
Prang!
Sebuah vas bunga yang ada di atas meja ruang tamu, terjatuh dan hancur berkeping-keping. Sepasang tangan mungil telah menarik taplak yang menutupi meja itu sehingga vas bunga di atasnya, tak terelakkan terjatuh ke permukaan lantai ruangan.
"Astaga ... Chia! Apa yang kamu lakukan, Sayang?"
Yuri yang sebelumnya tengah sibuk mempersiapkan susu untuk bayi kecil itu, sontak terkejut dan segera berlari menuju ruang tamu. Matanya terbelalak, tetapi sebuah senyum melengkung lebar di bibirnya.
"Ma-ma-ma ... " Bibir imut Chia, terlihat sangat lucu kala menyebut sebuah panggilan 'Mama'. Karena baru mulai belajar bicara, kata-kata itu terus saja terulang, terucap dari mulut mungilnya yang sangat menggemaskan.
Berdiri dengan kedua kaki kecilnya dan bertumpu pada sisi meja, bayi yang sudah pandai merangkak itu pun, sanggup berdiri dengan tegak.
"Hmm ... bayi nakal ini memang tidak pernah bisa diam!" ucap Yuri sangat gemas seraya mengangkat tubuh Chia dan mendudukkannya di atas kursi ruang tamu.
"Sekarang, Chia duduk manis dan diam disini dulu, okay! Aku harus membersihkan pecahan vas itu supaya tidak melukaimu!" Yuri tersenyum seraya mencubit gemas hidung bayi itu.
"Ma-ma-ma-ma ... " Kata-kata lucu itu kembali terucap dari bibir mungil nan lucu tersebut. Tangan kecilnya yang sangat halus, juga bergerak meraba wajah Yuri. "Ma-ma ... " Hanya celotehan itu yang terus keluar dari bibirnya.
"Kamu selalu saja memanggilku 'Mama'." Sambil mengusap kepala Chia penuh kasih sayang, senyum manis juga selalu tergambar di wajah Yuri ketika Chia menyebutkan kata itu.
"Seandainya saja aku ini mama kamu yang sebenarnya, aku pasti adalah wanita yang paling berbahagia di dunia ini. Punya seorang bayi imut dan lucu seperti kamu, punya seorang suami yang sangat baik dan perhatian seperti papa kamu ... " Yuri sangat betah menatap wajah imut Chia. Mendengar Chia memanggilnya 'Mama', berjuta khayalan seketika melintas di benaknya.
"Aaah ... tidak, tidak! Apa yang kamu pikirkan, Yuri? Beraninya kamu punya khayalan seperti itu!" Yuri menggelengkan kepalanya dan berusaha mengalihkan semua angannya. Dia tidak pernah berani terlalu meninggikan mimpinya dan berharap bisa menjadi ibu untuk Chia, apalagi menjadi istri dari seorang Pandu, pria yang begitu mempesona dan sangat terhormat di matanya.
Tidak ingin terlalu hanyut dalam angannya, Yuri bergegas memalingkan tatapannya dari Chia. Yuri berjongkok untuk memunguti pecahan vas bunga yang terbuat dari keramik itu.
Di saat yang sama, pintu rumah itu perlahan terbuka dan Pandu kini sudah masuk ke ruang tamu.
"Hei ... ada apa ini? Kenapa banyak pecahan keramik di lantai?" Pandu menoleh heran ke arah Yuri yang masih sibuk memunguti pecahan vas bunga di lantai.
"Tadi Chia belajar berdiri sendiri, Pak. Dan dia tidak sengaja menarik taplak di meja, makanya vas bunganya juga ikut jatuh," terang Yuri, dengan kedua tangannya yang masih sibuk membersihkan serpihan-serpihan kecil keramik di atas lantai.
Pandu menoleh ke arah Chia yang masih duduk di kursi dan sebuah senyum langsung tersimpul di bibirnya, kala melihat bayinya tampak begitu ceria hari itu.
"Pa-pa-pa ... "
Seolah sangat senang menyambut kedatangan sang papa, bibir mungil nan lucu Chia, kembali berceloteh.
__ADS_1
"Hmffh ... anak papa ini!" Pandu langsung mengangkat tubuh mungil bayinya itu dari kursi dan mencium pipinya dengan gemas.
"Kenakalan apa lagi yang kamu buat hari ini, Sayang? Kasihan kan ... gara-gara kamu, Yuri harus membersihkan pecahan vas itu." Pandu juga mencubit hidung putrinya dengan lembut.
"Chia nggak nakal kok, Pak. Di usianya sekarang, Chia memang sangat hiperaktif dan tak bisa diam," sela Yuri, sambil terkekeh lirih melihat Pandu yang begitu gemas terhadap putrinya.
Sesaat, Pandu dan Yuri saling melempar tatapan, lalu keduanya sama-sama terkekeh menyadari kelucuan si imut Chia.
Pandu mengerutkan dahi dan terpaku menatap putri kecilnya. Ada yang sedikit berbeda tampak di penglihatannya kala itu.
"Chia, hari ini kamu pakai baju baru, ya? Dari mana kamu mendapat baju ini?"
Pandu kembali menoleh ke arah Yuri yang baru saja selesai membuang pecahan vas bunga ke dalam bak sampah.
"Apa kamu yang membelikan baju ini untuk Chia, Yuri?" tanyanya.
"Iya, Pak. Baju-baju Chia sudah banyak yang kekecilan. Jadi, kemarin saya sempatkan ke mall untuk membeli beberapa baju baru untuk Chia."
Pandu tertegun mendengar jawaban Yuri. Beberapa waktu ini dia sangat sibuk dengan pekerjaannya di toko. Karenanya, dia kurang memperhatikan pertumbuhan fisik putrinya yang cukup pesat dan dia sadar banyak baju-baju milik Chia, yang kini sudah semakin ketat kala dipakai. Ternyata Yuri lah yang lebih peduli dengan perkembangan putrinya, dan tanpa sepengetahuannya, Yuri juga membelikan baju-baju yang berukuran lebih besar untuk bayinya itu.
"Tapi ... dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli baju-baju itu, Yuri?" tanya Pandu masih dengan rasa herannya.
Lagi-lagi Pandu terperangah. Dia tahu kalau gaji pertama yang diterima Yuri dari perusahaan tempatnya magang pastilah tidak seberapa nilainya. Namun, Yuri sangat berbesar hati membelikan baju baru untuk putrinya.
"Yuri, semua kebutuhan untuk Chia adalah tanggung jawabku. Kamu tidak perlu ikut pusing memikirkannya, apalagi kamu membeli semua ini dengan gaji pertama kamu yang seharusnya kamu pakai untuk kebutuhan kamu!"
"Tidak apa-apa, Pak. Lagipula, itu tidak seberapa. Yang Pak Pandu berikan untuk saya, bahkan jauh lebih besar dari pada harga baju-baju itu. Kalau pun saya mengorbankan seluruh hidup saya untuk Pak Pandu dan Chia, saya rasa itu pun masih belum cukup untuk bisa membalas budi baik bapak kepada saya selama ini," urai Yuri, merasa sangat berhutang budi akan semua kebaikan hati Pandu terhadapnya selama ini.
"Oh ya ... saya juga punya sesuatu buat Pak Pandu!" seru Yuri, ketika teringat akan sebuah hadiah yang dia sudah persiapkan untuk Pandu.
"Apa lagi, Yuri?" Pandu ternganga heran.
"Tunggu sebentar, Pak. Saya akan mengambilnya di kamar." Yuri bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah tas kertas dan langsung kembali untuk menyerahkan tas itu kepada Pandu.
"Apa isi tas ini?" Pandu bertanya lagi dengan perasaan penasaran.
"Dibuka saja, Pak! Mudah-mudahan cocok dan bapak juga menyukainya." Yuri hanya tersenyum dan membiarkan Pandu membuka sendiri tas yang dia berikan.
__ADS_1
"Wah ... sebuah kemeja!" Mata Pandu berbinar melihat sebuah kemeja lengan panjang, bermotif garis dan berwarna biru muda di tangannya.
"Terima kasih banyak, Yuri. Kemeja ini sangat bagus. Dan kamu juga tahu warna kesukaanku." Pandu memuji. Tentu saja dia sangat menyukai warna serta motif kemeja yang dibelikan oleh Yuri, karena memang sesuai dengan kesukaannya. Beberapa bulan memperhatikan keseharian Pandu, Yuri juga sudah sangat hafal semua kebiasaan berpakaian pria itu.
"Ayo, Pak! Dicoba dulu kemeja itu. Saya ingin melihat Pak Pandu memakainya."
Pandu tersenyum, dia tidak akan mungkin menolak keinginan Yuri, karena dia juga teringat, ketika dia membelikan baju untuk Yuri dia juga pernah memaksa Yuri agar mencoba baju itu di hadapannya.
"Iya, nanti pasti akan kucoba, Yuri. Tapi, sekarang aku mau makan dulu. Perutku lapar sekali, dan dari tadi kamu belum menawari aku makanan."
Yuri tersipu mendengar permintaan Pandu. Saking semangatnya ingin menunjukkan hadiah yang dia belikan untuk Pandu, dia lupa menawarkan makan malam untuk Pandu, seperti yang biasa dia lakukan setiap harinya.
Layaknya hari-hari biasanya, Pandu selalu makan dengan lahap semua hidangan yang disiapkan Yuri dan Yuri pun setia melayani Pandu, walau dia melakukannya sambil menggendong Chia yang terlihat mulai mengantuk setelah menghabiskan sebotol susu.
"Kalau sudah selesai makan, jangan lupa kemejanya dicoba ya, Pak!" Dengan senyum cengengesan, Yuri kembali mengingatkan Pandu agar segera mencoba kemeja pemberiannya.
"Tentu saja, Yuri."
Pandu berjalan meninggalkan ruang makan dan masuk ke dalam kamar Yuri, hendak mencoba kemeja itu sesuai keinginan Yuri, sementara Yuri duduk di ruang tamu menunggunya sambil tetap memeluk Chia yang sudah tertidur di dalam gendongannya.
"Yuri, kancing kemejaku ada yang copot. Apa kamu bisa memasangkannya lagi!"
Yuri mengernyit ketika mendengar teriakan Pandu dari dalam kamarnya.
"Iya bisa, Pak. Tunggu sebentar ya, saya tidurkan Chia dulu!" sahut Yuri sambil beranjak dari kursi ruang tamu dan membawa Chia masuk ke satu kamar lainnya, tempat dimana biasanya Chia tidur ketika berada di rumahnya.
"Kancing mana yang lepas, Pak?" tanya Yuri ketika dia sudah masuk ke kamarnya.
"Yang ini, Yuri." Pandu menunjuk satu kancing kemeja yang masih dipakainya.
"Ah, saya pikir kemeja yang baru!" Yuri tertunduk malu.
"Bukan! Ini kemeja lamaku. Memang sudah cukup lama aku tidak beli baju baru lagi," kekeh Pandu menertawakan dirinya yang memang sudah cukup lama tidak pernah membeli barang-barang pribadi kesukaannya.
"Biar saya bantu, Pak!" Yuri meraih ujung kemeja yang masih dikenakan Pandu dan membantunya membuka satu persatu kancing kemeja tersebut.
Ketika semua kancing kemeja Pandu sudah terlepas, mata Yuri seketika membulat. Walau sudah sering melihat Pandu bertelanjang dada, baru kali ini dia melihatnya begitu dekat hanya beberapa inci di depan matanya.
__ADS_1
Dada bidang yang ditumbuhi bulu halus dan perut yang rata milik Pandu, membuat hatinya bergetar dan merasa begitu terpesona akan kegagahan pria di hadapannya.