Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 66. Perang Dingin Menjadi Panas


__ADS_3

Pergerakan waktu terasa sangat cepat tanpa ada yang bisa menghentikan. Tanpa terasa, tiga bulan sudah Yuri menikah dengan Pandu dan tinggal di rumahnya.


Meski selama itu dia harus perang dingin melawan segala tindak-tanduk Tamara, tetapi dia merasa kemenangan tetap ada di tangannya. Pandu pastilah senantiasa memihak kepadanya. Sedangkan Chia, juga tetap lebih dekat dengannya. Walau Tamara dengan berbagai upaya terus mencoba mendapatkan hati putri kecilnya itu, entah mengapa, Chia tetap lebih merasa nyaman bersama Yuri. Kasih sayang yang Yuri berikan untuk Chia memang sangat tulus, sehingga bayi polos itu mengira kalau Yuri lah ibu kandungnya.


Selain itu, di bulan-bulan awal kehamilannya, Tamara juga mengalami masa ngidam dan merasakan serangan morning sickness. Tubuhnya sering terasa lemah dan mudah lelah, sehingga dia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar dan hanya tiduran saja. Semua itu tentu mempersempit upayanya untuk bisa menyingkirkan Yuri serta mendapatkan hati Pandu kembali.


Hari itu, matahari sudah sangat tinggi ketika Tamara terbangun dari tidurnya. Sambil memijat kepalanya yang terasa pusing, Tamara beranjak dari tempat tidur.


"Kepalaku pusing dan perutku juga lapar, dari semalam aku tidak bisa makan karena lapar." Dengan langkah kaki terhuyung, Tamara keluar dari kamarnya dan menuju dapur.


Perlahan dia membuka pintu kulkas dan berharap menemukan sesuatu untuk bisa dimasaknya sebagai sarapan di pagi itu.


Dari dalam kulkas, Tamara mengeluarkan sebutir telur dan sayuran.


"Aku akan masak nasi goreng saja. Ku rasa itu akan cukup mengganjal perut sampai nanti siang," gumamnya sambil membuka tutup magic com, hendak mengambil sepiring nasi di sana. Belum sempat dia mengambil centong nasi, tiba-tiba kepalanya kembali terasa pusing sehingga tanpa sadar piring yang akan dia gunakan menampung nasi, terlepas dari tangannya.


Praangg!


Piring itu jatuh dan hancur berkeping-keping di permukaan lantai.


"Aduh kenapa kepalaku pusing begini?" Sambil terus memegang kepalanya, Tamara perlahan berjongkok untuk membersihkan pecahan piring di lantai.


"Tunggu, Tamara! Kamu tidak perlu membersihkan pecahan piring itu, biar aku saja yang mengerjakannya!"


Tamara mengangkat wajahnya dan tidak jadi berjongkok ketika mendengar suara teriakan melarangnya membersihkan pecahan piring tersebut.


Yuri sudah berdiri di hadapan Tamara dan menahan kedua pundaknya.


"Kalau kamu kurang enak badan, kamu duduk saja dan nggak usah masak. Di meja makan masih ada makanan untuk kamu sarapan," ucap Yuri sambil menatap wajah Tamara yang terlihat sangat pucat.

__ADS_1


Akan tetapi, Tamara justru menatap Yuri dengan raut wajah tidak senang. "Tidak perlu pura-pura baik dan sok perhatian terhadapku, Yuri. Apa kamu pikir aku senang mendapat perhatian dari kamu?" tuduhnya sinis.


"Aku bukan sok perhatian. Aku hanya kasihan sama kamu. Aku juga seorang wanita, aku tahu apa yang tengah terjadi sama kamu, Tamara."


"Aku juga tidak butuh belas kasihan darimu! Lagipula, tahu apa kamu tentang keadaanku? Memangnya kamu pernah hamil?" Tamara menyeringai dan bernada mengejek.


"Aku memang belum pernah hamil, Tamara. Tapi aku bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan. Dalam keadaan hamil, seorang wanita pasti merasa lemah dan mudah lelah."


"Hah ... sok tahu! Kalau kamu tidak pernah hamil, jangan berlagak menggurui! Aku sumpahin kamu tidak akan pernah bisa hamil selamanya!" umpat Tamara dengan sumpah serapahnya.


Yuri hanya menggelengkan kepalanya mendengar umpatan Tamara yang baginya tidak cukup beralasan. Walau Tamara memang tidak pernah menghargai dan menghormatinya, tetapi Yuri tidak sedikitpun menyimpan dendam terhadap Tamara. Dia justru dengan tulus berusaha agar bisa akur dengan madunya itu, terlebih dia tahu kalau Pandu sudah tidak mencintai Tamara lagi dan hanya memberikan kesempatan kepada Tamara untuk bersamanya dalam beberapa bulan saja.


"Hei ... untuk apa kamu masih disani, Yuri? Pergilah dan tinggalkan aku! Aku muak melihat wajahmu yang selalu berpura-pura lugu itu!" usir Tamara semakin tidak senang akan kehadiran Yuri menggusik mood-nya pagi itu.


"Aku akan pergi setelah membersihkan pecahan piring itu." Yuri tidak mempedulikan Tamara yang mencoba mengusirnya. Dengan cepat dia berjongkok dan mulai memunguti pecahan piring yang berserakan di permukaan lantai.


"Ups!"


Tanpa sengaja, tangan Yuri dan tangan Tamara meraih sebuah pecahan yang sama secara bersamaan.


"Lepaskan, Yuri! Sudah kubilang, aku tidak butuh bantuanmu!"


"Tidak apa-apa, Tamara. Biar aku yang membersihkan semua ini. Sebaiknya kamu beristirahat saja!"


Keduanya tetap sama-sama memegang pecahan piring itu, berebut tanpa ingin saling melepaskan.


"Aaww!" Tamara meringis, ketika Yuri menarik pecahan itu dari Tamara. Tanpa disengaja, sisi pecahan piring keramik yang cukup tajam itu menggores jari Tamara.


"Ah, maafkan aku, Tamara! Aku tidak sengaja." Yuri membulatkan matanya ketika melihat darah segar mulai menetes dari jari tangan Tamara yang terluka dan Tamara terus meringis merasakan perih akibat sayatan pecahan piring itu.

__ADS_1


"Tunggu disini sebentar, Tamara. Aku akan ambil kota P3K untuk mengobati lukamu." Yuri bergegas berdiri hendak mencari kotak P3K yang biasanya ada di ruang tengah.


"Aargh, tidak perlu, Yuri! Aku tahu kamu sengaja melakukan ini terhadapku, 'kan? Dan kalau seandainya kamu bisa, kamu pasti ingin membunuhku dengan pecahan piring itu, 'kan?!" bentak Tamara semakin menuduh.


"Jangan menuduhku sembarangan, Tamara! Aku sudah mencoba bersikap baik terhadapmu. Tapi, kamu sendiri tidak pernah bisa menghargai aku!" teriaknya Yuri ikut membentak.


Yuri mendengus marah mendengar kalimat tuduhan yang diucapkan oleh Tamara. Dengan sorot mata nanar, dia menatap tajam ke arah Tamara. Kalau sebelumnya dia cukup sabar menanggapi tuduhan Tamara tersebut, tetapi kali ini dia cukup dibuat merasa tersinggung.


Tanpa sadar, Tangan Yuri terangkat. Pecahan piring yang masih ada di tangannya dia tudingkan tepat di depan wajah Tamara.


"Dengar, Tamara. Asal kamu tahu, aku ini bukan Yuri yang kamu kenal dulu. Yuri yang lemah dan mudah kamu injak-injak sesuka hatimu! Jadi aku harap kamu bisa sedikit saja menghargaiku."


"Menghargaimu? Ha ... ha ... ha ... tidak akan pernah, Yuri!" Tamara tertawa miring. "Memangnya kamu siapa sehingga aku harus menghargaimu? Bagiku kamu hanya seorang janda murahan, perempuan tidak tahu malu, perebut suami orang!" celanya semakin menghina madunya tersebut.


"Jaga bicaramu, Tamara! Sekali lagi kamu menghinaku, aku akan merobek mulutmu dengan pecahan piring ini!" ancam Yuri, sangat emosi mendengar ucapan Tamara yang kian menghinanya.


"Owh ... sudah mulai berani mengancamku rupanya?!" Tamara tersenyum kecut dan ikut menatap tajam pada Yuri.


"Kalau kamu memang berani, ayo lakukan, Yuri! Ayo robek saja mulutku dengan pecahan piring itu!" tantangnya.


"Kita buktikan, mulutku atau mulutmu yang akan robek oleh pisau itu?"


Di luar dugaan Yuri, tiba-tiba Tamara bergerak dan berusaha merebut pecahan piring itu dari tangannya.


"Apa yang kamu lakukan, Tamara? Jangan coba berbuat nekat dengan pecahan piring ini! Ujungnya runcing dan pinggirannya sangat tajam. Ini sangat berbahaya!" Yuri tetap mempertahankan pecahan itu di agar Tamara tidak bisa merebut dari tangannya.


Untuk sesaat, aksi saling rebut terjadi di antara kedua wanita itu. Tamara sangat ingin merebut pecahan piring itu, sementara Yuri sekuat tenaga berusaha mempertahankannya agar benda tersebut tidak sampai berpindah ke tangan Tamara.


Entah mengapa, perang dingin yang terjadi selama ini di antara kedua istri Pandu tersebut, pagi itu tiba-tiba berubah panas.

__ADS_1


__ADS_2