Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 37. Perubahan Gaya Hidup


__ADS_3

Hingga keesokan harinya, antara Pandu dan Tamara masih enggan saling mulai berbicara. Keduanya sama-sama bersikap dingin dan tidak ada kehangatan sama sekali di antara mereka.


Semenjak kehadiran Hans di tengah hubungan mereka, Tamara juga kian acuh terhadap suami dan anaknya.


.


Hari itu adalah Hari Minggu. Pandu tidak pergi ke tokonya dan Tamara juga tidak berangkat ke kantor. Meski keduanya tidak berangkat bekerja pagi itu, tetapi hari libur tersebut justru semakin membuat keduanya merasa tertekan. Tidak saling bicara membuat suasana di rumah itu sangat terasa tidak nyaman.


Tak saling bertegur sapa, juga membuat keduanya berusaha mencari kesibukan masing-masing agar tidak merasa bosan. Pandu lebih banyak menghabiskan waktunya mengurus dan bermain bersama putri kecilnya, sedangkan Tamara lebih memilih hanya mengerjakan pekerjaan ringan, membersihkan rumah dan merapikan seisi kamar sambil rebahan di kasur sambil memainkan ponselnya.


Tamara memang tidak terlalu peduli terhadap Chia. Jarang punya waktu untuk mengurus bayinya itu, membuat Chia semakin menjauh dan akan selalu rewel bila bersamanya. Chia akan lebih tenang dan lebih suka bermain bersama Pandu dan Pandu sendiri juga sangat telaten mengurus putri semata wayangnya itu. Semua hal yang seharusnya dikerjakan oleh seorang ibu, sudah biasa dikerjakan oleh Pandu sendiri tanpa bantuan Tamara.


"Aaah, hari ini rasanya membosankan sekali!" Tamara yang ketika itu asyik sendiri di kamarnya, meletakkan ponsel yang hampir seharian ini ada di genggamannya di atas meja nakas. Sejenak Tamara berfikir akan melakukan apa untuk mengusir rasa bosannya.


Tamara lalu beranjak dari tempat tidurnya dan membuka lemari pakaiannya. Semu baju-baju lama, dia keluarkan dari dalamnya.


"Apa yang kamu lakukan, Tamara?"


Pandu yang baru saja masuk ke kamar itu, tersentak kaget ketika melihat banyak baju-baju milik istrinya berserakan di lantai.


"Mau kamu apakan baju-baju ini?" Pandu bertanya dengan mata membulat dan terlihat sangat heran.

__ADS_1


"Ini baju-baju lama, Mas. Sudah tidak layak pakai. Aku akan menyimpannya di gudang, supaya tidak menuhin lemari saja!" sahut Tamara tanpa menoleh pada suaminya dan tangannya masih sibuk mengeluarkan baju-baju itu dari dalam lemari pakaiannya.


"Tidak layak pakai?" Pandu menggelengkan kepalanya dan semakin merasa heran. "Baju-baju ini masih bagus. Bagaimana bisa kamu mengatakan kalau semua ini tidak layak pakai lagi?"


Pandu semakin tidak paham akan jalan pikiran istrinya. Baju-baju itu adalah baju yang semuanya dia belikan dan semula sangat senang dipakai oleh Tamara. Namun, kini semua itu seolah hanya barang usang dan sama sekali tidak ingin dikenakannya lagi.


"Semua model pakaian ini sudah ketinggalan jaman, Mas. Selain itu, baju-baju ini juga hanya baju yang kamu belikan di butik murahan, tidak cocok untuk dipakai oleh seorang wanita dengan karir cemerlang seperti aku!" jawab Tamara dengan angkuhnya. Selama sebulan terakhir, Tamara memang sangat sering membeli baju baru dengan harga mahal, terlebih Hans juga selalu memanjakannya. Membelikan Tamara baju baru di butik ternama dengan harga mahal, tentu bukanlah apa-apa bagi seorang Hans.


Pandu hanya bisa menghela nafas dalam mendengar ucapan istrinya. Pandu semakin menyadari perubahan terjadi bukan hanya pada sikap, melainkan juga pada gaya hidup Tamara. Pergaulan sosialita serta penampilan yang senantiasa harus glamour sudah menjadi kebiasaannya.


Tanpa ingin melarang atau pun berdebat lagi dengan Tamara, Pandu segera keluar dari kamar itu. Dia lalu masuk ke kamar putrinya dan kebetulan juga Chia baru saja terbangun dari tidur siangnya.


"Anak papa sudah bangun ya? Hmm ... kesayang papa!" Pandu langsung mengangkat tubuh imut bayinya dari dalam box bayi dan menggendongnya serta mencium gemas pipinya.


Bukan hal yang mengherankan kalau Chia begitu dekat dengan Pandu, karena Pandu lah yang terbiasa merawat dan menjaganya. Sedangkan Tamara, tidak terlalu peduli akan putrinya itu.


"Karena Chia sudah bangun, sekarang papa akan ajak Chia jalan-jalan. Kita akan jemput Yuri untuk ikut bersama kita." Pandu tersenyum sambil mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang.


Tidak ingin terlalu terbawa oleh rasa kesal akan tingkah Tamara, Pandu berencana menghabiskan sisa hari itu dengan mengajak bayinya pergi jalan-jalan ke taman kota, sekedar menghabiskan sisa hari liburnya.


Setelah mengganti pakaian dan mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk bayinya, Pandu bergegas keluar dari rumahnya. Tidak ada keinginannya berpamitan atau sekedar memberi tahu Tamara. Dia lebih memilih untuk menjemput Yuri dan mengajak untuk menemaninya jalan-jalan.

__ADS_1


Yuri juga sangat senang menyambut kedatangan Pandu dan Chia di rumah kontrakannya sore itu. Dia juga terlihat antusias ketika Pandu mengajaknya pergi jalan-jalan bersama. Tentu kehadiran dua orang yang selalu mengisi hari-harinya selama ini tersebut, membuat hari liburnya terasa lebih ceria dan dipenuhi warna.


Ditinggal keluar rumah oleh suami dan bayinya sendiri di rumah itu, bukannya membuat Tamara merasa lebih tenang dan nyaman. Akan tetapi, Tamara justru merasa semakin tidak betah. Sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur, beberapa kali dia mengintip akun sosial media milik Hans dan berharap sahabat lama yang kini adalah selingkuhannya itu sedang online.


Sedari awal, Tamara dan Hans memang sepakat untuk tidak saling menghubungi di hari libur. Semua itu adalah cara mereka menyembunyikan hubungan gelap mereka supaya pasangan masing-masing tidak saling mengetahui rahasia mereka.


Mengetahui kalau Hans saat itu tengah online di sebuah aplikasi pesan singkat, entah mengapa jari-jari Tamara terasa gatal ingin mengirim sebuah pesan singkat kepadanya. Tanpa mempedulikan kesepakatan yang mereka buat, Tamara akhirnya memberanikan diri untuk mengirim sebuah pesan, sekedar basa-basi kepada Hans.


Tamara tersenyum sumringah, hanya beberapa detik setelah pesan itu terbaca oleh Hans, dia sudah menerima balasan pesan sesuai yang dia harapkan.


[Apa kamu sibuk, Hans?] Tamara mulai berani untuk membalas lagi pesan dari Hans.


[Iya, aku sibuk mikirin kamu.]


Balasan itu juga dengan cepat diterima lagi oleh Tamara dan ada emoticon tersenyum di akhir kalimat yang dikirim Hans.


[Kok sama ... aku juga lagi mikirin kamu.] Dengan genit, Tamara juga kembali membalas pesan itu.


Setelah saling berbalas pesan cukup panjang, Tamara dan Hans sepakat untuk bertemu sore itu di hotel tempat biasa.


Di saat Pandu asyik berjalan-jalan dan bermain bersama putrinya di taman kota, ditemani oleh Yuri, Tamara dan Hans juga semakin larut dalam hubungan terlarangnya.

__ADS_1


__ADS_2