
Walau sudah menjelang sore, matahari masih sangat terik di atas kepala. Sang Surya menyinari semesta raya dengan begitu angkuh. Cuaca panas nan menyengat bercampur polusi udara yang selalu ada di setiap hembusan nafas kehidupan di kota besar, seakan tidak menyurutkan semangat orang-orang untuk tetap beraktivitas memeras keringat. Kebutuhan hidup yang kian menuntut dan mendesak, memaksa semua manusia untuk terus berjuang bertahan hidup ataupun mencapai tujuan dari hidupnya tersebut.
Suhu udara yang begitu panas seperti hari itu, memang sudah sangat akrab dengan keseharian warga kota di kala musim kemarau. Akan tetapi, di dalam sebuah kamar hotel, justru suasana yang sangat berbeda tengah dirasakan oleh dua sejoli yang sedang didera panasnya asmara. Bukan cuaca panas yang membakar di antara Hans dan Tamara, melainkan bara gairah nan membara yang selalu tak ingin mereka lewatkan ketika ada kesempatan berdua.
Di dalam ruangan sejuk berpendingin udara itu, keduanya terlihat sangat menikmati hangatnya pergumulan mereka. Ketika nafsu setan tengah melanda, tidak peduli kapan dan jam berapapun, setiap kali mendapat kesempatan, pastilah Tamara dan Hans tidak ingin melewatkannya tanpa memadu hasrat.
"Aaahh ... Hans, aku sangat lelah. Apa boleh kita beristirahat di sini beberapa jam lagi?" bisik Tamara sambil berbaring di sebelah Hans dan keringat masih tampak membasahi sekujur tubuh polosnya.
"Tentu saja, Sayang. Tapi, apa kamu masih punya cukup waktu? Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang, kalau kamu harus segera kembali ke kantor, karena akan ada meeting dengan Mr Tim?" Hans mengusap kening Tamara yang juga basah oleh keringat dan membelai rambut panjang wanita yang baru saja memberinya kenikmatan dan kepuasan duniawi tersebut.
"Aaah, aku nggak peduli lah, Hans! Aku malas buru-buru balik ke kantor. Aku akan cari alasan untuk meyakinkan Mr Tim, kalau project yang sedang kita kerjakan bersama sekarang ini, jauh lebih penting dari meeting tak berguna itu," sahut Tamara dengan entengnya.
"Hmm ... terserah kamu saja, Sayang. Makin lama kamu bisa menemaniku di sini, aku akan semakin senang," balas Hans dengan senyum girangnya. Bisa berlama-lama dengan wanita sang pujaan hati, pastilah sangat menyenangkan baginya, karena dia akan punya kesempatan untuk bisa menikmati lagi tubuh indah wanita candunya itu.
"Hans, apa aku boleh tanya sesuatu?" bisik Tamara dengan manja, sambil merebahkan kepalanya di dada Hans. Jari-jarinya yang lentik itu pun kembali bermain nakal di area dada dan perut pria gagah yang berbaring tanpa busana, menengadah di sebelahnya.
"Apa, Sayang?" Hans juga ikut melingkarkan kedua tangannya di tubuh Tamara, yang mulai terasa dingin, akibat basah oleh peluhnya.
"Hans, apa kamu tidak ingin hubungan kita lebih dari pada sekedar hubungan rahasia dan sembunyi-sembunyi seperti ini?"
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Sayang?" Hans tampak kebingungan.
"Apa kamu tidak ingin, aku yang jadi pendamping hidupmu untuk selama-lamanya?"
Hans mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Tamara dan masih terlihat belum memahami maksudnya.
"Mmm ... jadi gini! Maksud aku ... apa kamu tidak ingin berpisah dari Sisca dan menjadikan aku istri sah kamu, Hans?" ungkap Tamara memperjelas arah pertanyaan yang dia ajukan.
"Dulu kamu yang menyuruhku jangan pernah menyatakan kata cinta dalam hubungan kita, karena semua ini hanya hubungan rahasia. Tapi mengapa sekarang kamu justru menanyakan hal ini kepadaku?" Hans bertanya seolah masih tidak bisa percaya mendengar keinginan Tamara yang tak pernah dia sangka sebelumnya.
"Iya, Hans. Awalnya aku memang merasa cukup hubungan kita seperti ini saja. Tapi makin kesini, hubunganku dengan Mas Pandu semakin tidak harmonis. Sejujurnya, aku lebih sayang sama kamu dari pada dia, Hans."
Hans menghela nafas dalam-dalam dan tersenyum penuh makna. Baru kali ini dia mendengar ucapan Tamara yang sepertinya begitu jujur.
"Aku sangat yakin pasti bisa, Hans. Setelah pertemuan kita lagi, aku rasa ... aku sudah jatuh cinta padamu dan aku juga sudah tidak mencintai Mas Pandu lagi. Kalau soal Chia ... aku juga akan merelakan hak asuh atas anak itu jatuh ke tangan Mas Pandu, apabila kami berpisah nanti. Anak itu hanya akan jadi beban saja dalam hidupku!" ucap Tamara dengan seringai kesombongannya.
Hans tersenyum penuh kemenangan. Keinginan terbesarnya yaitu merebut Tamara dari pelukan Pandu, hanya tinggal selangkah lagi.
"Iya, Sayang. Tapi untuk saat ini kamu harus bersabar ya! Karena, aku tidak akan semudah itu melepaskan Sisca," sahut Hans sambil kembali mengusap kepala Tamara dengan mesra, dan mengecup keningnya.
__ADS_1
"Kamu bilang kalau kamu tidak pernah mencintai Sisca kan, Hans! Lalu apa susahnya kamu meninggalkan wanita gendut dan culun itu?" cibir Tamara, memberi ujaran menghina dan merendahkan. Tentu saja secara fisik dia merasa menang banyak dibandingkan seorang wanita rendah diri seperti Sisca Martina yang selalu berpenampilan bersahaja.
"Aku masih membutuhkan hartanya, Tamara. Walau aku tidak pernah mencintai Sisca, tapi aku membutuhkan uangnya. Kalau bukan karena menikah dengannya, aku tidak akan pernah bisa menikmati semua kekuasaan dan kemewahan seperti sekarang!" beber Hans.
Tamara hanya mencebikkan bibirnya mendengar apa yang dijelaskan oleh Hans. "Hah ... iya, cuma hanya karena uangnya saja, kan?!" ketusnya dengan raut wajah masam.
"Kamu yang sabar ya, Sayang. Setelah aku berhasil mengalihkan semua kekayaan Hardianto atas nama Hansel Sanjaya, aku pasti akan meninggalkan Sisca dan menikah denganmu!" janji Hans, untuk menghibur dan meyakinkan Tamara.
"Apa kamu sudah punya rencana besar untuk semua itu, Hans?" tanya Tamara penasaran.
"Tentu saja, Tamara!"
"Apa itu, Hans?"
"Seorang anak!" sahut Hans dengan singkat dan tegas.
"Kalau Sisca sudah bisa melahirkan seorang anak dariku, maka semua harta yang dimiliki papanya Hardianto, akan secara otomatis diwariskan kepadanya. Dan kalau semua itu sudah terjadi, dengan mudah aku akan menyingkirkan Sisca berikut juga papanya yang tua bangka itu! Semua harta mereka, selanjutnya akan jadi milikku sepenuhnya." Senyum licik mengembang di bibir Hans. Dia sangat yakin akan segera bisa mewujudkan semua keinginannya dan menguasai seluruh harta kekayaan milik sang ayah mertua, Hardianto.
Bias cemburu langsung tergambar di wajah Tamara ketika Hans menyebut tentang kehadiran seorang anak di antara Hans dan Sisca. Dia merasa kesal dan tidak rela kalau harus membagi semua kehangatan serta kemesraan yang dia dapatkan dari Hans, dengan seorang wanita berpenampilan culun seperti Sisca Martina, yang baginya sangat tidak sebanding dengan dirinya.
__ADS_1
"Tapi jangan lama-lama, Hans. Aku sudah tidak sabar menunggu semua itu terwujud, agar kita bisa bersama seutuhnya, tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti ini lagi." Tamara kembali merengek manja. Namun, dengan berat hati dia tetap harus bersabar, jangankan punya anak, sampai saat ini bahkan Sisca juga belum hamil.
Hans hanya mengangguk, namun sebuah senyum licik tergurat jelas di bibirnya. Apa yang diutarakan Tamara hari itu, membuat dia semakin bersemangat untuk segera menjalankan niat busuknya menguasai semua kekayaan Hardianto.