Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 55. Kegelisahan Tamara


__ADS_3

Ayam mulai berkokok dan burung-burung berkicau terdengar saling bersahutan. Rona kuning menghiasi langit di ufuk timur. Sang surya mulai menampakkan diri, pertanda malam yang panjang sudah tergantikan oleh sejuknya hembusan angin fajar.


Di dalam kamarnya, Tamara menggeliat dan memaksakan diri untuk membuka matanya yang masih terasa berat. Tamara menyingkap selimut sambil mengucek mata. Lampu di kamar itu masih menyala terang, semenjak tadi malam Pandu meninggalkan Tamara sendiri di kamarnya tersebut.


"Uaahhem!" Tamara menguap panjang dan menutup mulutnya.


"Ahh, aku ketiduran juga. Setelah Mas Pandu keluar aku tidak bisa tidur. Dan sekarang badanku rasanya lemas sekali." Gumaman itu terdengar lirih dari mulutnya. Hampir semalaman setelah Pandu pergi, dia tidak bisa lagi memejamkan mata. Kemana Pandu pergi dan untuk apa, menjadi sesuatu yang teramat membebani pikirannya. Terlebih, hingga pagi itu, Pandu belum juga kembali pulang.


"Mas Pandu belum pulang juga. Entah pergi kemana dia? Tidak biasanya dia seperti ini?" Pikiran Tamara sangat kacau. Dia bahkan tidak berani berpikir macam-macam terhadap suaminya, karena dia merasa dirinya sendiri juga sering berbuat macam-macam di belakang suaminya.


Tamara beranjak dari atas ranjang sambil memijat keningnya.


"Aduh, kenapa kepalaku pusing begini?" Pandangan Tamara sedikit berkunang dan kepalanya juga terasa berat. Dengan langkah terhuyung, dia melangkah menuju kamar mandi.


"Uueekk! Uueekk!"


Di depan wastafel, Tamara memuntahkan isi perutnya dan wajahnya terlihat pucat. Tamara memandangi bayangannya di depan cermin dan entah mengapa, tiba-tiba ada bias kekhawatiran terlukis di sana.


"Kenapa kepalaku pusing dan mual begini?" Seketika sebuah firasat buruk melintas di kepalanya.


Tamara bergegas kembali keluar dari kamar mandi. Dengan cepat tangannya meraih kalender meja yang ada di atas meja riasnya dan memeriksa sebuah tanda silang merah yang ia coretkan pada satu tanggal di bulan sebelumnya.


"Oh, Tuhan! Aku sudah tidak datang bulan selama dua minggu. Jangan-jangan aku ... " Tamara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.

__ADS_1


"Tidak ... tidak! Aku tidak mungkin hamil. Kalau itu terjadi, bagaimana aku menjelaskannya kepada Mas Pandu. Sudah hampir dua bulan, aku dan Mas Pandu tidak pernah melakukan hubungan suami istri." Tamara menggelengkan kepalanya. Dia sangat takut apa yang dikhawatirkannya akan terjadi.


Selain itu, dia juga ingat selama ini dia selalu menolak memberi nafkah batin untuk suaminya, hingga Pandu merasa bosan terus meminta. Sudah dua bulan semenjak kehadiran Hans di antara mereka, Tamara tidak pernah melayani suaminya. Apabila dia benar-benar hamil, sudah pasti itu bukan benih dari Pandu, melainkan dari hasil hubungan terlarangnya bersama pria selingkuhannya.


"Hah, tidak! Kalau aku benar-benar hamil, aku harus cari cara agar Mas Pandu mengakui ini adalah anaknya." Kekhawatiran semakin merajam di hati Tamara.


Dia lalu meraih ponsel miliknya yang masih tertinggal di sebelah bantal tempat tidurnya dan kembali mencoba menghubungi Pandu.


"Duh ... Mas Pandu kemana belum pulang juga? Dari semalam ponselnya juga tidak aktif." Pikiran Tamara semakin tidak menentu. Sangat gelisah dengan semua yang dialaminya pagi itu.


Belum juga dia mampu meredam segala kegundahannya, Tamara kembali tersentak. Dari kamar sebelah, dia mendengar tangis Chia melengking sangat keras.


"Aahh, Chia sudah bangun. Biasanya tiap pagi Mas Pandu yang mengurusnya. Sekarang Mas Pandu nggak ada, bagaimana aku akan menangani semua pekerjaan rumah sendiri? Sedangkan aku juga harus berangkat ke kantor." Tamara menjadi semakin bingung, tidak tahu pekerjaan apa yang harus ia kerjakan terlebih dahulu.


Bergegas dia melangkahkan kakinya dan masuk ke kamar sebelah.


"Chia Sayang, kamu sudah bangun. Ayo sini sama mama!" Tamara menjulurkan tangannya dan mengangkat tubuh mungil bayi yang sudah berusia sembilan bulan itu ke dalam gendongannya.


"Papaaa ... papaaa!" Walau sudah digendong oleh mamanya, Chia masih terus menangis dan tetap menyebut nama papanya. Selama ini bayi itu memang lebih dekat dengan Pandu daripada Tamara.


"Cup, Sayang. Jangan nangis lagi. Chia sekarang sama mama ya." Tamara mengusap kepala putrinya lalu membaringkan di atas tempat tidur untuk mengganti diapers-nya.


"Aku harus membawa Chia ke daycare lebih pagi. Setelah itu baru aku bisa bersiap untuk pergi ke kantor."

__ADS_1


Tamara bergegas mempersiapkan tas perlengkapan untuk Chia serta membuatkan sebotol susu. Setelah dia sendiri mengganti pakaiannya, Tamara kemudian membawa Chia masuk ke dalam mobil, hendak pergi ke daycare dimana Chia pernah dititip sebelumnya.


Tiba di daycare, Tamara segera menggendong Chia, membawanya masuk. Namun, tiba-tiba saja Chia menangis histeris. Bayi itu tidak mau diambil alih oleh pengasuh di sana. Chia semakin merapatkan tubuhnya di gendongan Tamara dan memeluk leher Tamara dengan sangat erat, tidak ingin Tamara meninggalkannya di tempat penitipan anak tersebut.


"Maaf, Ibu. Apa bayi Ibu pertama kali dititip disini?"


Tamara tersentak kaget mendengar pertanyaan pengasuh di daycare tersebut.


"Maksud Miss, apa? Anak saya setiap hari dititip disini. Kenapa Miss bilang ini baru pertama kali?" Tamara menatap heran kepada pengasuh itu.


"Saya tidak pernah melihat anak Ibu disini." Pengasuh itu juga terlihat sama herannya dengan Tamara.


"Oh iya, saya ingat. Beberapa bulan yang lalu, anak Ibu memang sempat didaftarkan dan sudah pernah dititip disini beberapa kali. Tapi sudah beberapa bulan terakhir, anak ini tidak pernah lagi dititip. Saya pikir, Ibu sudah punya baby sitter baru." Seorang pengasuh yang lain menyela dan ikut menimpali.


"Kalau selama ini Mas Pandu tidak pernah titip Chia di daycare ini ... lalu kemana Mas Pandu membawanya? Seandainya dia menitipkan di daycare yang berbeda, kenapa dia tidak pernah cerita sama aku?" Pikiran Tamara kembali dilanda kebingungan, dia tersadar kalau selama ini dia tidak mengetahui dan kurang peduli terhadap putrinya. Dia juga tidak sedikit pun punya gambaran kemana Pandu menitip Chia selama ditinggal bekerja.


Karena Chia tidak mau dititip di daycare itu dan terus menangis, Tamara memutuskan untuk membawa Chia kembali pulang ke rumahnya.


Hari sudah semakin siang. Tamara juga menyadari kalau dia tidak mungkin akan berangkat ke kantornya pagi itu, karena dia sudah pasti akan tiba terlambat.


Sambil menepikan mobilnya di sisi jalan, Tamara lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Melalui sebuah pesan singkat yang ia kirim kepada Lisa, dia menitip pesan kepada sahabatnya itu, agar menyampaikan ke Mr Tim kalau hari itu dia sedang tidak enak badan dan tidak bisa masuk kerja.


"Uueekk! Uueekk!"

__ADS_1


Tamara menutup mulutnya dan mengusap dadanya. Rasa mual itu kembali terasa dan kian mengganggunya.


"Oohh, mual sekali rasanya. Apakah aku benar-benar hamil? Bagaimana ini? Haruskah aku mengandung anak dari Hans? Apa yang akan terjadi kalau seandainya Mas Pandu tahu bahwa ini bukan anaknya?" Perasaan kalut dan hati yang begitu kacau, membuat Tamara tidak mampu berpikir. Jantungnya berdebar sangat cepat, dia mulai gelisah, takut kalau itu adalah awal dari sebuah masalah besar akan terjadi dalam hidupnya.


__ADS_2