Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 23. Selisih Paham


__ADS_3

Semenjak hari itu, Pandu lebih sering menitipkan bayinya kepada Yuri. Melalui ponsel baru yang dibelikan Pandu untuk Yuri, keduanya sering saling menghubungi dan tentunya tanpa sepengetahuan Tamara. Pandu dan Yuri memang sepakat akan merahasiakan kepada Tamara, kalau selama ini Chia tidak dititip di day care, melainkan dijaga oleh Yuri di rumah kontrakannya. Pandu merasa jauh lebih tenang membiarkan putrinya bersama Yuri daripada menitipnya di tempat penitipan anak.


Setiap hari, Pandu juga memberi jatah uang belanja untuk Yuri. Itu karena Yuri lah yang setiap hari membuatkan makanan pendamping ASI untuk Chia, bahkan juga memasak untuk Pandu.


Kalau di rumahnya Pandu sangat jarang bisa menikmati masakan buatan istrinya, justru di tempat Yuri, dia bisa mendapatkan semuanya. Bahkan terasa jauh lebih istimewa, karena Yuri melayaninya juga dengan penuh perhatian.


****


Pagi itu, suasana di rumah Pandu seperti biasa selalu hectic.


Mereka berdua selalu kerepotan mengurus rumah serta mempersiapkan semua keperluan untuk Chia bawa ke day care, khususnya Tamara.


"Gara-gara semalam harus begadang, aku bangun kesiangan. Hari ini aku pasti terlambat lagi sampai di kantor." Tamara bersungut. Hari itu dia dan Pandu bangun kesiangan, karena tadi malam Chia tidak bisa tidur dan rewel minta diajak bermain.


Dengan rambut yang masih dijepit jedai dan poni masih menggunakan roll rambut, Tamara terlihat sibuk mengemas semua perlengkapan untuk Chia ke dalam sebuah tas. Meski dia sudah mengenakan pakaian kerja lengkap, tetapi dia belum sempat memoles wajahnya dengan make up ataupun menyisir rambutnya.


Pandu yang tengah menyuapi putrinya bubur bayi, hanya tersenyum samar melihat tingkah istrinya. Tamara memang selalu kelimpungan mengurus semua pekerjaan rumah dan itu karena kecerobohannya sendiri, yang tidak pandai membagi waktunya serta lebih mementingkan urusan pribadinya dibandingkan dengan mengurus pekerjaan rumah tangga.


Selesai membereskan semua pekerjaan rumah, dengan terburu-buru Tamara berdandan ringan serta menyisir rapi rambutnya.


"Duuhh ... wajahku terlihat kusam gara-gara mata panda ini!" Tamara menggerutu dan sangat kecewa melihat penampilannya di pantulan cermin. Akibat kurang tidur, wajahnya terlihat tidak cerah dan lingkar hitam di bawah matanya juga terlihat jelas.


Setelah selesai mempersiapkan diri, Tamara bergegas menuju ruang tamu dan berdiri mondar-mandir disana.


"Sudah jam segini. Kenapa taksinya belum sampai juga?" Berkali-kali Tamara melirik jam tangan serta layar ponselnya. Taksi online yang dia pesan untuk mengantarnya ke kantor belum juga sampai dan semua itu membuatnya sangat gelisah. Dia tahu kalau hari itu dia pasti terlambat lagi tiba di kantor.


"Hari ini aku benar-benar sial! Semuanya tidak ada yang beres!" umpat Tamara kesal, tetapi dia tidak tahu harus menumpahkan kekesalannya itu kepada siapa.


Tamara mendengus semakin kesal ketika melihat Pandu cuek, seolah tidak peduli akan semua hal yang membuatnya sangat kelabakan pagi itu. Meski mereka berdua memang sudah membagi pekerjaan rumah untuk mereka kerjakan masing-masing, tetapi pagi itu Tamara merasa lebih kerepotan dibandingkan hari biasanya.


"Mas, bulan depan aku mau beli mobil baru. Aku ingin punya kendaraan sendiri. Aku lelah kalau tiap hari harus menunggu taksi seperti ini!" Dengan kedua tangan bersedekap, Tamara menatap kesal ke arah suaminya. Selama Chia harus dititip di daycare, Pandu memang tidak pernah bisa mengantarnya ke kantor dan mobil juga pasti dipakai Pandu, karena harus membawa Chia bersamanya.


"Daripada harus beli mobil lagi, lebih baik uangnya ditabung untuk keperluan yang lain, Sayang." Pandu tidak setuju akan keinginan istrinya.

__ADS_1


"Dalam segala hal, kamu memang tidak pernah mau mendukungku, Mas." Tamara mencebikkan bibirnya. "Walaupun kamu tidak setuju, bulan depan aku akan tetap beli mobil baru. Lagian, aku beli juga pakai uangku sendiri. Aku nggak butuh pertimbangan dari kamu!" hardik Tamara ketus. Dia merasa semakin jengkel karena Pandu tidak pernah setuju akan setiap keputusannya.


Dengan wajah cemberut, Tamara melangkah keluar dari dalam rumahnya, karena taksi yang dipesannya juga sudah datang menjemput.


Pandu hanya diam dan menghela nafas dalam. Semakin hari, Tamara semakin sulit diaturnya. Dia sendiri semakin merasa tidak dihargai, karena Tamara selalu bertindak sesuka hatinya. Perselisihan di antara mereka juga hampir tiap hari terjadi.


.


Dengan sangat terburu-buru, Tamara turun dari taksi yang ditumpanginya. Sepuluh menit sudah lewat dari pukul sembilan, dan itu artinya dia sudah terlambat tiba di kantor.


"Semoga saja Mr Tim tidak melihatku datang terlambat lagi." Tamara menggumam sendiri seraya melebarkan langkah masuk ke ruang kerjanya.


"Tam, kamu dipanggil tuh ke ruangan bos!"


Tamara terlonjak kaget. Belum sempat dia masuk ke ruangannya, Lisa sudah menghadang langkahnya dan mengatakan kalau atasannya sedang mencarinya.


"Hah ... apa? Sepagi ini Mr Tim mencariku?" Tamara membulatkan matanya, menatap tidak percaya kepada Lisa.


"Iya! Aku lihat Mr Tim sedang tidak mood, sepertinya dia kesal. Buruan gih, kamu temui dia. Mungkin ada hal penting yang dia ingin bahas," sahut Lisa juga terlihat cemas.


Dengan perasaan tidak tenang, Tamara meletakkan tasnya di atas meja. Sejujurnya dia takut menemui atasannya itu. Sudah beberapa hari dia selalu datang ke kantor terlambat, dia takut karena hal itulah boss-nya akan marah padanya. Selain itu, dia juga menyadari kalau team marketing memang mengalami penurunan performa kerja. Sebagai team leader, dia merasa bertanggung jawab atas semua kinerja team-nya yang selama sebulan terakhir tidak berhasil achieve target sesuai yang dianggarkan perusahaan.


Setelah berusaha menenangkan semua ketegangannya, Tamara meraih buku agenda dari mejanya dan berjalan menuju ruangan CEO.


Tok! Tok! Tok!


Diketuknya pintu ruangan CEO itu perlahan dan jantung yang berdebar kencang.


"Masuk, Tamara!"


Suara khas pria bule yang berbicara dalam Bahasa Indonesia itu terdengar nyaring dari dalam ruangan.


"Anda memanggil saya, Bos?" Tamara membungkukkan punggungnya di hadapan pria berkulit putih, berambut pirang dengan hidung mancung dan mata berwarna biru itu.

__ADS_1


"Ya! Silahkan duduk, Tamara!" Bule expatriate yang sudah sangat fasih berbahasa Indonesia itu mempersilahkannya duduk.


"Apa kamu tahu kenapa saya memanggilmu pagi ini?" Bule itu menatap tajam ke arah Tamara.


"Maaf, Bos. Saya tidak tahu." Tamara menundukkan wajahnya. Dia tidak berani menatap pada laki-laki yang sudah lebih dari lima tahun menjadi atasannya itu. Pria berkewarganegaraan Amerika, bernama lengkap Timothy Thimbleweed tersebut, memang terkenal killer. Ketika dia sedang marah, dia sering mengumpat dengan kata-kata kasar. Bahkan, seisi kebun binatang juga bisa disebutnya.


"Do you know, what time is it now, Tamara?" Tim menunjuk jam tangannya dan tersenyum sinis.


"Sudah hampir jam setengah sepuluh, Bos," sahut Tamara dengan tangan gemetar dan keluar keringat dingin. Dia paham kalau atasannya itu mengetahui bahwa belakangan ini dia selalu tiba di kantor terlambat.


"What happened to you?" Tim menggeleng seraya menengadahkan tangannya.


"Sorry, Mr Tim. Setiap pagi saya kerepotan mengurus bayi saya."


"I don't care! Itu urusan pribadi kamu dan saya harap semua itu jangan sampai mengganggu urusan pekerjaan!" pekik Tim terlihat marah.


"Baik, Mr Tim. Saya janji mulai besok saya tidak akan datang terlambat lagi." Tamara meremas pena yang ada di genggamannya. Dia sangat takut karena kesalahannya itu, Tim tidak akan mempercayainya lagi sebagai bawahan terbaiknya.


Tim hanya mendengus pelan mendengar janji yang diucapkan Tamara.


"Last month, kita tidak achieve target. Tidak satupun tender project yang kamu dan team-mu bisa dapatkan! How come bisa seperti ini?" bentaknya kesal.


"Maafkan saya, Bos. We have tried our best. But, kenyataannya kita banyak dikalahkan oleh pesaing baru." Tamara berusaha mencari alasan untuk membela diri.


"Ok! Untuk saat ini aku tidak akan memperbesar masalah ini. But next month, kamu tidak boleh mengulang kesalahan yang sama! Kalau kalian tidak achieve target lagi, maka aku tidak akan membayar bonus untuk kalian!" Tim menekankan lagi kalimatnya.


"Yes, for sure, Sir!" Tamara hanya bisa menyanggupi.


"Gawat, kalau bulan depan aku tidak terima bonus, aku tidak akan bisa membeli mobil baru sesuai keinginanku." Tamara membatin. Selama ini sebagian besar salary (gaji) yang dia terima, merupakan bonus dari perusahaan sedangkan basic salary-nya hanya mengikuti upah minimum yang berlaku sesuai undang-undang ketenagakerjaan. Apabila hak atas bonus itu tidak dibayarkan, sudah pasti pendapatannya tidaklah seberapa.


"Now, I want you to do me a favor!" Tim menatap Tamara dengan sorot mata penuh arti.


"Apapun akan saya kerjakan sebaik mungkin, Mr Tim." Lagi-lagi Tamara hanya bisa mengangguk patuh.

__ADS_1


"Good!" Tim mengacungkan jempolnya dan menatap Tamara lebih intens. Tentu saja, sorot mata tajam yang seolah ingin menelannya hidup-hidup itu, terlihat sangat menakutkan bagi Tamara.


__ADS_2