Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 62. Kebahagiaanmu, Deritaku


__ADS_3

Sebulan berlalu setelah Pandu berhasil mengungkap perselingkuhan Tamara dan Hans. Pandu juga sudah membulatkan niatnya akan segera menikah dengan Yuri. Akan tetapi, dia tidak jadi menceraikan Tamara. Mengikuti permintaan Yuri, Pandu bersedia menunda perpisahannya dari Tamara dan memilih berpoligami, setidaknya sampai anak yang dikandung Tamara lahir.


Hari sudah cukup siang ketika Tamara duduk di ruang keluarga di rumahnya. Tangan wanita itu bergetar manakala memegang sebuah pena di tangannya. Jantungnya berdebar kencang dan tangannya terasa semakin berat, tidak sanggup untuk menggerakkan pena itu.


"Mas Pandu benar-benar tega terhadapku. Kenapa dia harus memaksaku untuk menandatangani surat ini?" Tamara mengguman kecewa. Matanya tiba-tiba berkaca, ada rasa tidak rela mengisi relung jiwanya. Namun, mau tidak mau dia tetap harus siap menandatangai sebuah surat yang menyatakan kalau dia bersedia dan suka rela mengizinkan suaminya untuk menikah lagi.


Tidak ada pilihan lain baginya, kecuali setuju saja dan menerima pernikahan kedua yang akan segera dilaksanakan oleh suaminya bersama mantan baby sitternya itu. Bagaimana mungkin dia berani menolak, karena apabila dia tidak bersedia dipoligami, maka otomatis Pandu akan menceraikannya saat itu juga.


Dengan kondisinya yang sedang hamil saat itu, pastilah dia sangat takut ditinggalkan oleh Pandu. Semua orang pasti juga akan menertawakan dan menjadikan dirinya bahan bully-an. Apalagi, kalau mereka tahu bahwa bayi yang tengah dikandungnya, bukan merupakan benih dari suaminya.


Tanpa terasa, air mata meneres juga dari kedua mata Tamara. Pria yang dulu begitu mencintainya, kini berbalik membencinya. Segala perhatian dan kasih sayang yang dulu dia dapatkan dari Pandu, kini justru berubah menjadi perlakuan dingin dan sikap acuh tak acuh, dia dapatkan dari laki-laki yang masih berstatus suaminya itu.


Semua itu tidak lain adalah karena kesalahan yang telah dia perbuat. Perselingkuhannya bersama Hans, sudah membawanya ke dalam kehancuran. Semakin hari, Pandu semakin membencinya. Dia juga tidak sedikitpun merasa kasihan, apalagi mau mengakui bahwa bayi yang tengah ia kandung adalah anaknya. Hal itu tentu membuat Tamara sangat tersiksa, terluka dan sakit hati.


"Maafkan aku, Mas Pandu. Semua ini memang salahku. Setelah semua yang terjadi, aku baru sadar kalau selama ini aku sudah menyia-nyiakan semua yang aku miliki. Aku memang sangat bodoh, karena tidak pernah bisa mensyukuri anugerah Tuhan. Aku tidak pernah bisa menghargai cintamu yang dulu begitu tulus terhadapku." Tamara merutuki dirinya sendiri. Namun, menyesali semua itu pun kini sudah terlambat. Cinta Pandu sudah berpaling tak ada lagi untuknya.


"Apa kamu sudah selesai menandatangani surat itu?"


Tamara bergegas menyeka air mata di wajahnya, pada saat mendengar Pandu masuk ke ruang tersebut dan bertanya padanya.


"Belum, Mas. Aku masih membaca semua isinya dulu," sahut Tamara sambil menghela nafas dalam-dalam, serta berusaha menelan tangisannya.

__ADS_1


"Apa lagi yang kamu perlu baca? Isi surat itu sudah jelas. Kamu tinggal tanda tangan saja!" pekik Pandu ketus dan Tamara masih hanya diam, seraya meremas kuat-kuat pena di tangannya.


"Hei ... cepat tanda tangan sekarang. Aku harus segera pergi. Jangan sampai aku terlambat sampai di bandara," perintah Pandu lagi penuh dengan penekanan kata-katanya.


Tamara perlahan mengangkat wajahnya, melirik ke arah Pandu yang terlihat sudah berpakaian rapi dan siap akan pergi. Wajahnya pun terlihat berseri-seri, seolah ada sesuatu yang begitu membuat Pandu merasa bahagia. Hari itu, Pandu bersama Yuri memang akan terbang untuk pulang ke kampung halaman Pandu, karena mereka akan melaksanakan pernikahannya di kota kelahiran Pandu tersebut.


"Baiklah, Mas. Aku akan tanda tangan sekarang." Walau dengan sangat berat, Tamara akhirnya menguatkan hatinya dan perlahan menandatangani surat pernyataan di hadapannya.


"Sudah, Mas." Tamara menyerahkan surat itu kepada Pandu dan dengan cepat, Pandu menyambarnya dari tangan Tamara.


"Mas, aku mohon sekali lagi, tolong jangan ajak Chia ikut pergi denganmu. Aku yang akan menjaganya disini," pinta Tamara, tidak ingin Pandu membawa Chia ikut pergi bersamanya.


"Justru, aku sengaja akan mengajak Chia pulang kampung bersamaku. Dia juga akan ikut menyaksikan pernikahanku dengan Yuri." Pandu menjawab masih dengan nada ketus dan acuh.


Pandu mengangkat satu ujung bibirnya mendengar kalimat yang diucapkan Tamara. "Kemana saja kamu selama ini, Tamara? Apa baru sekarang kamu ingat kalau Chia itu adalah putrimu? Kemarin-kemarin, sewaktu kamu asyik bersama Hans, apa pernah kamu peduli padanya?" cibir Pandu menyeringai tajam.


Lagi-lagi Tamara hanya bisa diam. Dia tidak berani menjawab kata-kata Pandu yang terdengar begitu menyakitkan baginya. Akan tetapi, dia juga sadar bahwa selama ini dia memang selalu mengabaikan putrinya hanya demi kesenangannya sendiri saja.


"Maaf, aku nggak punya waktu untuk membahas hal tidak penting denganmu. Aku harus segera pergi," pungkas Pandu.


Tanpa berniat menoleh lagi ke arah Tamara, Pandu bergegas melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tengah. Sambil menarik sebuah koper yang akan dia bawa pulang kampung, Pandu bergegas keluar dari rumahnya dan menuju rumah kontrakan Yuri, dimana Yuri dan juga Chia sudah menunggu di sana.

__ADS_1


Tamara hanya bisa mematung memandangi suaminya yang kini sudah memacu mobil dan meninggalkan rumah itu. Hatinya benar-benar terasa pilu, tidak sanggup menerima bahwa kini Pandu sudah sama sekali tidak memiliki perasaan terhadapnya. Jalinan cinta yang dulu begitu indah mereka jalani berdua, seakan hancur lebur, luluh lantah akibat kesalahannya sendiri.


"Maafkan aku, Mas Pandu. Seberapa pun semua ini terasa menyakitkan, aku tetap harus kuat. Aku siap menerima karma atas semua salah dan dosa yang sudah aku lakukan." Air mata berlingan semakin deras di pipi Tamara.


"Besok kamu dan Yuri akan menikah. Hari kebahagiaan kalian adalah hari paling menderita bagiku." Tamara duduk lemas di atas sofa ruang tengah. Dadanya bergemuruh, tidak sanggup membayangkan kalau saat itu Pandu tengah berbahagia di atas penderitaanya.


Tamara menyandarkan punggungnya di sofa ruang tengah dan mengusap wajahnya. Ingatannya kembali ke masa dimana dulu dia dan Pandu begitu bahagia menjalani hubungannya di awal pernikahan mereka. Ketika itu rasa cinta masih begitu dalam di hati mereka masing-masing. Dia tidak pernah menyangka, kalau semua itu akhirnya berujung kepedihan, akibat kekeliruan besar yang dia buat sendiri.


Hingga siang itu berganti sore, Tamara masih hanya duduk menangis dan meratapi nasibnya. Perlahan dia menyentuh perutnya dan air mata semakin deras membanjiri wajah kusutya. Saat itu, kandungannya sudah berusia lebih dari delapan minggu.


"Bayi ini memang bukan anak biologis Mas Pandu. Aku hanya punya waktu untuk tinggal di rumah ini sampai anak ini lahir. Setelah itu, Mas Pandu pasti akan mengusirku." Kekhawatiran tiba-tiba melintas di hati Tamara. Dia tahu, setelah bayinya lahir nanti, Pandu pasti tidak akan bersedia lagi menunda untuk bercerai darinya.


"Tidak! Mas Pandu tidak bisa mengusirku begitu saja! Rumah ini juga adalah milikku. Tidak akan aku biarkan Yuri menguasainya." Tamara menggelengkan kepalanya.


"Yuri! Janda tidak tahu malu itu sudah tega merebut semua yang aku miliki! Mas Pandu, cintanya dan juga Chia."


Tamara berdecak jengah. Seketika kebencian terhadap wanita yang sebentar lagi akan menjadi madunya kembali meledak dalam dadanya.


"Aku harus membalas semua perbuatan Yuri! Lihat saja apa yang bisa aku lakukan! Bukan aku, tapi kamu yang akan diusir dari rumah ini!" gumam Tamara jengah.


"Aku masih punya waktu sembilan bulan sebelum anak ini lahir. Selama itu, aku harus bisa melakukan sesuatu untuk menyingkirkan Yuri untuk selama-lamanya dari kehidupanku dan juga Mas Pandu. Dia tidak boleh merebut semua kebahagiaanku!" Senyum licik mengembang di wajah Tamara.

__ADS_1


Dengan kasar dia menyeka air mata di pipinya dan tatapannya terlihat mulai nanar. Kebenciannya terhadap Yuri, memunculkan berbagai pikiran jahat di kepalanya. Dia tidak rela apabila hati Pandu kini sudah dikuasai oleh Yuri.


__ADS_2