Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 30. Kecanduan Berbuat Dosa


__ADS_3

Fajar mulai menyingsing. Matahari sudah mulai bangkit dari tidur panjangnya dan kembali melanjutkan tugasnya untuk kembali memancarkan ultraviolet-nya bagi beberapa makhluk hidup yang membutuhkan.


Suara kokok ayam berpadu merdunya kicau burung-burung yang bertengger di antara pepohonan yang daunnya masih basah oleh sisa embun semalam, menambah semarak suasana pagi yang hari itu tampak cerah dan sangat pas untuk semua orang memulai aktivitasnya sepanjang hari itu. Hal itu tampak dari ramainya orang-orang yang sudah mulai disibukkan dengan berbagai aktivitasnya pagi itu,


Berkas sinar mentari itu juga masuk menerobos masuk melalui jendela kamar Tamara  yang seketika membuat ia tersentak bagung dari lelap tidurnya.


"Astaga aku kesiangan!" Tamara terlonjak bangun dari atas ranjangnya dan menyadari kalau dia bangun sangat kesiangan. Dia semakin terlihat panik karena jarum jam pada jam dinding di kamarnya kini sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Rasa lelah setelah pergulatan panas yang terjadi antara dia dan Hnas tadi malam, juga membuat tubuhnya terasa lemas dan tadi malam tidur begitu pulas sehingga dia juga tidak mendengar suara alarm dari ponsel yang seperti biasa membangunkannya setiap pagi.


"Aku pasti terlambat lagi sampai di kantor dan Mr Tim pasti akan kembali memarahiku habis-habisan!" gumamnya menyesali kenapa dia bisa bangun sangat kesiangan pagi itu.


Tamara menggeleng dan menghembuskan kasar nafasnya sembari melirik sebelahnya. Dia menyadari kalau Pandu tadi malam juga tidak tidur menemaninya. Pandu memilih tidur di kamar putrinya karena masih merasa kesal setelah pertengkarannya tadi malam dengan Tamara.


Tak ada niatnya sedikitpun peduli akan suaminya ataupun putrinya pagi itu. Tamara hanya berpikir bagaimana dia bisa segera bersiap agar tidak terlalu terlambat tiba di kantor.


Tamara bergegas bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Tidak ada sedikitpun niatnya merapikan tempat tidur separti yang rutin dilakukannya setiap bangun pagi. Hanya ada satu yang dia pikirkan yaitu segera berkemas dan berangkat ke kantor secepatnya, agar Mr Tim tidak marah lagi terhadapnya. Dia teringat baru kemarin dia berjanji akan tidak terlambat lagi.


Tanpa memperdulikan pekerjaan rumah serta mengurus Chia yang merupakan tanggung jawabnya setiap pagi, Tamara segera berganti pakaian dan bersiap untuk pergi ke kantor. Baju yang sedikit tertutup juga dia pilih untuk bekerja hari itu. Dia tidak ingin seorangpun nanti melihat noda merah yang masih membekas jelas di permukaan kulitnya, terutama Pandu.


Setelah rapi dan siap akan berangkat bekerja, Tamara segera keluar dari kamarnya.


Tamara hanya tersenyum samar ketika di dapur dia melihat Pandu tengah sibuk mempersiapkan susu serta bubur bayi untuk Chia.


Pandu yang masih terlihat sangat kesal setelah pertengkaran semalam dengan Tamara, hanya menatap kecut tanpa ingin berbicara sepatah katapun dengan istrinya itu. Karena Tamara tidak bangun pagi itu, dia sendirilah yang harus kerepotan mengurus semua pekerjaan rumah serta mengurus keperluan bayinya.


"Maafkan aku bangun terlambat dan tidak sempat membantumu mengurus pekerjaan rumah," ucap Tamara menunjukkan penyesalannya.


Pandu sama sekali tidak menjawab. Hanya tatapan sinis yang dia tunjukan terhadap istrinya. Meski Tamara tidak membantunya, dia juga sudah terbiasa mengerjakan semua itu sendiri.


Karena Pandu tidak menjawab dan terlihat sangat cuek padanya, Tamara juga tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan Pandu.


"Aku berangkat kerja dulu ya, Mas! Taksi yang aku pesan sudah datang!" pamitnya seraya melangkah cepat meninggalkan Pandu yang masih sibuk di dapur.


Pandu menggeleng dan mendengus sangat kesal terhadap istrinya itu. Pagi itu Tamara tidak salim dengannya, bahkan menoleh kepada bayinya saja dia juga dia tidak sempat. Hanya pekerjaan dan karirnya yang terpenting baginya.


Meski harus mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus Chia sendiri pagi itu, sedikitpun Pandu tidak merasa terbebani. Hari itu, dia akan menitipkan Chia lagi pada Yuri dan itu membuatnya tidak harus terlalu repot memandikan serta menyiapkan segala keperluan bayinya. Dia tahu, Yuri tentunya lebih siaga dibandingkan dirinya dalam merawat putri semata wayangnya tersebut.

__ADS_1


Seperti dugaan Tamara, pagi itu tiga puluh menit dia terlambat sampai di kantornya.


Tamara menundukkan wajahnya melihat Mr Tim sudah berdiri dengan kedua tangan bersedekap serta menatap Tamara dengan senyum iblis yang terlihat sangat menyeramkan.


"You come too late, Tamara! Yesterday, you promise that you will never come late anymore, but now you do same mistake again and again!" hardik Mr Tim dengan nada menyeringai dan terlihat sangat marah kepadanya.


"I am so sorry, Mr Tim. Last night, sampai larut malam saya harus menemani Pak Hansel Sanjaya, CEO dari anak perusahaan Hardianto yang akan mengadakan tender itu," sahut Tamara dengan alasan yang dia buat untuk membuat senang hati atasannya itu serta meredam kemarahannya.


Mr Tim mengerutkan keningnya mendengar alasan yang disampaikan Tamara kepadanya.


"Ikut aku ke ruanganku, Tamara!" Tim lalu memberi isyarat agar Tamara mengikuti langkahnya masuk ke ruangannya.


Tanpa berani membantah, Tamara juga bergegas mengikuti langkah Tim dan menuju ruang kerja CEO.


"Please tell me, Tamara. Sudah sejauh mana progress dan usahamu mendapatkan project itu?" Dengan sangat antusias, Tim menanyakan tentang project bernilai fantastis itu kepada Tamara dan berharap mendengar kabar baik darinya.


"Everything was good, Mr Tim. Saya sudah diskusi Panjang lebar dengan Pak Hans dan sepertinya dia sangat tertarik untuk memberi kemenangan tender itu kepada kita. Dan untuk melancarkan itu semua, tadi malam saya terpaksa menerima ajakannya untuk menemaninya makan malam. Yeah ... demi mendapatkan project itu, apapun akan saya lakukan," terang Tamara membanggakan dirinya. Dia terus berusaha meyakinkan Tim agar pria bule atasannya itu bisa percaya terhadapnya dan tidak memarahinya hanya karena pagi itu dia datang terlambat lagi.


"Excellent, Tamara! You have done your job perfectly!" Tim tersenyum sumringah serta mengacungkan jempolnya di hadapan Tamara.


"Sekarang, kembalilah ke ruangan kamu dan kerjakan presentasi untuk tender ini sebaik mungkin! Kalau kita sudah benar-benar berhasil mendapatkan project itu, aku pasti akan membayar bonus yang sangat tinggi untukmu!"


"Terima kasih, Hans. Gara-gara kamu, pagi ini aku tidak dimarahi oleh boss killer dan justru dia sangat senang terhadap hasil kerjaku," gumam Tamara dalam hati sembari melangkah keluar dari ruangan Tim dan menuju ruang kerjanya sendiri.


"Pagi, Tam! Hari ini kamu pasti ditegur Mr Killer gara-gara terlambat lagi, kan?" ejek Lisa, ketika melihat Tamara berjalan tergopoh saat keluar dari ruangan Mr Tim.


"Ush! Ngaco kamu, Lis. Mr Tim tidak marah padaku, kami tadi hanya membahas tentang tender itu!" bantah Tamara, tidak ingin Lisa terus mengejeknya karena dia selalu tiba terlambat di kantor.


"Wah, kalau begitu ... selamat ya, Tam. Aku bisa menebak, kamu pasti sudah berhasil memenangkan tender itu kan?" tanya Lisa lagi.


"Belum pasti sih, Lis. Tapi setidaknya, harapan menang terbuka di depan mata!" jawab Tamara dengan penuh percaya diri.


"Iya, aku percaya sama kamu, Tam. Aku sangat yakin kamu pasti memenangkannya."


"Tahu dari mana kamu? Sepertinya kamu yakin sekali kalau kita menang?"

__ADS_1


"Tuh ... lihat di mejamu ada sebuah kejutan!" seru Lisa sambil menunjuk ke atas meja kerja di ruangan Tamara.


"Apa itu, Lis?" Mata Tamara membulat ketika dia melihat sebuah benda tak biasa sudah ada di meja di ruangannya.


"Kamu lihat aja sendiri!" Lisa hanya menaikkan pundaknya acuh, tidak ingin menanggapi pertanyaan Tamara.


Tamara segera masuk ke ruangannya untuk segera melihat benda asing yang kini ada di mejanya.


Senyum lebar mengembang di bibir Tamara, ketika memperhatikan sebuah rangkaian bunga mawar merah yang dia raih dari atas mejanya. Sebuah kartu berwarna putih dengan motif bunga berwarna merah muda, terdapat pada rangkaian bunga itu.


Untuk wanita paling cantik dan teristimewa dalam hidupku.


Have a nice day, Tamara!


-Hans-


"Sepagi ini, Hans sudah mengirimkan rangkaian bunga untukku. Hans memang sangat romantis. Dia sangat berbeda dengan Mas Pandu," batin Tamara merasa berbunga-bunga, seperti indahnya rangkaian bunga yang kini ada di tangannya. Dia seketika termangu dan tidak menyangka kalau sepagi itu Hans sudah menunjukkan perhatian kecil dengan mengirimkan rangkaian bunga indah itu untuknya.


Drrtt! Drrtt! Drrtt!


Ponsel di dalam tas Tamara bergetar dan mengeluarkan suara.


Tamara meletakkan rangkaian bunga itu kembali di atas meja dan bergegas merogoh tasnya untuk mengambil ponsel.


Tamara juga kembali mengulas senyum, manakala melihat nama Hans sedang memanggilnya dari seberang sana.


"Hello, Hans!" Tamara segera menjawab panggilan itu.


"Sudah, Hans. Terima kasih banyak atas semua perhatian manismu. Aku sangat senang menerima kiriman bunga darimu. Kamu memang pria yang sangat romantis." Tamara berterima kasih dan memuji. Tentunya dia sangat senang mendapatkan perhatian istimewa itu dari sahabat lama yang kini adalah selingkuhannya itu.


"Nanti malam?" Tamara membulatkan matanya. Dari seberang sana, Hans menawarkan lagi sebuah ajakan untuknya.


"Baiklah, Hans. Aku bersedia. Tapi dengan catatan, jangan sampai terlalu malam seperti kemarin. Aku tidak mau Mas Pandu semakin curiga terhadapku," ucap Tamara, menyanggupi ajakan Hans.


Seharian itu hati Tamara dipenuhi rasa bahagia. Kehadiran serta semua yang dilakukan Hans untuknya, seolah memberi warna baru dalam hidupnya.

__ADS_1


Selepas jam kerja hari itu, sesuai janjinya Tamara kembali menemui Hans secara diam-diam dan mereka makan malam berdua lagi di sebuah restoran lain di kota itu.


Tak ingin menyia-nyiakan kebersamaan mereka, Hans dan Tamara juga kembali check in berdua di sebuah hotel dan mengulang lagi apa yang sudah mereka lakukan malam sebelumnya. Semua itu seolah sudah menjadi candu bagi keduanya untuk bisa menikmati kemesraan lagi dan lagi, tanpa memperdulikan bahwa dosa besar sudah mereka lakukan.


__ADS_2