
Pelukan hangat dan kerlingan mata dengan senyuman penyejuk sukma, menambah rasa bahagia dirasakan sepasang kekasih yang tengah jatuh cinta. Meski malam sudah menjelang, Pandu sangat enggan melepaskan tubuh Yuri dari dekapannya.
Tanpa ingin terbelenggu rasa berdosa, keduanya baru saja kembali melewatkan waktunya, dengan menyatukan hasrat penuh cinta. Mendapatkan seorang janda muda rasa perawan seperti Yuri, membuat gairah yang berbeda terasa mengisi jiwa Pandu. Ketidak harmonisan lagi hubungannya bersama Tamara, membuat Pandu mampu mencurahkan segala perasaannya terhadap Yuri.
"Yuri, ada yang ingin aku katakan sama kamu." Pandu mengecup mesra kening Yuri dan mengusap kepala wanita itu dengan lembut.
"Apa, Pak?" Yuri tersenyum manja sambil membenamkan kepalanya di dada pria yang sudah memberinya kebahagiaan.
"Minggu depan, aku akan membawamu ke luar kota dan kita akan menikah secara siri di sana. Aku juga sudah menghubungi beberapa rekanku di kota itu, yang akan menjadi saksi pernikahan kita." Pandu berujar, menjelaskan semua yang sudah ia rencanakan dengan matang, untuk segera menghalalkan hubungan mereka.
"Saya merasa sangat tersanjung, Pak. Pak Pandu mempersiapkan semuanya begitu cepat, dan ini semua diluar perkiraan saya." Senyum kebahagiaan itu semakin mengenbang di bibir Yuri. Harapannya menjadi bagian dari hidup pria yang sangat ia cintai itu, semakin nyata di depan mata.
"Terima kasih banyak, Pak." Yuri berseru girang dan semakin memeluk erat tubuh kekar pria di sebelahnya.
Beberapa saat, keduanya semakin larut dalam hangatnya pelukan.
"Yuri ... " bisik Pandu.
"Hmm ... " Yuri menoleh dan menatap wajah tampan di hadapannya.
"Aku ingin sekali lagi." Pandu kembali berbisik sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yuri serta memberi kecupan mesra di bibir Yuri. Di balik selimut tebal yang membungkus tubuh mereka polos mereka, tangan Pandu juga kembali mengusap punggung Yuri dan meraba bagian lain tubuh indah itu.
"Ini sudah malam, Pak. Sebaiknya Bapak cepetan pulang! Nanti Bu Tamara bisa curiga kalau Bapak pulang terlalu malam." Yuri menggeliat, berusaha menolak sentuhan Pandu. Dari bahasa tubuh yang ditunjukkan Pandu, Yuri tahu kalau pria itu menginginkan dirinya lagi.
"Aaah, buat apa aku mempedulikan Tamara. Dia saja tidak pernah perhatian terhadapku dan Chia," elak Pandu bernada sengit.
"Bagaimana pun juga, Bapak harus segera pulang! Pak Pandu belum ingin Bu Tamara mengetahui hubungan kita, bukan?" bujuk Yuri.
"Iya, baiklah! Aku akan segera membawa Chia pulang! Tapi sebelum itu, aku mau kamu ... " Tanpa melanjutkan kalimatnya dan menunggu izin dari Yuri, Pandu mencium bibir Yuri sangat dalam. Gairahnya kembali bangkit dan ada rasa untuk selalu dekat bersama wanita yang begitu memikat hati dan kini sedang berada di dekatnya itu.
__ADS_1
"Jangan, Pak! Saya tidak akan memberikannya lagi malam ini. Sebelum Bapak menghalalkan hubungan kita, seharusnya kita menjaga jarak dulu. Bapak juga nggak mau 'kan kalau para tetangga di perumahan ini menjadikan kita bahan pergunjingan," tolak Yuri, memberi pengertian kepada Pandu. Dengan perlahan, Yuri mendorong dada Pandu dan menciptakan sedikit jarak di antara mereka.
"Hah, kamu pelit sekali! Ok, tunggu saja pembalasanku! Setelah nanti kamu sudah sah jadi istriku, aku tidak akan pernah melepaskanmu!" gurau Pandu dengan ancaman genitnya. Walau merasa sedikit kecewa akan penolakan Yuri, tetapi dia bisa memahami apa tujuan Yuri melakukan semua itu.
Perlahan Pandu melepaskan pelukannya. Keduanya beranjak dari atas tempat tidur untuk memakai semua pakaiannya. Dengan berat hati, Pandu harus segera pulang. Benar kata Yuri, apabila dia masih berada di rumah itu hingga larut malam, pasti akan ada saja gosip miring tentang dirinya dan Yuri, yang bisa menjadi perbincangan di kalangan tetangga.
.
"Chia jangan rewel, ya! Bobo yang nyenyak sampai nanti tiba di rumah!" Yuri membaringkan tubuh bayi mungil yang masih terlelap itu pada baby car seat di dalam mobil Pandu, serta memasangkan sabuk pengaman.
"Sampai jumpa besok, Sayang!" pamit Pandu sambil mengecup mesra kening Yuri.
Yuri hanya mengangguk dan tersenyum. Dia melambaikan tangan, membalas lambaian tangan Pandu, ketika mobil itu sudah bergerak meninggalkan rumahnya.
Setelah mobil itu menghilang dan tidak terlihat lagi di pandangannya, sebuah senyum tampak selalu terlukis indah di bibir Yuri. Dia teringat janji Pandu yang akan segera menikahinya. Meski hanya akan menjadi istri siri, tetapi hatinya tetap dipenuhi berjuta rasa bahagia.
Yuri bergegas masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintu. Tubuhnya masih merasakan letih dan ingin segera beristirahat. "Uaahhem!" Yuri menguap panjang. Setelah sangat kelelahan akibat apa yang dia lakukan bersama Pandu malam itu, rasa kantuk langsung menyerangnya.
Di balik rerimbunan pohon peneduh jalan di depan gang rumahnya, dua pria tidak dikenal terus mengawasi gerak-gerik Yuri. Melihat mobil Pandu sudah berlalu, kedua pria itu merapatkan langkahnya dan mendekati pintu masuk di rumah Yuri.
Salah seorang dari dua pria berbadan kekar itu, tampak mengedipkan mata dan menggerakkan kepalanya, memberi isyarat kepada kawannya.
"Ternyata wanita itu bersama seorang pria di rumahnya. Apa kamu tahu siapa pria itu?" tanya salah seorang dari pria itu.
"Entahlah, aku juga tidak kenal. Tapi, itu bukan urusan kita. Yang terpenting adalah kita harus segera menemui wanita itu!" sahut pria satunya.
"Iya! Kita harus mejalankan perintah Bos Hans malam ini juga. Makin cepat selesai akan lebih baik!"lanjut pria sebelumnya juga tidak ingin peduli.
"Ok!" Pria satunya kembali mengangguk dan perlahan mengetuk pintu rumah di hadapannya.
__ADS_1
Yuri yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, seketika tersentak.
"Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini? Apa Pak Pandu balik lagi? Tapi aku tidak mendengar suara mobilnya." Dalam hati, Yuri bertanya-tanya dan merasa heran mendengar ada yang datang menemuinya, padahal malam sudah cukup larut.
"Ahh, biarkan saja! Mungkin hanya orang iseng. Kalau itu Pak Pandu, pasti dia akan meneleponku!" Yuri tidak ingin menghiraukan suara ketukan pintu itu. Dia kembali menarik selimut dan memeluk bantal gulingnya, hendak segera tidur.
Ketukan pintu terus saja terdengar. Meski Yuri menutup kedua telinganya dengan bantal yang lain, tetapi suara ketukan pintu itu semakin lama semakin keras, bahkan terdengar seperti diketuk dengan sangat tidak sabaran.
Merasa terganggu oleh suara-suara itu, Yuri akhirnya beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
"Siapa di luar malam-malam begini?" teriak Yuri bertanya, sambil menggulung rambutnya ke atas dan menjepitkan sebuah jedai.
Tidak ada suara yang menyahut, hanya ketukan pintu yang terdengar semakin keras.
Yuri bergegas memutar kunci dan membuka pintu. Kedua mata wanita itu juga langsung terbelalak lebar, manakala melihat dua orang pria tak dikenalnya berdiri di depan pintu dan menatapnya dengan sorot mata yang terlihat sangat menakutkan.
"Siapa kalian dan apa tujuan kalian datang ke sini?" tanya Yuri dengan raut wajah yang mulai tampak ketakutan.
"Jangan takut, Nona. Kami datang kesini bukan untuk berbuat jahat, tapi kami datang untuk bernegosiasi denganmu." Dengan senyum yang juga sangat menyeramkan, salah seorang pria itu mengutarakan tujuannya datang ke rumah Yuri.
"Negosiasi?" Mata Yuri kian membulat. "Negosiasi apa?" tanya Yuri penasaran.
"Izinkan kami masuk, kita bicara di dalam!" ujar salah seorang lagi.
"Tidak! Kalian tidak boleh masuk. Kita bicara di sini saja. Lagi pula, aku tidak kenal siapa kalian!" Yuri menaikkan telapak tangannya, tidak mengijinkan kedua pria itu masuk ke dalam rumahnya.
"Paksa saja dia, Bro!" ujar pria satunya, sambil mendorong tubuh Yuri masuk ke dalam rumahnya.
"Tidak! Kalian jangan seenaknya masuk tanpa seizinku!" Yuri yang sudah terdorong masuk ke ruang tamu, kembali berteriak, mencoba mencegah dua pria itu masuk.
__ADS_1
"Diamlah! Kami hanya ingin bicara baik-baik denganmu."
Salah seorang dari pria itu menutup pintu rapat-rapat, sedangkan pria satunya terus menatap tajam ke arah Yuri.