
Yuri memperlebar pijakan kakinya dan berjalan cepat meninggalkan ruang kerja CEO.
"Jangan sampai Pak Hans dan Bu Tamara atau ada orang lain melihatku di tempat ini!" pikirnya, sambil terus berjalan melewati lorong dan menuju ruang kerjanya. Bola matanya berputar-putar dan kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak seorangpun melihat dia ketika tengah mengambil gambar dan merekam apa yang terjadi antara Hans dan Tamara di ruangan sebelumnya.
"Yuri kamu kenapa terlihat gugup seperti itu?"
Yuri tersentak kaget dan jantungnya berdebar sangat kencang. Dia tidak menyadari kalau Nita, tiba-tiba sudah ada di belakangnya dan menepuk keras punggungnya.
"Aaa ... Mbak Nita! Bikin kaget saya saja!" Yuri mengusap dadanya dan mengatur deru nafasnya yang semakin memburu. Tentu saja dia sangat terkejut dan tidak menyangka, Nita ternyata ada di dekatnya tanpa dia sadari sama sekali.
Nita mengerutkan dahinya dan terlihat heran menyadari rasa terkejut Yuri yang seketika membuat wajah Yuri terlihat pucat.
"Apa yang terjadi, Yuri? Kenapa wajahmu mendadak pucat seperti itu? Apa Pak Hans memarahimu?" Nita mengulang kalimatnya dan mencecar Yuri dengan pertanyaan lagi.
"Tidak ada apa-apa, Mbak. Saya ini orangnya penakut. Lorong ini sepi dan bulu kuduk saya tiba-tiba terasa merinding lewat disini sendiri, Mbak," ucap Yuri berbohong.
"Ha ha ha ... dasar penakut! Memangnya kamu pikir tempat ini ada hantunya. Lagi pula, mana ada hantu siang-siang bolong begini." Nita terkekeh mendengar pengakuan Yuri yang terkesan sangat polos baginya.
"Sudah ah! Cepetan balik ke ruang kerjamu! Sudah siang, sebentar lagi kamu sudah harus pulang kan?" Sembari terus terkekeh kecil, Nita yang baru saja keluar dari sebuah toilet yang ada di lorong itu, segera berlalu meninggalkan Yuri.
"Uh ... untung aku bisa cari alasan dan Mbak Nita tidak bertanya padaku lagi!" Yuri kembali mengusap dadanya dan menghela nafas dalam-dalam.
__ADS_1
Belum habis rasa terkejutnya, indra pendengarannya kembali menangkap suara derit pintu yang terbuka dan derap langkah juga terdengar menuju ke arahnya. Secepat kilat kedua kaki Yuri bergerak masuk ke dalam toilet dan bersembunyi karena dia tahu kalau Tamara bersama Hans sedang berjalan keluar dari ruang kantor CEO.
"Hans, kamu jadi kan membelikan cincin berlian yang kita lihat kemarin?" Tamara mengutarakan sebuah keinginannya kepada Hans. Ketika mereka berdua melewati lorong koridor yang masih tampak sepi itu, Tamara bergelayut manja di tangan Hans dan menggandengnya dengan sangat mesra.
"Jadi dong, Sayang! Dan kalau kamu memang sangat menginginkannya, aku akan membelikan sekaligus dua buah cincin untukmu!" balas Hans dengan entengnya sambil mencolek gemas dagu Tamara dan tersenyum menggoda.
"Aaah, terima kasih banyak, Hans. Kamu memang sangat memahami semua yang diinginkan wanita." Tamara tersenyum senang dan semakin mengeratkan tangannya di tangan Hans.
Dari balik dinding toilet, Yuri hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Apa yang telinganya rekam dari percakapan antara Tamara dan Hans ketika melewati lorong itu, membuat berbagai perasaan memenuhi pikirannya.
"Astaghfirullah al adzim." Yuri mengusap wajahnya perlahan. "Benarkah semua yang aku lihat dan dengar hari ini? Kenapa Bu Tamara setega itu mengkhianati Pak Pandu dan berselingkuh dengan Pak Hans? Bukankah Pak Pandu bilang kalau mereka hanya sahabat lama?" Yuri menggelengkan kepalanya, masih tidak bisa percaya dengan semua yang didengar oleh telinga dan matanya saksikan hari itu.
Yuri mempercepat langkahnya menuju ruang kerjanya.
"Kok kamu masih disini juga, Yuri? Tadi aku pikir kamu sudah langsung pulang?" Nita menatap heran ke arah Yuri yang baru kembali ke ruang kerjanya. Waktu sudah lima belas menit lewat dari pukul dua belas siang, dan sudah waktunya dia bisa pulang.
"Iya, Mbak. Sekarang juga saya akan pulang." Yuri bergegas membereskan semua kertas-kertas yang masih berserakan di atas mejanya dan mematikan komputer.
"Hari ini aku terlambat pulang lagi. Pak Pandu dan Chia pasti sudah menungguku," sungutnya. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Yuri segera menyambar tas dan keluar dari ruangannya. Tidak lupa dia berpamitan kepada Nita, lalu mempercepat langkahnya menuju lift untuk turun menuju lobby gedung kantor yang sangat megah itu.
Setibanya di lobby, Yuri semakin mempercepat gerakan kakinya. Mata Yuri juga hanya terfokus pada layar ponselnya, karena dia tengah memesan ojek online dan sopir ojek mengatakan kalau dia sudah menunggu di pick up zone area.
__ADS_1
Bruukk!
Yuri terkesiap dan segera membungkuk ketika tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang juga sedang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Ma-maafkan, saya tidak sengaja menabrak anda." Yuri mencakupkan kedua tangannya di dada dan merasa bersalah, karena tidak sengaja menabraknya.
"Aah, tidak apa-apa. Saya juga salah, jalan terlalu buru-buru dan tidak melihat kamu di depan saya." Seorang wanita dengan tubuh berisi dan mengenakan kacamata tebal berdiri dan ikut membungkukan punggungnya di hadapan Yuri.
Yuri sungguh-sungguh terperanjat dan seketika melebarkan matanya, saat melihat dengan seksama siapa wanita yang kini tengah berdiri di depannya itu. Meski belum pernah bertemu dengan wanita itu secara langsung, tetapi dari berita yang pernah dibacanya di sosial media serta cerita rekan-rekan kerjanya, Yuri langsung tahu siapa wanita tersebut.
"Nona Sisca!" Wajah Yuri seketika memerah. Malu, gugup, canggung dan juga sungkan seketika memenuhi hatinya, menyadari kehadiran putri tunggal pemilik perusahaan Hardianto Corporations itu berdiri tepat di depan matanya.
"Kamu ... karyawan di sini ya?" Wanita berpenampilan sedikit culun itu bertanya sopan kepada Yuri, setelah melirik kartu pengenal yang masih menempel di kemeja yang dikenakan oleh Yuri.
"Iya, benar, Non Sisca. Saya hanya karyawan magang di sini," ucap Yuri sambil kembali membungkuk hormat dan Sisca hanya sedikit menganggukan kepalanya. Di balik penampilannya yang biasa saja, Sisca adalah wanita yang cukup ramah. Meski dia adalah putri pemilik perusahaan itu, tetapi dia memiliki sifat rendah hati. Sangat berbeda dari tingkah Hans yang memang selalu terlihat angkuh dan menyombongkan dirinya.
Di waktu bersamaan, Yuri juga teringat kalau ponselnya terjatuh ketika mereka saling bertabrakan dan ponsel itu kini berada tepat di samping kaki Sisca.
"Permisi, Nona! Ponsel saya terjatuh." Yuri seketika berjongkok hendak mengambil ponsel itu. Namun, tanpa disangkanya, Sisca justru lebih cepat membungkukkan badannya dan meraih ponsel itu lebih dulu.
Mata Sisca tiba-tiba terbelalak lebar dan terlihat sangat terkejut. Ketika tanpa sengaja tangannya menyentuh layar ponsel Yuri, ponsel itu langsung menyala dan entah bagaimana, galeri foto di ponsel itu terbuka dan sebuah foto yang menunjukkan Hans dan Tamara tengah berciuman mesra terbuka di layar ponsel tersebut. Sentuhan tangan Sisca lah yang tanpa sengaja membuka history di aplikasi ponsel milik Yuri.
__ADS_1