
Hari baru terus datang menggantikan hari kemarin. Perputaran waktu terasa sangat cepat tanpa seorangpun bisa menghentikannya.
Tanpa terasa, satu tahun sudah Pandu dan Yuri menjalani bahtera rumah tangga yang penuh kebahagiaan.
Satu-satunya usaha milik Pandu yaitu toko elektronik yang dikelolanya juga semakin berkembang pesat. Agar Yuri tidak bosan hanya berdiam diri di rumah saja, Pandu sengaja membuka sebuah toko cabang baru dan ia memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada Yuri untuk mengelola toko cabang baru tersebut.
Kendati Yuri disibukkan oleh pekerjaan barunya, tetapi dia selalu pintar membagi waktu dan tidak pernah abai mengurus rumah tangganya.
Siang hari yang panas sudah bergeser dan sore yang hangat mulai datang menyapa. Sambil menggandeng tangan Chia yang sudah sangat lincah bergerak kesana kemari serta tidak pernah bisa diam, Yuri dan Pandu tampak baru saja keluar dari sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak. Hari itu, mereka memutuskan untuk datang menemui seorang dokter spesialis kandungan dan berniat merencanakan program hamil.
Di dalam mobil yang sudah keluar dari area parkir rumah sakit tersebut, Yuri lebih banyak hanya diam tak banyak bicara. Ada kegelisahan yang mengisi hatinya setelah menerima hasil pemeriksaan dokter hari itu.
"Mas, maafkan aku. Meski sudah setahun kita menikah, tapi sampai sekarang aku belum bisa memberikan calon bayi sekaligus seorang adik untuk Chia. Aku sangat takut apabila ternyata selamanya aku tidak akan bisa memberikan keturunan lagi untukmu, Mas."
Mata Yuri berkaca membaca selembar surat hasil pemeriksaan dokter di tangannya.
"Kenapa berkata seperti itu, Sayang. Dari hasil pemeriksaan dokter, bukannya sudah jelas disebutkan kalau kamu tidak ada masalah reproduksi? Tapi kenapa kamu jadi khawatir seperti itu?" tanya Pandu, merasa tidak senang mendengar keluhan istrinya yang terdengar berlebihan.
"Iya, Mas. Hasil pemeriksaan ini memang menyatakan kalau aku sehat dan tidak punya masalah kesuburan. Tapi, entah mengapa, perasaanku tetap tidak tenang. Aku takut kalau ternyata aku punya masalah yang tidak terditeksi oleh pemeriksaan medis."
"Tidak usah berlebihan seperti itu, Sayang. Lagi pula, kita baru satu tahun menikah. Mungkin Tuhan memang belum mengizinkan untuk kita punya bayi lagi, agar kita lebih fokus menjaga Chia."
Sebuah senyum seketika terulas di bibir Yuri. Ucapan meneduhkan dan sikap dewasa Pandu, memang selalu membuatnya merasa nyaman bersama suaminya itu. Air mata kekhawatiran yang tadinya menggenang di mata Yuri, akhirnya menetes sebagai air mata keharuan. Memiliki Pandu dalam hidupnya, adalah anugerah Tuhan yang paling dia syukuri.
"Kamu benar, Mas. Chia juga anakku. Walau dia tidak lahir dari rahimku, tapi aku sudah menganggapnya seperti darah dagingku sendiri," ucap Yuri, tak ingin lagi merasa khawatir.
Bertahun-tahun hidup dalam kepedihan, kini terasa sangat berbeda semenjak kehadiran Pandu selalu ada di sisinya. Memiliki cinta dan perhatian dari pria yang juga sangat dia cintai itu, membuat hidupnya terasa sangat berarti.
Mobil Pandu masih berjalan pelan melewati jalanan kota yang sangat padat dan macet. Menjelang akhir pekan, suasana seperti itu memang kerap terasa di kota besar.
Chia yang duduk sendiri di kursi penumpang bagian belakang juga tdak pernah bisa diam. Semenjak usianya setahun, balita itu memang tidak mau lagi duduk di baby car seat. Kaki dan tangannya yang selalu lincah bergerak membuatnya tidak tenang lagi hanya duduk diam pada tempat duduk khusus bayi itu.
"Sebelum kita pulang, bagaimana kalau kita jalan-jalan di taman kota dulu sebentar. Apa kalian mau?" usul Pandu, ingin sekedar mengajak istri dan putrinya berjalan-jalan sebentar sebelum mereka pulang.
"Hoye ... kita dayan-dayan!" Chia berseru girang mendengar ajakan papanya dan Yuri hanya tersenyum. Tentunya dia juga sangat senang mendapat ajakan itu dari Pandu.
__ADS_1
Pandu kembali memutar balik laju mobilnya. Dia yang sebelumnya berencana langsung pulang, akhirnya mengarahkan mobilnya ke sebuah taman kota, yang selalu ramai oleh pengunjung di sore hari.
Pada sebuah bangku di sisi taman itu, Pandu dan Yuri duduk berdua, sedangkan Chia bermain sendiri. Di tanah lapang berumput itu, kaki-kaki lincah bocah kecil itu bisa bebas berekspresi kesana-kemari. Berlarian, tertawa dan jumpalitan sendiri. Pandu dan Yuri memang sengaja membiarkannya bermain tanpa ditemani, tetapi mereka tetap siaga mengawasinya.
"Lihat Chia, Yuri! Anak itu sangat ceria dan bahagia di bawah asuhanmu. Kamu memang seorang ibu yang sempurna untuknya. Aku sangat bahagia memiliki seorang istri yang sangat bertanggung jawab seperti kamu." Sambil terus mengawasi Chia yang asyik bermain sendiri, Pandu merangkul pundak Yuri dan mengusapnya penuh rasa sayang. Kebahagiaan memiliki putri lucu dan cantik seperti Chia begitu terasa sempurna dengan kehadiran Yuri juga ada bersamanya.
"Tapi aku kasihan terhadap Tamara, Mas. Entah dimana dan bagaimana kehidupannya sekarang. Setelah dia pergi dari kota ini, aku tidak pernah mendengar kabar tentangnya."
"Dia juga tidak pernah berkabar kepadaku, Yuri. Nomor ponselnya yang lama juga sudah tidak aktif lagi. Sepertinya dia sendiri yang tidak ingin berhubungan dengan kita lagi. Dan menurutku, ini saatnya memberinya kesempatan untuk bisa menjalani hidupnya sendiri dulu."
"Kita juga jangan pernah lupa pesannya, Mas. Jangan pernah menanamkan kebencian di hati Chia kepadanya. Sebaik apapun aku menyayangi dan merawat Chia, kasih sayang seorang ibu kandung tidak akan pernah tergantikan."
Pandu mengangguk dan sama sekali tidak membantah perkataan Yuri. Dia juga tidak pernah ingin memisahkan Chia dari ibu kandungnya. Dalam hati dia berjanji, akan selalu membuat Chia ingat dan tetap sayang kepada Tamara.
Dengan manja, Yuri menyandarkan kepalanya di pundak Pandu dan sebuah kecupan sayang Pandu daratkan di kening istrinya itu.
"Aku selalu berdoa kebahagiaan ini ada bersama kita selamanya. Yang sudah pernah terjadi sebelumnya, ku harap bisa kita jadikan pelajaran agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama," ucap Pandu, menegaskan harapan agar kejadian di masa lalu antara dirinya.
Yuri tersenyum dan mengangguk. "Aku juga ingin kita selalu terbuka dalam segala hal, Mas. Aku ini hanya manusia biasa yang tidak akan pernah luput dari perbuatan salah. Aku ingin kamu selalu mengingatkan aku kalau aku berbuat kekeliruan," timpalnya, berharap Pandu bisa memahaminya.
"Iya, sayang. Itulah tujuan kita berumah tangga. Harus saling mengisi dan menerima, karena kita hanya manusia yang terlahir penuh kekurangan."
_TAMAT_
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dear Readers,
Cerita ini sampai disini dulu ya, Guys...
Terima kasih banyak untuk para pembaca setia yang selalu mengikuti, memberi dukungan dan rajin menunjukkan jempolnya di setiap akhir bab cerita ini.
Berhubung besok sudah tahun baru, Author ucapkan "Selamat Tahun Baru 2023"
Semoga tahun yang akan datang, membawa segala kesuksesan. Apa yang belum tercapai di tahun yang lalu, semoga juga bisa kita capai di tahun yang mendatang.
__ADS_1
Buat yang mengharapkan bonus chapter untuk cerita ini, mohon maaf author tidak bisa menjanjikannya ya..
Akan tetapi, Author akan kembali menulis sesion kedua cerita ini dengan judul serta genre yang jauh berbeda, tetapi dengan tokoh yang sama. Cerita itu akan author up, setelah menyelesaikan novel baru selanjutnya.
Sekali lagi, Author minta maaf karena untuk beberapa hari kedepan, Author mohon izin tidak menulis dulu. Banyak kesibukan real life yang masih harus author jalankan.
...****************...
Di karya selanjutnya, Author akan menulis lagi genre fantasi urban, sesuai genre yang paling author sukai.
Sebuah novel dengan konflik ringan dan diselingi sedikit komedi santai.
Buat pembaca setia, harap sabar dulu menunggu up cerita baru ini ya...
Berikut Author akan kasih bocoran blurb cerita berikutnya, supaya kalian penasaran. 🤭
Judul: JANDA BOLONG TAK LAGI TRENDING
Napen: Yunita Yanti
Blurb:
"Tidak semua janda itu bolong, karena janda bolong hanyalah sebuah jenis tanaman hias, bernama latin monstera adansonii".
Cakrawala Semesta adalah seorang pemuda desa dengan ribuan pesona. Menjadi penjual tanaman hias keliling adalah profesi yang dia lakoni selama tinggal di kampungnya.
Akan tetapi, karena didorong oleh banyak alasan, pemuda yang akrab dipanggil Wala itu, memilih untuk merantau ke kota dan bekerja sebagai tukang kebun di sebuah residence mewah milik seorang janda muda kaya raya.
Terdesak akan hutang sang ibu di kampung halamannya, memaksa Wala terlibat hubungan simbiosis mutualisme dengan Zinnia Michelia, janda muda yang menjadi majikannya tersebut.
Tidak seorangpun menduga, tinggal di kota itu ternyata juga membawa Wala, secara tidak sengaja mengetahui identitas dirinya.
Siapakah sebenarnya Wala? Bagaimanakah kelanjutan hubungan Wala dengan Zinnia setelah dia mengetahui jati dirinya?
__ADS_1
Harap ditunggu ya, Guys... ❤❤
Sampai jumpa....