
Malam kian meninggi. Langit tampak cerah bertabur kemilau gemintang dan pancaran sinar sang rembulan turut menyemarakkan indah suasana malam itu. Desau angin bertiup menerpa dedaunan, seakan berbisik merdu memecah keheningan.
Seperti itulah suara dessah nafas yang terdengar lirih ketika dua manusia tengah terbuai dalam sapaan hangatnya hasrat yang tengah bergelora.
Di dalam suite room hotel bintang lima itu, Hans dan Tamara kian hanyut dalam setiap sentuhan yang semakin lama semakin terasa panas membakar gairah keduanya.
Hans tidak sedikitpun ingin melepaskan wanita yang sudah menjadi obsesinya itu. Bibir indah Tamara sudah bagaikan candu baginya, sehingga Hans terus menempelkan bibirnya disana.
"Aaahh ... Hans!" Mulut Tamara meracau. Dia sudah tidak mampu menahan semua rasa yang kian memuncak menyelimuti raganya.
Bersama suaminya, selama ini dia sangat jarang memberi nafkah batin. Akan tetapi, sentuhan Hans bagai meninggalkan sensasi berbeda yang dia rasakan.
Hans lalu merapatkan tubuhnya di tubuh Tamara sambil mendorongnya, mendekat ke tempat tidur. Keduanya bergulingan di atas kasur dan Hans menindih tubuh Tamara. Dengan sangat leluasa, Hans bisa mencumbu bibir leher serta dada Tamara lebih dalam.
Kedua tangan Hans juga semakin liar berkelana, menjelajahi setiap lekuk tubuh indah wanita di hadapannya. Jemarinya menelusup di balik dress berbahan lembut yang tengah dikenakan oleh Tamara, dan sangat lihai menjamah semua bagian yang peka akan sentuhan.
Satu per satu, kain yang menutupi tubuh mereka pun kini sudah terlepas, sehingga bagian terluar pembungkus raga mereka saling bergesekan tanpa ada lagi penghalang di antara keduanya.
"Kamu cantik sekali, Sayang." Bisikan penuh hasrat dari bibir genit Hans, menggema di telinga Tamara yang membuat tubuhnya semakin meremang, merasakan hangat hembusan nafas pria gagah dan tampan itu menerpa wajahnya. Hans terus melancarkan cumbuannya, menikmati setiap jengkal tubuh Tamara yang sudah polos dan tampak pasrah menerima semua perlakuannya. Hans begitu terlena untuk terus mencumbu serta meninggalkan beberapa noda merah di permukaan kulit putih nan mulus milik wanita idamannya tersebut.
Hans tersenyum puas, bertahun-tahun dia mendambakan Tamara dalam angannya, akhirnya malam itu dia akan bisa menikmati semua obsesinya dan menumpahkan segala rasa itu dengan sangat mudah dan tanpa rintangan yang berarti.
Temaram lampu di kamar suite hotel bintang lima itu, seolah menjadi saksi bisu dua orang manusia tengah sama-sama memacu peluh dan berebut oksigen. Hans dan Tamara sangat hanyut dalam gairah hubungan terlarangnya malam itu.
__ADS_1
Setelah kurang lebih tiga puluh menit dalam panasnya penyatuan, keduanya masih belum ingin menghentikan kegiatannya. Meski keringat sudah bercucuran membasahi raga keduanya, namun kenikmatan bercinta mampu mengalahkan segala rasa lelah ataupun perasaan berdosa.
"Aku mencintaimu, Tamara." Mulut Hans juga meracau kala merasakan tubuh Tamara mulai lemas. Sudah beberapa kali Tamara mencapai puncak kehangatan dari sentuhan Hans, tetapi Hans masih saja menyerangnya dengan ganas dan tanpa jeda.
Senyum puas itu melengkung indah di bibir keduanya. Melihat pipi Tamara yang tampak merona setelah dia menyudahi permainan mereka, Hans seketika kembali tergoda untuk mellumat bibir tipis nan indah milik wanita impiannya itu.
"Terima kasih banyak, Tamara. Malam ini adalah malam paling bahagia dalam hidupku. Bertahun-tahun aku mengharapkan semua ini, dan aku sangat tidak menduga, akhirnya aku bisa mendapatkannya darimu."
Hans merebahkan tubuh letihnya di sebelah Tamara yang juga sangat kelelahan setelah pergulatan panas mereka. Keduanya berpelukan erat dan kembali saling mengecup mesra.
"Tapi ... aku takut, Hans," lirih Tamara seraya melepaskan kecupan Hans dan merebahkan kepalanya di dada bidang pria itu. Dia terus berupaya mengatur nafasnya yang masih sangat memburu, sangat lelah setelah semua yang terjadi di antara mereka.
Hans mengerutkan keningnya mendengar ucapan Tamara. "Kenapa harus takut, Sayang?" tanyanya. Tentunya dia sedikit bingung dengan keraguan Tamara yang tiba-tiba kembali muncul lagi, bahkan setelah mereka melakukannya dengan sangat bebas.
"Bagaimana kalau istrimu mengetahui hubungan kita ini? Aku takut kita akan dapat banyak masalah, Hans."
"Aku juga takut kalau Mas Pandu sampai mengetahui semua ini." Tamara masih memperlihatkan rasa ragunya.
"Jangan khawatir, Tamara. Selama kamu bisa menjaga baik-baik rahasia kita, aku pastikan Pandu juga tidak akan pernah mengetahuinya," hibur Hans lagi, berusaha menghilangkan semua keraguan Tamara.
"Satu hal lagi, Sayang." Hans terus menatap wajah Tamara dengan senyum menggoda. "Aku tidak ingin menyebut nama Sisca ataupun Pandu saat kita sedang berdua. Aku ingin kita bisa menikmati hubungan ini tanpa ada bayang-bayang mereka di antara kita," terang Hans menegaskan keinginannya kepada Tamara.
Tamara hanya tersenyum dan mengangguk. Akan tetapi, sejujurnya di dalam hatinya, kekhawatiran masih tetap ada. Pertama kali dalam hidupnya dia melakukan perbuatan dosa dan sudah berani bermain api di belakang suaminya.
__ADS_1
"Aku harap, malam-malam bahagia seperti ini akan sering bisa kita nikmati lagi, Tamara. Kamu benar-benar sudah membuatku kecanduan. Kamu itu memang wanita paling seksi dan menggairahkan. Aku sangat mencintaimu, Tamara."
Tamara menghela nafas dalam mendengar keinginan yang diutarakan Hans. "Ini hanya hubungan rahasia antara kita berdua, Hans. Sebaiknya jangan ucapkan kata cinta lagi. Aku tidak ingin kata itu justru pada akhirnya akan saling membuat kita sakit hati," tandasnya, tidak ingin menyimpan harapan lebih untuk hubungan mereka.
"Terserah kamu saja, Sayang." Hans menggeleng tidak terlalu peduli. Yang terpenting baginya hanya bisa mendapatkan Tamara, wanita yang sangat meng-obsesinya selama ini.
Setelah beberapa menit sama-sama memulihkan tenaga dan melemaskan tubuhnya dengan berbaring santai di ranjang, keduanya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri mereka.
"Ini sudah larut malam, Hans. Aku ingin secepatnya pulang. Aku tidak mau Mas Pandu mencurigaiku karena pulang sangat terlambat," ujar Tamara sambil mengenakan kembali semua pakaiannya.
Hans yang juga sudah memakai pakaiannya, kembali memeluk pinggang Tamara dari belakang serta menyelipkan wajahnya di antara pundak dan wajah cantik itu serta mengecup pipinya.
"Iya, Sayang. Aku juga harus pulang sekarang," bisiknya sambil terus mengecup wajah Tamara seolah masih belum ingin melepaskannya.
"Apa kamu akan pulang naik taksi online lagi?" imbuh Hans bertanya.
"Iya, Hans. Aku akan memesan taksi melalui aplikasi sekarang." Tamara mengambil ponsel miliknya dari dalam tas untuk membuka sebuah aplikasi transportasi online yang sudah ter-instal di ponsel tersebut.
"Tidak usah pesan taksi, Sayang! Aku yang akan mengantarmu pulang. Aku tidak mungkin membiarkanmu naik taksi sendiri di tengah malam seperti ini," cegah Hans seraya merebut ponsel dari tangan Tamara. Dia tidak tega membiarkan wanita yang baru saja memberinya kepuasan sempurna itu, harus pulang sendiri tanpanya.
"Jangan, Hans! Kalau Mas Pandu melihatmu, dia pasti ... " Tamara terdiam dan menghentikan ucapannya.
"Sttt ... " Hans meletakkan telunjuknya di bibir Tamara, agar Tamara tidak melanjutkan kata-kata keraguannya itu lagi.
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak sebodoh itu, Tamara. Aku tahu caranya bagaimana agar Pandu tidak curiga terhadap kita."
Tamara kembali hanya tersenyum dan mengangguk. Dia tahu, Hans pastilah sangat paham bagaimana cara agar Pandu tidak sampai melihat serta mencurigai mereka, kalau pun dia tetap memaksa akan mengantarnya pulang.