Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 74. Mengabdikan Diri Untukmu


__ADS_3

Mobil yang membawa Pandu, Yuri dan juga Chia tiba di halaman rumahnya. Pandu bergegas turun dan membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Yuri, karena waku itu Chia sudah terbangun dan masih digendong oleh Yuri.


Pandu merangkul pundak Yuri dan menggiringnya untuk masuk bersama ke dalam rumah mereka.


Bersamaan dengan itu, sebuah premium hatchback terlihat berhenti di depan rumah dan seorang wanita turun dari pintu penumpang bagian belakang.


"Pak Pandu! Yuri!" teriak wanita itu menghentikan langkah Pandu dan Yuri. Keduanya langsung berbalik badan dan secara bersamaan menoleh ke arah wanita yang kini sudah berjalan masuk ke halaman rumah mereka.


Yuri menyipitkan sebelah matanya, sedangkan Pandu mengernyitkan keningnya. Keduanya tidak bisa mengenali siapa wanita yang kini tengah melangkah dengan anggun mendekati mereka.


"Nona Sisca!" Mata Pandu membulat ketika wanita itu kini sudah berada di dekat mereka.


Wanita yang tidak lain adalah Sisca Martina Hardianto itu tersenyum lebar ketika Pandu sudah bisa mengenalinya.


"Iya ini aku. Apa kalian tidak mengenaliku?" tanya Sisca sambil tersenyum menatap Pandu dan juga Yuri bergantian.


"Ya, ampun, Non ... saya benar-benar pangling, tidak bisa mengenali anda. Penampilan Non Sisca berbeda sekali sekarang." Yuri berdecak kagum. Dia yang juga sudah bisa mengenali Sisca, langsung nyerocos begitu saja memberi pujian.


Semua itu memang tidak salah, pujian itu sangat tepat disampaikan Yuri kepada Sisca. Hampir enam bulan mereka tidak pernah bertemu, perubahan besar kini terlihat dalam diri Sisca. Wanita yang sebelumnya bertubuh gempal itu dan sedikit culun itu, kini tampak sangat berbeda.


Badannya sudah jauh lebih langsing dan kulit wajahnya juga terlihat sangat glowing tanpa ada lagi jerawat. Kaca mata tebal yang biasa dipakainya, kini juga sudah tidak terlihat menghiasi wajahnya. Soft lens berwarna coklat lah yang sudah menggantikannya. Penampilan Sisca hari itu, terlihat berubah 180 derajat dari sebelumnya.


"Jangan memujiku, Yuri." Sisca menggeleng dan tersipu malu. Namun, sesungguhnya dia sangat percaya diri.


Setelah perceraian dengan Hans dan mantan suaminya itu mendekam di penjara, Sisca memang bertekad memperbaiki penampilannya. Berbagai upaya dia lakukan untuk membuang kebiasaan-kebiasaan buruknya dan memulai pola hidup sehat. Diet super ketat dipandu oleh pakar-pakar nutrisi terbaik, rutin berolahraga dan perawatan-perawatan kulit mahal lainnya dia jalani dengan teratur, sehingga dalam waktu beberapa bulan saja, dia bisa dengan mudah mengubah penampilannya menjadi jauh lebih baik.


"Saya tidak sedang memuji, Nona. Kenyataannya sekarang penampilan anda sangat berbeda, jauh lebih cantik dari sebelumnya," sanjung Yuri tidak bisa menyembunyikan kekagumannya dan Sisca tetap hanya tersenyum manis menanggapinya.

__ADS_1


"Ahh, kamu terlalu berlebihan, Yuri. Sebenarnya kamu yang sekarang lebih cantik dan makin keibuan setelah menikah dengan Pak Pandu," balas Sisca tak mau kalah, ikut memuji Yuri.


"Eheemm!" Pandu menyela dengan dehemannya. "Apa kalian berdua akan terus saling memuji saja?" ujarnya, menghentikan Sisca dan istrinya yang terus saja sibuk saling memuji.


"Ahh iya, aku sampai lupa." Yuri menepuk keningnya. "Mari masuk, Nona Sisca," tawarnya, mengajak Sisca ikut masuk ke dalam rumahnya.


"Silahkan duduk dan silahkan kalian berdua ngobrol dulu. Aku mau bawa Chia ke kamar." Pandu mengambil alih Chia dari gendongan Yuri dan memberi kesempatan agar Yuri dan Sisca bisa berbincang berdua di ruang tamu.


"Sebentar ya, Non Sisca. Saya buatkan minum dulu," ucap Yuri menawarkan minuman untuk tamunya itu.


"Hmm ... tidak usah repot-repot, Yuri. Aku kesini sebentar saja. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu sama kamu." Sisca menolak tawaran Yuri dengan cara halus.


"Sesuatu apa, Non?" tanya Yuri penasaran sambil ikut duduk di kursi ruang tamu di hadapan Sisca.


"Jadi begini, Yuri ... " Sisca mulai terlihat serius dengan apa yang akan dia sampaikan kepada Yuri.


"Hah ... jabatan penting?" Yuri terperangah. "Jangan bercanda, Non. Nona Sisca kan tahu sendiri kalau saya hanya orang yang berpendidikan reandah. Mana mungkin saya bisa mendapat kedudukan penting di perusahaan terkemuka milik anda?" tampik Yuri tidak ingin menanggapi ajakan Sisca terlalu serius.


"Latar belakang pendidikan tidak terlalu penting, Yuri. Aku hanya membutuhkan orang yang benar-benar ingin bekerja, rajin dan jujur. Aku rasa semua hal itu ada di diri kamu, Yuri. Kalau alasannya adalah pendidikan, perusahaanku selalu menyediakan banyak training dan kesempatan untuk memperluas ilmu bisnis bagi semua karyawan. Sambil bekerja, kamu juga bisa mengikuti semua pelatihan-pelatihan itu. Bahkan kalau kamu mau, perusahaan bisa membiayai untuk kamu kuliah lagi hingga mendapat gelar sarjana."


Sisca berceloteh, meyakinkan keinginannya untuk mengajak Yuri kembali bekerja di salah satu perusahaan milik Hardianto tersebut.


"Dan untuk urusan gaji, aku bisa membayar berapapun yang kamu minta, Yuri," sambung Sisca lagi, semakin menekankan harapannya kepada Yuri.


Yuri seketika terdiam mendengar semua yang Sisca utarakan kepadanya. Dalam hatinya, dia sangat tergiur dengan tawaran itu. Bisa bekerja di kantoran, apalagi mendapat posisi yang sangat bergengsi, pastilah menjadi impian semua orang. Namun, di saat yang sama dia juga teringat akan sebuah petuah yang baru saja Pandu sampaikan tentang Tamara kepadanya. Semua hal yang suaminya itu tidak sukai dari seorang istri, secara tidak langsung sudah Pandu utarakan kepadanya.


"Bagaimana, Yuri? Apa kamu mau bekerja lagi di perusahaanku?" Sisca mengulang lagi pertanyaannya, ketika menyadari Yuri hanya bungkam, tidak menanggapi ajakannya.

__ADS_1


Yuri menghela nafas dalam dan hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Sisca.


"Sebelumnya, saya ucapkan banyak terima kasih karena Non Sisca berani mempercayakan pekerjaan seperti itu kepada saya. Tapi ... mohon maaf sekali, untuk saat ini saya belum bisa menerima tawaran dari Nona. Saya lebih memilih untuk fokus mengurus suami dan rumah tangga," tolak Yuri, dengan mengungkapkan semua alasannya.


Sisca mendengus pelan mendengar jawaban Yuri. Namun, ada sebuah senyum yang terulas di bibirnya.


"Sangat disayangkan, Yuri. Kamu menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan padamu," ucapnya dengan nada datar. Ada rasa kecewa yang dirasakan Sisca karena Yuri menolak tawarannya. Akan tetapi, di dalam hatinya dia sangat mengagumi kesediaan Yuri untuk mengabdikan dirinya seutuhnya untuk suami dan keluarganya.


"Kalau itu alasan kamu, aku tidak bisa memaksamu, Yuri. Tapi aku ingatkan sama kamu, kapanpun kamu membutuhkan pekerjaan itu lagi, kamu bisa datang padaku dan dengan senang hati aku akan menerimamu," pungkas Sisca, tidak ingin memaksa Yuri untuk menuruti keinginannya.


****


Malam sudah larut ketika Pandu dan Yuri sama-sama merebahkan tubuhnya di atas peraduan mereka. Tidak banyak suara yang terdengar dari keduanya. Tidur dengan posisi menengadah, mereka berdua hanya fokus menatap langit-langit kamarnya, dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Setelah kedatangan Sisca di rumahnya pagi itu, Yuri lebih banyak murung sendiri. Meski dengan tegas dia sudah menolak tawaran Sisca, sejatinya dia sangat menginginkan pekerjaan itu. Kesempatan tidak datang dua kali. Walau Sisca menyanggupi akan tetap menerimanya kapan saja dia berubah pikiran, tetapi semua itu tidak bisa meyakinkan Yuri, kalau dia bisa mendapat tawaran yang sama untuk kedua kalinya di kemudian hari.


"Kamu kenapa, Sayang? Aku perhatikan kamu kebanyakan melamun hari ini. Apa kamu masih memikirkan tawaran Nona Sisca tadi pagi?" Menyadari sikap tidak biasa istrinya, Pandu berbalik posisi dan menghadap ke arah istrinya sambil mencoba membuka percakapan pillow talk mereka.


"Tawaran yang diberikan Nona Sisca sangat mengiurkan, Mas. Itu kesempatan langka. Tidak semua orang bisa mendapat tawaran semacam itu," jawab Yuri jujur.


"Tapi, seberapa menarik tawaran itu, aku tetap tidak akan menerimanya. Bagiku, kamu dan keluarga kita jauh lebih penting. Aku tidak akan mengorbankan tanggung jawabku hanya untuk memikirkan kepentinganku sendiri." Yuri menyambung jawabannya dengan memberikan penjelasan.


"Aku tidak akan pernah melarang kalau kamu ingin bekerja lagi, Sayang. Aku juga tidak akan pernah membatasi kalau kamu ingin menjadi seorang wanita karir. Tapi, yang selalu aku tekankan hanya satu. Aku hanya tidak mau istriku mengabaikan keluarga hanya demi pekerjaan. Kamu paham maksudku, bukan?"


"Aku paham, Mas. Karena itulah, aku memutuskan untuk tidak menerima tawaran itu. Aku sudah mempertimbangkan semuanya dan aku tetap memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Aku ingin mengabdikan hidupku sepenuhnya untuk kamu, Chia dan juga calon anak-anak kita kelak."


Senyum Pandu makin mengembang mendengar ucapan tulus Yuri. "Terima kasih banyak, Sayang. Kamu benar-benar wanita terbaik untukku. Aku sangat beruntung memiliki seorang istri yang sangat cantik dan berhati besar sepertimu," puji Pandu sambil mengangkat kepala Yuri dan membawanya ke dalam dekapannya.

__ADS_1


__ADS_2