
Hari itu, genap sebulan Yuri bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh Hans.
Yuri tersenyum senang, matanya menatap dengan binar sumringah, slip gaji yang kini ada di tangannya. Seumur hidupnya, ini pertama kali dia menerima gaji dalam format rinci dan formal.
Sebagai karyawan magang dan bekerja hanya part time saja, pasti lah jumlah yang dia terima tidak seberapa besar, tetapi dia sangat bahagia menerima gaji pertamanya, semenjak bekerja di perusahaan ternama di kota itu.
"Dengan gaji pertamaku ini, aku akan membelikan sesuatu yang istimewa untuk Chia dan juga Pak Pandu." Sambil terus memasang senyum indah di bibirnya, Yuri menggumam sendiri. Tidak ada harapan yang terlalu tinggi dalam benaknya, kecuali hanya bisa membagi semua yang dia dapatkan saat itu bersama orang yang dia kasihi serta sudah banyak membantu kehidupannya sehingga kini bisa merasa kehidupannya itu menjadi jauh lebih baik.
"Cie ... yang dapat gaji pertama!" ledek Nita, dan Yuri hanya tertunduk malu mendengarnya. Tanpa dia sadari, Nita sedari tadi memperhatikan ekspresi wajahnya yang terihat teramat bahagia menerima penghargaan pertama dari kantor tempatnya bekerja itu.
"Kalau kamu tetap bisa mempertahankan kinerja bagus kamu, aku yakin sebelum tiga bulan kamu bisa diangkat jadi karyawan tetap disini, Yuri. Dan kamu akan bisa menerima gaji yang lebih besar. Karena itu, tetap semangat dan pantang menyerah ya!" sambung Nita, memberi nasehat sekaligus menyemangati juniornya itu.
"Terima kasih banyak, Mbak Nita. Ini juga karena Mbak Nita yang selalu sabar membimbing saya. Terima kasih juga karena selalu menyemangati saya," ujar Yuri, sangat senang mendengar dukungan dari sekretaris senior yang paling dipercaya oleh Hans itu.
"Oh ya, Yuri! Apa aku boleh minta tolong sama kamu?" Nita kembali melanjutkan ucapannya.
"Apapun akan saya kerjakan, Mbak!" sahut Yuri.
"Tolong bawakan dokumen ini ke ruangan Pak Hans. Ini notulen meeting tadi pagi. Pak Hans ingin segera memeriksanya!" Nita menyerahkan sebuah map kepada Yuri.
"Siap, laksanakan, Mbak!" Yuri segera mengambil alih map itu dari tangan Nita seraya meletakkan telapak tangan di kening menirukan gaya hormat yang sering dilakukan pada waktu upacara bendera.
Nita hanya mengeleng dan terkekeh kecil menyaksikan tingkah konyol Yuri, tetapi dalam hatinya dia sangat kagum akan semangat dan keinginan belajar Yuri yang cukup besar serta sifatnya yang rajin dan suka membantunya dalam segala hal.
Dengan penuh percaya diri, Yuri melangkah menuju ruangan CEO. Sebulan bekerja di kantor itu, dia juga sudah terbiasa dengan sikap tidak ramah Hans kepada semua karyawannya. Semua itu membuat Yuri tidak ragu menemui Hans, walau sudah pasti, bos besar perusahaan itu juga akan sangat acuh padanya, bahkan terkesan meremehkan semua orang.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Pak Hans, apa saya boleh masuk?"
Yuri mengetuk pintu ruangan Hans hingga beberapa kali dan mohon izin dengan sopan. Akan tetapi, tidak ada jawaban yang dia dengar dari dalam ruangan tersebut.
"Iya, masuk saja!"
Hingga Yuri mengulang mengetuk pintu beberapa kali, baru lah dia mendengar jawaban itu dari Hans.
"Maaf, Pak Hans. Saya kesini hanya untuk membawakan notulen ini." Yuri membungkuk hormat seraya menunjukkan map yang tengah ia bawa kepada Hans.
"Taruh saja di mejaku dan segera keluar dari ruanganku!" ucap Hans ketus tanpa menoleh sedikit pun ke arah Yuri. Sekilas, di balik ucapan ketus atasannya tersebut, Yuri bisa melihat ada senyum yang selalu mengembang di bibir pria angkuh itu. Sambil menyelonjorkan kedua kakinya di atas meja, Hans terlihat sangat senang kala menatap layar ponselnya, seolah ada sesuatu yang membuatnya sangat ceria dari apa yang dilihatnya di ponsel itu.
"Baik, Pak!" Yuri meletakkan map itu di atas meja kerja Hans sesuai apa yang diperintahkan oleh sang bos besar.
Ketika Yuri tiba di depan pintu ruangan itu, sontak matanya terbelalak lebar dan sangat terkejut melihat seorang wanita tengah melangkah dengan cepat menuju ke arah ruangan itu.
"Itu Ibu Tamara!" Yuri sangat terkejut. Dengan sangat jelas dia melihat wanita yang kini sudah hanya beberapa meter ada di depannya.
Tidak ingin Tamara melihatnya ada disana, Yuri segera menyelinap dan menempelkan tubuhnya di balik dinding di sebelah pintu.
"Aah, untung saja Bu Tamara tidak melihatku!" Yuri menghela nafas lega seraya mengusap dadanya, ketika Tamara sudah masuk ke dalam ruangan Hans. Yuri kembali mengendapkan langkahnya untuk segera pergi dari tempat itu. Namun, seketika Yuri menghentikan langkahnya dan mengerutkan keningnya. Pintu ruangan Hans masih terbuka lebar sehingga dengan jelas dia bisa melihat dan mendengar apa yang tengah terjadi di dalam ruangan itu.
"Akhirnya ... yang sedari tadi pagi aku tunggu-tunggu datang juga!" Hans segera beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Tamara yang kini sudah ada di dalam ruangannya.
__ADS_1
"Aku kangen sama kamu, Sayang. Sudah tidak sabar rasanya bisa bersama wanita yang paling cantik dan menggairahkan ini." Hans langsung memeluk erat Tamara dan terlihat sedikitpun ada rasa canggung, keduanya lalu berciuman sangat mesra.
"Aku juga kangen banget sama kamu, Hans. Makanya aku sempatkan untuk datang kesini." Tamara juga sama sekali tidak terlihat risih dengan perlakuan Hans. Dengan manja, dia membalas pelukan dan mencium bibir Hans, bahkan lebih panas dan dalam.
Yuri yang masih berdiri di dekat pintu, seketika tercengang, seakan tidak percaya melihat semua kejadian di hadapan matanya. Begitu asyik dengan semua kerinduannya, Tamara dan Hans sama sekali tidak menyadari kalau Yuri masih ada di depan ruangan itu dan melihat secara nyata apa yang tengah mereka berdua lakukan disana.
"Ya ampun, Tuhan! Pemandangan apa yang tengah aku lihat ini? Aku tidak percaya kalau hubungan Bu Tamara dan Pak Hans hanya sebatas sahabat sekaligus rekan bisnis. Aku curiga hubungan mereka sudah lebih dari ini!" Tanpa sadar, batin Yuri menggumam. Hal tidak biasa yang secara tidak sengaja dilihat oleh kedua netranya itu, membuat berbagai kecurigaan kembali bermunculan di benaknya.
Tangan Yuri bergerak begitu saja, merogoh ponsel yang dia simpan di saku celana bahan yang tengah dikenakannya. Entah dorongan apa yang membuat dia tiba-tiba ingin mengabadikan kejadian tidak senonoh yang tengah terjadi di dalam ruangan atasannya itu.
Yuri membuka aplikasi perekam video di ponselnya. Diam-diam dia juga mengambil beberapa gambar serta merekam perbuatan mesum yang tengah dilakukan dua orang di ruangan itu.
Tamara semakin manja memeluk Hans dan Hans juga seakan tidak ingin melepaskan wanita yang sudah menjadi candunya itu.
Hans lalu menggiring tubuh Tamara ke atas sofa yang ada di ruangan kerjanya yang sangat luas dan mewah itu. Sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Hans, Tamara duduk manja di pangkuan Hans. Seolah tidak ada rasa bosan, bibir keduanya selalu melekat dan saling mellumat penuh gairah.
"Kamu ingin kita melakukannya disini, atau kita keluar dan check in di hotel saja, Sayang?" Hans berbisik di telinga Tamara seraya mengecup bagian belakang telinga Tamara dan tangannya juga bergerilya menjamah setiap lekuk tubuh indah Tamara di balik blazer yang tengah dikenakannya.
Aliran darah Tamara berdesir makin cepat dan tubuhnya juga meremang. "Aaahh, Hans ... jangan di sini!. Aku takut ada yang melihat kita," balasnya diiringi suara dessahan yang keluar dari mulutnya, tidak bisa menahan semua rasa yang seketika bangkit setelah semua sentuhan tangan nakal Hans.
"Tidak akan ada yang melihat kita, Sayang. Ini kantorku. Tanpa seizinku, tidak boleh ada yang sembarangan masuk kesini!" Hans semakin liar menjamah semua yang ada di tubuh indah milik Tamara.
"Pokoknya jangan disini, Hans! Kita tidak akan merasa nyaman melakukannya disini," tolak Tamara sambil perlahan melepaskan pelukan Hans.
"Baiklah! Kita harus segera keluar dari kantor ini sekarang dan check in di tempat biasa. Aku sudah sangat tidak tahan, Sayang!" Hans dan Tamara bergegas melepaskan pelukannya dan beranjak dari Sofa.
__ADS_1
Mengetahui kalau Hans dan Tamara akan segera keluar dari ruangan itu, buru-buru Yuri menutup aplikasi perekan video dari ponselnya. Yuri kembali berjalan mengendap, untuk segera pergi dari tempat itu sebelum Tamara dan Hans benar-benar keluar dari ruangannya.