Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 36. Pupus


__ADS_3

Waktu merangkak menjemput malam. Jalanan mulai terlihat gelap, tetapi suasana tampak semarak dihiasi oleh kerlip lampu kendaraan serta lampu jalan yang sudah menyala di setiap sudut di kota malam itu.


Pandu menjalankan mobilnya lebih cepat dan ingin segera tiba di rumahnya setelah menjemput Chia dari rumah kontrakan Yuri. Sepanjang perjalanan, Chia terlihat sudah tertidur di baby car seat, dan tentu saja Pandu tidak tega melihat putri kecilnya itu tidur dengan posisi tidak nyaman di dalam mobil.


Setibanya di rumah, Pandu langsung menidurkan Chia di kamarnya. Satu-satunya buah hati Pandu itu memang tidak pernah rewel. Pandu juga terbiasa meninggalkannya tidur sendiri di kamar itu. Hanya saja, Pandu sering terjaga untuk memeriksa keadaan bayinya itu.


Mengetahui bahwa Chia sudah lelap tertidur, Pandu memilih beristirahat di sofa ruang tamu. Sambil menyelonjorkan kakinya, Pandu bermain dengan ponselnya disana.


Sejenak matanya melirik ke arah jarum jam pada jam dinding di ruangan itu. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam dan istrinya belum juga sampai di rumah. Akan tetapi, Pandu tidak terlalu memusingkannya, karena pulang terlambat sudah menjadi kebiasaan Tamara beberapa bulan terakhir ini.


Pandu mengerutkan keningnya dan menajamkan telinganya ketika dia mendengar suara tidak biasa yang terdengar memasuki halaman rumahnya.


"Itu suara mobil siapa?" Pandu segera beranjak dari atas sofa. Perlahan dia mengintip dari balik gorden ruang tamu dan memastikan mobil siapa yang masuk ke halaman rumahnya.


Pandu cukup merasa tercengang. Tampak sebuah compact SUV berwarna putih, buatan Jepang terbaru, tengah parkir di halaman rumah itu dan istrinya terlihat turun dari pintu kemudi.


"Itu, Tamara! Mobil siapa yang dia pakai?" Pandu merasa heran karena tumben hari itu Tamara pulang sendiri tanpa naik taksi online.


"Kamu pulang sama siapa, Tamara?" Pandu langsung bertanya, ketika Tamara baru saja masuk ke rumah mereka dan melewati ruang tamu. Pandu duduk dengan posisi membelakangi Tamara, dan kedua tangan menyilang di dada. Wajahnya terlihat datar, senyum kecut menghiasi bibirnya.

__ADS_1


"Sendiri, lah Mas. Memangnya siapa yang mengantarku ... selama ini kamu tidak pernah lagi menjemputku!" Tamara ikut menjawab dengan ketus. Karena dengan cara itu, dia yakin Pandu tidak akan bertanya macam-macam lagi terhadapnya.


"Mobil siapa yang kamu pakai itu?" Pandu kembali bertanya dan menginterogasi.


Mendengar pertanyaan Pandu, Tamara langsung mengangkat satu ujung bibirnya. "Mobil itu punyaku lah, Mas! Aku baru saja membelinya langsung dari daeler!" Tamara menjawab dengan seringai sombongnya.


"Dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli mobil semahal itu, Tamara?" usut Pandu. Dia pastinya sangat paham kalau harga mobil yang baru saja dibawa pulang oleh Tamara itu bukanlah mobil kalangan bawah, melainkan sebuah mobil yang harganya bukan sekedar kaleng-kaleng. Hanya golongan menengah keatas saja lah yang mampu memiliki mobil semacam itu.


"Ha ha ha ... kamu bertanya dari mana aku dapat uang? Pertanyaan konyol macam apa itu, Mas?" Tamara tergelak.


"Selama ini aku kerja keras, dari pagi sampai malam, kamu kira apa, Mas?" tandasnya, sarat akan sindiran serta mencari pembenaran akan dirinya.


"Dengar ya, Mas! Asal kamu tahu, aku baru saja mendapat bonus yang sangat tinggi dari Mr Tim, karena aku sudah memenangkan tender besar dengan salah satu anak perusahaan besar Hardianto Corporations. Dan semua itu aku dapatkan karena kerja kerasku selama ini, Mas!" sambung Tamara, menegaskan semua penjelasannya.


Belum habis rasa terkejut Pandu akan mobil itu, Pandu kembali menautkan kedua ujung alisnya. Tangan Tamara saat itu juga terlihat penuh dengan tas belanja. Logo butik dan toko perhiasan ternama ada di tas-tas belanja itu. Sudah pasti, Tamara juga baru saja usai berbelanja barang-barang mewah lainnya.


"Dan tas-tas itu ... apa kamu juga habis berbelanja barang-barang mewah lagi?" Pandu menatap tajam ke arah Tamara serta menunjuk tas-tas belanja di tangannya.


"Suka-suka aku mau berbelanja apa saja, Mas. Toh aku membelinya dengan uangku sendiri." Tamara kembali mencebikkan bibirnya tidak peduli dengan kalimat yang bernada teguran dari suaminya itu.

__ADS_1


"Tapi aku tidak suka kalau kamu terlalu banyak menghambur-hamburkan uang hanya untuk kepentingan kamu sendiri tanpa pernah peduli dengan kebutuhan Chia, Tamara!" Pekik Pandu, menggeram dan meninggikan tekanan suaranya. Dia merasa tidak senang karena Tamara selalu hanya mementingkan diinya sendiri tanpa pernah peduli terhadap putrinya.


"Loh ... semua itu kan tanggung jawab kamu sebagai kepala rumah tangga, Mas! Kenapa malah menyalahkan aku?" balas Tamara membentak dengan seringai pedasnya. "Oohh, iya ... aku paham, Mas. Kamu ingin aku yang memenuhi semua kebutuhan Chia, karena saat ini penghasilan kamu di toko tidak cukup kan?" cibirnya dengan kalimat yang kian membuat telinga Pandu kian panas.


"Aku tahu dari dulu penghasilan kamu daro toko memang tidak seberapa, Mas. Tapi kamu selalu berlagak melarang aku bekerja! Pantas saja kita tidak punya apa-apa sampai saat ini. Jangankan membelikan barang-barang berharga buat aku, untuk kebutuhan sehari-hari saja ... kita hanya pas-pasan!" hardik Tamara, melimpahkan semua kesalahan kepada suaminya.


"Cukup, Tamara! Jaga ucapan kamu!" bentak Pandu. "Selama ini aku memang tidak pernah bisa membelikan kamu barang-barang mewah seperti itu. Tapi dengan segala kemampuan dan usahaku, aku selalu berusaha mencukupi semua kebutuhan kita!"


"Usaha apa, Mas? Buktinya hidup kita hanya begini-begini saja! Apa kamu pikir rumah yang kita tempati ini cukup besar dan mewah? Apa, mobil yang kamu miliki juga sudah cukup bagus?" hina Tamara merendahkan suaminya.


"Tutup mulut kamu, Tamara!" Tanpa sadar, tangan Pandu terangkat. Semua kata hinaan dari Tamara membuatnya begitu marah dan tersinggung.


"Kamu mau apa, Mas? Menamparku?" Tamara sama sekali tidak terlihat takut akan kemarahan suaminya. "Ayo, tampar aku kalau kamu berani!" tantangnya sambil menatap tajam suaminya dan ikut menunjukkan kemarahannya kepada Pandu.


Pandu mendengus kesal seraya menurunkan tangannya. Seberapa pun dia marah terhadap Tamara, dia tetap tidak boleh main tangan, apalagi kalau dia sampai melakukan semua itu terhadap seorang wanita yang adalah istrinya sendiri.


"Sudahlah, Mas. Aku lelah! Aku tidak ingin buang-buang energi untuk bertengkar denganmu lagi!" pungkas Tamara sembari membalikkan badan dan melangkah menuju kamarnya meninggalkan Pandu sendiri dengan rasa amarahnya di ruang tamu.


Pandu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan meremas rambut serta kepalanya dengan kasar. Dia menghela nafas dalam-dalam dan berusaha meredam emosi yang masih berkobar membakar dadanya. Semua kelakuan Tamara membuatnya merasa semakin merasa tidak dihargai oleh istrinya sendiri.

__ADS_1


Dia semakin menyadari ketidak harmonisan lagi hubungannya dengan sang istri. Entah mengapa, rasa cinta yang dulu begitu kuat di antara mereka, seakan kini sudah memudar. Harapan memiliki keluarga bahagia seutuhnya setelah kehadiran seorang anak di tengah keluarga mereka, juga seakan pupus, kandas bersama perubahan sikap Tamara yang semakin hari kian menjadi-jadi.


Setelah pertengkaran itu, lagi-lagi Pandu dan Tamara tidak saling bicara. Bahkan ketika tidur pun mereka saling memunggungi dan tidak ingin bertemu muka satu sama lain.


__ADS_2