Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 17. Kerepotan Sendiri


__ADS_3

Hingga satu minggu setelah kepergian Yuri dari rumahnya, Tamara sampai saat itu belum juga menemukan baby sitter baru untuk putrinya. Beberapa yayasan penyalur baby sitter sudah dia hubungi, tetapi hasilnya masih belum sesuai yang diharapkan.


Selama satu minggu tanpa baby sitter, Pandu lah yang selalu menjadi korban untuk tinggal di rumah dan menjaga bayinya. Maklum saja, pekerjaan Pandu di usaha kecil milik pribadinya, tidak terlalu mengikatnya dalam hal waktu bekerja. Sesekali apabila kehadirannya memang sangat dibutuhkan di toko, Pandu akan datang kesana dengan membawa Chia ikut serta bersamanya.


Semua hal terkait mengurus bayi, hampir sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pandu. Mulai dari mempersiapkan susu serta makanan pendamping ASI, semua itu Pandu juga yang lebih banyak mengerjakan, sedangkan Tamara, dia tetap lebih suka memikirkan pekerjaan serta karirnya, tanpa ada kepedulian lebih terhadap bayinya.


"Sayang, aku minta besok kamu tolong ambil cuti sehari saja. Aku mau sesekali kamu yang jaga Chia di rumah. Selain itu besok aku harus ke toko ada costumer penting yang harus aku temui," terang Pandu di sela-sela sarapan bersama mereka pagi itu.


"Ya, nggak bisa gitu dong, Mas! Aku kan nggak mungkin ngajuin cuti mendadak. Ditambah lagi, besok aku juga ada tender besar yang harus aku menangkan."


Pandu menggeleng kecewa mendengar jawaban istrinya. Sebelum dia mengutarakan keinginannya pun dia sudah menduga akan mendapat jawaban itu dari Tamara.


"Lalu aku harus bagaimana? Sampai kapan aku harus hanya tinggal di rumah menjaga Chia seperti ini? Aku juga harus bekerja, bahkan sebagai kepala keluarga, aku yang seharusnya bekerja mencari uang. Sedangkan, untuk mengurus rumah dan menjaga Chia, itu adalah tanggung jawab kamu, Tamara!" Pandu meninggikan tekanan suaranya. Bagaimanapun juga, sebagai seorang laki-laki sekaligus seorang suami, dia harus bisa bersikap tegas terhadap istrinya. Dia merasa tidak dihargai apabila Tamara selalu saja menekannya.


"Mas, aku juga kerja dan menghasilkan uang. Itu semua aku lakukan untuk bisa memenuhi semua kebutuhan kita dan untuk masa depan Chia juga. Kenapa sih tiba-tiba kamu sewot begini sama aku!" Tamara ikut membalas dengan intonasi suara yang juga meninggi. Dia merasa tidak senang mendengar ucapan suaminya yang seakan melarang serta menganggap pekerjaan yang dia lakukan tidaklah penting bagi keluarga kecil mereka.


"Gini deh, Mas. Sementara sebelum kita dapat baby sitter baru untuk Chia, kita akan titip Chia di day care saja. Kemarin aku sudah mendaftarkannya di sebuah day care terbaik di kota ini dan tempatnya tidak terlalu jauh dari tokomu, Mas," imbuh Tamara sambil mulai menurunkan tekanan suaranya. Dia tersenyum tipis karena merasa idenya kali ini pasti akan disetujui oleh Pandu.


"Day care?" Pandu mengangkat satu ujung alisnya dan dahinya berkerut.


"Kamu yakin akan menitip Chia di day care tanpa ada rasa khawatir?"


"Apa bedanya dengan meninggalkan Chia di rumah hanya dengan baby sitter, Mas? Justru di day care akan lebih aman karena penjaga bayi di day care kan tidak satu orang saja, melainkan ada banyak pengasuh profesional disana."


Pandu mengangguk pelan. Mau tidak mau, menitipkan Chia di tempat penitipan anak mungkin adalah satu-satunya solusi agar dia tetap bisa konsentrasi bekerja dan Tamara pun tidak harus mengabaikan pekerjaan yang sudah pasti tidak ingin dia tinggalkan itu.


Maklum saja, di kota itu Pandu dan Tamara memang tinggal jauh dari orang tua mereka masing-masing dan tidak ada orang yang mereka bisa percaya untuk menjaga bayinya. Mereka adalah perantau di kota itu dan hanya akan pulang kampung setahun sekali, pada saat hari raya besar saja.


****

__ADS_1


Sementara itu di tempat yang berbeda.


Tiinn! Tiinn!


"Pagi!"


"Permisi ... catering-nya, Bu!"


Seorang wanita menghentikan motornya di depan sebuah rumah sambil membawa rantang susun di tangannya dan dia serahkan kepada seorang wanita yang menyambutnya di depan pintu rumahnya.


"Oh iya, terima kasih banyak, Mbak Yuri. Semenjak Mbak Yuri yang mengantarkan makanan dari catering, datangnya selalu tepat waktu. Nggak seperti dulu, telat melulu." Wanita pemilik rumah itu tersenyum ramah kepada wanita yang sudah hampir seminggu ini selalu datang tiap pagi mengantarkan makanan dari catering rumahan langganannya.


"Iya, sama-sama, Bu. Sudah tugas saya harus selalu mengantarkan makanan pelanggan tepat waktu." Yuri membalas ramah senyum wanita yang menjadi langganannya itu.


"Saya permisi dulu ya, Bu. Masih banyak pesanan yang harus saya antarkan," pamit Yuri tetap dengan senyum ramah di bibirnya.


Setelah pergi dari rumah itu, Yuri sangat beruntung karena bertemu dengan Ibu Leli yang bersedia mempekerjakannya di usaha catering rumahan miliknya, sebagai pengantar makanan. Selain itu, Yuri juga diberikan tempat tinggal disana, karena setiap pagi semenjak subuh Yuri sudah mulai bekerja membantu Ibu Leli memasak. Usai masak dan mengemas makanan tersebut, Yuri akan lanjut berkeliling komplek perumahan untuk mengantarkan makanan kepada semua langganannya. Dengan menggunakan sebuah sepeda motor matic dilengkapi keranjang besar di bagian belakangnya, Yuri mendatangi satu rumah ke rumah lainnya.


"Aah, semua pesanan pagi ini beres juga!" Yuri tersenyum lega. Keranjang yang ada di motornya kini sudah kosong yang artinya semua makanan sudah selesai dia antarkan.


Yuri lalu bergegas memacu motornya untuk kembali ke catering Ibu Leli.


"Kebetulan kamu sudah datang, Yuri. Tolong sekarang kamu antarkan pesanan Bu Trisno, ya!" sambut Bu Leli senang, karena Yuri kembali tepat waktu dan bisa memberinya tugas baru.


"Sekarang, Bu? Kok tumben? Biasanya kan pesanan Bu Trisno diantar siang?" tanya Yuri heran. Biasanya langgananya itu hanya minta disediakan makan siang hingga makan malam saja, tidak biasanya makanan itu harus diantar sepagi itu.


"Iya, barusan Bu Trisno telepon, katanya mereka akan ada acara keluar rumah, jadi makanannya diminta pagi ini," terang Bu Leli dan Yuri hanya mengangguk patuh.


Yuri segera mengambil alih rantang susun itu dari tangan Bu Leli dan dia bergegas kembali memutar motornya untuk mengantarkan makanan itu ke tempat tujuan.

__ADS_1


"Permisi! Catering!"


Di depan sebuah rumah yang terletak paling ujung di komplek perumahan itu, Yuri mengetuk pintu.


"Permisi, Pak. Saya datang membawakan catering." Yuri tersenyum ramah seraya setengah membungkukkan punggungnya ketika seorang pria membukakan pintu.


"Wah kebetulan sekali makanannya sudah datang. Mari masuk dulu, Mbak Yuri," sambut pria itu dengan juga tersenyum ramah kepada Yuri. Saat itu, pria yang sudah cukup berumur tersebuh terlihat hanya mengenakan kaos dalam serta kain sarung untuk menutupi bagian bawah tubuhnya yang membuat Yuri merasa canggung melihatnya.


"Emm ... tidak usah masuk Pak Trisno, saya cuma mengantarkan makanan ini saja," tolak Yuri sungkan. Tentu saja dia sama sekali tidak berniat mampir di rumah langganannya itu, apalagi yang menyambutnya adalah seorang pria berwajah sedikit sangar dengan perut buncit dan kumis tebal hampir menutupi bibir atasnya.


"Ada beberapa rantang kosong dari makanan kemarin belum diambil, Mbak. Sekalian saya mau kembalikan rantang-rantang itu dan sebaiknya, Mbak Yuri tunggu di dalam saja," bujuk Pak Trisno lagi.


"Oh kalau begitu, baiklah, Pak. Tapi saya cukup tunggu disini saja, tidak usah masuk, Pak!" Yuri tetap berusaha menolak dengan halus.


"Mbak Yuri sepertinya takut sekali masuk ke dalam ... apa Mbak pikir ada setan di dalam sana?" Pak Trisno mencibir.


"Bu-bukan begitu, Pak!"


"Nah, kalau bukan kenapa tidak mau masuk?" desak Pak Trisno lagi sangat berharap Yuri bersedia masuk ke rumahnya.


"Baiklah, Pak." Supaya tidak dianggap tidak menghargai, akhirnya Yuri bersedia masuk ke dalam rumah Pak Trisno.


"Duduk dulu, Mbak! Saya akan ambil rantangnya." Trisno mempersilahkan Yuri menunggu di ruang tamu.


"Kenapa pintunya harus ditutup, Pak?" Yuri membulatkan matanya ketika melihat Trisno melangkah menuju pintu rumah itu.


Bukannya langsung mengambil rantang seperti yang dia katakan sebelumnya, Trisno justru menutup dan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat, sementara mereka hanya berdua di ruangan itu.


"Memangnya ada yang salah kalau saya mengunci pintu ini?" Trisno tersenyum licik dan menatap Yuri dengan tatapan mata misterius yang terlihat sangat menyeramkan dan membuat Yuri seketika bergidik ngeri karenanya.

__ADS_1


__ADS_2