dia sadar bahwa tidak seharusnya dia melakukan itu kepada Yuri, wanita yang bukan merupakan muhrimnya.


Pandu bergegas mengangkat punggungnya dan beranjak dari atas tubuh Yuri. Sambil berdiri, Pandu memasang kembali resleting celana yang sempat dia lepaskan sebelumnya, dan dia duduk di tepi ranjang. Pandu mengusap kepala dan meremas rambutnya sendiri dengan kasar, tanda sebuah penyesalan terhadap sesuatu yang hampir saja terjadi, kini memenuhi kepalanya.


Melihat sikap Pandu yang seperti itu, Yuri ikut mengangkat punggungnya dari atas kasur. Dia yang tadinya berbaring tengadah dan sangat siap menerima apapun yang akan Pandu lakukan terhadapnya, kini ikut beranjak dan duduk di sebelah Pandu. Dengan lembut, Yuri mengusap punggung Pandu dan menatap wajahnya.


"Pak Pandu kenapa?" Tangan Yuri juga mengusap dada bidang Pandu yang masih belum mengenakan lagi kemejanya.


"Yuri, maafkan aku! Tidak seharusnya aku melakukan semua ini terhadapmu." Pandu juga menatap dua bola mata nan indah di hadapannya dengan wajah yang tampak dipenuhi rasa menyesal.


Yuri hanya menggeleng. "Pak Pandu tidak salah! Bapak tidak pernah memaksa saya melakukannya. Bapak jangan pernah menyalahkan diri sendiri seperti ini," urai Yuri dengan nadanya yang terdengar sangat tulus.


"Selama itu bisa membuat Pak Pandu merasa bahagia, saya rela melakukan apa saja untuk bapak."


Pandu menelan ludahnya mendengar ucapan Yuri. Dia juga kembali menatap wajah polos di hadapannya yang terlihat sangat jujur ketika mengucapkan kata-kata itu.


"Apa itu benar, Yuri? Apa ... kamu benar-benar tulus memberikan semua itu padaku?"


Yuri tersenyum tanpa menjawab, hanya anggukan kepala saja sebagai isyarat kalau dia dengan suka rela akan menyerahkan segala-galanya untuk pria pujaan hatinya itu.

__ADS_1


Meski rasa ragu masih ada di benaknya, melihat wajah cantik dan senyum tulus nan menggoda di bibir Yuri, membuat Pandu tidak sanggup lagi menahan sesuatu yang masih teramat bergejolak dalam hatinya.


Dua jari Pandu menyentuh dagu Yuri dan dia kembali mendekatkan wajahnya, memberi kecupan yang sangat dalam di bibir Yuri. Dua pasang bibir itu juga kembali saling membasahi dan bertukar saliva.


Raga Pandu dan Yuri menyatu, bergulat dan bergulingan lagi di atas kasur.


Satu per satu kain yang menjadi penghalang di antara mereka kini sudah terhempas entah kemana. Keduanya semakin hanyut dalam hangatnya sentuhan gairah yang kian membara.


"Aaahh, Yuri! Kenapa sempit sekali?"


Ketika Pandu sudah siap memulai petualangan hasrat mereka, dia merasa sedikit terkejut. Ternyata dia tidak dengan mudah bisa menembus dinding penghalang di raga Yuri.


Sejenak Pandu berpikir, apakah Yuri masih suci? Jawabannya tentu saja tidak! Yuri adalah seorang janda. Kegadisannya sudah pasti telah dia serahkan kepada suami pertamanya, walau itu dengan sangat terpaksa. Menikah tanpa rasa cinta dan diusia yang belum saatnya, membuat Yuri tidak pernah merasakan kebahagiaan sejati dari sentuhan seorang pria. Namun, bersama Pandu malam itu, adalah sebuah kebahagiaan luar biasa baginya. Bercinta dengan pria yang selama ini adalah idola dan sangat dia inginkan, bagai sebuah mimpi indah yang terasa begitu nyata dan penuh kehangatan.


"Oouughh ... teruskan saja, Pak!" Mulut Yuri terus merengek, tidak ingin Pandu menghentikan semuanya lagi. Mata Yuri terpejam dan dia juga menggigit bibir bawahnya, ketika merasakan sentuhan Pandu yang begitu kuat menghujami raganya.


"Apa kamu merasakan sakit?" bisik Pandu sambil bergerak dengan perlahan di atas tubuh Yuri.


"Hmm ... aaahh!" Hanya lenguhan dari mulut Yuri yang menganga lebar itu saja, sebagai respon atas pertanyaannya. Pandu bisa merasakan kalau Yuri tidak merasakan sakit sama sekali, melainkan sangat menikmati setiap sentuhannya.


'Kemarau dalam setahun, mampu dihapus hujan dalam sehari'


Sebuah ungkapan itu mungkin sangat cocok mewakili perasaan Pandu saat ini. Sudah beberapa bulan, Tamara tidak pernah memberinya nafkah batin. Namun, malam itu semua rasa yang terpendam dalam kalbunya kini tercurahkan dengan sangat indah bersama Yuri, wanita yang dalam beberapa bulan ini juga selalu ada mengisi hari-harinya.

__ADS_1


.


"Terima kasih banyak, Yuri." Pandu berbisik seraya menghempaskan tubuh letihnya yang bermandikan keringat di sebelah Yuri. Perlahan, Pandu mengusap kepala dan kening Yuri yang juga basah oleh keringat. Keduanya sama-sama tersenyum puas, setelah melewati sebuah perjalanan indah, penyatuan mereka.


Meski sadar akan sebuah dosa yang baru saja mereka perbuat, tetapi keduanya tidak ingin menyesalinya lagi. Karena, kini kebahagiaan yang terasa mengisi jiwa mereka. Jiwa-jiwa yang sebelumnya beku dan hampa hanya berteman sepi, kini terasa hangat penuh kemesraan.


"Maafkan aku, Yuri. Aku tahu ini salah, tidak seharusnya kita melakukan hal ini." Pandu mengecup kening Yuri penuh kehangatan.


"Jangan berkata seperti itu lagi, Pak. Justru setelah semua ini terjadi, saya takut Pak Pandu akan punya pemikiran yang berbeda tentang saya." Yuri yang juga berbaring dengan tubuh lelahnya di sebelah Pandu, hanya bisa tersenyum tipis menanggapi permintaan maaf dari Pandu.


"Apa maksud kamu dengan pemikiran berbeda?" Pandu menatap wajah wanita yang baru saja mampu menyirami kegersangan jiwanya selama ini.


"Setelah semua yang terjadi, mungkin Pak Pandu akan menganggap saya wanita murahan, yang dengan mudah menyerahkan dirinya begitu saja."


Pandu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. "Siapa bilang aku akan menganggapmu seperti itu?" elaknya tidak ingin Yuri berpikir macam-macam tentang tanggapannya, setelah semua yang terjadi di antara mereka.


"Saya rela melakukan semua ini hanya karena satu alasan, Pak." Yuri ikut menatap dalam mata teduh pria yang pertama kali dalam hidupnya memberi kenikmatan serta perasaan nyaman sesungguhnya.


"Hmmm ... alasan apa, Yuri?"


"Karena saya ... saya ... " Yuri menjeda ucapannya. Tatapan Pandu yang tidak pernah lepas memandangi wajahnya, membuat Yuri seketika gugup dan lidahnya pun terasa kelu, tak mampu berucap.


"Apa, Yuri? Katakan saja!"

__ADS_1


"Maafkan saya, karena berani lancang menyimpan rasa cinta untuk Pak Pandu," jawab Yuri jujur, tanpa ingin menyembunyikan lagi semua perasaannya terhadap Pandu.


Pandu hanya mampu menghembuskan nafasnya mendengar pengakuan jujur Yuri. Sekian waktu bersama dan mendapat banyak perhatian dari wanita itu, membuat rasa sayang juga sudah tumbuh di dalam benaknya. Namun, kala dia teringat bahwa dirinya sudah memiliki pasangan dan terikat dalam sebuah tali pernikahan yang sah, maka Pandu memilih hanya menyimpan saja perasaan itu. Ucapan jujur Yuri, kini juga seakan ikut menyirami rasa itu sehingga tumbuh semakin subur di dalam hatinya.


__ADS_2