Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 63. Pilihan Yang Tak Bisa Dipilih


__ADS_3

Matahari sudah terbenam di ufuk barat dan suara adzan magrib sudah terdengar berkumandang hampir di semua sudut kota.


Tamara duduk di ruang tamu dan terlihat gelisah. Beberapa kali dia berdiri dan mondar-mandir sendiri, sambil sesekali mengintip ke area luar rumahnya dari balik gorden di jendela ruang tamu tersebut.


Sudah hampir dua minggu Pandu meninggalkannya sendiri untuk melaksanakan pernikahan dengan Yuri serta berbulan madu. Selama itu pula, Tamara selalu merasa kesepian tinggal sendiri di rumahnya.


Semenjak kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki penghasilan, dia juga hanya bisa mengharapkan pemberian dari Pandu yang hanya menjatahinya sedikit uang belanja saja. Sedangkan dia sudah tidak punya tabungan lagi, karena demi memenuhi gaya hidup sebelumnya, Tamara sangat boros tanpa perhitungan kala berbelanja, bahkan tak jarang dia membeli barang-barang yang sebenarnya tidak perlu.


Setelah Hans masuk penjara, Sisca juga sudah mengambil lagi semua barang-barang mewah yang pernah Hans belikan untuknya. Semua itu membuat Tamara tidak bisa lagi menikmati kehidupan glamour seperti sebelumnya. Hanya untuk sekedar berjalan-jalan keluar rumah pun, kini Tamara masih harus berpikir untuk melakukannya.


"Aku bosan sekali harus tinggal di rumah sendiri dan tidak bisa kemana-mana. Mas Pandu dan Chia juga tidak ada. Aaah, benar-benar membosankan." Tamara mengguman dan merasa kesal sendiri.


Beberapa menit duduk di ruang tamu, tiba-tiba Sebuah senyum terkembang di bibir Tamara, ketika suara sebuah mobil yang sangat dikenalnya terdengar memasuki halaman rumahnya.


"Itu pasti Mas Pandu pulang. Ku harap dia membawa Chia pulang juga," girang Tamara sambil bergegas membuka pintu dan mendekati mobil yang baru saja berhenti di halaman rumahnya.


"Mas, akhirnya kamu pulang juga!" sergah Tamara seraya mengambil alih sebuah tas yang dibawa Pandu dan meraih tangannya.


Pandu hanya tersenyum samar dan memasang wajah dingin melihat Tamara menyambutnya. Namun, dia tetap tidak menolak dan membiarkan saja Tamara mencium tangannya. Bagaimanapun juga Tamara masih adalah istrinya, tentu dia tidak beralasan melarang Tamara melakukan hal itu terhadapnya.


"Chia mana, Mas? Kamu membawanya ikut pulang juga, 'kan?" Tamara mendongakkan kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan putrinya.


"Itu, dia masih di mobil," jawab Pandu singkat, sambil membuka pintu bagasi mobilnya dan menurunkan satu per satu barang bawaannya.


Tamara bergegas mendekati pintu penumpang bagian depan, karena dia yakin pasti Chia ada di sana. Namun, mata Tamara seketika membulat, begitu melihat seorang wanita duduk di sana sambil menggendong Chia yang sudah tertidur.

__ADS_1


"Yuri!" Mata Tamara terbelalak tidak percaya. Dia sangat tidak menyangka kalau setelah menikah dengan Yuri, Pandu akan membawa wanita yang kini adalah madunya itu ikut pulang ke rumah itu.


"Kenapa, Tamara? Kamu kaget melihatku?" tanya Yuri sambil bergegas keluar dari mobil itu dan tersenyum kecut serta memperlihatkan tatapan mengejek kepada Tamara.


Tamara mendengus kesal serta balas menatap Yuri dengan penuh rasa marah.


"Mas Pandu! Kenapa kamu membawa wanita ini ke rumah kita? Bukannya dia punya rumah kontrakan sendiri?" teriaknya sangat jengkel karena tidak menyangka kalau Pandu akan pulang malam itu serta membawa Yuri ikut bersamanya.


"Memang apa salahnya, Tamara? Yuri sekarang adalah istriku, bahkan dia lebih berhak ada di rumah ini dibandingkan dengan kamu!" sahut Pandu menyeringai sinis.


Deg!


Jantung Tamara berdetak kencang. Urat-urat di wajahnya mengeras dan tangannya bergetar hebat mendengar kalimat yang diucapkan Pandu.


"Ini semua gara-gara kamu, Yuri! Kamu benar-benar tega merebut semuanya dariku! Dasar pelakor murahan!" Dengan jari telunjuk mengacung ke wajah Yuri, Tamara terus berteriak dan mengumpat marah.


Yuri ikut tersenyum sinis membalas tatapan Tamara. "Siapa yang kamu sebut pelakor, Tamara? Apa kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?" tanyanya dengan mulut mengernyih.


"Tutup mulutmu, Yuri! Sudah berani lancang kamu terhadapku sekarang, hah?!" Tangan Tamara terangkat dan siap bergerak menampar wajah Yuri yang terlihat berani menantangnya. Namun, di saat yang sama, tangan Yuri juga bergerak lebih cepat. Walau sambil menggendong Chia, dia tetap dengan gesit mencekal tangan Tamara, sehingga tidak berhasil memukulnya.


"Kurang ajar kamu, Yuri!" dengus Tamara, sambil melepaskan tangan Yuri dengan kasar.


"Dengar, Tamara! Sekarang aku juga adalah istri sah dari Mas Pandu. Aku juga punya hak atas rumah ini. Jadi mulai hari ini, tolong jaga sikap kamu terhadapku!" bentak Yuri dengan intonasi suara meninggi dan menatap Tamara penuh penegasan.


Pandu hanya tersenyum tipis mendengar adu mulut antara Tamara dan Yuri. "Bagus, Yuri! Aku senang sekarang kamu bisa bersikap tegas terhadap Tamara," gumam Pandu dalam hatinya, diam-diam merasa bangga terhadap perubahan sikap Yuri setelah resmi menjadi istrinya.

__ADS_1


"Sudah, Sayang. Jangan ladeni dia. Sekarang kamu masuk dan ajak Chia ke kamar. Dia pasti sangat lelah setelah perjalanan jauh." Pandu mengusap punggung dan menenangkan istri barunya itu, serta menggiringnya untuk berpaling dari Tamara yang masih menatapnya dengan amarah yang masih bergejolak di dadanya.


"Iya, Mas." Yuri mengangguk dan menurut. Bergegas dia masuk ke dalam rumah yang sebelumnya adalah rumah majikannya, tetapi kini juga sudah menjadi rumahnya.


Pandu ikut berpaling dan tidak mempedulikan Tamara. Dia kembali sibuk menurunkan barang-barang dari mobil dan membawanya masuk.


"Mas ... " Tamara menarik tangan Pandu merasa kesal karena Pandu semakin cuek terhadapnya.


"Apa sebenarnya tujuan kamu membawa Yuri ke rumah ini, Mas? Apa kamu sengaja melakukannya agar aku tidak betah tinggal di rumah ini dan memilih pergi?" Tamara bertanya dengan nada sedih, seolah Pandu memang sedang mengusirnya secara halus dari rumah itu.


Sejenak, Pandu menghentikan kesibukannya dan menatap Tamara dengan sebuah senyum penuh arti di bibirnya. "Aku memang tidak akan mengusirmu dari rumah ini, Tamara. Selama kamu masih berstatus istriku, kamu juga masih punya hak tinggal di rumah ini. Dan apa kamu tahu, kenapa sampai saat ini aku belum menceraikan dan mengusirmu?" Pandu bertanya denga menyeringai.


"Aku membiarkan kamu tinggal di sini dan masih mau mengakui kamu sebagai istriku ... semua itu karena Yuri! Dia yang melarangku menceraikan kamu, sebelum anak kamu lahir. Jadi, aku ingatkan sama kamu, jangan pernah membuat masalah dengan Yuri, atau aku akan benar-benar mengusirmu!" Pandu menegaskan lagi semua ucapannya dan Tamara hanya terpaku mendengar penegasan Pandu tersebut.


"Oh ya, Tamara. Mulai besok, aku harap kamu pindahkan semua barang-barangmu dari kamar utama. Kamar itu akan aku tempati bersama Yuri. Kamu silahkan tidur di kamar samping!" tegas Pandu lagi.


"Apa? Tidur di kamar samping? Kenapa harus aku, Mas? Kenapa bukan Yuri saja yang tidur di sana?" sergah Tamara tidak bisa terima.


"Kalau kamu tidak mau tidur di kamar samping, terserah kamu mau tidur dimana saja, Tamara. Yang pasti aku dan Yuri akan tetap tidur di kamar utama." Pandu memalingkan wajahnya dengan sangat acuh, lalu bergegas menyusul Yuri masuk ke dalam rumahnya.


"Aaahh, sialan! Mas Pandu selalu saja memojokkan aku dengan pilihan yang tidak bisa aku pilih! Kehadiran Yuri benar-benar sudah membuatku gila!" Tamara berdecak dan bersungut semakin kesal.


"Ini semua gara-gara janda tidak tahu malu itu! Dia juga sekarang sudah berani melawanku! Awas saja, Yuri. Aku akan memberimu pelajaran! Kita lihat saja, aku atau kamu yang akan pergi lebih dulu dari rumah ini!"


Wajah Tamara kian memerah. Kebencian Tamara terhadap Yuri kian memuncak. Kedatangan Pandu membawa Yuri ke rumah itu, juga membuat amarah dan dendam semakin menyesakkan dadanya.

__ADS_1


__ADS_2