
Tangan Sisca bergerak mengangkat wajah Hans yang masih tertunduk, lalu menatapnya dengan penuh angkara murka.
"Laki-laki pembohong! Penipu!"
Plaakk!
Sebuah tamparan keras dari tangan Sisca mendarat begitu saja di pipi Hans.
"Aargh!" Hans meringis, tetapi dia segera memalingkan wajahnya, memberanikan diri menatap Sisca yang terlihat sangat marah.
"Sisca, Sayang. Semua ini salah paham. Aku tidak pernah berbohong, apalagi menipu kamu. Aku tulus cinta sama kamu, Sayang." Hans merayu, mencoba mengelak dan membela diri.
"Salah paham?" Bibir Sisca tersenyum sinis. "Aku sudah punya banyak bukti tentang kejahatan dan pengkhianatan kamu, Mas Hans. Kamu tidak perlu mengelak lagi, karena aku tidak akan pernah percaya dengan semua omong kosongmu! Dan mulai detik ini, aku tidak akan pernah lagi percaya sama kamu. Aku akan mengirimmu ke penjara untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu, Mas!" pekik Sisca dengan suara bergetar dan genangan air mata di ujung matanya. Emosi dan benci sudah tidak sanggup untuk dia sembunyikan lagi.
"Aku mohon, jangan tuntut aku! Jangan masukkan aku ke penjara, Sayang. Semua tuduhan itu tidak beralasan, Sayang." Hans masih terus berusaha membela diri dan meyakinkan Sisca.
"Tidak beralasan? Ha ha ha ... " Sisca tergelak penuh ejekan.
"Apa perselingkuhan kamu dengan Tamara tidak cukup beralasan? Kamu dan wanita matre itu bahkan berencana untuk menguasai semua kekayaan Hardianto, agar kalian berdua bisa hidup senang di atas penderitaan orang lain?" cibir Sisca dengan menyeringai tajam.
"Tamara itu bukan siapa-siapa bagiku, Sisca. Dia lah yang selama ini selalu menggodaku, karena dia berharap bisa menarik keuntungan dari aku, untuk keperluan pribadinya." Hans kembali berupaya membela diri, walau dengan memberi alasan yang terdengar sangat konyol.
"Dasar laki-laki brengsek!" Pandu yang sedari tadi ada bersama Sisca, langsung ikut mendekat dan dengan sangat cepat mencengkram kerah kemeja Hans serta menatapnya dengan sorot mata teramat gusar.
"Kau dan Tamara sama saja! Kalian berdua manusia laknat! Pengkhianat!"
__ADS_1
Buugh!
"Aaarrghh!"
Tangan kanan Pandu yang sudah sedari sebelumnya mengepal kuat itu, langsung meninju bagian perut Hans dengan sangat keras, sehingga Hans seketika membungkuk merasakan sakit akibat pukulan tersebut.
Pandu menatap tajam ke arah Hans dan tangannya juga masih mengepal. Ingin sekali dia menghajar pria di hadapannya itu lagi. Kekesalan dan amarah juga seakan sudah naik sampai di ubun-ubunnya.
"Tenang, Pak. Jangan main hakim sendiri! Anda tidak boleh memukulnya lagi. Biarkan kami yang memprosesnya nanti di kantor." Seorang petugas di sana, segera menarik pundak Pandu, mencegahnya memukul Hans lagi.
Dua orang polisi yang masih memegangi lengan Hans, langsung menggiringnya menuju mobil polisi.
"Sisca, aku mohon jangan tuntut aku, aku tidak bersalah. Aku tidak mau masuk penjara. Aku cinta sama kamu, Sisca!" Meski polisi sudah menggiringnya menjauh, tetapi Hans tetap berteriak, memelas dan memohon kepada Sisca.
Orang-orang semakin banyak datang berkerumun ke tempat itu untuk menyaksikan kejadian tersebut. Banyak yang mengambil gambar ketika Hans digiring dan dibawa masuk ke dalam mobil polisi. Kasus yang menimpa menantu Hardianto itu, pastilah akan menjadi perbincangan hangat di kalangan publik.
Keinginan Sisca untuk mempermalukan suaminya itu, kini sudah terwujud.
"Pak Pandu!"
Di saat yang sama, dari kerumunan polisi yang lain, terdengar sebuah suara memekik memanggil nama Pandu.
Pandu segera menoleh dan melihat seorang wanita berlari kecil ke arahnya.
"Yuri!" Pandu langsung mendekap erat tubuh wanita yang langsung berhambr ke pelukannya itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan? Aku sangat mencemaskanmu. Apa Hans menyakitimu?" Pandu mengusap dan menatap wajah wanita yang dari semula sangat dikhawatirkannya itu.
"Alhamdulillah, saya tidak kenapa-napa, Pak Pandu. Pak Hans dan anak buahnya memang sudah menculik saya dan berusaha melenyapkan saya karena takut rahasianya terbongkar. Tapi syukurlah polisi sudah lebih dulu berhasil menangkapnya." Air mata haru menggenang di mata Yuri. Dia sempat merasa sangat ketakutan akibat Hans selalu mengancam akan melenyapkannya. Akan tetapi, semua ketakutan itu kini sudah sirna, setelah polisi berhasil menangkap Hans.
"Syukurlah! Aku sangat mengkhawatirkan keselamatanmu. Aku tidak berani membayangkan kalau Hans sampai nekat menyakitimu." Pandu kembali memeluk Yuri dengan sangat erat. Berbagai perasaan bergejolak dalam hatinya.
Sisca mengerutkan keningnya melihat kedekatan Pandu dan Yuri. "Eehheemm!" dehemnya, yang untuk sejenak mampu membuyarkan suasana haru di antara Pandu dan Yuri.
"Maaf, Pak Pandu. Kita harus segera kembali ke kota. Saya yakin polisi juga pasti masih membutuhkan keterangan kita dan juga Yuri sebagai saksi dalam kasus ini," sela Sisca. Meski hatinya mulai menerka-nerka tentang hubungan Pandu dan Yuri, tetapi dia tidak ingin bertanya. Semua itu tidak ada urusan dan tidak penting baginya. Yang dia inginkan hanyalah, mempermalukan Hans dan juga Tamara di depan banyak orang.
"Ah, iya. Anda benar, Nona. Kita juga harus ikut ke kantor polisi, karena kita yang membuat tuntutan penangkapan Hans." Pandu mengangguk. Sambil merangkul pundak Yuri dan ikut menyusul Sisca, masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil sport milik Susca itu, kini hanya ada Sisca, Pandu, Yuri serta satu orang pengawal Sisca yang juga selaku sopir. Salah seorang pengawalnya yang lain, ia beri tugas untuk membawa mobil Hans kembali ke kota.
"Menurut anda, apa sudah Tamara tahu akan kejadian hari ini?" Sisca bertanya kepada Pandu yang duduk di kursi penumpang bagian depan.
"Tanpa kita beritahu pun, saya rasa dia akan segera mengetahuinya. Berita di sosial media pasti akan menyebar dengan cepat," terang Pandu sangat yakin.
"Kasihan sekali dia! Aku tidak sabar ingin melihat ekspresinya ketika nanti Tamara mengetahui kalau Mas Hans sudah masuk penjara!" ucap Sisca sinis dan penuh dendam.
"Atas nama Tamara, izinkan saya mohon maaf kepada anda, Nona Sisca. Saya benar-benar malu. Tamara sudah mencoreng muka saya dengan berselingkuh dan berbuat curang bersama suami Nona. Saya juga tidak akan pernah bisa memaafkannya. Setelah semua ini selesai, saya akan segera menceraikannya! Biar saja dia menikmati karma dari semua perbuatan kotornya!" sengit Pandu, merasakan kebencian yang sama seperti yang dirasakan Sisca.
Yuri hanya terdiam tanpa berani menimpali semua perbincangan Pandu dan Sisca. Dia sadar, karena dirinyalah, semua perbuatan Hans dan Tamara bisa terbongkar.
Mobil yang membawa mereka ke kota mulai melesat cepat, beriringan dengan mobil polisi yang membawa Hans. Butuh waktu sekitar dua jam lagi untuk mereka bisa sampai di kota.
__ADS_1