Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 51. Kontak Hati


__ADS_3

Waktu sudah hampir tengah malam. Rumah kediaman Pandu sudah tampak sepi, lampu-lampu sudah padam, pertanda penghuni rumah itu juga sudah lelap dalam tidurnya.


Di dalam kamar utama di rumah itu, Pandu berbaring memunggungi Tamara yang juga sudah tidur di sebelahnya. Meski sudah berulang kali Pandu berusaha untuk menutup mata, tetapi entah bagaimana, rasa kantuk tak kunjung menghampirinya.


"Badanku lelah sekali, tapi kenapa aku tidak bisa tidur?" Pandu menggumam sendiri. Semakin larut malam, justru matanya semakin tidak bisa terpejam.


"Yuri ... kenapa aku selalu teringat akan dia?" Pandu mengusap wajahnya dan berbalik badan, mengganti posisi menengadah, menatap langit-langit kamarnya.


"Aku benar-benar sudah jatuh cinta pada Yuri. Mungkin itu sebabnya, aku terus kepikiran tentang dia." Walau ada sekilas firasat kurang nyaman, tetapi Pandu mencoba mengalihkan pikirannya.


Pandu melirik pada Tamara yang sudah tertidur pulas memunggunginya.


"Maafkan aku, Tamara. Cintaku sekarang sudah terbagi. Separuh hatiku sudah jadi milik Yuri. Dan kamu lah yang sudah memberi peluang aku membuka ruang di hatiku untuk wanita lain." Pandu membatin.


Meski sadar telah melakukan sebuah kesalahan dengan menjalin hubungan terlarang dengan Yuri, tetapi Pandu juga tidak paham akan perasaannya sendiri. Seakan tidak ada rasa bersalah ataupun menyesal yang dia rasakan terhadap istrinya, kendati jelas-jelas dia sudah berselingkuh dengan wanita mantan baby sitternya itu.


"Tamara dan Yuri sangat berbeda, keduanya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tapi Yuri ... " Sebuah senyum terbias di bibir Pandu. "Yuri adalah tipe istri idamanku. Dia sangat perhatian, lemah lembut dan juga penyayang. Berbeda dengan Tamara yang selalu bersikap egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Aku harus mengakui kalau saat ini aku lebih mencintai Yuri dari pada Tamara. Yuri juga adalah sosok seorang ibu yang sangat ideal untuk Chia." Sebuah senyum tak pernah lepas dari bibir Pandu, kala teringat akan wanita yang akan segera ia nikahi secara siri tersebut.


"Aahh, Yuri. Kenapa hanya dia yang ada di pikiranku? Apakah aku sudah sangat rindu kepadanya lagi, atau ini pertanda firasat lain?" Lagi-lagi Pandu mengusap wajahnya. Ada perasaan yang berbeda seakan memenuhi pikirannya.


Tanpa Pandu sadari, perasaan tidak biasa itu membuat dia ingin beranjak dari tempat tidurnya. Pandu mengambil tas ransel yang setiap hari ia bawa bekerja, lalu mencari ponselnya di sana. Dia teringat kalau sepulang dari rumah kontrakan Yuri, dia belum sempat memeriksa ponselnya sama sekali.

__ADS_1


Seolah ada kontak batin yang mendorongnya untuk segera membuka ponsel miliknya. Saat itu juga dia merasa begitu ingin menghubungi Yuri walau hanya melalui sebuah pesan singkat.


Pandu sontak mengerutkan keningnya. Di layar ponsel itu, dia melihat banyak panggilan tidak terjawab dari nomor Yuri.


"Apa yang terjadi dengan Yuri? Kenapa dia menelponku hingga beberapa kali?" Pikiran Pandu mulai tidak tenang. Dia merasa apa yang menjadi beban pikirannya sedari tadi, adalah sebuah firasat tidak baik.


"Aku harus menelpon Yuri!" gumam Pandu.


Tidak ingin Tamara terbangun dan mendengarnya, Pandu bergegas keluar dari kamar dan menuju ruang tengah. Dari sana dia mulai menghubungi nomor ponsel Yuri. Beberapa kali Pandu menekan nomor Yuri dan mencoba menghubunginya, tetapi tidak terdengar ada jawaban.


"Ponsel Yuri aktif, tapi kenapa dia tidak menjawab panggilanku?" Hati Pandu semakin dipenuhi rasa khawatir.


Pandu terus mengulang, mencoba menghubungi Yuri kembali, tetapi tetap sama saja. Tidak ada jawaban walau ponsel itu berdering dan panggilan tersambung.


"Aku harus menemui Yuri di rumahnya. Aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan terhadapnya." Pandu teringat, Yuri beberapa kali pernah mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya. Takut terjadi hal yang sama, Pandu merasa harus kembali ke rumah Yuri malam itu juga, tidak ingin sesuatu yang tidak baik kembali menimpa calon istri keduanya tersebut.


Tak ingin menunggu lama, Pandu lalu segera masuk ke kamarnya dan berganti pakaian.


"Mau pergi kemana lagi kamu malam-malam begini, Mas?"


Karena silau oleh terangnya cahaya lampu yang dinyalakan oleh Pandu di kamarnya, tiba-tiba Tamara terbangun dan sangat terkejut melihat suaminya seperti akan pergi lagi, keluar dari rumahnya.

__ADS_1


"Aku harus keluar sebentar, ada urusan penting," sahut Pandu singkat, tidak terlalu peduli dengan istrinya.


"Tolong jaga Chia. Aku pasti akan segera pulang." Pandu melebarkan langkahnya untuk segera keluar dari kamar itu.


"Tunggu, Mas! Katakan dulu, kamu akan kemana?" Dengan cepat Tamara bangun dari atas tempat tidur dan menghadang langkah Pandu.


"Tidak penting kamu menanyakan aku akan pergi kemana. Memangnya selama ini kamu pernah peduli aku ada dimana dan ngapain aja!" hardik Pandu ketus, sambil terus melangkah keluar dari rumahnya, tanpa memperdulikan Tamara yang terus berusaha menanyakan dia akan kemana.


"Mau pergi kemana lagi Mas Pandu sudah malam begini? Tidak biasanya dia seperti ini?" gerutu Tamara, bertanya-tanya dalam hatinya. Namun, dia tidak berani menahan Pandu lagi, karena dia sadar selama ini dia juga sering pergi tanpa izin dan persetujuan suaminya.


Jalanan kota sudah mulai lengang dan Pandu bisa memacu mobilnya dengan cepat menuju rumah Yuri.


"Yuri! Buka pintunya, Sayang."


Di depan pintu rumah kontrakan Yuri, Pandu terus mengetuk pintu dan memanggil nama Yuri. Kondisi luar rumah itu, terlihat masih sama seperti sewaktu dia tinggalkan. Tidak ada yang terlihat mencurigakan di sana.


Berkali-kali Pandu mengetuk pintu utama rumah itu, tetapi tetap tidak ada jawaban dari dalam sana. Semua itu membuat perasaan cemas semakin menghantuinya. Tangan Pandu bergerak begitu saja memutar gagang pintu. Pandu terperanjat dan semakin terkejut, ternyata pintu tidak terkunci, sehingga Pandu bisa bergegas masuk.


"Oh, Tuhan! Apa yang sudah terjadi disini?" Mata Pandu terbelalak lebar, ketika melihat ruang tamu berantakan. Banyak barang-barang terjatuh dan berserakan di lantai ruangan.


"Yuri ... kamu dimana?" Pandu memeriksa dapur dan menelisik semua ruangan di rumah itu mencari keberadaan Yuri. Kecemasan semakin tidak dapat ia sembunyikan. Pada saat Pandu masuk ke kamar Yuri, rasa kalut dan juga khawatir benar-benar sudah membuat tangan dan kakinya gemetar tidak menentu. Kamar itu terlihat sangat berantakan dan Yuri juga tidak ada di sana.

__ADS_1


"Yuri ... apa yang terjadi dengannya? Siapa yang sudah melakukan semua ini?" Pandu sangat kebingungan. Bahkan di saat kepanikan menguasai dirinya, dia tidak mampu lagi berpikir apa yang bisa dia lakukan, setelah mengetahui Yuri tidak ada di rumahnya. Sudah pasti, Yuri sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Apa mungkin tadi Yuri menghubungiku untuk minta pertolongan? Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Yuri diculik? Siapa pelakunya dan untuk apa dia melakukan semua ini terhadap Yuri? Apa ini ada hubungannya dengan rencanaku untuk menikah dengannya?" Berjuta pertanyaan muncul begitu saja di benak Pandu dan dia tidak tahu kemana akan mencari jawaban atas semua pertanyaan tersebut.


__ADS_2