Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 46. Rela Menjadi Yang Kedua


__ADS_3

Pandu kembali mengecup pucuk kepala Yuri dan membelai rambut panjangnya.


"Aku juga sayang sama kamu, Yuri. Sudah lama aku memendam perasaan ini, aku tidak berani mengakuinya, karena aku sadar siapa aku. Tapi ... sekali lagi aku minta, maafkan aku. Saat ini Tamara masih adalah istri sahku. Walau sikapnya sangat berbeda belakangan ini, dia tetap adalah ibu kandung dari putriku. Untuk saat ini, aku belum bisa menjanjikan apapun padamu, Yuri!" sesal Pandu.


Seulas senyum kebahagiaan langsung tergambar di wajah Yuri. Dia sama sekali tidak pernah berharap Pandu juga akan menyatakan perasaan yang sama dengannya. Akan tetapi, semua hal yang baru saja diuraikan oleh Pandu, membuat hatinya seakan dihiasi jutaan bunga-bunga nan indah.


"Saya juga tidak akan pernah menuntut apapun dari Pak Pandu. Saya sadar, mencintai bapak adalah sebuah kekeliruan yang tidak semestinya. Saya juga tidak pernah punya niat menggantikan posisi Ibu Tamara di hati Pak Pandu," ucap Yuri pasrah. Dia sadar akan posisinya dan tidak mungkin mampu merebut cinta seorang Pandu dari Tamara, istri yang masih sangat dicintai oleh pria pujaan hatinya tersebut.


"Tidak, Yuri! Kamu tidak boleh sepasrah itu. Kita sudah melakukan sebuah kesalahan yang indah malam ini, dan oleh sebab itu, kamu punya hak menuntut tanggung jawab dariku!" tegas Pandu lagi.


Yuri seketika termangu mendengar kalimat yang ditegaskan Pandu kepadanya. Tanggung jawab apa yang dia harus tuntut dari pria itu? Sedangkan, selama ini Pandu sudah begitu banyak menolong kehidupannya. Yuri tidak pernah berani berharap lebih. Menyerahkan diri sepenuhnya untuk Pandu, bagi Yuri juga belum cukup untuk membalas semua kebaikan dan perhatian Pandu.


"Dengar, Yuri! Aku mungkin tidak akan pernah bisa menjadikan kamu satu-satunya dalam hidupku. Tapi, kamu juga berhak mendapatkan hal yang sama, seperti yang aku berikan untuk Tamara. Oleh karena itu, aku akan tetap bertanggung jawab atas kesalahan yang kita perbuat malam ini." Pandu kembali mempertegas penjelasannya.


"Maksud, Bapak ... " Yuri mengerutkan dahinya, dia belum bisa sepenuhnya memahami maksud dari perkataan Pandu tersebut.

__ADS_1


"Untuk sementara, mungkin kita harus merahasiakan hubungan kita ini, Yuri. Khususnya dari Tamara. Aku masih harus menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semua kepadanya. Selain itu, aku tidak ingin nantinya kita melakukan kesalahan lagi. Aku juga ingin segera menghalalkan hubungan kita ini!"


Yuri lagi-lagi dibuat terkesiap oleh ucapan Pandu. "Apa yang akan bapak lakukan? Apa itu artinya bapak akan menikahi saya?" tanya Yuri penuh harap.


"Benar, Yuri! Sebagai bentuk tanggung jawabku sama kamu, aku akan menikahimu. Tapi sekali lagi maafkan aku, untuk saat ini aku hanya bisa menikahimu secara siri. Tapi aku janji, setelah aku bicara sama Tamara, aku pasti akan menjadikan kamu istri sahku juga," urai Pandu, memberi sebuah harapan, seraya meraih tangan Yuri dan mengecup punggung tangan wanita itu penuh rasa sayang.


"Dan walau kamu nanti hanya jadi istri siri bagiku ... kamu tetap akan mendapatkan hak yang sama seperti halnya Tamara. Sebisaku, aku akan berlaku adil kepada kalian berdua," sambung Pandu meyakinkan sebuah janji tulus kepada Yuri.


"Terima kasih, Pak! Saya hanya bisa berharap, Pak Pandu bisa menerima saya apa adanya." Yuri merebahkan kepalanya dengan manja di dada Pandu. Denyut jantungnya berpacu lebih cepat, bersamaan dengan deru di dada Pandu yang juga terdengar sangat cepat. Hatinya semakin dipenuhi berjuta haru sekaligus kebahagiaan. Meski Pandu hanya bisa menjadikan dirinya yang kedua, tetapi dia merasa sangat senang, karena setidaknya Pandu juga akan menjadi miliknya.


Pandu semakin menyadari, bahwa sesungguhnya Yuri lah yang lebih pantas menjadi pendamping hidupnya.


.


Malam penuh kehangatan bagi sepasang manusia yang tengah saling jatuh cinta, memang terasa berlalu sangat cepat. Kendati Pandu dan Yuri sangat menikmati kebersamaan mereka malam itu, namun waktu memaksa mereka untuk berpisah sementara. Seperti hari-hari biasanya, Yuri harus merelakan Pandu pulang bersama Chia dan akan datang lagi esok hari.

__ADS_1


Setelah Pandu pulang membawa Chia, Yuri merebahkan lagi tubuhnya di atas ranjang, dengan senyum kebahagiaan yang tidak pernah lepas menghiasi bibirnya. Yuri memeluk erat bantalnya dan merasakan aroma maskulin dari tubuh Pandu masih tertinggal di bantal itu. Betapa hangat malam yang baru saja dia lewatkan bersama Pandu, juga terus terbayang dalam benaknya.


"Ya, Tuhan! Kesalahan apa yang sudah aku lakukan dengan Pak Pandu? Apa aku harus merasa bahagia atau menyesalinya?" Pikiran Yuri terasa campur aduk, antara bahagia dan menyesal, namun dia sendiri tidak dapat memahaminya.


"Aaahh ... tidak, Yuri! Kamu tidak perlu menyesali semuanya. Pandu itu pria yang sangat kamu cintai. Kamu berhak bahagia dan mendapatkan apa yang kamu impikan selama ini!" Yuri tidak ingin menyalahkan dirinya dan membuang jauh-jauh semua rasa bersalah.


Bertahun-tahun perjalanan hidup Yuri hanya dipenuhi kepahitan dan penderitaan. Tetapi, justru sebuah perbuatan salah dan tidak sepantasnya yang dia lakukan bersama Pandu malam itu, menyisakan banyak kesan manis di dalam hatinya


"Pak Pandu juga berhak untuk hidup bahagia bersama orang yang tulus mencintainya. Ibu Tamara sudah berkhianat dan berselingkuh dengan Pak Hans. Semua itu tidak adil untuk Pak Pandu."


Yuri terus meyakinkan dirinya agar tidak menyesali semua yang dia dan Pandu sudah nikmati bersama di malam yang penuh cinta itu.


"Apa aku harus merebut Pak Pandu dari Ibu Tamara?" Sekilas pikiran jahat itu terlintas di kepala Yuri. Apabila dia memang berniat, sudah pasti dia akan dengan mudah memisahkan Pandu dengan Tamara. Yuri mempunyai bukti nyata perbuatan curang Tamara bersama Hans, yang bisa sewaktu-waktu dia ungkapkan kepada Pandu.


"Tidak ... sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengungkapkan hal ini kepada Pak Pandu. Sepintar-pintarnya Ibu Tamara menyembunyikan kebusukannya, aku yakin suatu ketika Pak Pandu akan menciumnya juga. Dan aku pastikan, bukan aku yang akan mengungkapkannya, tapi Pak Pandu akan mengetahuinya sendiri!" Tidak ada sama sekali niat Yuri mengungkapkan perbuatan buruk Tamara kepada Pandu. Dia sangat yakin, kalau Tamara tidak akan selamanya bisa menyimpan rahasianya. Suatu saat, Pandu pasti akan mengetahuinya juga.

__ADS_1


Hingga waktu terus bergulir dan malam berganti fajar, Yuri sama sekali tidak mampu memejamkan matanya. Berkali-kali dia mencoba untuk tidur, tetapi bayangan Pandu selalu melintas di pelupuk matanya. Di antara ribuan malam yang pernah dia lalui, hanya di malam itulah dia merasa menjadi seorang wanita seutuhnya. Menyerahkan diri sepenuhnya kepada pria yang sangat dia cintai, adalah sebuah kebahagiaan sempurna baginya.


__ADS_2