Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 08. Alergi Susu Formula


__ADS_3

Sebulan berlalu setelah Tamara kembali bekerja.


Sebagai seorang wanita karir, membuat Tamara lebih suka menghabiskan banyak waktu untuk bekerja daripada mengurus rumah tangga, terutama bayinya.


Selama itu, Tamara juga tidak mau lagi menyusui Chia. Dia hanya sibuk mengembalikan penampilannya. Program diet yang dia jalani juga berhasil sesuai yang diharapkannya. Sehingga tubuhnya bisa kembali langsing walau harus dengan cara menjaga pola makan dengan sangat ketat.


Di depan cermin rias, Tamara menatap bayangannya di pantulan cermin. Pagi itu dia baru saja selesai berdandan dan sudah siap akan berangkat bekerja.


"Tidak sia-sia aku mengurangi porsi makanku sebulan ini. Akhirnya baju-baju lamaku bisa kupakai lagi," gumamnya dengan senyum puas menghiasi bibirnya.


Pandu yang ada di sebelahnya dan juga sedang bersiap akan berangkat bekerja, hanya memasang wajah kecut melihat tingkah istrinya.


"Iya, tapi tidak seharusnya kamu mengorbankan Chia dan berhenti memberinya ASI. Padahal kan ASI sangat penting untuk tumbuh kembangnya," sungut Pandu memprotes keputusan Tamara yang hanya mau menyusui buah hatinya selama dua bulan saja.


"Yang penting kan kolostrum Chia sudah dapatkan, Mas. Selebihnya susu formula sudah cukup," sahut Tamara membela diri.


Pandu hanya menggeleng dan tidak berniat menanggapi. Karena, apabila dia menentang perkataan istrinya, pasti ujung-ujungnya mereka akan terus beradu argumentasi sehingga memicu pertengkaran lagi di antara mereka.


"Oh ya, Mas. Nanti sore, kamu nggak perlu menjemputku. Usai jam kantor, aku ada acara informal bersama rekan-rekan kerja. Kemungkinan aku pulangnya malam," sambung Tamara sambil mempersiapkan sebuah tas dan mengemas beberapa pakaian ganti yang akan dia pakai untuk acara tersebut.


"Sayang, beberapa hari belakangan, kamu selalu pulang terlambat. Kasihan Chia, kamu hampir tidak pernah meluangkan waktu untuknya."


"Kan sudah ada Yuri, Mas. Aku percaya, Yuri bisa menjaganya dengan baik walau tanpa aku."


"Iya ... tapi kamu ibunya, seharusnya kamu yang lebih sering bersama Chia."


"Aku kan kerja, Mas. Kalau aku di rumah saja, ya pastilah aku yang akan selalu mengurusnya."


"Sayang, apa tidak sebaiknya kamu berhenti bekerja? Uang hasil toko ... kurasa cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari."


Pandu menatap wajah istrinya. Dia sangat berharap kali ini Tamara akan setuju akan keinginannya.


"Berhenti kerja?!" Tamara tersentak dan membulatkan matanya.


"Mas ... dari awal aku sudah bilang kalau sampai kapanpun aku tidak akan pernah berhenti bekerja. Dan kamu juga dari dulu tidak pernah melarangku," tampik Tamara ketus.

__ADS_1


"Apalagi sekarang ada Chia. Kebutuhan kita sangat meningkat. Beli susu, diapers, bayar gajinya Yuri. Kalau aku tidak bekerja juga, apa kamu pikir uang hasil tokomu akan cukup? Kapan kita akan bisa menabung kalau hanya mengandalkan hasil toko saja? Lagian aku juga butuh punya penghasilan untuk apresiasi diriku sendiri, Mas!" celoteh Tamara panjang lebar dan menolak dengan tegas. Ada rasa tidak senang karena Pandu tiba-tiba melarangnya tetap berkarir sesuai keinginannya selama ini.


"Ya ... aku sekedar menyarankan saja, Sayang. Aku hanya tidak ingin Chia semakin jauh dari kamu karena kamu terlalu sibuk bekerja," sanggah Pandu. Dia ingat kalau dari awal menikah, dia memang berjanji tidak akan pernah melarang istrinya bekerja dan tentunya tak mungkin janji itu akan dilanggarnya.


"Sudahlah, Mas. Kita tidak perlu bahas hal nggak penting ini lagi. Kita harus segera berangkat. Aku tidak mau terlambat tiba di kantor," pungkas Tamara seraya bergegas meraih tas kerjanya dan keluar dari kamar mereka.


****


Sore harinya, mengetahui Tamara akan pulang terlambat lagi, Pandu sengaja meninggalkan tokonya lebih awal, supaya bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama bayinya. Tanggung jawab menjaga toko hingga jam operasional selesai, dia serahkan sepenuhnya kepada salah seorang karyawan kepercayaannya.


Tiba di rumah, Pandu langsung menuju kamar bayinya. Meski dia tahu Yuri akan melarang dia menggendong putri kecilnya itu sebelum dia mandi dan ganti baju, tetapi dia tetap ingin melihatnya terlebih dahulu, meski hanya sebentar.


"Yuri, ada apa dengan Chia?" Ketika tiba di dalam kamar bayinya, Pandu tersentak kaget. Dia melihat bayi kecil itu terus menangis dan Yuri juga tampak gelisah karena cukup kesulitan mengatasinya.


"Dari tadi, Chia muntah terus, Pak. Perutnya kembung dan muncul banyak ruam merah di kulitnya. Bahkan, dari beberapa menit yang lalu, suhu badannya juga naik. Sepertinya Chia terserang demam." Sambil menceritakan keadaan bayi itu, Yuri tetap menggendongnya sambil mengusap-usap lembut punggungnya agar sedikit lebih tendang.


"Boleh ku lihat, Yuri." Pandu menjulurkan tangannya untuk mengambil alih bayi itu dari tangan Yuri.


"Silahkan, Pak."


"Ya, Tuhan! Badan Chia panas. Kita harus segera membawanya ke dokter, Yuri!" seru Pandu, merasa sangat cemas dengan keadaan bayinya.


"Iya, Pak," sahut Yuri singkat serta menganggukkan kepala.


"Siapkan tas untuk keperluan Chia, Yuri. Sekarang juga kita harus membawanya ke dokter," perintah Pandu.


"Tapi, apa kita tidak menunggu Ibu Tamara pulang dulu, Pak?"


"Tidak usah menunggunya, Yuri. Dia akan pulang terlambat malam ini. Kau yang akan menemaniku membawa Chia ke dokter."


Lagi-lagi Yuri hanya mengangguk dan bergegas mempersiapkan sebuah tas, lalu mengemas beberapa diapers dan susu untuk Chia.


.


Bersama Yuri, Pandu bergegas memacu mobilnya dan menuju ke sebuah klinik yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, untuk menemui dokter spesialis anak disana.

__ADS_1


"Bayi anda, mengalami alergi ringan akibat susu formula, Pak. Usianya baru tiga bulan, seharusnya bayi bapak mendapatkan ASI eksklusif, setidaknya enam bulan, agar sistem imunnya terjaga," terang dokter setelah memeriksa keadaan Chia.


"Untung saja bayi anda segera dibawa kesini. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin alerginya sudah semakin parah," lanjut dokter menjelaskan.


"Iya, saya tahu, Dok. Tapi istri saya harus bekerja. Sudah sebulan ini dia berhenti memberinya ASI."


"ASI yang yang ditampung steril dalam botol, kan bisa disimpan dalam freezer untuk waktu yang lama, Pak. Walau istri bapak sudah kembali bekerja, semestinya dia masih tetap bisa memberi ASI."


Pandu hanya menganggukan kepalanya mendengar nasehat dokter. Sebelum dokter memberinya saran seperti itu pun dia sudah sering meminta istrinya melakukan hal yang sama. Namun, Tamara tidak sekalipun mengindahkan semua perkataannya.


"Ini resep obat untuk bayi anda, Pak. Petunjuk pemberian dosisnya nanti akan dijelaskan oleh petugas apotek," ujar dokter sambil menyerahkan selembar kertas resep kepada Pandu.


"Baik, terima kasih banyak, Dokter!" Pandu bersama Yuri yang masih menggendong Chia, segera keluar dari ruang praktek dokter itu.


Setelah Chia mendapat pemeriksaan dan menebus obat, Pandu dan Yuri pun meninggalkan rumah sakit.


Selama perjalanan pulang, Chia sudah terlihat tenang dan tertidur dalam gendongan Yuri. Sedari lahir, bayi itu memang sudah sangat dekat dengan Yuri, karenanya walau sedang sakit, dengan mudah Yuri tetap bisa mengatasinya.


"Kalau Chia alergi susu formula, lalu saya harus bagaimana, Pak? Sementara Bu Tamara, sama sekali tidak mau menyusui apalagi menampung ASI-nya." Yuri menggerutu. Dia merasa bersalah karena memberi bayi yang dirawatnya itu susu formula, padahal usianya belum enam bulan. Belum saatnya mendapat makanan pendamping ASI termasuk susu formula.


"Nanti aku akan coba bicara sama Tamara lagi. Setelah anaknya sakit begini, semoga dia berubah pikiran," harap Pandu.


"Untuk sementara, sepertinya kita harus ganti produk susunya, Yuri. Aku akan mampir di supermarket sebentar untuk membeli susu yang lain."


Pandu memutuskan tidak langsung pulang. Dia mengarahkan mobilnya menuju sebuah supermarket.


"Kamu tunggu disini dan jaga Chia ya! Aku hanya akan membeli susu untuk Chia." Pandu memerintahkan Yuri untuk tetap tinggal di mobilnya.


"Baik, Pak."


"Apa kamu membutuhkan sesuatu? Sekalian aku akan membelinya." Pandu bertanya kepada Yuri. "Yah ... mungkin kamu butuh sesuatu untuk kebutuhan pribadimu, Yuri?" sambungnya.


"Tidak ada, Pak. Semua kebutuhan saya sudah tercukupi," sahut Yuri tersenyum merasa senang dengan perhatian kecil yang diberikan majikannya itu.


"Ya sudah kalau begitu." Pandu pun bergegas keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam supermarket.

__ADS_1


"Pak Pandu pria yang penuh perhatian, dewasa dan bertanggung jawab. Seandainya aku punya suami seperti dia, pasti bahagia sekali rasanya." Yuri membatin. Perasaan seperti itu, tidak pertama kalinya dia rasakan. Bahkan, setiap kali dia melihat Pandu, kekaguman itu selalu ada dalam hatinya.


__ADS_2