Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 42. Tidak Sebodoh Yang Kamu Pikir


__ADS_3

Matahari bergerak semakin condong ke barat dan rona jingga di langit sudah berganti gelap.


Meski malam kini mulai menjelang, tetapi benak Sisca masih dipenuhi berjuta kegalauan. Mendapat sebuah bukti kuat tentang perselingkuhan suaminya dengan wanita lain, membuat hatinya terasa bergejolak.


Jarum jam sudah membentuk segitiga siku-siku di angka sembilan dan dua belas yang artinya saat itu adalah tepat pukul sembilan malam.


Di ruang tengah hunian besar dan mewah tempat kediamannya, Sisca terus memainkan ponselnya. Sambil merebahkan tubuh gempalnya di atas sofa, dia memang sengaja berdiam diri disana saja, untuk menunggu Hans pulang. Sudah merupakan hal yang sangat biasa bila Hans pulang terlambat, karena banyak sekali pekerjaan penting yang dipercayakan papanya kepada pria yang sudah menjadi suaminya itu. Namun, hari itu kecurigaan Sisca pada suaminya seakan membuncah. Dia menjadi sangat yakin kalau Hans terlambat pulang malam itu, bukan karena dia sibuk bekerja. Melainkan, dia sedang sangat menikmati waktunya bersama wanita idaman lain.


"Sudah selarut ini, Mas Hans belum pulang juga dan dia sengaja mematikan ponselnya. Sudah pasti dia masih bersama perempuan gatal itu!" batin Sisca berdecak penuh kekesalan. Berkali-kali dia menghubungi suaminya, tetapi Hans tidak mengangkat panggilan teleponnya, bahkan sekarang nomor Hans justru tidak aktif.


Cukup lama Sisca menunggu di ruang tengah, namun tetap belum ada tanda-tanda kalau Hans akan segera pulang.


Perlahan Sisca beranjak dari sofa dan berbalik badan hendak menuju kamarnya. Akan tetapi, seketika dia mengurungkan niatnya, ketika mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Sisca pun bisa dengan mudah mengenali siapa yang tengah berjalan masuk menuju ruangan itu.


"Aku pulang, Sayang!" Sapaan hangat itu langsung terdengar di telinganya. Saat bersamaan, dua tangan kekar juga langsung melingkar dengan lembut di pinggangnya. Hans memeluk tubuh Sisca dari belakang seraya mendaratkan sebuah kecupan di pipinya.


"Kemana saja kamu hingga pulang selarut ini, Mas?" tanya Sisca dengan dengusan nafas kasar, sambil melepaskan kedua tangan Hans dari pinggangnya. Sisca membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah pria yang selalu bisa bersikap romantis kepadanya dalam segala situasi itu.


Kedua ujung alis Hans tiba-tiba menghentak bersamaan menanggapi perlakuan istrinya yang terasa berbeda malam itu.


"Tentu saja aku baru pulang dari kantor, Sayang! Kenapa pertanyaan kamu tiba-tiba aneh seperti ini?" Hans menatap kedua manik mata Sisca penuh tanda tanya. Tentu saja dia merasa heran, karena baru pertama kalinya mendengar pertanyaan ketus istrinya, walau dia sudah sangat sering pulang ketika malam sudah sangat larut.


"Dari kantor, atau habis bersama perempuan lain, Mas?" sindir Sisca dengan seringai miringnya.


Mata Hans terbelalak mendengar pertanyaan istrinya. "Ke-ke-kenapa kamu bertanya seperti itu, Sayang? Seharian ini aku sibuk di kantor, tidak seharusnya kamu punya kecurigaan macam-macam terhadapku!" tangkisnya mengalihkan.


Sisca tersenyum kecut mendengar jawaban Hans. Dari tingkah gelagapan serta wajah Hans yang tiba-tiba tampak pucat, Sisca tahu kalau suaminya pasti sedang berusaha mencari alasan untuk menyangkal ucapannya.


"Oh ya? Benarkah kamu seharian hanya di kantor hari ini, Mas? Bukannya kamu makan siang di luar bersama seorang wanita?" Pertanyaan Sisca kian menohok.


"Oohh, itu ... " Hans tersenyum penuh kepalsuan, menatap wajah Sisca. "Kebetulan tadi aku keluar untuk meninjau project di lapangan, Sayang. Jadi, sekalian aku lunch meeting. Wanita itu hanya client-ku saja," jawab Hans. Kali ini dia yakin Sisca pasti akan percaya dengan kebohongan yang dibuatnya.


"Client atau partner ranjang, Mas?" Cibiran itu kian sinis terlontar dari mulut Sisca.


"Sayang, kamu ngomong apa sih? Partner ranjangku ya cuma kamu! Tidak ada wanita lain dalam hidupku selain kamu." Hans kembali menyelipkan kedua tangannya di pinggang Sisca.


"Kamu bohong, Mas!" tampik Sisca sembari melepaskan pelukan tangan Hans. Sisca kembali membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Hans.


"Sekarang katakan padaku, apa harus seperti ini caramu memperlakukan seorang client?" Sisca menunjukkan layar ponselnya tepan di depan wajah Hans.

__ADS_1


Kedua mata Hans seketika terbelalak lebar melihat foto dirinya bersama Tamara, sedang berciuman mesra di layar ponsel Sisca. Wajahnya kembali pucat, jantungnya berdebar tidak beraturan. Dia sangat cemas dan takut kalau Sisca sudah mengetahui hubungannya dengan Tamara.


"Apa ini, Sayang? Dari mana kamu mendapatkan foto ini?" sentak Hans dengan tangan terangkat hendak merebut ponsel Sisca.


"Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkan foto ini, Mas. Kamu hanya perlu menjelaskan padaku, apa maksud semua ini?" pekik Sisca. Tangannya juga bergerak cepat menahan ponsel miliknya agar Hans tidak berhasil merebutnya.


"I-i-itu hanya salah paham, Sayang. Foto itu pasti hasil sebuah rekayasa. Aku yakin, pasti ada orang yang sengaja ingin memfitnahku. Tamara itu hanya sahabat lama yang sekarang adalah client-ku. Kami tidak punya hubungan apa-apa, Sayang!" Hans berceloteh panjang lebar, mencari alasan dan sangat yakin pasti Sisca akan percaya kepadanya.


Sisca hanya mencebikkan bibirnya dan menatap Hans dengan sorot tidak percaya.


"Aku tahu kamu pasti akan berbohong dan mencoba membuat aku percaya padamu, Mas Hans. Mungkin selama ini kamu mengira aku sangat bodoh, sehingga selalu percaya apa saja yang kamu katakan! Ok, Mas! Aku akan ikuti dulu permainanmu sampai aku menemukan bukti lain tentang perselingkuhan mu bersama wanita bernama Tamara ini!" batin Sisca menggeram sendiri.


Meski diselimuti kemarahan akan kepura-puraan suaminya, tetapi dia mencoba menahan semua gemuruh di dalam benaknya saat itu.


"Aku mohon, percaya padaku, Sayang! Ketika karir dan pekerjaanku sedang ada di puncak seperti sekarang, pastilah banyak yang iri dan ingin menjatuhkan. Aku sangat yakin, pasti ada orang yang sengaja mengirim foto itu untuk tujuan tidak baik!" Belum merasa cukup dengan penjelasannya, Hans kembali menguraikan alasan lain.


"Iya, Mas. Aku percaya sama kamu. Tidak seharusnya aku punya kecurigaan buruk terhadap suamiku sendiri," ujar Sisca ikut berbohong. Walau di dalam hati Sisca sangat marah, namun dia mencoba tenang. Dia tidak ingin bertindak gegabah, sebelum mengumpulkan lebih banyak bukti tentang kecurangan suaminya.


Hans tersenyum sumringah. Dia tahu kalau membohongi Sisca pastilah tidak sulit baginya.


"Nah, gitu dong, Sayang. Kamu itu harus percaya padaku, karena cintaku cuma buat kamu seorang. Tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikannya," goda Hans dengan rayuan gombalnya.


"Sayang ... " Hans berbisik genit di telinga Sisca ketika mereka sudah sama-sama berbaring di atas peraduannya, dan Sisca tidur dengan posisi miring memunggungi Hans. Tangan Hans juga mulai bergerak nakal meraba bagian-bagian tertentu di tubuh semok istrinya.


"Hmm ... " Sisca hanya mendengus pelan tidak terlalu menanggapi perlakuan Hans terhadapnya.


"Aku ingin itu!" lirih Hans lagi semakin menggoda. Demi menghilangkan kecurigaan istrinya, Hans berniat melakukan kewajibannya sebagai suami Sisca malam itu.


"Aku capek, Mas. Aku sedang tidak bergairah," sahut Sisca tanpa berniat membalas keinginan Hans, karena dia tahu itu hanya sandiwara yang tengah dimainkan Hans, agar dirinya tidak curiga lagi.


"Sebentar saja, Sayang. Aku lagi pingin banget!" bujuk Hans lagi sedikit memelas.


"Besok saja ya, Mas. Aku sudah ngantuk." Sisca kembali menolak. Sambil menguap, Sisca mulai memejamkan matanya berpura-pura tidur.


Hans tersenyum. Dalam hatinya dia sangat senang. Penolakan Sisca adalah sebuah keberuntungan baginya, karena dia hanya berpura-pura meminta Sisca menjalankan kewajibannya.


Hans ikut membalikkan badannya dan memunggungi Sisca. Dia tidak langsung tidur karena menunggu istrinya tertidur lebih dahulu.


Beberapa menit kemudian, Hans beranjak dari atas tempat tidur. Melihat Sisca sudah terlelap, perlahan dia mendekati meja nakas di sebelah istrinya itu. Diraihnya ponsel milik Sisca dan dia membuka galeri foto di sana.

__ADS_1


"Foto ini bisa sangat berbahaya! Entah siapa yang sudah lancang mengambil foto ini. Besok aku akan menyelidikinya!" geram Hans saat menatap foto yang tadi ditunjukkan Sisca kepadanya.


"Aku harus hapus foto ini supaya Sisca tidak bisa melihatnya lagi." Tak pikir panjang, Hans menekan tombol delete pada foto itu.


Setelah mengembalikan ponsel Sisca ke tempat semula, Hans kembali merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya itu. Rasa kantuk pun seketika menyerangnya dan hanya dalam hitungan menit dia sudah tertidur pulas.


Sisca membuka matanya dan menghela nafas dalam-dalam. Dari awal dia hanya berpura-pura tertidur, karenanya dengan jelas dia mengetahui apa yang sudah dilakukan Hans.


"Aku sudah tahu kamu pasti akan berusaha menghilangkan foto itu dari ponselku, Mas!" Sisca tersenyum kecut dan menggumam penuh emosi.


"Tapi sayang, aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan. Aku sudah menyalin foto itu ke beberapa folder lain."


Sama seperti yang dilakukan Hans. Kini Sisca juga ikut beranjak dari tempat tidurnya. Dia membuka drawer pada meja nakas dan mengambil dompet milik suaminya.


Satu per satu, isi dompet itu ditelisiknya, berharap menemukan bukti lain tentang kecurangan Hans.


"Tidak ada apa-apa di sini. Mas Hans sangat pintar menyembunyikan semuanya!" Sisca berdecak kesal. Tidak satu pun petunjuk yang dia bisa dapatkan dari barang pribadi milik suaminya itu.


Sisca yang sudah siap mengembalikan dompet itu ke laci meja nakas, tiba-tiba sedikit terkesiap. Ada sebuah kartu yang tidak sengaja terjatuh dari dalam dompet itu.


"Ini kartu privilege chain hotel international." Mata Sisca menyipit sebelah ketika melihat logo sebuah chain hotel international di kartu itu. Nama-nama hotel yang ada di bawah naungan chain hotel itu juga tercantum secara detail di dalam kartu itu.


"Sejak kapan Mas Hans punya kartu semacam ini?" Hati Sisca kembali dipenuhi tanda tanya. Semua kebutuhan akomodasi untuk Hans biasanya diurus oleh sekretarisnya. Semestinya Hans tidak perlu lagi memiliki kartu semacam itu, walau hanya untuk kebutuhan pribadinya.


"Hmm ... aku tahu siapa orang yang bisa menjelaskan semua ini padaku!" Sisca tersenyum licik. Tentunya dia tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


Sisca lalu meraih ponselnya, dan berjalan keluar dari kamar itu.


Di ruang tengah, Sisca berdiri sambil menghubungi seseorang dari ponselnya itu.


"Halo, Nita. Maafkan aku menelponmu malam-malam begini!" ucap Sisca ketika seseorang yang tengah dia hubungi sudah menjawab panggilannya.


"Mulai besok, tolong kirim copy semua laporan pengeluaran perusahaan ke emailku dan ku harap Mas Hans tidak perlu tahu akan hal ini." Sisca menegaskan keinginannya kepada Nita, sekretaris utama di perusahaan yang dipimpin oleh Hans.


Sisca kembali tersenyum kecut dan menghembuskan nafas kasarnya setelah menutup telepon dengan Nita.


"Lihat saja apa yang aku bisa lakukan nanti, Mas Hans! Sisca bukanlah wanita bodoh seperti yang kamu kira selama ini. Kalau kau berani bermain api denganku, maka bersiaplah! Aku yang akan membuat api itu semakin membara!" decak Sisca, menegaskan amarah yang masih tertahan.


Bergegas dia kembali ke kamarnya. Hans masih tampak tertidur pulas. Sudah pasti dia tidak menyadari kalau istrinya sedang mempersiapkan sebuah kejutan menegangkan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2